Header Ads

ads

Kematian

Kematian

Ia adalah kisah yang berputar menurut rotasi jaman. Berbayang di tepian kehidupan setiap jiwa. Ia berlabuh dalam setiap pikiran, tak henti menguntai tanya. Yang mendulang kesombongan dalam memahaminya.

Sedangkan Iman dan pengetahuan masih saja bedebat di meja yang sama, yakni ketika aksara mengenakan jubah kebijaksanaan. Namun sesungguhnya jubah itu bukan berasal dari mereka.

Namanya adalah Ketakutan. Memancar dalam setiap harapan akan keabadian. Demikian pula pikiran pikuk tak berdaya di ruang batin, seringkali keliru menatap wajahnya. Bahkan menyangkal kehadirannya yang tiba-tiba.

Ia senantiasa terpojok dalam simpul kekerasan hati, dan menuduhnya sebagai pencuri, yang menyisakan perpisahan dalam kesedihan yang tergenang.

Ia datang dengan pesan. Namun seringkali ia datang tanpa menitipkan pelangi di lengkung bibirmu. Ia menyalakan tongkatnya dan membakar ruang perjamuan roh-roh yang mengelana bersama raga di setiap ruas musim.

Jiwa-jiwa ciut lebih mengenalnya dengan sebutan Maut. Namun jiwa yang bercahaya mengatakan bahwa ia bukan lagi lawan dari Kehidupan. Sebab ia sendirilah kehidupan.

Lalu siapakah sahabat bagi kematian? Apakah pantas aku berkenalan dan menyentuh wajahnya? Aku berkata kepadamu, "Airmata akan gugur dari ranting piluku ketika suatu saat Ia datang dengan tergesa. Sebab aku tak dapat menggengam waktu, sedangkan aku lupa bagaimana waktu melenakan aku."

Kepala dan dadaku pun berkelahi di gelanggang kenyataan, berebut piala kesadaran tuk menaklukkan ketakutan akan wajahnya.

Isak di dadaku akan menjadi alunan lagu rindu terakhir di pelataran kehidupan. Dan perpisahan adalah syair yang harus kulantunkan dengan nada-nada ikhlas.

Aku tau, akhirnya tak perlu menyalahkan pikiran. Tak perlu juga mendera rasa berkepanjangan. Ia hanyalah kisah yang memang harus dipeluk disemesta kecil, di dada kita. Ia serupa perubahan kosmik, mengalami dirinya sendiri melalui jiwa-jiwa sebagai debunya.

Dan jika ia belum datang menghampiriku, mendekatkan wajahnya di desah nafas terakhirku, baiklah aku akan berkata kepadanya, yaitu Ia yang telah lebih dulu memeluk jiwa-jiwa terkasih dalam rumah kebahagiaan-Nya;

"Kuarahkan kiblat ke dalam dada. Kuteguk kerinduan dalam cawan doa. Aku tau dahaga tak kan pernah terpuaskan. Namun biarlah kuterbangkan ikhlas ke nirwana. Melepaskan setiap waktu yang senantiasa kupeluk dengan kenangan. Selamanya tak terpisahkan."

 Djogja, 12-02-2014

 ***

Duka kami ada karena tubuhmu yang hancur, namun kebahagiaanmu adalah Rohmu yang rindu pada keabadian. Selamat jalan kawan. Bersukacitalah di jalanmu yang baru.

 _/\_

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.