Aku Juduli Saja Ini Sebagai Kupu-Kupu
Apapun yang ditangkap oleh indera manusia selalu direspon oleh otak. Itulah mengapa, otak tidak pernah bisa diam, selalu berkerja setiap saat. Bahkan saat tidur sekalipun. Dan seringkali penilaian-penilaian itu kemudian dapat lahir seketika melalui pikiran. Misalkan saja, ketika Anda sedang berjalan di taman, tiba-tiba melihat seekor kupu-kupu yang dipenuhi warna-warna cantik. Otak Anda bisa saja memberitahukan kepada Anda, bahwa kupu-tersebut begitu menawan. Penilaian itu biasanya hanya sampai disitu saja. Pokoknya indah, udah itu saja!. Kemudian Anda lebih memilih untuk menikmatinya kecantikan kupu-kupu tersebut tanpa memikirkan yang lain.
Dalam realitas sehari-hari juga seperti itu. Kita lebih cepat memberikan penilaian tanpa mau mengolah (baca: menyadari) segala sesuatu yang kita terima melalui indera kita terlebih dahulu. Dan biasanya penilaian-penilaian itu senantiasa jatuhnya di wilayah comfort zone kita. Ketika sudah berada diwilayah itu, maka kita susah sekali untuk menelaah kembali penilaian kita, apakah sudah tepat atau tidak. Yang penting kita nyaman dengan apa yang kita tangkap dengan indera kita tersebut. Keyakinan terhadap penilaian yang berada di wilayah "aman-nyaman" ini membuat jalan kita kemudian tidak bebas, tidak lepas, terlalu kaku, sebab ada saatnya wilayah comfort zone ini sewaktu-waktu akan terancam.
Kesannya, memahami hal seperti ini memang terlalu bertele-tele. Akan tetapi bagi orang-orang yang getol melatih diri untuk mengasah intuisinya, hal ini merupakan sesuatu yang biasa saja. Manakala setiap pikiran itu sudah disadari (gerak-geriknya dan tingkah-polahnya di dalam otak), maka penilaian-penilaian yang tercipta melalui intuisi ini bisa lebih logis, relevan, dan proporsional. Intuisi inilah yang kemudian disebut Indera Keenam!.
Dibutuhkan waktu dan jalan panjang (bahkan babak belur) untuk bisa sampai kepada kondisi pemahaman seperti ini. Seperti seekor kupu-kupu tadi, bukankah ia juga berasal dari sebutir telur? Lalu menjadi seekor ulat, kemudian merayap mencari makan? Syukur-syukur kalau tidak dimakan burung. Setelah itu ia akan menyiapkan serta mengikhlaskan diri berpuasa dalam waktu tertentu di dalam kepompong yang dibuatnya sendiri (bukan oleh ulat lain). Dan ketika waktunya sudah tiba, jadilah ia sebagai kupu-kupu yang sangat menawan.
Bagi orang yang sudah mampu melewati perjalanan semacam ini, maka segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, termasuk "tetek-bengek" kehidupan manusia dapat dipandangnya sebagai sesuatu yang "apa-adanya". Lebih jujur, tidak terikat dan dapat dipertanggungjawabkan oleh dirinya sendiri.
Selamat beristirahat friends.
_/\_
Djogja, 20-01-2014
Dalam realitas sehari-hari juga seperti itu. Kita lebih cepat memberikan penilaian tanpa mau mengolah (baca: menyadari) segala sesuatu yang kita terima melalui indera kita terlebih dahulu. Dan biasanya penilaian-penilaian itu senantiasa jatuhnya di wilayah comfort zone kita. Ketika sudah berada diwilayah itu, maka kita susah sekali untuk menelaah kembali penilaian kita, apakah sudah tepat atau tidak. Yang penting kita nyaman dengan apa yang kita tangkap dengan indera kita tersebut. Keyakinan terhadap penilaian yang berada di wilayah "aman-nyaman" ini membuat jalan kita kemudian tidak bebas, tidak lepas, terlalu kaku, sebab ada saatnya wilayah comfort zone ini sewaktu-waktu akan terancam.
Kesannya, memahami hal seperti ini memang terlalu bertele-tele. Akan tetapi bagi orang-orang yang getol melatih diri untuk mengasah intuisinya, hal ini merupakan sesuatu yang biasa saja. Manakala setiap pikiran itu sudah disadari (gerak-geriknya dan tingkah-polahnya di dalam otak), maka penilaian-penilaian yang tercipta melalui intuisi ini bisa lebih logis, relevan, dan proporsional. Intuisi inilah yang kemudian disebut Indera Keenam!.
Dibutuhkan waktu dan jalan panjang (bahkan babak belur) untuk bisa sampai kepada kondisi pemahaman seperti ini. Seperti seekor kupu-kupu tadi, bukankah ia juga berasal dari sebutir telur? Lalu menjadi seekor ulat, kemudian merayap mencari makan? Syukur-syukur kalau tidak dimakan burung. Setelah itu ia akan menyiapkan serta mengikhlaskan diri berpuasa dalam waktu tertentu di dalam kepompong yang dibuatnya sendiri (bukan oleh ulat lain). Dan ketika waktunya sudah tiba, jadilah ia sebagai kupu-kupu yang sangat menawan.
Bagi orang yang sudah mampu melewati perjalanan semacam ini, maka segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, termasuk "tetek-bengek" kehidupan manusia dapat dipandangnya sebagai sesuatu yang "apa-adanya". Lebih jujur, tidak terikat dan dapat dipertanggungjawabkan oleh dirinya sendiri.
Selamat beristirahat friends.
_/\_
Djogja, 20-01-2014

Tidak ada komentar