Dikit-Dikit Ncet. Ncet Dikit-Dikit
Di jaman yang serba pencet-pencet ini, apapun bisa terjadi dengan sangat cepat. Mau apa-apa tinggal ncet. Mau ini-itu tinggal ncet. Mau kemana-mana tinggal ncet. Simsalabim, ncet sana ncet sini, abrakadabrahh terjadilah.
Inilah teknologi. Bahkan dengan teknologi orang tak perlu lagi susah-susah bicara pakai mulut. Mulut lebih banyak puasa berbunyi, namun jari tangan makin banyak kerjaan. Otak tak lagi menyuruh mulut buka suara, melainkan menyuruh jari-jari untuk bicara pakai teknik ncet-ncet.
Itulah teknologi. Hanya dengan ncet-ncet, perubahan bisa terjadi dengan cara instan. Orang-orang tidak perlu lagi turun ke jalan bengak-bengok berdemo. Tinggal ncet-ncet bikin petisi, atau cukup ncet bikin pagar,.eh..tagar, orang sudah bisa save ini-itu.
Hanya dengan ncet-ncet, orang-orang bisa bikin SetNov pusing lalu mundur. Entahlah, apakah ncet-ncet bisa bikin Reza Cahlid mudik ke Indonesia apa tidak? Atau apakah sandiwara ini cukup sampai disini saja? Tergantung militansi jari-jari tangan, mau tetap ncet-ncet atau bisu.
Kali ini Pak Jonan kena korban ncet-ncet. Pak Jonan kena pencet lewat petisi gara-gara melarang transportasi berbasis aplikasi online. Masyarakat bergotong-royong bikin pagar, eh..tagar agar Pak Jonan tidak bisa masuk mengganggu kesejahteraan tukang ojek. Baru kemarin Pak Jonan melarang, hari ini malah mempersilahkan Gojek beroperasi kembali. Dunia ncet-ncet ini memang hebat.
Namun satu hal, cuma Mbah Surip satu-satunya orang yang pernah menawarkan jasa ojek punggung berbasis kopi dan ketawa. Tak gendong kemana-mana semua bisa hepi. Kalau masih ada Mbah Surip, mungkin saja kemarin dia akan di undang makan di istana. Atau setidaknya dia pasti bikin lagu tentang Papa Minta Pencet. Nah, ndak jelas kan ini tulisan apa? Memang.:)
#SaveJariJari
Karimawatn, 18-12-2015
Inilah teknologi. Bahkan dengan teknologi orang tak perlu lagi susah-susah bicara pakai mulut. Mulut lebih banyak puasa berbunyi, namun jari tangan makin banyak kerjaan. Otak tak lagi menyuruh mulut buka suara, melainkan menyuruh jari-jari untuk bicara pakai teknik ncet-ncet.
Itulah teknologi. Hanya dengan ncet-ncet, perubahan bisa terjadi dengan cara instan. Orang-orang tidak perlu lagi turun ke jalan bengak-bengok berdemo. Tinggal ncet-ncet bikin petisi, atau cukup ncet bikin pagar,.eh..tagar, orang sudah bisa save ini-itu.
Hanya dengan ncet-ncet, orang-orang bisa bikin SetNov pusing lalu mundur. Entahlah, apakah ncet-ncet bisa bikin Reza Cahlid mudik ke Indonesia apa tidak? Atau apakah sandiwara ini cukup sampai disini saja? Tergantung militansi jari-jari tangan, mau tetap ncet-ncet atau bisu.
Kali ini Pak Jonan kena korban ncet-ncet. Pak Jonan kena pencet lewat petisi gara-gara melarang transportasi berbasis aplikasi online. Masyarakat bergotong-royong bikin pagar, eh..tagar agar Pak Jonan tidak bisa masuk mengganggu kesejahteraan tukang ojek. Baru kemarin Pak Jonan melarang, hari ini malah mempersilahkan Gojek beroperasi kembali. Dunia ncet-ncet ini memang hebat.
Namun satu hal, cuma Mbah Surip satu-satunya orang yang pernah menawarkan jasa ojek punggung berbasis kopi dan ketawa. Tak gendong kemana-mana semua bisa hepi. Kalau masih ada Mbah Surip, mungkin saja kemarin dia akan di undang makan di istana. Atau setidaknya dia pasti bikin lagu tentang Papa Minta Pencet. Nah, ndak jelas kan ini tulisan apa? Memang.:)
#SaveJariJari
Karimawatn, 18-12-2015

Tidak ada komentar