Fanatisme Itu, Kesia-siaan Belaka
Akhir-akhir ini banyak yang resah dan gelisah. Walaupun tak berada di sudut sekolah namun sering bertanya penuh curiga, "Napa sih ngomongin agama mulu di FB?" Ada lagi, "Bisa gak sih gak nyampurin politik dengan agama?" Yang lain, "Eh elu, ngapain sih lu ngurusin agama gua?". Ada lagi, "Gimana pun gak boleh jadi pemimpin kalo bukan dari agama saya!" Oh, ada juga yang promote tentang indahnya kebersamaan dalam perbedaan agama. Bahkan diberbagai grup, fanpage, dan link berita banyak yang debat kusir soal agama. Dan masih banyak lagi dan semua bernuansa agama. Terkadang lucu juga sih. :)
Bagi siapapun yang melihat fenomena ini, entah di FB dan di sosmed lain atau di berbagai kesempatan offline, terimalah hal ini sebagai realitas. Apa apa adanya saja. Akui saja bahwa fenomena ini memang sedang berlangsung. Energi semesta sedang bekerja tanpa bisa kita atur agar sesuai dengan kemauan kita sendiri. Tidak mungkin juga semua orang yang kita temui dan kita ajak bicara secara online or offline bisa ikut apa yang kita mau menurut pikiran kita sendiri. Jadi, tidak perlu galau berlebihan. Tenang saja, sebab semesta sedang bercengkrama dengan kesadaran manusia di seantero Bumi. Jadi bukan cuma terjadi di Indonesia saja.
Toh, kita sendiri yang mau mendaftarkan diri ke sosial media. Dan keputusan kita bersosmed tentu saja selalu memiliki konsekwensi. Semua tergantung pada diri sendiri. Kalo ndak suka tema-tema sensitif, ya kabur atau block aja. Napa harus refot.? Bagi yang suka ngelawak, ya ngelawaklah. Yang suka pasang foto, ya action-lah. Yang suka nambah friendlist, ya lakukanlah. Yang saban hari suka pasang doa, ya berdoalah. Yang mau jadi motivator, ya teruskanlah. Yang suka makan-makan, ya aplodlah sebanyak-banyaknya gambar makanan yang enak-enak itu. Yang suka jualan, ya jualanlah. Yang suka sekedar ngintip, ya ngitiplah. Yang penting tertib. Intinya, bersosmedlah sesuai dengan apa yang disuka saja, tanpa memaksa apa yang disuka itu kepada orang lain. Minimal itu dulu agar tentram jiwa raga.:)
Tapi sekali lagi, apa yang sedang terjadi akhir-akhir ini adalah realitas yang mau tidak mau, suka tidak suka sedang kita hadapi bersama. Jaman sedang berada pada momennya "saat ini", yaitu saat dimana manusia di seluruh Bumi terhubung satu sama lain. Paradigma tentang apapun termasuk agama, politik, hukum dan budaya telah bergeser tanpa bisa kita tahan-tahan lagi. Manusia lama akan muncul secara bersamaan dengan manusia baru. Konflik mungkin saja akan tetap terjadi. Kenyamanan batin bisa saja terusik. Namun hal ini tak bisa terhindarkan. Sebagai akibat dari tsunami kesadaran yang begitu dasyat ini, maka apapun bisa terjadi. Oleh karenanya, jika kita mau membuka diri, mungkin kita bisa belajar "sesuatu" dari berbagai fenomena yang sedang terjadi saat ini.
Ya, mungkin saja Kita telah diajari untuk tidak mengatakan hal-hal sensitif agar tidak melukai perasaan orang lain. Dan Keyakinan (iman) merupakan salah satu hal yang paling "sensi" untuk dibicarakan. Ia merupakan hal yang sangat tabu dan tidak boleh diutak-atik. Akan tetapi, ada hal yang agak lucu. Disaat Kita dididik untuk mengasah nalar, melalui sekolah, melalui buku-buku dan sebagainya, namun pada perjalanannya kita menjadi mandeg jika berhadapan dengan agama (iman).
