Vonis Mati Eks Gembala dan Refleksi Spiritual Gereja
![]() |
| Mantan pastor Herman Jumat Masan, terpidana mati pembunuh Merry Grace |
Saat sedang berada di depan TV, munculah pemberitahuan di MetroTV bahwa pada jam 23:00 akan ada acara Realitas Kriminal yang akan memampilkan sosok seorang mantan pastor Katholik yang di vonis mati. Rasa penasaran pun melanda. Akhirnya saya putuskan untuk menunggu acara tersebut jangan sampai ketinggalan. Saat itu juga saya posting status di Facebook, “Vonis Mati Sang Mantan Pastor, di Realitas Kriminal. Sebentar lagi di Metro TV, jam 23:00”.
Setelah saya menonton acara tersebut dengan seksama, barulah saya tahu bahwa mantan pastor yang dimaksud itu adalah Herman Jumat Masan (HJM). Ia telah membunuh mantan suster Merry Grace (kekasihnya) dan dua bayi hasil dari hubungan mereka berdua. Parahnya lagi, kejadian ini telah ditutupinya selama sepuluh tahun lamanya.
Sambil merenung, iseng kubuka kembali Facebook-ku dan ternyata ada teman yang bertanya, “Apa tanggapanku tentang kejadian seperti ini?”. Paragraf di bawah ini adalah respon dari kacamata pribadi terhadap beberapa pertanyaan dan pernyataan kawan-kawan tentang kasus eks gembala HJM ini. Mengalir begitu saja.
***
Sebenarnya letak perhatianku ketika nonton kisah eks gembala ini bukan pada kasus kirminalnya, karena bagaimanapun juga mekanisme hukum tetap harus bekerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Artinya jika memang vonis mati itu sendiri harus dijalankan, maka keputusan hukum haruslah benar-benar sesuai, dan telah memenuhi unsur-unsur yang dituduhkan.
Setelah saya menonton acara tersebut dengan seksama, barulah saya tahu bahwa mantan pastor yang dimaksud itu adalah Herman Jumat Masan (HJM). Ia telah membunuh mantan suster Merry Grace (kekasihnya) dan dua bayi hasil dari hubungan mereka berdua. Parahnya lagi, kejadian ini telah ditutupinya selama sepuluh tahun lamanya.
Sambil merenung, iseng kubuka kembali Facebook-ku dan ternyata ada teman yang bertanya, “Apa tanggapanku tentang kejadian seperti ini?”. Paragraf di bawah ini adalah respon dari kacamata pribadi terhadap beberapa pertanyaan dan pernyataan kawan-kawan tentang kasus eks gembala HJM ini. Mengalir begitu saja.
***
Sebenarnya letak perhatianku ketika nonton kisah eks gembala ini bukan pada kasus kirminalnya, karena bagaimanapun juga mekanisme hukum tetap harus bekerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Artinya jika memang vonis mati itu sendiri harus dijalankan, maka keputusan hukum haruslah benar-benar sesuai, dan telah memenuhi unsur-unsur yang dituduhkan.
Akan tetapi menurut pandangan awam, saya cuma bisa mengatakan bahwa vonis mati pada kasus kriminal di negeri ini masih akan menimbulkan pro-kontra berkepanjangan. Indonesia masih akan berdebat pada masalah HAM. Pertanyaan reflektif, mana yang lebih pantas di vonis mati, para koruptor yang memiskinkan negeri ini atau eks gembala itu?
Kembali pada kisah eks gembala tadi. Seperti yang sudah saya katakan diatas, bahwa saya tidak begitu tertarik pada kasus kriminalnya, sebab sudah ada mekanisme hukum positif yang menangani hal tersebut. Sebagai penonton, saya tentu tidak disuguhkan informasi yang detil mengenai hal itu, dan hanya diinformasikan bahwa si eks gembala telah menghabisi 3 nyawa. Dan konon dalam kasus itu belum ada saksi-saksi yang tahu persis kejadian tersebut.
