Header Ads

ads

Hidup Artinya Kesadaran Yang Bergerak

Hidup Artinya Kesadaran Yang Bergerak

Waktu SD dulu, dalam pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) Kita diajarkan bahwa yang namanya "benda/materi" itu dibedakan menjadi 2 (dua) secara umum, yaitu benda hidup dan benda mati. Yang menjadi pembeda dari dua jenis benda itu tidak lain adalah kata sifat yang terletak di belakang kata benda, yaitu Hidup dan Mati.

Meja dan kursi tempat Kamu duduk mendengarkan guru mengajar waktu SD dulu itu akan disebut sebagai benda mati, sedangkan bunga yang tumbuh di dalam pot depan pintu kelas disebut sebagai benda hidup. Begitulah teori IPA sederhana yang pernah Kita serap dulu.

Namun jika kita amati lagi sekarang apakah teori itu masih relevan? Pertanyaan ini mungkin akan membuat Kamu bingung. Lha, sudah jelas apa yang dikatakan bapak-ibu guru waktu SD itu memang benar koq. Kenapa harus bertanya lagi?.

Baiklah, sebelum tulisan ini mengalir ke bawah, renungkanlah beberapa hal ini. Kamu akan bertahan hidup jika Kamu tetap cukup makan dan minum. Sebiji beras yang Kamu tanak itu tak bisa lagi disebut sebagai benda hidup berdasarkan teori IPA SD. Secara teoritis ia tidak lagi bertumbuh/berkembang. Ia juga sudah terpisah dari batangnya dan mati. Namun ketika Kamu memasaknya, ia berubah menjadi energi baru yang Kamu sebut nasi.

Inilah "energi" yang kita makan setiap hari, namanya Nasi.
Lalu ketika Kamu memakan nasi, maka kebutuhanmu akan energi kehidupan yang Kamu sebut sebagai karbohidrat itu akan terpenuhi. Tentu saja banyak alternatif lain pengganti nasi yang bisa Kamu peroleh dengan sangat mudah. Bosan nasi bisa makan singkong, jagung atau sagu dll. Akan tetapi, apapun yang masuk ke dalam mulut pastilah pernah melewati proses "mati" terlebih dahulu sebelum kemudian nutrisinya diserap oleh tubuh.

Baca juga :
Selain makan nasi atau alternatif lain selain itu, Kamu juga membutuhkan air untuk minum. Dan menurut teori IPA, tentulah air itu benda mati bukan?. Lihatlah, begitu pentingnya air bagi manusia, ia pun bisa "nongkrong" di warung-warung, di minimarket, di Alfamart atau Indomart, dan diberbagai tempat sebagai air mineral yang sabar menunggu pembeli. Produsen air mineral tahu betul bahwa kebutuhan manusia akan air tak kan pernah habis, makanya bisnis air jalan terus. Memang, untuk minum tak harus membeli. Masak air sumur, air hujan atau air sungai juga tak masalah, asal layak airnya untuk diminum. Kesimpulannya, manusia tak kan bertahan hidup jika tidak minum dari benda mati yang disebut air ini.

Aku tak kan pernah bisa hidup tanpamu, oh Air.
Nah, apakah sudah jelas? Kemana sebenarnya muara dari tulisan ini?. Oke, baiklah. Mari kita lanjutkan. Beras dan air di atas hanyalah simbol saja. Simbol yang mewakili berbagai benda atau entitas lain yang ada disekitar kita. Kamu boleh mengatakannya sebagai benda mati dan itu tidak masalah. Akan tetapi Kita sebagai manusia tidak bisa hidup tanpa benda-benda itu. Mereka adalah bagian dari life support Kita di Planet ini. Kita membutuhkan mereka walaupun sebenarnya mereka tak membutuhkan kita.

Tentu saja topik ini tidak lagi bicara soal teori IPA sederhana waktu SD tadi. Teori yang diajarkan oleh bapak-ibu guru itu tidak salah. Akan tetapi berangkat dari memahami teori sederhana ini seharusnya Kita (sebagai manusia) tidak lagi lupa, bahwa Kita tidak bisa hidup sendirian di Planet Bumi yang indah ini. Kita hidup diantara benda-benda itu dan menjadi tak terpisah satu sama lain. We are One!.

Teori IPA waktu SD itu seharusnya dapat ter-upgrade dengan sendirinya asal kesadaran manusia terhadap hal ini berkembang. Teori IPA SD tadi hanya sebagai pintu gerbang untuk memahami kehidupan diri Kita sendiri secara lebih mendalam di Bumi tempat tinggal Kita yang indah ini. Dengan memahami hal sederhana ini Kita bisa menyimpulkan bahwa sepertinya tak ada satupun benda/materi di Bumi bahkan di alam semesta ini yang sungguh-sungguh Mati, semuanya Hidup. Oh, really?.

Begini, konsep tentang Hidup dan Kehidupan itu sendiri seringkali berfokus pada manusia saja. Manusia seringkali lupa bahwa diluar Ke-manusia-an itu ada benda/materi/makhluk/elemen lain yang memiliki peran yang sangat penting sebagai penyeimbang dan hal itu tidak bisa dipandang secara parsial.

