Header Ads

ads

Frekwensi Saya Lebih Nyambung Dengan Jokowi. Itu Saja!

Frekwensi Saya Lebih Nyambung Dengan Jokowi. Itu Saja!

Seingat saya baru dalam tiga hari ini saya memajang No.2 di Facebook. Dan ini bagian reaksi kecil saya ketika banyak juga yang bertanya, "Siapa pilihanmu?"

Secara pribadi, sudah sejak lama saya ngefans dengan Jokowi, bahkan jauh sebelum dia dinobatkan sebagai capres oleh PDIP. Oleh karena itu, saya tidak kaget jika hal itu telah terjadi. Saya bukan orang partai bukan pula berdiri dalam komunitas tertentu untuk memberikan dukungan saya nanti kepada Jokowi-JK. Jadi, tidak ada kontrak atau kepentingan apapun dengan Nomor Urut 2, apalagi sampai mau menjilat-jilat demi sebuah keinginan tertentu seperti yang dicontohkan para elit itu.

Saya hanyalah salah satu dari dari jutaan rakyat biasa yang punya hak bebas untuk menentukan pilihan, sama ketika saya menentukan pilihan golput pada pileg kemarin. Alasannya sederhana, saya tidak kenal mereka. Saya tidak tertarik dengan mereka. Dan saya tidak nyambung dengan para calon legislator tersebut.

Suara saya adalah suara saya sendiri. Tak perlu bawa-bawa Tuhan untuk bersuara. Pernyataan yang mengatakan “suara rakyat adalah suara Tuhan" itu menurut saya adalah pernyataan yang tidak perlu lagi. Sudah basi dan konyol! Ngapain bawa-bawa Tuhan bersuara? Untuk apa jika ternyata rakyat itu sendiri pada akhirnya bebas. Mau pilih No.1 atau No.2 adalah hak bebas rakyat. Tuhan kok diklaim berdasarkan nomor urut?.
Ironisnya banyak yang seperti itu dimusim pilpres ini. Pernyataan yang seperti itu menurut saya hanyalah barang dagangan saja. Sebab mungkin banyak politisi (atau mungkin Anda juga), lebih suka jualan barang yang begituan. Sudahlah, sudah banyak yang begitu aneh di negeri ini. Jangan menambah keanehan-keanehan lain lagi!.

Lalu ketika saya ditanya, “Kenapa Jokowi?” Jawaban singkatnya adalah tidak lepas dari soal rasa saja. Disisi lain hal ini selalu berkaitan erat dengan intuisi saya. Menurut saya, rasa adalah sesuatu yang sangat sulit untuk diperdebatkan. Oleh karena itu saya tidak akan menyempalkan buah pisang kedalam mulut Anda jika sebenarnya Anda lebih suka menelan buah mangga. Bukankah begitu?.

Jadi, saya pilih Jokowi karena saya "tidak suka" Prabowo. Dengan kata lain, secara khusus dalam pilpres ini, frekwensi saya lebih nyambung dengan Jokowi ketimbang Prabowo. Jelas dan singkat bukan?! Atau Anda masih kurang puas? Maaf, saya tidak suka melayani Anda berdebat, sebab saya juga tidak akan mendebat pilihan Anda. Oh, sesederhana itukah? Ya, terserah, jika ingin membuatnya ruwet, silahkan saja bikin rumit "kepala" Anda sampai "dada" Anda meledak. Hmmm.

Oleh karenanya, sekali lagi saya sendiri tidak suka berdebat soal Nomor Urut mana yang lebih baik dalam pilres ini. Jika saya Jokowi (yang tidak secara kebetulan berada di No.2), silahkan saja Anda Prabowo (yang juga tidak kebetulan berada di No.1). Bebas koq!. Kita tak perlu terpengaruh oleh kekonyolan-kekonyolan yang membuat kita berkelahi seperti anak kecil yang rebutan permen.

Tidak salah memang membela calon masing-masing. Silahkan saja. Namun apa perlu saling mengejek?. Jika Anda lebih suka cara seperti itu, ya monggolah. Mungkin biar puas sekalian. Walaupun saya juga bisa begitu tapi saya tidak mau. Hmm, Capcai deehh.

_/\_

Seruni, 21-06-2014

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.