Yang membuat saya penasaran adalah sosok eks gembala itu sendiri. Sebagai manusia biasa yang sama seperti kita, saya hanya ingin tahu tentang kondisi kebatinannya dalam menghadapi vonis seperti itu. Sejauh mana kasus yang dihadapinya tersebut memberi guncangan mental-psikologisnya sebagai manusia. Tentu saya tidak tahu persis apa yang sesungguhya dirasakan eks gembala itu. Namun menurutku, ia cukup tenang menghadapi "kematiannya" yang mungkin saja segera tiba, walau ia masih bisa berjuang untuk tidak dimatikan. Itu saja.
Dan kasus seperti ini sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja. Namun karena ia pernah menyandang label sebagai gembala, maka sebagian warga Gereja mungkin shock mengetahui kejadian semacam ini. Keterkejutan warga Gereja itu juga merupakan hal biasa. Maksudnya, bisa terjadi seperti itu, karena memang warga Gereja tidak pernah dipersiapkan mentalnya untuk menerima kenyataan semacam ini. Dari sejak dini, warga Gereja selalu disunguhkan tentang Kabar Gembira, dihidupi dengan kisah yang manis-manis, sehingga mengakibatkan lupa ingatan bahwa "Kabar Buruk" bisa saja terjadi, dan kisah pahit memang harus dikecap.
Lain daripada itu, Gereja tidak punya kuasa penghakiman ala hukum positif seperti yang diberlsayakan kepada eks gembala itu. Gereja tidak punya Meja Hijau untuk menangani hal seperti ini, kecuali sanksi-sanksi normatif yang hanya bisa dijatuhkan oleh seorang uskup sebagai wakil Gereja kepada gembala-gembala yang berkasus.
Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin Gereja dapat menerima/menyetujui hukuman mati kepada seseorang, sedangkan misi Gereja itu sendiri adalah Kasih yang penuh totalitas.
Cintailah Musuhmu!. Begitu bunyi pesan besarnya. Tidak heran, kenapa kemudian warga Gereja menjadi terperangah menerima kenyataan, bahwa kasus seperti eks gembala HJM itu bisa saja terjadi. Jadi, dalam menanggapi kisah seperti ini memang harus kembali kepada diri masing-masing. Secara lebih spesifik dalam hal ini dikembalikan kepada setiap individu warga Gereja itu sendiri.
Jika saya ditanya, apakah saya setuju jika eks gembala HJM itu di hukum mati? Jawabku, "Apa pengaruhnya bagi saya? Mau dimatikan atau tidak, tidak ada pengaruh sama sekali!. Namun jika memang hukum positif itu mulai gemar membuat mati seseorang, maka diluar kasus eks gembala itu banyak yang layak dibuat mati! Hmm.
***
Saya ingin mengatakan bahwa Yesus itu sendiri adalah Simbol Kesadaran manusia. Sebagai bagian dari Gereja hendaknya setiap individu yang mengimani Yesus harus tahu hal ini. Sedangkan iman itu sendiri dalam pengertian yang paling dasar adalah rasa percaya diri. Tentunya saja setiap pribadi tidak memiliki ke-PeDe-an yang sama dalam mengamati/menghadapi/merespon sesuatu (fenomena) yang terjadi didalam perjalanan hidupnya. Hal ini sangat bergantung pada seberapa mampu ia mau mengolah otakknya sehingga di dapati "Kesadaran" berpikir yang kritis.
Harus diingat pula bahwa Yesus itu sendiri adalah manusia yang sadar dan sangat kritis terhadap tradisi Yahudi pada jamannya. Tradisi yang tidak sesuai pada waktu itu menjadi perhatian Yesus, sehingga dengan keberadaan Allah yang berdiam dipikiran-Nya membuatnya Ia tidak gentar memperjuangkan kesadaran berpikir bagi masayarakat Yahudi kala itu. Banyak orang Farisi dan ahli Taurat menjadi cemburu dan merasa kredibilitas mereka terancam dengan keberadaan Yesus ditengah kaum Yahudi. Mereka takut kehilangan kepercayaan dari masyarakat, sedangkan disisi yang lain Yesus berulangkali membuka borok para kaum munafik itu.
