Angkringan Tua
Suatu ketika, kau datang di ujung telepon. Lalu kau merayu sepiku untuk mencumbui angin di tepian jalan yang tak pernah tidur itu. Dan waktu pertama kulihat hidungmu, senyumku pun melipat kenangan. Lalu tawa kita segera menghempas lampu teplok yang memancar sendu.
Ah kawan, tak kusangka kau datang. Ternyata waktu belum melupakan jejak rindu kita disitu, di angkringan tua itu.
Tak lama, cangkir-cangkir gila itu pun tersodor dihadapan kita. Dia, si penyeduh ulung, keriput wajahnya masih ramah menyapa kedatangan kita kala itu. Ia juga terpuji di mulut para supir yang sering melepaskan kecingnya beberapa langkah di sebelah gerobaknya. Namun waktu lelah menguji usianya yang ikhlas mengais remah roti yang tercecer oleh derunya sombong kota.
Oh kawan, aneh saat kulihat engkau masih tak peduli pada bau pesing yang bergelayut di bulu hidungmu. Atau, apakah kita terlalu rindu, sehingga setiap kisah yang terseruput dibibir cangkir itu terasa begitu nikmat terpagut bersama candu di bibir kita?"
Entahlah, aku tak peduli, sebab aku tak henti melekatkan kagumku padamu. Dibalik solek kotamu kau masih mau mengelap debu bersamaku di kursi tua di angkringan itu. Padahal, beberapa tahun silam kau pernah berkata, mungkin dirimu tak pernah bisa berdandan seperti bintang iklan dipapan reklame diseberang jalan itu.
Terbahak dasi di lehermu berkisah, ketika dulu kita selalu melemparkan iri pada papan reklame itu. Katamu,
"Lihat, papan itu mengolok-olok kita, aku benci kota dalam solekkannya, mari kita lempar!"
Ah kawan, bagiku kau adalah aktor jenaka. Kagum dan aneh tatapku tetap saja melahirkan tawa dan canda diantara kita, juga si penyeduh tua itu. Namun setiap kali kita menyulam kenangan sembari menjilat debu di tepian jalan itu, kau seolah memendam kesakitan di dadamu.
Tiba-tiba teplok pujaan kita pun melindap malu kehilangan cahaya, tak kuat lagi menggumuli embun yang mulai membekukan pesing. Jalan yang kian kesepian itu pun telah menyaksikan setiap jiwa pulang kerumahnya. Sedangkan pucat rembulan masih setia menemani sebagian makhluk, menabuh bunyi-bunyi kelam diantara gedung-gedung yang sombong.
Dan entah apa yang membuatmu memuntahkan keluhmu. Sesaat redup pula tawamu, kau berkata,
"Aku lelah kawan, bahkan jiwakupun seakan membenci ragaku. Kebisingan kota telah merampas rohku yang rindu pada sesuatu. Mungkin takkan seperti waktu lalu, namun di angkringan ini biarlah kau tau, di istanaku tak kudapatkan nikmat seduhan seperti malam ini. Aku tak lagi iri pada papan reklame itu, melainkan padamu dan si penyeduh pujaan kita, kawan."
_/\_
_/\_
Seruni, 04-12-2015

yang tua apapun namanya dan bentuknya tentu tetaplah tuwa dan unik tidak lupa menjadi sematan, demikian juga dengan angkringan tuwa..ya, tetap saja unik dan tuwa
BalasHapusYang unik dan "jadul" selalu menjadi kenangan..:)
Hapuskeren :)
BalasHapusTerima kasih Mba..:)
Hapus