Semua Berhak Pegang Bola. Cuma Dua Ribu Saja!
Kemarin sore setelah mandi, aku menemukan selembar uang yang sekarat terpisah dari kawan-kawannya dengan kondisi terlipat di rak pakaian. Setelah kurapikan, ternyata uang dua ribu rupiah. Kemudian aku menuju meja, aku letakkan uang tersebut di atas meja. Sambil berdiri aku pandangi sebentar. Bagian pertama yang kulihat adalah gambar gadis-gadis Dayak yang menari. Lalu aku balik, di belakangnya ada Tuan Antasari, pahlawan dari Banjar.
Aku diam sejenak. Dan, oh tralala, ini pasti simbol juga, yaitu simbol yang diributkan banyak orang berkenaan dengan naiknya harga BBM sebesar dua ribu rupiah. Oh, kejadian ini bagiku BBM banget (Benar-Benar Mempesona). Gara-gara dua ribu orang-orang pada ribut. Ribut menolak dan ribut mendukung.
Memang soal uang selalu menjadi hal yang paling sexy untuk dibicarakan. Betapa tidak, uang telah menjadi topik panas dalam kehidupan manusia sejak berabad-abad yang lalu. Dikarenakan cara pandang akan uang, manusia bisa melabeli sesamanya sendiri sebagai orang kaya dan orang miskin. Sebagai orang besar dan orang kecil.
Sejak jaman dahulu kala, uang telah mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri. Mulai dari urusan politik sampai urusan pertemanan bahkan persaudaraan. Dari urusan negara sampai pada urusan rumah tangga. Bahkan sampai urusan rumah yang belum punya tangga. Jika negara salah urus uang, negara hancur. Jika keluarga tak pandai bersikap terhadap uang, suami-istri bisa ribut, diam-diaman, pungung-punggungan, bahkan cerai. Kalau sudah begini, ranjang pengantin pun menjadi berdebu karena masing-masing memilih bobo di luar. Masa bodoh “tusukkan” angin malam. Akan tetapi ada juga yang tak bisa pindah ke lain hati, itu pun karena uang juga.
Namun kali ini beda, "dua ribu rupiah" sedang menjadi trending topic. JJ-Goverment telah memutuskan menaikkan harga BBM dan akan mengalihkan subsidi pada hal-hal produktif. Serta atas nama pemerataan pembangunan, uang (kekayaan negara) harus disebar ke pulau-pulau Indonesia yang lain. Katanya sih begitu. Ya, semoga saja.
Namun apa yang terjadi? Dampaknya luar biasa. Orang-orang banyak yang ngamuk. Ngamuk gara-gara dua ribu. Ngamuk menolak dan ngamuk mendukung. Padahal dari dulu memang seperti itu setiap kali BBM naik. Memang ada juga sih yang berbangga, ketika bapaknya pernah naikin BBM, negara tidak sampai ribut seperti sekarang ini. Tapi kan itu dulu, ketika jaman masih banyak dihuhi malaikat pencabut nyawa. Siapa ribut, nyawa terbang melayang dan ngga pulang-pulang. Dan ada juga yang bilang, kebijakan menaikkan harga BBM ini cuma mencontek program bapaknya. Itulah kalau bapak sudah dibawa-bawa, jadi ngga singkron. Ada-ada saja. Orde Baru koq diungkit-ungkit.
Baca juga :
Baca juga :
Dampak kenaikkan BBM kali ini memang tidak pandang bulu. Mau berbulu atau tidak berbulu tetap kena. Karena uang sejatinya memang tidak punya bulu. Silahkan cek. Sungguhpun tidak berbulu masih bisa bikin gatel-gatel juga. Dikarenakan dua ribu rupiah orang-orang dijalan saling baku lempar, baku pukul, dan baku panah. Kalau di sosmed pada baku ejek, baku ngenyek, dan segala jenis bahan baku dikeluarkan. Entah mau bikin apa.? Yang ada malah jadi tidak beradab.
Yang lebih lucu fenomena ini sepertinya masih berkaitan dengan pemilu kemarin. Tampaknya masih banyak manusia-manusia yang belum sembuh. Akhirnya kenaikkan BBM dijadikan ajang buat merajam kebijakan yang sudah di buat bulat, dan benar-benar bulat. Tidak jelas juga yang mana kritik dan mana yang ngenyek. Karena sama-sama suka main kasar. Bahkan ada yang meminta Tuhan buat menghukum JJ karena sudah berlaku tega terhadap warga negara. Bah, ini apalagi? Benar-benar sakit. Ada yang bilang penyakit kuno ini namanya penyakit ngga bisa Move On. Tapi aku lebih suka Cak Lontong, yang begitu itu penyakit Ngga Mikir. Mikir donk ahh.
Kalau di dunia politik lain lagi, para politisi masih suka mencuri muka orang miskin buat ditempelin dimukanya sendiri. Biar kalau bicara mau interpelasi, orang-orang yang merasa kecil dan terkena dampak BBM bisa lihat dan nonton, kemudian berharap akan dukung sepak terjangnya. Politik curi hati ya begitu. Anda kira Cinta saja yang pake hati-hatian, politik juga. Dan yang begini udah basi.
Baca juga :
Satu lagi, kenapa kebijakan menaikkan BBM tersebut di buat bulat? Ya, biar seperti bola. Artinya subsidi tersebut benar-benar bisa dioper keseluruh penjuru Indonesia. Tentu dalam berbagai bentuk, mulai dari pembangunan infrastruktur dan lain-lain. Tidak ditimbun kesitu-situ saja seperti selama ini. Tidak jelas. Diharapkan bola pembangunan itu bisa dirasakan seluruh rakyat Indonesia. Biar semua bisa pegang itu bola, seperti yang sudah janjikan dalam sila ke-5 Pancasila.
Jadi gambar Gadis Dayak yang menari dan Tuan Antasari itu adalah simbol. Bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu harus benar-benar diwujudkan. Diwujudkan ke berbagai pulau dan bukan cuma di Pulau Jawa, tapi juga dipulau-pulau lain. Tentu dua ribu rupiah tersebut tidak langsung dapat dirasakan efeknya, selalu ada proses. Tapi kebijakan menaikkan BBM kali ini adalah awal yang harus serius. Serius untuk membangun NKRI (kalau masih sepakat). Dua ribu rupiah ini bukan pengorbanan tapi konsekwensi. Dan memang harus begitu. Sekarang sudah dimulai.
Baca juga :
Baca juga :
Seruni, 20-11-2014

Artikelnya politis banget mas
BalasHapusSedikit politis saja,.tidak banyak..:)
Hapuspegang bola yang dimaksudkan sangat benderang unsur politiknya yang dalem
BalasHapusYang jelas, pemerataan pembangunan memang harus diwujudkan Mas. Kita tahu negara ini masih jomplang dimana-mana. Saya cuma rakyat biasa, cuma bisa nulis unek-unek tanpa harus turun ke jalan bikin macet.;)
Hapus