Boleh jadi bahwa Gereja dengan segala tradisinya adalah buah yang di petik dari Kesadaran tertinggi Yesus, yang di-amin-ni oleh seluruh pengikutnya sampai sekarang. Namun bukan berarti Gereja pada sejarah perjalanannya sudah pasti baik-baik saja. Gereja harus berani menerima kritik. Sama seperti Yesus ketika itu, tak gentar sedikitpun ketika berhadapan dengan orang-orang Yahudi yang menuduhnya menyebarkan ajaran sesat dan ingin membuangnya ke jurang.
Dan sangat sulit dibayangkan apa yang akan terjadi sekarang jika Ia sampai menyerah di Getsemani pada waktu itu. Itu artinya, Yesus tahu betul bahwa Laku Spiritual yang dilakukan-Nya kala itu sangat berat. Namun kesadaran baru harus dimunculkan ditengah-tengah manusia bebal agar kehidupan berubah, tidak cukup angguk-angguk kepala saja. Segala sesuatu yang tidak relevan haruslah diubah dan berubah menjadi baru.
Namun siapakah dari kita yang tahu persis apa dan bagaimana lika-liku kehidupan Yesus pada waktu itu? Tidak ada yang tahu persis situasi lapangan ketika Yesus hadir di tengah kaum Yahudi kurang lebih 2000 tahun yang lalu. Yang tampak paling penting saat ini adalah warga Gereja diharuskan percaya. Itu saja! Sebab katanya hukum iman yang tertinggi adalah percaya-percaya saja, tanpa harus mikir. Sudah, sampai disitu saja, dilarang protes.! Yang protes tidak beroleh tempat di sorga, begitu katanya.! Kehidupan menggereja seperti ini seoalah menjadi paradoks apapbila kita menengok kembali pada spirit ajaran Kristus.
Namun begitulah Yesus, Ia pada dasarnya tidak suka memaksa orang untuk percaya. Ia hanya menyampaikan saja, apa yang memang harus disampaikan, untuk dipikirkan kembali, diolah, dijalani dalam prilaku spiritual manusia Yahudi kala itu. "Jika ingin ikut Saya, jual seluruh harta bendamu. Kalo tidak mau jual, ya sudah". Begitu kata-Nya. Dan ketika Pilatus bertanya, "Kamu raja orang Yahudi?" Jawab Yesus, "Kamu sendiri yang mengatakannya". Yesus tak perlu lagi banyak cang-ceng-cong seperti debat politik dan agama selama 7 hari 7 malam di tivi-tivi dan di berbagai media sosial itu. Kalaupun dijelaskan, Pilatus tidak bakalan ngerti, sebab otak Pilatus tidak bakalan nyambung dengan otak Yesus.
***
Sekali lagi, Yesus adalah simbol kesederhaan dalam berpikir. Bahwa kesadaran spiritual itu selalu berangkat dari setiap pengalaman individu masing-masing. Tidak perlu ribet, asal mau dan berani membuka diri dengan memberdayakan kemampuan berfikir. Menjadi diri sendiri menurut kesadaran masing-masing lebih baik ketimbang ikut-ikutan tradisi Yahudi yang tidak relevan waktu itu, sebab setiap orang punya pikiran untuk dapat dimaksimalkan.
Yesus mengetahui bahwa potensi pikiran manusia akan menuntun manusia tersebut pada kehidupan spiritual yang lebih baik, walaupun bisa juga sebaliknya. Itulah mengapa Yesus lebih banyak mengajar dengan simbol perumpamaan? Pesannya jelas, bahwa Yesus hendak berkata, "Use your otak because you're manusia"!
***
Oke, lalu apa kaitannya dengan eks gembala tadi?. Sudah seharusnya Gereja sadar, membuka mata dan bicara apa adanya, bahwa dalam kehidupan menggereja itu penuh dengan tantangan. Bukan sekedar menyampaikan kabar gembira, akan tetapi sampaikan juga kabar buruknya. Lain dari pada itu, jaman tak pernah menunggu Gereja untuk berbenah, jaman jalan terus. Ketika Gereja meminta untuk menunggu, jaman tetap cuek kayak bebek sambil jalan goyang-goyang ekornya.
