Header Ads

ads

Gelap Kita Tak Sama

Gelap Kita Tak Sama

Lalu, kemanakah malam ini akan melarutkan langkahnya?
Bukankah serat perak masih menggenangi lamunan kita?
Atau gerah masih mengumpat diujung kaki pembaringanmu?
Atau rohmu yang bertanya, bagaimanakah mimpi akan datang dengan riasannya,
menggoda setiap dengkuran yang berkabut?

Disana, jalan-jalan mulai tersungkur dalam genangan musim,
Tidur dalam iringan rinai kekecewaan dan kebahagiaan,
Dan sesekali masih terusik oleh pengelana kehidupan
yang belum sampai ke peristirahatannya.

Disana, setiap rindu masih saling mencari kegelisahan mereka,
Setiap dekapan dada yang membeku.
Ada lagi, wajah-wajah hening yang gelap,
Melahirkan bulir-bulir aksara yang ditaburkan oleh pencari Sang Agung.
Tangan-tangan mereka saling mengatup,
Menengadahkan dada ke langit,
Namun ada pula yang bersujud dengan air mata.

Disisi lain, selendang hitam masih melilit jiwa-jiwa,
Penantian panjang yang rindu akan peluk belahannya.

Memang gelap kita berlainan rupa.
Namun disini, malamku menitipkan sunyi,
Jatuh disudut-sudut ruang lelapku.
Aku masih ingin bernyanyi bersama mereka,
Adalah senandung keheningan sebelum IA memelukku dalam tidur yang panjang.

(Ayat-Ayat Malam)

_/\_

Djogja, 25-01-2013

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.