Dalam iman, tampak jelas bahwa kebebasan berfikir dengan sadar, secara tegas atau tidak, sangatlah dilarang. Tidak boleh sedikitpun ada keraguan di dalamnya. Tidak boleh ada komplain. Mau pintar atau bodoh, yang penting percaya dan percaya. Mau buta atau tuli, percayalah. Begitu kuat keyakinan ini menancap dibawah sadar sehingga kita menjadi sangat ketergantungan. Tentu saja hal ini merupakan salah satu bentuk "kecanduan" yang luput dari perhatian kita selama ini.
Kecerdasan batin yang mencoba Membebaskan Diri dari ketergantungan ini selalu akan berbenturan dengan logika teks mainstream. Dalam logika teks, landasan berfikir yang dipakai adalah kutipan-kutipan yang dianggap suci dan dijadikan sebagai bahan pembenaran dalam eyel-eyelan ketika tujuan dialog tidak lagi berjalan pada track yang seharusnya. Tafsir hanya boleh dilakukan oleh mereka yang secara sosial dihormati sebagai tokoh iman. Diluar itu, umat tidak boleh cerdas dalam kesadarannya sendiri karena akan dianggap berbahaya.
Itu sebabnya seringkali kita lihat, ketika terjadi konflik antara si A dan si B, maka si A akan mengutip ayat/teks tertentu yang diyakininya benar untuk mewakili kondisi batinnya. Demikian juga si B melakukan hal yang sama, mengutip teks tertentu sebagai sanggahan terhadap si A. Terjadi lempar-lemparan ayat yang sebenarnya tidaklah penting. Bagaimanapun juga ayat/teks tersebut bukanlah fakta, melainkan seringkali merupakan bentuk pelarian dalam rangka untuk menghibur Diri dan mempertahankan ego yang sebenarnya sedang keruh dan kacau. Sedangkan fakta yang sesungguhnya luput dari perhatian, bahwa konflik yang ada di dalam antara si A dan si B masih tetap terjadi dan belum tersembuhkan.
Jujur atau tidak, suka atau tidak, orang-orang yang beriman secara konservatif telah hidup dan dihidupi dengan berbagai teks ini. Bagi mereka teks-teks tersebut tidak pernah salah dan dianggap sebagai sabda langit paling sakral tanpa cela. Dengan membacanya saja sudah diberikan jaminan pahala dan keselamatan. Maka tidak heran, seringkali teks-teks tersebut dijadikan materi untuk diperlombakan. Akan ada "rewards" bagi pembaca yang paling sempurna. Ada juga waktu khusus yang digunakan untuk memperingati "kesucian" teks-teks ini. Bahkan yang paling aneh lagi, salah satu persyaratan dalam penerimaan beasiswa adalah seseorang yang harus hafal seluruh isi teks suci ini. Apa hubungannya coba? :)
Setiap agama dan kepercayaan tertentu pastilah memiliki teks kebanggaannya sendiri. Minimal bagi setiap pemeluk keyakinan tertentu yang komunitasnya relatif lebih kecil tetap memiliki aturan lisan yang dianggap sebagai kebenaran. Namun sebaik-baiknya agama dan kepercayaan dengan berbagai atributnya tersebut bukanlah sesuatu yang sangat penting untuk mendapat perhatian. Yang paling penting adalah manusianya. Sebab yang "hidup" adalah manusianya, bukan teks, atribut dan segala tetek-bengeknya itu. Fakta, bahwa teks yang dianggap suci sebagai jimat keselamatan itu tak mampu menihilkan berbagai konflik/peperangan selama kurang lebih 2000 tahun ini.
Tidak perlu merasa tersinggung membaca catatan ini. "Keep Calm and Drink Coffee". Santai saja. Catatan ini tidak bermaksud membuat keimanan seseorang menjadi kehilangan arah. Tak perlu juga berfikir bahwa si penulis adalah seseorang yang mempromosikan atheisme. Ah, hal itu tidak menarik sama sekali. Bagi penulis, theis, atheis, agnostik, free-thinker, lightworker, dukun, dan apapun sebutannya itu hanyalah kumpulan kata-kata saja. Ia hanyalah pelengkap kosakata yang dipakai manusia. Bahkan, spiritualis itu sendiri pun pada akhirnya hanyalah sebuah kata saja. Sama seperti mie yang dijual dengan banyak nama. Tetap mie, tapi merknya beda-beda. Begitu juga kita ini, sama-sama manusia tapi merknya (seolah-olah tampak) tidak sama. Pertanyaannya adalah, "Kenapa koq bisa beda? Siapa yang memberi merk? Kenapa koq tiba-tiba saya lahir dan bermerk? Dan kenapa kemudian merk-merk itu harus diagung-agungkan? Kenapa sampai bisa kepikiran bahwa merk gua paling oke punya?".