Oleh karena itu, bagaimanapun juga Gereja tetap merupakan kumpulan manusia yang melembaga, mulai dari hierarki tertinggi sampai Gereja berlabel kaum papa, dari kalangan berjubah sampai yang tidak memiliki pakaian, dari kastil-kastil megah sampai Gereja di kolong jembatan, dari kota sampai Gereja yang masih berbusana Tarzan dihutan rimba, semuanya merupakan kumpulan dari kepala-kepala. Dan didalam setiap kepala pastilah ada otak, disanalah misteri Roh itu berdiam.
Jika hal ini telah disadari, maka tidak akan terkejut lagi melihat tingkah polah manusia yang mungkin terjadi di tubuh Gereja itu sendiri. Mau gembala mau domba, sama-sama punya kepala. Artinya, ketika Yesus berani mengkritik tradisi Yahudi, Ia pun telah siap dan berani menerima kritikan. Akan tetapi Ia tahu betul apa yang harus diperbaiki pada jamannya. Dan itu harus, walau nyawa taruhannya, sehingga kemudian kritikan, ancaman, bahkan hujatan yang ditujukan pada-Nya mental semua, walaupun masih ada yang menuduhnya mati konyol. Yesus telah memberi contoh, bahwa memperjuangkan esensi lebih penting ketimbang ikut-ikutan tradisi Yahudi kala itu.
Hendaknya Gereja modern juga seperti itu. Tidak ada salahnya menerima kritik jika memang ada hal-hal yang membutakan kesadaran berpikir. Demikian juga, umat harus semakin dewasa dengan menjadikan pikirannya sendiri sebagai Rumah Allah, yaitu rumah bagi kesadaran tertinggi itu, agar intusi umat tidak mampet. Bukannya malah lebay atau narsis. Itupun kalau mau, kalau tidak ya terserah juga. Kasus eks gembala diatas hanya salah satu contoh saja dari banyak kasus yang sengaja ditutup-tutupi dengan malu-malu kucing. Banyak juga yang tidak terungkap walaupun dalam level kasus yang berbeda.
Satu hal, saya juga tidak setuju dengan konsep Allah yang suka mencobai. Dalam kasus ini Allah dikatakan telah mencobai Gereja dengan menjatuhkan martabat si gembala sampai pecah berderai, sehingga domba-domba yang digembalakannya ketar-ketir, bingung, bahkan tiba-tiba gagap. Apa yang terjadi pada eks gembala itu bukan lagi berada pada tatanan konsep melainkan realitas yang sudah terjadi dan bisa juga dialami oleh siapa saja. Entah itu gembala atau domba, entah itu dari kalangan Gereja atau bukan sama saja, manusia juga.
Baca juga :
Kejadian semacam ini adalah fakta, yang memang wajar membuat warga Gereja terkejut, pukul-pukul kepala karena dibuat linglung, dan pukul-pukul dada karena dibuat sesak. Padahal mau linglung ataupun sesak dadanya, warga Gereja tetap diharuskan rajin sembahyang, solek sana-sini, pasang muka manis dihadapan altar biar Allah terus berkenan. Begitu katanya.
Akan tetapi, ada juga warga Gereja yang mungkin kecewa, marah, malu, menghujat, atau bahkan ada juga yang mungkin ora urus, pura-pura tidak tahu mengenai kisah semacam ini. Itu sah-sah saja, terserah saja. Sebab semua bentukan emosi yang muncul itu juga merupakan bukti terguncangnya batin setiap umat. Tiba-tiba saja geger otak dibuatnya, seperti kesenggol tronton tapi tidak mati. Kog bisa sih? Masa iya sih? Koq begitu ya? Koq begini ya? Oh my God!?, dlsb. Sebuah kenyataan yang akhirnya memaksa umat berfikir, merenung kembali, dan berusaha memberikan jawaban bagi dirinya sendiri tentang hal ini.
