Header Ads

ads

Mengapa Kita Masih Lucu?

Mengapa Kita Masih Lucu?

Kelucuan atau hal-hal yang menggelikan adalah salah satu bentuk energi yang paling cepat dipancarkan/ditularkan kepada orang lain, sehingga membuat orang yang menikmatinya dapat merasa senang tanpa berpikir. At least tidak banyak mikir. Dan segala hal yang lucu ini biasanya bersifat “spontan”. Misalnya, ketika Anda melihat TS lucu di Facebook, maka kemungkinan TS tersebut akan disukai atau di komentari banyak orang, yang tentunya juga spontan.

Hal semacam ini sebenarnya adalah fenomena biasa saja. Itu baru salah satu fenomena yang ada di Facebook (salah satu dari beragam social media yang ada). Namun ketika Anda perhatikkan berbagai program televisi yang ada, begitu banyak pula acara lawakan nangkring di berbagai chanel. Hal ini mengindikasikan bahwa secara psikologis orang Indonesia sangat haus akan kelucuan-kelucuan. Tak perlu disebutkan satu per satu lah itu program televisi yang lucu-lucu. Bebas, Anda suka yang mana.

Ketahuilah, bagi televisi hal ini adalah peluang untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan melakukan penjejalan iklan komersial yang disisipkan melalui acara lawakan tersebut. Lebih hebat lagi, kalau Anda cermati, hampir semua program televisi di negeri ini, selalu dibalut dengan humor, entah itu berita, talk show, entertainment, dlsb. Tentu hal ini dilakukan dengan berbagai alasan, salah satunya adalah untuk mendongkrak rating acara. Semakin naik ratingnya maka kemungkinan keuntungan materi yang akan didapatkan semakin besar pula. Sebab iklan yang masuk juga ngantri.

Lalu sadarkah Anda, bahwa yang namanya politik (dengan segala embel-embelnya itu) ternyata juga bisa menjadi komoditas lucu-lucuan?. Mungkin dulu Anda tahu politik itu ya politik menurut pemahaman Anda secara umum. Akan tetapi, setelah Anda sadar saat ini, dengan kondisi per-politik-kan yang nyata sekarang, ternyata politik di negeri ini terdapat banyak hal-hal lucu dan sangat menggelikan. Tidak kalah seperti acara lawakan yang memang kerjanya menciptakan gelak tawa. Cobalah Ada cermati sendiri fenomena di lapangan.

Jadi, jika suatu saat kelucuan-kelucuan tersebut sudah tidak laku lagi untuk dijual atau tidak banyak lagi peminatnya, maka ada kemungkinan program televisi selama ini juga akan berubah. Memang menikmati sesuatu yang lucu itu tidak salah, maka ada yang namanya terapi ketawa. Masalahnya adalah, “Mengapa Indonesia saat ini masih dikategorikan sebagai salah satu negara yang “Lucu”? (dalam tanda petik). Monggo, dijawab sendiri-sendiri ya. (Dijawab dalam "hati" juga ga apa-apa). Hehe.

_/\_

Djogja, 29-01-2014

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.