Kelahiran Kesadaran Baru
Bicara soal Kristus berarti bicara soal Kesadaran. Kesadaran yang seharusnya hadir dalam pikiran setiap manusia, tanpa kecuali. Tidak benar bahwa Kristus yang adalah simbol kesadaran itu hanyalah milik Kristen saja. Tidak benar juga bahwa kesadaran itu semata-mata hanya bersemayam didalam ruang-ruang dogmatis belaka. Atau kesadaran itu hanya bisa tercipta melalui ritual-ritual keagamaan saja. Hal seperti sudah ketinggalan jaman, dan selalu salah kaprah.
Kristus tidak bisa dikurung didalam lembaga yang namanya agama. Kristus tidak bisa diklaim, hanya milikku atau milik kami saja. Karena kesadaran Kristus bukan soal sesuatu yang bisa dipegang dengan tangan. Kristus itu adalah tentang kebebasan dan pembebasan. Bahwa setiap orang bebas menjadi Kristus, yaitu menjadi manusia yang lebih spiritual. Tanpa harus takut akan hal apapun.
Dengan demikian manusia yang berkesadaran akan menjadi Kristus itu sendiri, yakni Kristus yang hidup hari ini. Mengalami pengalamannya sendiri hari ini. Bukan tentang kemarin atau besok. Setiap orang berhak mengakses Kristus yang bersemayam didalam pikiran masing-masing.
Sekali lagi, Kesadaran Kristus tidak bisa dipenjara didalam rumah yang namanya agama. Karena memang kesadaran Kristus tidak melekat di situ. Kristus harus keluar dari rumah. Kristus harus bergerak, berjalan, menyapa setiap kehidupan, meyembuhkan setiap luka batin, melepaskan setiap tekanan, membebaskan diri sendiri dari rasa bersalah, melihat dan bicara apa adanya, dan ikhlas dalam hidup yang selaras dengan Semesta Raya.
Baca juga :
Tidak peduli diluar sana ada badai, hujan, dan kemarau yang panjang. Kesadaran akan selalu hidup. Hidup dimana-mana di dalam setiap pikiran manusia dan bukan lagi hidup terkungkung dalam dogma. Kesadaran ini tak bisa dipasung. Karena pemasungan itu sendiri adalah pelanggaran HAM.
Kesadaranku, kesadaranmu adalah Kristus itu sendiri. Tinggal dalam pikiran setiap kita. Akan menyertai kehidupan ini sepanjang jaman. Jadi tidak perlu takut menjadi Kristus dengan kekhasan masing-masing. Karena menjadi Kristus sama juga menjadi diri sendiri, menjadi manusia yang lebih manusiawi. Independent dan sadar sendiri. Bukan lagi menurut Si A, Si B atau Si Apa Saja.
Untuk mengerti hal ini, tidak ada cara lain, kecuali mau membuka diri. Membuka mata batin. Dengan demikan akan kelihatan dengan jelas, bagaimana kebebasan berkesadaran kita selama ini dibonsai sedemikian rupa, sehingga selalu menjadi anak kecil. Selalu menurut saja ketika dikendalikan oleh orang-orang yang merasa dirinya sudah faham tentang rahasia Allah. Kita ikut saja, dibengkokkan kesana-kemari, menurut kemauan Si A, Si B dan Si Apa Saja. Kita dipaksa untuk tidak boleh sadar. Kita dipaksa untuk "tabu" mengakses Kesadaran Kristus yang memang tempatnya ada didalam pikiran setiap kita.
Akan tetapi banyak yang tidak suka dengan realitas ini. Terutama mereka yang selalu memenjarakan Kristus di dalam simbol dan berbagai ritual dogmatis. Banyak yang akan menolak ketika Kesadaran itu muncul/lahir dan harus disampaikan/dikabarkan secara jujur, apa adanya. Sebab, cukup sudah kita bermain-main dengan ada apanya.
Ketika kesadaran (Kristus) itu baru akan muncul, ia sudah ditolak dimana-mana. Tidak ada yang mau menerima. Setiap pintu diketuk agar Kesadaran itu mendapat tempat yang layak untuk dilahirkan, tapi semua menolak. Yang mau menerima hanyalah sekumpulan binatang dikandang, berbau tak sedap. Tidak ada fasilitas mewah dengan berbagai pernak-pernik meriah untuk menyambut Natal, yakni menyambut kelahiran manusia yang berkesadaran baru.