Sejatinya kemanusiaan itu sejak dari dulu memang telah dipisah-pisahkan. Yang memisahkannya, siapa lagi kalo bukan manusia sendiri. Ia dipisahkan berdasarkan agama, kepercayaan, ideologi, politik, suku bangsa, dan negara. Ini adalah fakta sesungguhnya yang tak bisa ditutup-tutupi dengan berpura-pura tidak tahu. Dan kita hidup di dalam kenyataan ini. Sebuah kenyataan yang memperlihatkan bahwa manusia yang hidup dengan label-label itu pada akhirnya hanya menumpuk Ego yang Fanatis. Fanatisme telah menjadikan manusia hidup dalam konflik yang tak kunjung selesai. Ia adalah ego yang menganggap dirinya dengan berbagai atribut yang ia pakai adalah paling sempurna dari siapapun.
Jika saja manusia (Indonesia) mau melepaskan sejenak semua label-label ini dan menyadari dirinya hanya sebagai manusia, maka mungkin kehidupan ini akan sedikit lebih damai. Indonesia akan lebih cepat maju jika tak lagi mempersoalkan agama seseorang untuk menjadi pemimpin.
Sudahlah. Terima saja fakta secara sadar bahwa dalam komunitas dunia ini kita dipisahkan oleh sebuah identitas negara, maka jelas agama bukanlah landasan kita bernegara selama ini. Dengan serta-merta menganggap posisi agama lebih tinggi dari hal apapun lalu negara harus tunduk, itu kan salah kaprah dan terlalu konyol juga. Ndak nyambung banget kan? Minimal, ini saja sih. Sisanya, sedikit saja, waraslah dalam pilihan dan keyakinannya masing-masing tanpa perlu ngeyel dengan mengatakan, "Sori boo, baju ane paling keren nih. Awas lu ye, kalo sampe nyaingin gue. Gue kutuk lo jadi tapir ato babi!" What??
_/\_
Karimawatn, 10-10-2016
Bagi siapapun yang melihat fenomena ini, entah di FB dan di sosmed lain atau di berbagai kesempatan offline, terimalah hal ini sebagai realitas. Apa apa adanya saja. Akui saja bahwa fenomena ini memang sedang berlangsung. Energi semesta sedang bekerja tanpa bisa kita atur agar sesuai dengan kemauan kita sendiri. Tidak mungkin juga semua orang yang kita temui dan kita ajak bicara secara online or offline bisa ikut apa yang kita mau menurut pikiran kita sendiri. Jadi, tidak perlu galau berlebihan. Tenang saja, sebab semesta sedang bercengkrama dengan kesadaran manusia di seantero Bumi. Jadi bukan cuma terjadi di Indonesia saja.
