Bagi Semesta, Kita Bukanlah Siapa-Siapa
Sudah banyak yang kita ambil dari Semesta (baca: Bumi) ini. Bahkan sangat banyak. Apapun yang ada pada kita, yang kita maknai sebagai "milik kita", tidaklah berasal dari kita. Kita ini pun tersusun dari berbagai elemen penyusun kehidupan. Dan semua elemen itu berasal dari Semesta ini.
Lalu, haruskah kita menjadi sombong dan keras kepala, menganggap Bumi ini sebagai suatu "objek" saja? Dengan gampang kita menganggap diri kita sebagai satu-satunya "spesies superior" yang berhak "mengambil" segalanya yang sudah ada di Bumi ini.
Mungkin saja bisa mengubah wajah planet ini dengan seenaknya. Namun tidakkah kita sadar bahwa semesta ini punya cara sendiri untuk "mensucikan" Tubuh dan Roh-Nya atas segala sesuatu yang telah kita lakukan terhadapnya. Cara-cara itu adalah bahasa yang digunakannya untuk berkomunikasi dengan seluruh entitas yang berdiam di dalamnya. Kita tidak akan pernah mengerti bahasa jenis ini selama kita menganggap diri kita sebagai "titik sentral" di semesta ini.
Manusia bukanlah sentral. Kita ini hanya menumpang di Tubuh Sang Semesta. Menghirup Roh-Nya. Dengan demikian kita di katakan "hidup" (secara fisik). Pengertian akan hal ini sangat jarang diajarkan di dalam tempat-tempat ibadah. Kita justru lebih percaya pada “nasehat” yang tidak nyata dengan melupakan tempat ibadah yang sesungguhnya adalah "Pikiran Sadar" kita sendiri sebagai manusia.
Apapun yang terjadi, yang kita namakan sebagai “bencana” itu hendaknya menjadi catatan bahwa kita bukan siapa-siapa. Tak peduli bagaimanapun kita “melabeli” diri ini sebagai makhluk paling cerdas yang mengagungkan ajaran moral ilusif, akan ada saatnya Alam Semesta ini akan mengambil kembali apa yang sudah kita ambil dari-Nya. Melalui setiap peristiwa yang kita sebut bencana itulah Ia akan "menyembuhkan" diri-Nya sendiri dari setiap "sakit" yang telah kita ciptakan.
_/\_
Karimawatn, 05-12-2013
Lalu, haruskah kita menjadi sombong dan keras kepala, menganggap Bumi ini sebagai suatu "objek" saja? Dengan gampang kita menganggap diri kita sebagai satu-satunya "spesies superior" yang berhak "mengambil" segalanya yang sudah ada di Bumi ini.
Mungkin saja bisa mengubah wajah planet ini dengan seenaknya. Namun tidakkah kita sadar bahwa semesta ini punya cara sendiri untuk "mensucikan" Tubuh dan Roh-Nya atas segala sesuatu yang telah kita lakukan terhadapnya. Cara-cara itu adalah bahasa yang digunakannya untuk berkomunikasi dengan seluruh entitas yang berdiam di dalamnya. Kita tidak akan pernah mengerti bahasa jenis ini selama kita menganggap diri kita sebagai "titik sentral" di semesta ini.
Manusia bukanlah sentral. Kita ini hanya menumpang di Tubuh Sang Semesta. Menghirup Roh-Nya. Dengan demikian kita di katakan "hidup" (secara fisik). Pengertian akan hal ini sangat jarang diajarkan di dalam tempat-tempat ibadah. Kita justru lebih percaya pada “nasehat” yang tidak nyata dengan melupakan tempat ibadah yang sesungguhnya adalah "Pikiran Sadar" kita sendiri sebagai manusia.
Apapun yang terjadi, yang kita namakan sebagai “bencana” itu hendaknya menjadi catatan bahwa kita bukan siapa-siapa. Tak peduli bagaimanapun kita “melabeli” diri ini sebagai makhluk paling cerdas yang mengagungkan ajaran moral ilusif, akan ada saatnya Alam Semesta ini akan mengambil kembali apa yang sudah kita ambil dari-Nya. Melalui setiap peristiwa yang kita sebut bencana itulah Ia akan "menyembuhkan" diri-Nya sendiri dari setiap "sakit" yang telah kita ciptakan.
_/\_
Karimawatn, 05-12-2013

Tidak ada komentar