***
Adalah hak domba dalam memberikan sanjungan kepada seorang gembalanya, namun sudah seharusnya juga si gembala jangan terlalu Gede Rasa dengan hal itu, dan umat juga tak perlu lebay. Dan adalah hak domba untuk merasa kecewa kemudian melepaskan diri dari kawanannya. Karena si gembala terlalu asyik dengan dirinya sendiri, sehingga lupa berapa domba yang tak pulang, mengapa ia pergi . Ditambah lagi si gembala tak tahu dimana lagi padang rumput yang subur karena padang rumput yang ada hanya itu-itu saja. Semakin kering-kerontang, apalagi di musim kemarau. Boro-boro pergi mencarikan rumput untuk domba-dombanya, malah itu si domba dicukur habis bulu-bulunya di ambil dagingnya sebagai komoditi. Lebih parah lagi ada gembala yang suka menggembalakan domba-dombanya yang gemuk-gemuk saja, yang kurus merana dan papa ditinggalkan buat umpan singa.
Ketahuilah, domba yang mandiri, tahu kemana pergi untuk merumput. Sebab Gembala yang sesungguhnya adalah Gembala yang berada dikepalanya, tak terlihat. Dengan gembala dikepalanya itu, ia tahu akan berhadapan dengan srigala, ular, atau terjebak dalam semak belukar. Namun ia tidak akan lagi merengek meminta gembala yang bukan dari kepalanya memberikan tongkat sakti untuk mengatasi setiap kesulitan yang ada.
Menjadi Gembala itu tidak mudah, apalagi status gembala itu otomatis juga sebagai domba. Jika ingin menjadi gembala, jadilah gembala yang baik. Jika ingin gantung tongkat sebagai gembala, berhentilah secara baik-baik. Jika sudah terlanjur tidak baik, ya sudah, jalani saja apapun kosekwensinya.
Prinsipnya, Just be good!. Mau gembala atau domba sama saja. Sebab sering kali diantara kawanan domba banyak juga yang ada maunya terhadap si gembala. Manja banget, dikit-dikit mengembek. Tentu saja prinsip ini harus diletakkan atas dasar kemanusiaan. Sehingga tidak perlu juga terheran-heran terhadap pandangan yang relatif terhadap kejadian-kejadian semacam ini. Sekali lagi, semua tergantung pada individu masing-masing. Dan semua kepala didalam Gereja, isinya harus matang dan bersiap sedia untuk tidak kaget dalam menghadapi perubahan jaman.
Selebihnya, tanyakan saja kepada Yesus yang berada di kepala masing-masing mengenai kejadian semacam ini. Jika beruntung, maka Yesus yang ada dikepala itu akan memberikan jawaban-Nya. Dan jika tidak, maka kepala akan diam terus. Apa kata si gembala selalu dijawab, "iya, he'eh, nggih", sambil angguk-angguk sepanjang segala abad. Amin. Setelah itu kaget lagi, "Hahhh, koq yo ngono neh? Koq yo iso.?"
Karimawatn, 04-03-2014
Jika saya ditanya, apakah saya setuju jika eks gembala HJM itu di hukum mati? Jawabku, "Apa pengaruhnya bagi saya? Mau dimatikan atau tidak, tidak ada pengaruh sama sekali!. Namun jika memang hukum positif itu mulai gemar membuat mati seseorang, maka diluar kasus eks gembala itu banyak yang layak dibuat mati! Hmm.
***
Saya ingin mengatakan bahwa Yesus itu sendiri adalah Simbol Kesadaran manusia. Sebagai bagian dari Gereja hendaknya setiap individu yang mengimani Yesus harus tahu hal ini. Sedangkan iman itu sendiri dalam pengertian yang paling dasar adalah rasa percaya diri. Tentunya saja setiap pribadi tidak memiliki ke-PeDe-an yang sama dalam mengamati/menghadapi/merespon sesuatu (fenomena) yang terjadi didalam perjalanan hidupnya. Hal ini sangat bergantung pada seberapa mampu ia mau mengolah otakknya sehingga di dapati "Kesadaran" berpikir yang kritis.
