Sahabat Yang Agung
KAU memanggilnya sahabat. Dia adalah jiwa yang berdiam denganmu dimasa lampau. Kau melangkah bersamanya — menapaki musim yang tak terbilang kala itu. Dengannya Kau bermain dan melukis cerita disetiap lengkung pelangi — pada musim yang seringkali tak ramah. Hasratmu menyatu dengannya dalam denyut nadi yang sama. Pada dahan kehidupan yang sama itu pula, Kau bertumbuh bersamanya.
Matanya adalah cermin yang memantulkan sukacita sampai ke relung jiwamu yang paling dalam. Demikian juga dia, tak pernah ragu mengantarkan setiap nestapa, yang seringkali juga membuat matamu menjadi sembab. Kala itu, usia adalah waktu yang masih belajar merangkak di jalan ketidakpastian. Kau dan dia adalah jiwa yang sedang bertunas muda — bahkan terlalu muda.
Setiap hela nafas menjadi satu-satunya guru saat itu. Tak ada hal lain kecuali jiwa yang berbagi, tentang hidup dan kehidupan. Tak ada tawamu yang benar-benar sendiri. Tidak pula dukanya jatuh tak berdaya tertikam kesunyian, sebab Kau ada di dalam dia, demikian juga dia di dalam dirimu. Begitulah ia yang Kau panggil sebagai sahabat kala itu.
Tetapi, musim kini telah menjadi renta. Pun pengalaman telah mengambil jalannya sendiri. Kau di jalanmu dan dia di jalannya. Setiap kepala tak lagi akrab berbincang di ruang yang sama. Demikian juga rasa, tak lagi mengalir menuju kiblat yang sama seperti dahulu. Kau dan dia telah menjadi sungai, yang tak pernah lagi bertemu pada muara keajaiban.
Lalu, saat musim menjadi semakin acuh, setiap keinginan hanyalah perlombaan untuk meraih piala kehidupan. Asa pucat-pasi, melahirkan ketakutan pada masa depan. Waktu yang bernama hari ini, telah melemparkan dirimu dan dirinya ke dalam dunia mimpi-mimpi.
Sesungguhnya, waktu telah memisahkan batinmu dan juga dia — menjadi seperti orang asing yang terlahir dari rahim yang tiri. Kau telah kehilangan dia didalam setiap lembar kisah, yang pernah Kau tulis pada hari-harimu yang dahulu. Begitu juga dia, akut dalam kelupaan panjang akan dirimu.
Lalu, hari ini Kau mencoba untuk mengais tanya tentang dia. Tetapi jawaban hanyalah jelaga yang mengaburkan intuisi. Demikian juga dia, telah lupa pada bibirmu itu, yang fasih bertutur tentang pesona kebahagiaan. Atau dia yang lupa, bahwa suatu ketika hiruk amarah pernah membakar wajahmu. Ya, disaat dunia meninggalkan Dirimu kala itu, kehidupan berpaling dari tatapmu yang kian melindap.
Akan tetapi satu kelupaan besar selalu berkuasa di dalam kepalamu. Pada kesadaranmu yang lumpuh itu, masih ada satu nama tersemat di keningmu. Kau memanggil nama itu sebagai kenangan. Begitu juga dia, memanggilmu dengan sebutan yang sama. Sebab tak ada nama lain lagi yang membedakan Kamu dengan dia hari ini. Itulah satu-satunya nama yang pantas baginya dan bagi dirimu, yaitu suatu nama yang masih Kau simpan didalam setiap lipatan pikiranmu. Dan, mungkin saja dia melakukan hal yang serupa denganmu tentang nama itu.
Tatkala Kau memanggil kenangan di dalam kepalamu, Kau akan tahu bahwa rindu telah menjadi jarak yang paling jauh. Entah berapa kali pikiranmu ingin pulang kepadanya. Namun sebanyak itu pula Kau tenggelam di dalam samudera kesepian yang begitu dalam.
Saat Kau meminta kepada waktu tentang sebuah pertemuan, tak sekalipun kesempatan itu datang kepadamu. Akhirnya Kau menyalahkan langit, sebab bagimu waktu selalu membisu — sebisu musim yang menggugurkan usia. Dan kali ini, cengkrama bersama kenangan adalah rindu yang sia-sia. Serupa angin yang tak bisa Kau genggam. Seketika itu juga berderailah matamu, mengalirkan butiran harapan dalam bentangan perpisahan yang panjang dan membosankan.
Lalu Kau hantarkan semua gejolak itu dan membalutnta dengan sebuah mantra jiwa. Merangkai persembahan di hadapan altar langit, agar semua kerinduan itu dilunaskan secepatnya. Akan tetapi, langit tetap saja bisu — sebisu dermaga, menantikan perahu yang telah lenyap ditelan gelombang. Dan tentang hari esok, pertemuan hanyalah kegairahan semu belaka. Sekali lagi, Kau harus memeluk kenangan dalam ruang batin yang hampa.
*
Namun AKU berkata kepadamu. Sesungguhnya engKaulah waktu. Satu-satunya kenyataan tentangmu adalah saat ini. Waktu dimana Kau hanya bertemu dengan Dirimu sendiri. Dan setiap kisah tentang persahabatan itu, tidak lagi tinggal dimasa lalu — tidak juga berdiam dimasa depan.
Kau terlalu hibuk meratapi kenangan, menjadikan Dirimu tega terhadap kesadaranmu sendiri. Berhentilah bertengkar dengan pikiranmu, bahwa setiap pengalaman memang harus memilih jalan yang berbeda. Sapalah kecemasan yang berlari begitu kencang. Biarlah sejenak Kau melembutkan denyut keikhlasan. Sebab Kau tak memiliki hukum apapun yang mampu menundukkan semesta. Dialah yang melahirkanmu, dan melahirkan segalanya tentang sahabat jiwa.
Tulislah di dalam kepalamu, dan bacalah hal itu berkali-kali. Bahwa sahabatmu yang karib adalah Dirimu sendiri. Kau telah bertemu dengannya yang adalah dirimu sendiri — berkali-kali disepanjang usiamu. Sebab dengan siapakah Kau bertanya selama ini tentang sesuatu yang telah lewat? Atau, dengan siapakah Kau bersekutu — mempersiapkan segalanya demi sebuah pengembaraan pada hari esok? Ya, tak ada sahabat lain selain Kamu sendirilah itu.
Jika dulu Kau pernah bertemu dengan dia, maka itulah Kamu. Dan jika hari esok menghadirkan dirinya dihadapanmu dalam rupa yang lain, maka itulah Kamu. Sebab Kamu tidak pernah bertemu dengan siapapun juga. Sekalipun itu di dalam kesunyian, Kau senantiasa bertemu dengan Dirimu sendiri.
Inilah inti dari sebuah ajaran tentang sahabat sejati, yaitu hanya tentang Kamu sendiri. Dan ini adalah bentuk persahabatan yang sesungguhnya. Kamu tak akan lagi merindukan atau mencemaskan apapun juga. Karena di dalam kesadaranmu SAAT INI akan selalu hadir KEAGUNGANMU sendiri, yaitu DIRIMU yang tak pernah pergi dan juga MATI. Inilah satu-satunya kesejatian, yaitu bersatunya Dirimu dan Rohmu didalam sebuah tarian semesta yang paling indah — lebih indah dari segala sesuatu yang pernah Kau lihat.
Seruni, 11-01-2015

Tidak ada komentar