Header Ads

ads

You Can't Live Without Me, Earth.

You Can't Live Without Me, Earth.

Sejak miliaran tahun yang lalu Boemi sudah hidup tanpa campur tangan manusia. Sejak saat itu pula, sesuai “kehendak” semesta, ia mempersiapkan dirinya menjadi sebuah “rumah. Ia menyerap seluruh energi kosmos yang layak bagi kehidupan. Jutaan spesies termasuk manusia akhirnya hidup di dalamnya. Ia menjadi ayah dan sekaligus ibu yang merawat, memberi asupan energi untuk berevolusi dan beregenarasi.

Namun akhir-akhir ini, manusia sebagai salah satu spesies yang katanya paling cerdas itu, sering menyalahkannya, mencaci-maki Boemi. Menuduhnya berkonspirasi dengan Allah untuk menurunkan begitu banyak malapetaka; letusan gunung berapi, gempa, tsunami, banjir bandang, longsor dlsb.

Ada yang mengatakan Allah itu sendiri sedang murka. Ada pula yang mengatakan Alam sedang marah, sehingga mereka menamainya sebagai maut, bencana, dan malapetaka. Apa yang menyebabkan mereka berkata seperti itu?.

Baca juga :
Apakah memang begitu? Boemi sejak kelahirannya selalu punya cara sendiri untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Ia tumbuh dan menjadi “sakit” adalah sebagai suatu pristiwa yang utuh. Sebab begitulah adanya dari sejak dulu. Ia mensucikan tubuhnya sendiri melalui letusan gunung, gempa, tsunami, banjir, longsor, dan apapun yang disebut sebagai bencana menurut persfektif manusia. Dengan peristiwa-peristiwa ini ia hidup, memurnikan dirinya sendiri.

Fenomena ini adalah “bahasa” yang seharusnya dapat difahami manusia, bahwa Boemi tak menuntut apapun. Ia selalu cukup, tak pernah mengeluhkan apapun, bahkan ikhlas "menderita" karena ulah manusia itu sendiri.

Apa yang terjadi akhir-akhir ini, yang disebut sebagai bencana itu, adalah cara Boemi mengingatkan kembali eksistensinya kepada seluruh makhluk tanpa terkecuali manusia itu sendiri.
"This is me, Earth. And I am what I am. Not because I can't live without you, but otherwise you can't live without me!"

_/\_
Djogja, 17-01-2014

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.