Harus diingat pula bahwa Yesus itu sendiri adalah manusia yang sadar dan sangat kritis terhadap tradisi Yahudi pada jamannya. Tradisi yang tidak sesuai pada waktu itu menjadi perhatian Yesus, sehingga dengan keberadaan Allah yang berdiam dipikiran-Nya membuatnya Ia tidak gentar memperjuangkan kesadaran berpikir bagi masayarakat Yahudi kala itu. Banyak orang Farisi dan ahli Taurat menjadi cemburu dan merasa kredibilitas mereka terancam dengan keberadaan Yesus ditengah kaum Yahudi. Mereka takut kehilangan kepercayaan dari masyarakat, sedangkan disisi yang lain Yesus berulangkali membuka borok para kaum munafik itu.
Boleh jadi bahwa Gereja dengan segala tradisinya adalah buah yang di petik dari Kesadaran tertinggi Yesus, yang di-amin-ni oleh seluruh pengikutnya sampai sekarang. Namun bukan berarti Gereja pada sejarah perjalanannya sudah pasti baik-baik saja. Gereja harus berani menerima kritik. Sama seperti Yesus ketika itu, tak gentar sedikitpun ketika berhadapan dengan orang-orang Yahudi yang menuduhnya menyebarkan ajaran sesat dan ingin membuangnya ke jurang.
Dan sangat sulit dibayangkan apa yang akan terjadi sekarang jika Ia sampai menyerah di Getsemani pada waktu itu. Itu artinya, Yesus tahu betul bahwa Laku Spiritual yang dilakukan-Nya kala itu sangat berat. Namun kesadaran baru harus dimunculkan ditengah-tengah manusia bebal agar kehidupan berubah, tidak cukup angguk-angguk kepala saja. Segala sesuatu yang tidak relevan haruslah diubah dan berubah menjadi baru.
Namun siapakah dari kita yang tahu persis apa dan bagaimana lika-liku kehidupan Yesus pada waktu itu? Tidak ada yang tahu persis situasi lapangan ketika Yesus hadir di tengah kaum Yahudi kurang lebih 2000 tahun yang lalu. Yang tampak paling penting saat ini adalah warga Gereja diharuskan percaya. Itu saja! Sebab katanya hukum iman yang tertinggi adalah percaya-percaya saja, tanpa harus mikir. Sudah, sampai disitu saja, dilarang protes.! Yang protes tidak beroleh tempat di sorga, begitu katanya.! Kehidupan menggereja seperti ini seoalah menjadi paradoks apapbila kita menengok kembali pada spirit ajaran Kristus.
Namun begitulah Yesus, Ia pada dasarnya tidak suka memaksa orang untuk percaya. Ia hanya menyampaikan saja, apa yang memang harus disampaikan, untuk dipikirkan kembali, diolah, dijalani dalam prilaku spiritual manusia Yahudi kala itu. "Jika ingin ikut Saya, jual seluruh harta bendamu. Kalo tidak mau jual, ya sudah". Begitu kata-Nya. Dan ketika Pilatus bertanya, "Kamu raja orang Yahudi?" Jawab Yesus, "Kamu sendiri yang mengatakannya". Yesus tak perlu lagi banyak cang-ceng-cong seperti debat politik dan agama selama 7 hari 7 malam di tivi-tivi dan di berbagai media sosial itu. Kalaupun dijelaskan, Pilatus tidak bakalan ngerti, sebab otak Pilatus tidak bakalan nyambung dengan otak Yesus.
***
Sekali lagi, Yesus adalah simbol kesederhaan dalam berpikir. Bahwa kesadaran spiritual itu selalu berangkat dari setiap pengalaman individu masing-masing. Tidak perlu ribet, asal mau dan berani membuka diri dengan memberdayakan kemampuan berfikir. Menjadi diri sendiri menurut kesadaran masing-masing lebih baik ketimbang ikut-ikutan tradisi Yahudi yang tidak relevan waktu itu, sebab setiap orang punya pikiran untuk dapat dimaksimalkan.