Namun sekali lagi, Kesadaran Baru itu memang harus dilahirkan/dimunculkan, karena Alam Semesta sudah berkehendak begitu. Tak peduli ditemani kambing, sapi, domba, babi, onta, dll beserta kotorannya. Kesadaran harus tetap dilahirkan. Ya, harus terlahir di muka bumi ini. Harus tumbuh menjadi manusia baru ditengah manusia lama. Harus menjadi terang untuk menunjukkan berbagai aksi tipu-tipu dan pura-pura. Kesadaran yang sederhana. Itulah Dia, dan itulah Kita juga.
Dari kandang itu, kesadaran harus dibawa keluar. Bergerak menjadi dewasa. Mulai bicara dengan lantang dan jujur kepada tetua-tetua, simbol manusia lama yang hidup dalam tradisi usang. Tak peduli walau dianggap ingusan, Kesadaran sudah berani bicara. Suaranya harus masuk kedalam pikiran setiap orang. Kesadaran yang membuat manusia lama tercengang-cengang. Yang kemudian membuat mereka merasa terancam.
Kesadaran Kristus terus menjadi terang. Bersinar ke seluruh penjuru mata angin. Menyatakan kembali, bahwa Bait Allah adalah pikiran manusia itu sendiri. Sekaligus "menunjukkan" kelemahannya yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi bait setan juga.
Inilah jalan spritual Kristus. Jalan yang berduri-duri. Jalan yang tidak mudah. Karena harus menjadi berbeda dengan tradisi lama. Karena dianggap berbeda, Kesadaran Kristus tak luput dari penolakkan. Setiap Kristus dalam pribadi manusia yang terbuka mata batinnya akan senantiasa diasingkan, ditolak, bahkan dipaksa untuk "dimatikan".
Akan tetapi setiap Kristus harus jalan terus. Mengalami dirinya sendiri, yang selaras dengan denyut Semesta. Dengan pandangan ini, Kristus yang adalah simbol setiap kita, akan senantiasa menyambung dengan Kesadaran Universal lainnya. Tidak terpisahkan satu dengan lainnya. Inilah kesadaran yang sebenarnya dan yang utuh. Akan terus hidup, Kini dan sepanjang masa. Amin.
Selamat Natal.
_/\_
Karimawatn, 25-12-2014
Kristus tidak bisa dikurung didalam lembaga yang namanya agama. Kristus tidak bisa diklaim, hanya milikku atau milik kami saja. Karena kesadaran Kristus bukan soal sesuatu yang bisa dipegang dengan tangan. Kristus itu adalah tentang kebebasan dan pembebasan. Bahwa setiap orang bebas menjadi Kristus, yaitu menjadi manusia yang lebih spiritual. Tanpa harus takut akan hal apapun.
Dengan demikian manusia yang berkesadaran akan menjadi Kristus itu sendiri, yakni Kristus yang hidup hari ini. Mengalami pengalamannya sendiri hari ini. Bukan tentang kemarin atau besok. Setiap orang berhak mengakses Kristus yang bersemayam didalam pikiran masing-masing.
Sekali lagi, Kesadaran Kristus tidak bisa dipenjara didalam rumah yang namanya agama. Karena memang kesadaran Kristus tidak melekat di situ. Kristus harus keluar dari rumah. Kristus harus bergerak, berjalan, menyapa setiap kehidupan, meyembuhkan setiap luka batin, melepaskan setiap tekanan, membebaskan diri sendiri dari rasa bersalah, melihat dan bicara apa adanya, dan ikhlas dalam hidup yang selaras dengan Semesta Raya.
Baca juga :
Tidak peduli diluar sana ada badai, hujan, dan kemarau yang panjang. Kesadaran akan selalu hidup. Hidup dimana-mana di dalam setiap pikiran manusia dan bukan lagi hidup terkungkung dalam dogma. Kesadaran ini tak bisa dipasung. Karena pemasungan itu sendiri adalah pelanggaran HAM.