Jika Kita hanya memandang Kehidupan ini hanyalah tentang Kita saja sebagai manusia, maka Kita akan mengalami kelupaan yang sulit sekali disembuhkan. Karena kelupaan inilah kemudian manusia cenderung bersikap arogan dan menciptakan tindakan-tindakan destruktif demi pemuasan keinginannya sendiri. Sikap untuk selalu menguasai itu tidak hanya dilakukan pada sesama manusia itu sendiri melainkan juga terhadap makhluk/elemen lain. Bahkan dalam banyak kasus, kejahatan terhadap lingkungan yang dilakukan oleh manusia sudah sangat keterlaluan.

Siapa lagi yang bisa melakukan kekejaman terhadap hutan seperti ini kalau bukan Manusia.
Demi eksploitasi besar-besaran manusia dapat berubah menjadi binatang buas yang lapar dan tidak pernah kenyang. Kerusakan ekosistem, kelangkaan flora dan fauna, pemanasan global, dan berbagai jenis penyakit Bumi lainnya, semua itu disebabkan oleh ulah manusia. Jadi wajar saja muncul pernyataan bahwa manusia adalah spesies perusak nomor satu di Planet ini. Sangat ironis ketika kelupaan ini juga diterjemahkan sebagai sesuatu yang wajar, Kita menjadi kehilangan kesadaran untuk menelaah/mengangamati/memahami lebih dalam lagi bahwa makhluk/benda lain itu juga bergerak dan hidup

Manusia minum air, dan Manusia "meracuni" Air.
Ketika Kamu melangkahkan Kaki di jalan, Kamu menemui banyak sekali batu. Dan Kamu berfikir, "Ah, itu benda mati yang diam." Namun pada akhirnya Kamu tahu bahwa dalam pelajaran IPA tingkat lanjut (Fisika) dijelaskan bahwa dalam setiap materi yang diam sekalipun, di dalamnya terdapat elemen terkecil atom. Atom ini terdiri dari proton (+), elektron (-) dan neutron (netral) yang selalu "bergerak".

Baiklah, Kita tidak akan mengulas soal atom secara detil disini. Akan tetapi fenomena kelupaan ini semakin menjadi-jadi ketika manusia menciptakan berbagai konsep/doktrin/paham yang justru mengkristal dalam memori setiap individu. Setiap konsep apapun tentang kehidupan tidak akan pernah menyentuh kesadaran spiritual jika pesan yang ingin disampaikan hanya berpihak pada pemenuhan keinginan manusia itu saja. 

Siapakah yang bisa menggaruk "tanah" sedalam ini kalau bukan, Manusia.
Seperti atom, Hidup artinya bergerak. Dalam ranah spiritual, aku dan Kamu sebagai manusia ini bergerak. Bumi ini bergerak, matahari bergerak, dan Semesta besar ini bergerak. Inilah Hidup, inilah Kehidupan. Sedangkan Mati dan Kematian itu sendiri adalah bagian dari Kehidupan itu sendiri. Semua ini adalah satu kesatuan yang tak terpisah. Kita tak lagi bisa berfikir, bahwa Aku ini terpisah dari air. Aku ini terpisah dari matahari, dlsb.

Oleh karena itu sudah saatnya, pengertian akan Hidup dan Kehidupan semestinya dikembalikan pada kesadaran berfikir. Kehidupan ini harus dipandang secara utuh dan tak terpisah. Mungkin Kamu bertanya, "Untuk apa mengerti semua ini?". Plis, renungkan dan temukanlah jawaban akan pertanyaan itu sendiri. Berani untuk membuka/melepaskan/membebaskan diri dari produk pikiran lama adalah sikap yang wajar dan merupakan suatu bentuk pergerakkan spiritual yang hidup selaras dengan alam semesta.

Oh, Orang Utan ini semakin terjajah oleh spesies kita, Manusia.
Kita tidak hanya dapat berfikir secara rasional akan tetapi juga harus sadar. Dan hal ini adalah hak setiap invidu (manusia) yang semestinya dapat diusahakan/diperjuangkan dalam rangka memahami esensi manusia itu sendiri dalam hubungannya antar sesama manusia dan juga dengan segala bentuk kehidupan lain di Bumi dan di dalam semesta besar ini.

Baca juga :
Pikiran bebas bukanlah pikiran liar yang tak terkendali, namun senantiasa diselaraskan dengan harmoni evolusi spiritual dan science. Berbagilah kepada anak-anak dan generasi dibawahmu tentang hal ini, sebab mereka adalah manusia-manusia baru yang patut mengerti keberadaan mereka sebagai makhluk yang tidak hanya cerdas akan tetapi juga sadar. Let them keep this Planet as their beautiful home to live.

Aku mencintai Kehidupan di Planet ini, dan hendaknya Kamu juga Friends. Ameen.

_/\_

Seruni, 28-11-2015

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.