Yesus mengetahui bahwa potensi pikiran manusia akan menuntun manusia tersebut pada kehidupan spiritual yang lebih baik, walaupun bisa juga sebaliknya. Itulah mengapa Yesus lebih banyak mengajar dengan simbol perumpamaan? Pesannya jelas, bahwa Yesus hendak berkata, "Use your otak because you're manusia"!
***
Oke, lalu apa kaitannya dengan eks gembala tadi?. Sudah seharusnya Gereja sadar, membuka mata dan bicara apa adanya, bahwa dalam kehidupan menggereja itu penuh dengan tantangan. Bukan sekedar menyampaikan kabar gembira, akan tetapi sampaikan juga kabar buruknya. Lain dari pada itu, jaman tak pernah menunggu Gereja untuk berbenah, jaman jalan terus. Ketika Gereja meminta untuk menunggu, jaman tetap cuek kayak bebek sambil jalan goyang-goyang ekornya.
Oleh karena itu, bagaimanapun juga Gereja tetap merupakan kumpulan manusia yang melembaga, mulai dari hierarki tertinggi sampai Gereja berlabel kaum papa, dari kalangan berjubah sampai yang tidak memiliki pakaian, dari kastil-kastil megah sampai Gereja di kolong jembatan, dari kota sampai Gereja yang masih berbusana Tarzan dihutan rimba, semuanya merupakan kumpulan dari kepala-kepala. Dan didalam setiap kepala pastilah ada otak, disanalah misteri Roh itu berdiam.
Jika hal ini telah disadari, maka tidak akan terkejut lagi melihat tingkah polah manusia yang mungkin terjadi di tubuh Gereja itu sendiri. Mau gembala mau domba, sama-sama punya kepala. Artinya, ketika Yesus berani mengkritik tradisi Yahudi, Ia pun telah siap dan berani menerima kritikan. Akan tetapi Ia tahu betul apa yang harus diperbaiki pada jamannya. Dan itu harus, walau nyawa taruhannya, sehingga kemudian kritikan, ancaman, bahkan hujatan yang ditujukan pada-Nya mental semua, walaupun masih ada yang menuduhnya mati konyol. Yesus telah memberi contoh, bahwa memperjuangkan esensi lebih penting ketimbang ikut-ikutan tradisi Yahudi kala itu.
Hendaknya Gereja modern juga seperti itu. Tidak ada salahnya menerima kritik jika memang ada hal-hal yang membutakan kesadaran berpikir. Demikian juga, umat harus semakin dewasa dengan menjadikan pikirannya sendiri sebagai Rumah Allah, yaitu rumah bagi kesadaran tertinggi itu, agar intusi umat tidak mampet. Bukannya malah lebay atau narsis. Itupun kalau mau, kalau tidak ya terserah juga. Kasus eks gembala diatas hanya salah satu contoh saja dari banyak kasus yang sengaja ditutup-tutupi dengan malu-malu kucing. Banyak juga yang tidak terungkap walaupun dalam level kasus yang berbeda.
Satu hal, saya juga tidak setuju dengan konsep Allah yang suka mencobai. Dalam kasus ini Allah dikatakan telah mencobai Gereja dengan menjatuhkan martabat si gembala sampai pecah berderai, sehingga domba-domba yang digembalakannya ketar-ketir, bingung, bahkan tiba-tiba gagap. Apa yang terjadi pada eks gembala itu bukan lagi berada pada tatanan konsep melainkan realitas yang sudah terjadi dan bisa juga dialami oleh siapa saja. Entah itu gembala atau domba, entah itu dari kalangan Gereja atau bukan sama saja, manusia juga.
Baca juga :
Kejadian semacam ini adalah fakta, yang memang wajar membuat warga Gereja terkejut, pukul-pukul kepala karena dibuat linglung, dan pukul-pukul dada karena dibuat sesak. Padahal mau linglung ataupun sesak dadanya, warga Gereja tetap diharuskan rajin sembahyang, solek sana-sini, pasang muka manis dihadapan altar biar Allah terus berkenan. Begitu katanya.