Kesadaranku, kesadaranmu adalah Kristus itu sendiri. Tinggal dalam pikiran setiap kita. Akan menyertai kehidupan ini sepanjang jaman. Jadi tidak perlu takut menjadi Kristus dengan kekhasan masing-masing. Karena menjadi Kristus sama juga menjadi diri sendiri, menjadi manusia yang lebih manusiawi. Independent dan sadar sendiri. Bukan lagi menurut Si A, Si B atau Si Apa Saja.
Untuk mengerti hal ini, tidak ada cara lain, kecuali mau membuka diri. Membuka mata batin. Dengan demikan akan kelihatan dengan jelas, bagaimana kebebasan berkesadaran kita selama ini dibonsai sedemikian rupa, sehingga selalu menjadi anak kecil. Selalu menurut saja ketika dikendalikan oleh orang-orang yang merasa dirinya sudah faham tentang rahasia Allah. Kita ikut saja, dibengkokkan kesana-kemari, menurut kemauan Si A, Si B dan Si Apa Saja. Kita dipaksa untuk tidak boleh sadar. Kita dipaksa untuk "tabu" mengakses Kesadaran Kristus yang memang tempatnya ada didalam pikiran setiap kita.
Akan tetapi banyak yang tidak suka dengan realitas ini. Terutama mereka yang selalu memenjarakan Kristus di dalam simbol dan berbagai ritual dogmatis. Banyak yang akan menolak ketika Kesadaran itu muncul/lahir dan harus disampaikan/dikabarkan secara jujur, apa adanya. Sebab, cukup sudah kita bermain-main dengan ada apanya.
Ketika kesadaran (Kristus) itu baru akan muncul, ia sudah ditolak dimana-mana. Tidak ada yang mau menerima. Setiap pintu diketuk agar Kesadaran itu mendapat tempat yang layak untuk dilahirkan, tapi semua menolak. Yang mau menerima hanyalah sekumpulan binatang dikandang, berbau tak sedap. Tidak ada fasilitas mewah dengan berbagai pernak-pernik meriah untuk menyambut Natal, yakni menyambut kelahiran manusia yang berkesadaran baru.
Namun sekali lagi, Kesadaran Baru itu memang harus dilahirkan/dimunculkan, karena Alam Semesta sudah berkehendak begitu. Tak peduli ditemani kambing, sapi, domba, babi, onta, dll beserta kotorannya. Kesadaran harus tetap dilahirkan. Ya, harus terlahir di muka bumi ini. Harus tumbuh menjadi manusia baru ditengah manusia lama. Harus menjadi terang untuk menunjukkan berbagai aksi tipu-tipu dan pura-pura. Kesadaran yang sederhana. Itulah Dia, dan itulah Kita juga.
Dari kandang itu, kesadaran harus dibawa keluar. Bergerak menjadi dewasa. Mulai bicara dengan lantang dan jujur kepada tetua-tetua, simbol manusia lama yang hidup dalam tradisi usang. Tak peduli walau dianggap ingusan, Kesadaran sudah berani bicara. Suaranya harus masuk kedalam pikiran setiap orang. Kesadaran yang membuat manusia lama tercengang-cengang. Yang kemudian membuat mereka merasa terancam.
Kesadaran Kristus terus menjadi terang. Bersinar ke seluruh penjuru mata angin. Menyatakan kembali, bahwa Bait Allah adalah pikiran manusia itu sendiri. Sekaligus "menunjukkan" kelemahannya yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi bait setan juga.
Inilah jalan spritual Kristus. Jalan yang berduri-duri. Jalan yang tidak mudah. Karena harus menjadi berbeda dengan tradisi lama. Karena dianggap berbeda, Kesadaran Kristus tak luput dari penolakkan. Setiap Kristus dalam pribadi manusia yang terbuka mata batinnya akan senantiasa diasingkan, ditolak, bahkan dipaksa untuk "dimatikan".
Akan tetapi setiap Kristus harus jalan terus. Mengalami dirinya sendiri, yang selaras dengan denyut Semesta. Dengan pandangan ini, Kristus yang adalah simbol setiap kita, akan senantiasa menyambung dengan Kesadaran Universal lainnya. Tidak terpisahkan satu dengan lainnya. Inilah kesadaran yang sebenarnya dan yang utuh. Akan terus hidup, Kini dan sepanjang masa. Amin.
Selamat Natal.
_/\_
Karimawatn, 25-12-2014

Tidak ada komentar