Ketika Alamar Bersabda
Terlanjur sudah, ia telah bertahta di tanah Para Dewa. Dan dinamailah ia sebagai Alamar, Sang Penguasa. Di Eden, tiang-tiang awan telah roboh, membusuk dalam lipatan ingatan di masa lalu.
Sedangkan getaran lidah para leluhur melindap bersama musim yang berganti, serupa puing-puing aksara kehidupan, berserakan di hamparan waktu. Di taman itu, berbagai makhluk pernah berdiam dengan permai. Namun berjuta nyawa lenyap seketika, hanya dalam satu kerlipan mata.
Alamar dan para pengikutnya menyebut mereka sebagai biang kusta, serupa nanah hijau, penyakit bagi kesejahteraan. Palang kematian telah tertancap disitu. Tertulis sebuah sabda; "masa depan adalah daun dan bunga yang binasa oleh picing mata gergaji".
Sejak saat itu, besi-besi berpesta di dalam Eden, seperti sedang menggali kubur masal. Mereka dibantai dan mati. Meninggalkan nama di dalam abu, sia-sia belaka. Takkan bangkit lagi bangkai-bangkai itu, bahkan sampai pada hari Ketiga kematian mereka. Dan nyawa-nyawa yang tersisa tertunduk menitipkan harapan nestapa. Merintih perih di penghujung jaman yang mulai terbenam.
Lalu, masih cukupkah waktu untuk memanggil Dewa yang kecewa itu?. Pulang kepada tanah dan air. Bersetubuh bersama api yang datang dari langit, menciptakan angin kesembuhan dan menjelma kembali sebagai Tiang-Tiang Perkasa penyangga awan yang melahirkan hujan?
Eden takkan pernah sama seperti dahulu. Sebab masa lalu selalu datang dengan wajah kenangan, yang lama mati dalam kubangan aksara dan bilangan.
_/\_
Karimawatn, 26-05-2015
Sedangkan getaran lidah para leluhur melindap bersama musim yang berganti, serupa puing-puing aksara kehidupan, berserakan di hamparan waktu. Di taman itu, berbagai makhluk pernah berdiam dengan permai. Namun berjuta nyawa lenyap seketika, hanya dalam satu kerlipan mata.
Alamar dan para pengikutnya menyebut mereka sebagai biang kusta, serupa nanah hijau, penyakit bagi kesejahteraan. Palang kematian telah tertancap disitu. Tertulis sebuah sabda; "masa depan adalah daun dan bunga yang binasa oleh picing mata gergaji".
Sejak saat itu, besi-besi berpesta di dalam Eden, seperti sedang menggali kubur masal. Mereka dibantai dan mati. Meninggalkan nama di dalam abu, sia-sia belaka. Takkan bangkit lagi bangkai-bangkai itu, bahkan sampai pada hari Ketiga kematian mereka. Dan nyawa-nyawa yang tersisa tertunduk menitipkan harapan nestapa. Merintih perih di penghujung jaman yang mulai terbenam.
Lalu, masih cukupkah waktu untuk memanggil Dewa yang kecewa itu?. Pulang kepada tanah dan air. Bersetubuh bersama api yang datang dari langit, menciptakan angin kesembuhan dan menjelma kembali sebagai Tiang-Tiang Perkasa penyangga awan yang melahirkan hujan?
Eden takkan pernah sama seperti dahulu. Sebab masa lalu selalu datang dengan wajah kenangan, yang lama mati dalam kubangan aksara dan bilangan.
_/\_
Karimawatn, 26-05-2015

Tidak ada komentar