Tak Dibutuhkan Kelulusan dan Predikat
Kehidupan manusia itu serupa sebuah Jalan. Suatu proses yang mau tidak mau harus dijalani oleh setiap pribadi dari suatu titik ke titik tertentu dengan mengenal Dirinya sendiri. Ketika setiap pribadi menyadari bahwa setiap titik itu membentuk garis waktu (timeline), maka secara psikologis hanya ada 3 (tiga) jenis waktu; yaitu masa lalu, masa kini dan masa depan.
Pada dasarnya setiap orang senantiasa meninggalkan masa lalu berikut dengan apapun kesan (batiniah) yang (pernah) muncul di dalamnya. Namun demikian banyak juga yang menjadikan pengertian akan masa depan sebagai suatu destinasi dari sebuah perjalanan hidupnya. Dan sebagai tujuan, ia seringkali digambar sedemikian rupa oleh si pelukis (baca; ego) agar suatu saat ketika ia sampai pada destinasi itu, ia akan merasa terpuaskan. Proses melukis inilah yang disebut sebagian besar manusia di Bumi ini sebagai 'pengharapan'. Bahkan hal itu pun diajarkan berulang-ulang mulai dari dalam keluarga, sekolah, dan rumah-rumah ibadah.
Satu hal yang dapat dibaca dari fenomena ini adalah bahwa pikiran yang menciptakan lukisan tentang masa depan itu seringkali diikuti juga dengan pikiran lain yang berusaha menciptakan konsep tentang kebahagiaan dan kemudian menjadikannya sebagai pigura lukisan kehidupan (dimasa depan) . Dengan kata lain, pikiran itu sendiri selalu tertuju pada suatu kondisi 'tertentu' yang diharapkan (baca: diinginkan).
Namun apakah kebahagiaan selalu ada di masa depan? Apa itu kebahagiaan? Pastikah semua itu? Alih-alih memupuk pengharapan demi terciptanya kebahagiaan, kita justru menumpuk rasa takut akan kehilangan banyak hal dalam kehidupan ini.
Sekali lagi, bahwa tak ada satu orang pun yang berjalan tanpa melalui masa lalu, baik atau buruk. Namun masa lalu tetaplah masa lalu. Hanya saja jarang sekali ada orang yang mau dengan sungguh-sungguh "berbagi" tentang kehebatan rahasia Saat Ini. Melainkan lebih sering kita digiring (dikondisikan) untuk selalu "berkompetisi" demi masa depan yang tidak "nyata" dan penuh dengan ketidakpastian.
Dari sejak dini kita selalu diajari bagaimana mengenal masa lalu dan masa depan melalui berbagai konsep sempit dan kacau; entah itu oleh keluarga, lingkungan pendidikan, dan masyarakat. Ego kita dibentuk sedemikian rupa sehingga kita tidak menyadari pentingnya Saat Ini. Kita tidak pernah benar-benar hidup di saat ini sebab batin kita selalu terkondisi/terikat oleh pengalaman masa lalu, dan menjadikan pengertian akan masa depan sebagai bentuk pelarian psikologis belaka.
Menyelidiki apa yang ada didalam saat ini lebih penting ketimbang sekedar mengikuti kesepakatan tentang standar kehidupan yang seringkali absurb dan menyesatkan. Dengan belajar mengenal diri yang ada didalam itulah setidaknya kita tidak lagi mudah jatuh pada penghakiman, penyesalan, kekecewaan, sakit hati, kehilangan, rasa cemburu dan lain-lain. Batin kita menjadi semakin awas (baca: terang), sebab kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, dan kegelisahan (akan masa depan) tak lagi menguasai seluruh sisa kehidupan kita ini.
Dibutuhkan Batin yang senantiasa baru dan segar setiap saat dan itu hanya bisa dipahami oleh masing-masing pribadi yang sungguh-sungguh mengalami dirinya sendiri secara sadar di sepanjang jalan yang ia lalui. Atas dasar inilah, setiap pengalaman tidak lagi dapat diterjemahkan berdasarkan sudut pandang 'intelektual' melainkan sebagai bagian dari proses 'pengenalan diri' sebagai manusia saat ini. Pemahaman akan hal ini tidak akan pernah cukup jika hanya berkutat pada bagaimana mendefinisikan sebuah konsep kehidupan ideal yang pada dasarnya tidak menjadikan diri kita sungguh-sungguh menjadi manusia bebas.
Setiap saat adalah selalu menjadi saat ini. Dengan belajar hal ini secara mandiri (meditatif/kontemplatif/tafakur), maka barulah kita dapat mengerti (sedikit demi sedikit), apa itu syukur, suka cita, ikhlas, bahagia, dan tentunya Cinta dengan pandangan yang baru dan sungguh-sungguh berbeda dari biasanya.
Mungkin saja ini berat. Tapi marilah sama-sama belajar. Dan janganlah berfikir kapan kita selesai dan lulus sebab kemanusiaan kita yang murni dan bebas tidak membutuhkan predikat apapun juga.