Toh, kita sendiri yang mau mendaftarkan diri ke sosial media. Dan keputusan kita bersosmed tentu saja selalu memiliki konsekwensi. Semua tergantung pada diri sendiri. Kalo ndak suka tema-tema sensitif, ya kabur atau block aja. Napa harus refot.? Bagi yang suka ngelawak, ya ngelawaklah. Yang suka pasang foto, ya action-lah. Yang suka nambah friendlist, ya lakukanlah. Yang saban hari suka pasang doa, ya berdoalah. Yang mau jadi motivator, ya teruskanlah. Yang suka makan-makan, ya aplodlah sebanyak-banyaknya gambar makanan yang enak-enak itu. Yang suka jualan, ya jualanlah. Yang suka sekedar ngintip, ya ngitiplah. Yang penting tertib. Intinya, bersosmedlah sesuai dengan apa yang disuka saja, tanpa memaksa apa yang disuka itu kepada orang lain. Minimal itu dulu agar tentram jiwa raga.:)
Tapi sekali lagi, apa yang sedang terjadi akhir-akhir ini adalah realitas yang mau tidak mau, suka tidak suka sedang kita hadapi bersama. Jaman sedang berada pada momennya "saat ini", yaitu saat dimana manusia di seluruh Bumi terhubung satu sama lain. Paradigma tentang apapun termasuk agama, politik, hukum dan budaya telah bergeser tanpa bisa kita tahan-tahan lagi. Manusia lama akan muncul secara bersamaan dengan manusia baru. Konflik mungkin saja akan tetap terjadi. Kenyamanan batin bisa saja terusik. Namun hal ini tak bisa terhindarkan. Sebagai akibat dari tsunami kesadaran yang begitu dasyat ini, maka apapun bisa terjadi. Oleh karenanya, jika kita mau membuka diri, mungkin kita bisa belajar "sesuatu" dari berbagai fenomena yang sedang terjadi saat ini.
Ya, mungkin saja Kita telah diajari untuk tidak mengatakan hal-hal sensitif agar tidak melukai perasaan orang lain. Dan Keyakinan (iman) merupakan salah satu hal yang paling "sensi" untuk dibicarakan. Ia merupakan hal yang sangat tabu dan tidak boleh diutak-atik. Akan tetapi, ada hal yang agak lucu. Disaat Kita dididik untuk mengasah nalar, melalui sekolah, melalui buku-buku dan sebagainya, namun pada perjalanannya kita menjadi mandeg jika berhadapan dengan agama (iman).
Dalam iman, tampak jelas bahwa kebebasan berfikir dengan sadar, secara tegas atau tidak, sangatlah dilarang. Tidak boleh sedikitpun ada keraguan di dalamnya. Tidak boleh ada komplain. Mau pintar atau bodoh, yang penting percaya dan percaya. Mau buta atau tuli, percayalah. Begitu kuat keyakinan ini menancap dibawah sadar sehingga kita menjadi sangat ketergantungan. Tentu saja hal ini merupakan salah satu bentuk "kecanduan" yang luput dari perhatian kita selama ini.
Kecerdasan batin yang mencoba Membebaskan Diri dari ketergantungan ini selalu akan berbenturan dengan logika teks mainstream. Dalam logika teks, landasan berfikir yang dipakai adalah kutipan-kutipan yang dianggap suci dan dijadikan sebagai bahan pembenaran dalam eyel-eyelan ketika tujuan dialog tidak lagi berjalan pada track yang seharusnya. Tafsir hanya boleh dilakukan oleh mereka yang secara sosial dihormati sebagai tokoh iman. Diluar itu, umat tidak boleh cerdas dalam kesadarannya sendiri karena akan dianggap berbahaya.
Itu sebabnya seringkali kita lihat, ketika terjadi konflik antara si A dan si B, maka si A akan mengutip ayat/teks tertentu yang diyakininya benar untuk mewakili kondisi batinnya. Demikian juga si B melakukan hal yang sama, mengutip teks tertentu sebagai sanggahan terhadap si A. Terjadi lempar-lemparan ayat yang sebenarnya tidaklah penting. Bagaimanapun juga ayat/teks tersebut bukanlah fakta, melainkan seringkali merupakan bentuk pelarian dalam rangka untuk menghibur Diri dan mempertahankan ego yang sebenarnya sedang keruh dan kacau. Sedangkan fakta yang sesungguhnya luput dari perhatian, bahwa konflik yang ada di dalam antara si A dan si B masih tetap terjadi dan belum tersembuhkan.
