Vampir Demokrasi Dan Untung-Untungan Pilkada
Demokrasi selalu berkaitan erat dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Dua unsur penting ini memang seharusnya saling "kawin-mawin" agar kemudian bisa dilahirkan berbagai perubahan yang lebih baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terbukti negara-negara yang mengawinkan kedua unsur ini secara harmonis bisa menjadi negara yang sangat maju. Setidaknya begitu.
Maka dari itu, pemilihan langsung adalah hak (sebagian besar) warga negara di republik ini. Sedangkan putusan yang dibuat tadi malam di gedung parlemen sama sekali tidak mencerminkan kemajuan demokrasi kecuali hanya untuk kepentingan segelintir kelompok yang sengaja ingin menginjak-nginjak “kedaulatan rakyat” dan cari untung sendiri.
Setiap warga negara di republik ini berhak untuk memilih, menentukan sendiri pemimpin yang dikehendakinya, yakni pemimpin yang dianggap mampu membawa perubahan-perubahan yang lebih baik. Dan hal itu tentunya bertumpu pada "paradigma baru" sebagai bagian dari komunitas dunia agar kedepan bisa dianggap sebagai negara yang maju dan beradab.
Namun apa yang terjadi tadi malam merupakan sinyal buruk bagi perkembangan Indonesia kedepan. Demokrasi di sini seperti “kekurangan darah”, karena darah demokrasi tersebut sudah disedot habis-habisan oleh para vampir di gedung parlemen, yang “konon” merupakan gedung paling terhormat di negeri ini .
Dengan disahkannya UU PILKADOT (Untung-Untungan Pilkada), maka anggota senat yang bersidang tadi malam, terutama yang menyetujui DPRD sebagai tuhannya demokrasi, telah dengan sangat jelas melecehkan HAM. Hal ini "automatically" telah mengebiri "Esensi Demokrasi" itu sendiri, apapun alasannya. Waspadalah!
Seruni, 26-09-2014

Tidak ada komentar