Akan tetapi, ada juga warga Gereja yang mungkin kecewa, marah, malu, menghujat, atau bahkan ada juga yang mungkin ora urus, pura-pura tidak tahu mengenai kisah semacam ini. Itu sah-sah saja, terserah saja. Sebab semua bentukan emosi yang muncul itu juga merupakan bukti terguncangnya batin setiap umat. Tiba-tiba saja geger otak dibuatnya, seperti kesenggol tronton tapi tidak mati. Kog bisa sih? Masa iya sih? Koq begitu ya? Koq begini ya? Oh my God!?, dlsb. Sebuah kenyataan yang akhirnya memaksa umat berfikir, merenung kembali, dan berusaha memberikan jawaban bagi dirinya sendiri tentang hal ini.
***
Adalah hak domba dalam memberikan sanjungan kepada seorang gembalanya, namun sudah seharusnya juga si gembala jangan terlalu Gede Rasa dengan hal itu, dan umat juga tak perlu lebay. Dan adalah hak domba untuk merasa kecewa kemudian melepaskan diri dari kawanannya. Karena si gembala terlalu asyik dengan dirinya sendiri, sehingga lupa berapa domba yang tak pulang, mengapa ia pergi . Ditambah lagi si gembala tak tahu dimana lagi padang rumput yang subur karena padang rumput yang ada hanya itu-itu saja. Semakin kering-kerontang, apalagi di musim kemarau. Boro-boro pergi mencarikan rumput untuk domba-dombanya, malah itu si domba dicukur habis bulu-bulunya di ambil dagingnya sebagai komoditi. Lebih parah lagi ada gembala yang suka menggembalakan domba-dombanya yang gemuk-gemuk saja, yang kurus merana dan papa ditinggalkan buat umpan singa.
Ketahuilah, domba yang mandiri, tahu kemana pergi untuk merumput. Sebab Gembala yang sesungguhnya adalah Gembala yang berada dikepalanya, tak terlihat. Dengan gembala dikepalanya itu, ia tahu akan berhadapan dengan srigala, ular, atau terjebak dalam semak belukar. Namun ia tidak akan lagi merengek meminta gembala yang bukan dari kepalanya memberikan tongkat sakti untuk mengatasi setiap kesulitan yang ada.
Menjadi Gembala itu tidak mudah, apalagi status gembala itu otomatis juga sebagai domba. Jika ingin menjadi gembala, jadilah gembala yang baik. Jika ingin gantung tongkat sebagai gembala, berhentilah secara baik-baik. Jika sudah terlanjur tidak baik, ya sudah, jalani saja apapun kosekwensinya.
Prinsipnya, Just be good!. Mau gembala atau domba sama saja. Sebab sering kali diantara kawanan domba banyak juga yang ada maunya terhadap si gembala. Manja banget, dikit-dikit mengembek. Tentu saja prinsip ini harus diletakkan atas dasar kemanusiaan. Sehingga tidak perlu juga terheran-heran terhadap pandangan yang relatif terhadap kejadian-kejadian semacam ini. Sekali lagi, semua tergantung pada individu masing-masing. Dan semua kepala didalam Gereja, isinya harus matang dan bersiap sedia untuk tidak kaget dalam menghadapi perubahan jaman.
Selebihnya, tanyakan saja kepada Yesus yang berada di kepala masing-masing mengenai kejadian semacam ini. Jika beruntung, maka Yesus yang ada dikepala itu akan memberikan jawaban-Nya. Dan jika tidak, maka kepala akan diam terus. Apa kata si gembala selalu dijawab, "iya, he'eh, nggih", sambil angguk-angguk sepanjang segala abad. Amin. Setelah itu kaget lagi, "Hahhh, koq yo ngono neh? Koq yo iso.?"
Karimawatn, 04-03-2014

Tidak ada komentar