_/\_
Karimawatn, 06-07-2016
Pada dasarnya setiap orang senantiasa meninggalkan masa lalu berikut dengan apapun kesan (batiniah) yang (pernah) muncul di dalamnya. Namun demikian banyak juga yang menjadikan pengertian akan masa depan sebagai suatu destinasi dari sebuah perjalanan hidupnya. Dan sebagai tujuan, ia seringkali digambar sedemikian rupa oleh si pelukis (baca; ego) agar suatu saat ketika ia sampai pada destinasi itu, ia akan merasa terpuaskan. Proses melukis inilah yang disebut sebagian besar manusia di Bumi ini sebagai 'pengharapan'. Bahkan hal itu pun diajarkan berulang-ulang mulai dari dalam keluarga, sekolah, dan rumah-rumah ibadah.
Satu hal yang dapat dibaca dari fenomena ini adalah bahwa pikiran yang menciptakan lukisan tentang masa depan itu seringkali diikuti juga dengan pikiran lain yang berusaha menciptakan konsep tentang kebahagiaan dan kemudian menjadikannya sebagai pigura lukisan kehidupan (dimasa depan) . Dengan kata lain, pikiran itu sendiri selalu tertuju pada suatu kondisi 'tertentu' yang diharapkan (baca: diinginkan).
Namun apakah kebahagiaan selalu ada di masa depan? Apa itu kebahagiaan? Pastikah semua itu? Alih-alih memupuk pengharapan demi terciptanya kebahagiaan, kita justru menumpuk rasa takut akan kehilangan banyak hal dalam kehidupan ini.
Sekali lagi, bahwa tak ada satu orang pun yang berjalan tanpa melalui masa lalu, baik atau buruk. Namun masa lalu tetaplah masa lalu. Hanya saja jarang sekali ada orang yang mau dengan sungguh-sungguh "berbagi" tentang kehebatan rahasia Saat Ini. Melainkan lebih sering kita digiring (dikondisikan) untuk selalu "berkompetisi" demi masa depan yang tidak "nyata" dan penuh dengan ketidakpastian.
Dari sejak dini kita selalu diajari bagaimana mengenal masa lalu dan masa depan melalui berbagai konsep sempit dan kacau; entah itu oleh keluarga, lingkungan pendidikan, dan masyarakat. Ego kita dibentuk sedemikian rupa sehingga kita tidak menyadari pentingnya Saat Ini. Kita tidak pernah benar-benar hidup di saat ini sebab batin kita selalu terkondisi/terikat oleh pengalaman masa lalu, dan menjadikan pengertian akan masa depan sebagai bentuk pelarian psikologis belaka.
Menyelidiki apa yang ada didalam saat ini lebih penting ketimbang sekedar mengikuti kesepakatan tentang standar kehidupan yang seringkali absurb dan menyesatkan. Dengan belajar mengenal diri yang ada didalam itulah setidaknya kita tidak lagi mudah jatuh pada penghakiman, penyesalan, kekecewaan, sakit hati, kehilangan, rasa cemburu dan lain-lain. Batin kita menjadi semakin awas (baca: terang), sebab kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, dan kegelisahan (akan masa depan) tak lagi menguasai seluruh sisa kehidupan kita ini.
Dibutuhkan Batin yang senantiasa baru dan segar setiap saat dan itu hanya bisa dipahami oleh masing-masing pribadi yang sungguh-sungguh mengalami dirinya sendiri secara sadar di sepanjang jalan yang ia lalui. Atas dasar inilah, setiap pengalaman tidak lagi dapat diterjemahkan berdasarkan sudut pandang 'intelektual' melainkan sebagai bagian dari proses 'pengenalan diri' sebagai manusia saat ini. Pemahaman akan hal ini tidak akan pernah cukup jika hanya berkutat pada bagaimana mendefinisikan sebuah konsep kehidupan ideal yang pada dasarnya tidak menjadikan diri kita sungguh-sungguh menjadi manusia bebas.
Setiap saat adalah selalu menjadi saat ini. Dengan belajar hal ini secara mandiri (meditatif/kontemplatif/tafakur), maka barulah kita dapat mengerti (sedikit demi sedikit), apa itu syukur, suka cita, ikhlas, bahagia, dan tentunya Cinta dengan pandangan yang baru dan sungguh-sungguh berbeda dari biasanya.
Mungkin saja ini berat. Tapi marilah sama-sama belajar. Dan janganlah berfikir kapan kita selesai dan lulus sebab kemanusiaan kita yang murni dan bebas tidak membutuhkan predikat apapun juga.
_/\_
Karimawatn, 06-07-2016

Masa lalu biarlah menjadi pelajaran untuk menggapai masa depan.
BalasHapusKita memang tak akan pernah kembali ke masa lalu..:)
Hapusstandr kehidupan sekarang ditentukan oleh tingginya pendidikan dan harta. Melawan harus harus siap dianggap aneh dan bahkan dikucilkan.
BalasHapusDikucilkan atau tidak, siap saja..:)
HapusBetul sekali kehidupan itu seperti jalan, sepertinya halnya kehidupan harus terus berjalan dan dijalani, tapi pada akhirnya pada takdir seseorang pasti ada saja hal yang dapat menghentikan langkah kita untuk terus berjalan sehingga menyebabkan seseorang tersebut terpuruk.
BalasHapusBerani hidup, berani memilih, berani berjalan, dan berani untuk terpuruk dan bangun..:)
Hapus