Jujur atau tidak, suka atau tidak, orang-orang yang beriman secara konservatif telah hidup dan dihidupi dengan berbagai teks ini. Bagi mereka teks-teks tersebut tidak pernah salah dan dianggap sebagai sabda langit paling sakral tanpa cela. Dengan membacanya saja sudah diberikan jaminan pahala dan keselamatan. Maka tidak heran, seringkali teks-teks tersebut dijadikan materi untuk diperlombakan. Akan ada "rewards" bagi pembaca yang paling sempurna. Ada juga waktu khusus yang digunakan untuk memperingati "kesucian" teks-teks ini. Bahkan yang paling aneh lagi, salah satu persyaratan dalam penerimaan beasiswa adalah seseorang yang harus hafal seluruh isi teks suci ini. Apa hubungannya coba? :)
Setiap agama dan kepercayaan tertentu pastilah memiliki teks kebanggaannya sendiri. Minimal bagi setiap pemeluk keyakinan tertentu yang komunitasnya relatif lebih kecil tetap memiliki aturan lisan yang dianggap sebagai kebenaran. Namun sebaik-baiknya agama dan kepercayaan dengan berbagai atributnya tersebut bukanlah sesuatu yang sangat penting untuk mendapat perhatian. Yang paling penting adalah manusianya. Sebab yang "hidup" adalah manusianya, bukan teks, atribut dan segala tetek-bengeknya itu. Fakta, bahwa teks yang dianggap suci sebagai jimat keselamatan itu tak mampu menihilkan berbagai konflik/peperangan selama kurang lebih 2000 tahun ini.
Tidak perlu merasa tersinggung membaca catatan ini. "Keep Calm and Drink Coffee". Santai saja. Catatan ini tidak bermaksud membuat keimanan seseorang menjadi kehilangan arah. Tak perlu juga berfikir bahwa si penulis adalah seseorang yang mempromosikan atheisme. Ah, hal itu tidak menarik sama sekali. Bagi penulis, theis, atheis, agnostik, free-thinker, lightworker, dukun, dan apapun sebutannya itu hanyalah kumpulan kata-kata saja. Ia hanyalah pelengkap kosakata yang dipakai manusia. Bahkan, spiritualis itu sendiri pun pada akhirnya hanyalah sebuah kata saja. Sama seperti mie yang dijual dengan banyak nama. Tetap mie, tapi merknya beda-beda. Begitu juga kita ini, sama-sama manusia tapi merknya (seolah-olah tampak) tidak sama. Pertanyaannya adalah, "Kenapa koq bisa beda? Siapa yang memberi merk? Kenapa koq tiba-tiba saya lahir dan bermerk? Dan kenapa kemudian merk-merk itu harus diagung-agungkan? Kenapa sampai bisa kepikiran bahwa merk gua paling oke punya?".
Sejatinya kemanusiaan itu sejak dari dulu memang telah dipisah-pisahkan. Yang memisahkannya, siapa lagi kalo bukan manusia sendiri. Ia dipisahkan berdasarkan agama, kepercayaan, ideologi, politik, suku bangsa, dan negara. Ini adalah fakta sesungguhnya yang tak bisa ditutup-tutupi dengan berpura-pura tidak tahu. Dan kita hidup di dalam kenyataan ini. Sebuah kenyataan yang memperlihatkan bahwa manusia yang hidup dengan label-label itu pada akhirnya hanya menumpuk Ego yang Fanatis. Fanatisme telah menjadikan manusia hidup dalam konflik yang tak kunjung selesai. Ia adalah ego yang menganggap dirinya dengan berbagai atribut yang ia pakai adalah paling sempurna dari siapapun.
Jika saja manusia (Indonesia) mau melepaskan sejenak semua label-label ini dan menyadari dirinya hanya sebagai manusia, maka mungkin kehidupan ini akan sedikit lebih damai. Indonesia akan lebih cepat maju jika tak lagi mempersoalkan agama seseorang untuk menjadi pemimpin.
Sudahlah. Terima saja fakta secara sadar bahwa dalam komunitas dunia ini kita dipisahkan oleh sebuah identitas negara, maka jelas agama bukanlah landasan kita bernegara selama ini. Dengan serta-merta menganggap posisi agama lebih tinggi dari hal apapun lalu negara harus tunduk, itu kan salah kaprah dan terlalu konyol juga. Ndak nyambung banget kan? Minimal, ini saja sih. Sisanya, sedikit saja, waraslah dalam pilihan dan keyakinannya masing-masing tanpa perlu ngeyel dengan mengatakan, "Sori boo, baju ane paling keren nih. Awas lu ye, kalo sampe nyaingin gue. Gue kutuk lo jadi tapir ato babi!" What??
_/\_
Karimawatn, 10-10-2016

Tidak ada komentar