Janganlah Kamu Heran
Alih-alih mengenal dan memikirkan Tuhan apakah Ia benar seperti seseorang yang menciptakan sebotol anggur atau bukan, maka akan lebih baik jika Kamu mengundang sahabatmu, dan bercakap-cakaplah dengan dia.
Ajaklah sahabatmu itu menyaksikan bintang menari di angkasa sembari bersulang menikmati anggur tanpa berfikir siapakah yang membuat minuman senikmat itu. Bakarlah api unggun, dan rasakanlah kehangatannya merayap sampai kedalam nadimu.
Namun, sebelum setiap kata mengalir begitu jauh, pastikanlah bahwa Kamu dan sahabatmu itu menerima sepenuhnya keberadaan kegelapan. Sebab, cahaya bintang dan api unggun itu bukanlah apa-apa tanpa hadirnya kegelapan. Terimalah kenyataan, bahwa belajar dan menikmati keindahan cahaya hanya dapat dilakukan tanpa harus membenci kegelapan.
Jika Kau telah menyaksikan keseluruhan ini, maka setidaknya batinmu akan siap. Sewaktu-waktu ia akan penuh, namun ketika ia sadar dan membuka, ia akan mengosongkan diri kembali. Hanya dengan cara ini saja, setiap percakapan akan menjadi sesuatu yang paling menyenangkan.
Janganlah Kamu heran, bahwa kemudian didalam percakapan yang mendalam itu, Kamu akan menatap Wajah Ilahi dan merasakan kesalehan yang benar-benar baru dan segar. Kamu bisa merasakan bagaimana cinta merambat kedalam seluruh sel tubuhmu, dan sukacita terbesar akan mengelilingi Kamu.
Dan pengalaman itu adalah sesuatu yang paling berharga, sebab gerbang pengetahuan telah terbuka dengan sendirinya. Bahkan Kau tak pernah berupaya membukanya, ia membuka begitu saja. Kemudian Kau hanya perlu menikmati momen itu tanpa harus terpenjara oleh rasa cemas.
Dan tentang Tuhan itu, Kau akan tertawa bersama-Nya. Sebuah tawa yang paling renyah keluar dari batinmu yang lapang tanpa penghalang apapun juga. Kau juga dapat menari bersama-Nya kapan pun engkau menghendakinya.
Ia, Tuhan itu bukanlah sosok pria tua yang pemarah, pendendam, dan bukan pula tukang jagal sebagaimana yang Kamu pernah dengar dari para tetua dan para ulama itu. Ia juga bukanlah sosok perempuan tua yang cerewet, yang senantiasa menuntutmu tunduk pada setiap detail ritual.
Ia bukan sosok yang haus kehormatan, bukan pula miskin kemuliaan. Mungkin saja, sampai detik ini Kau sendiri masih bingung apakah puja-pujimu selama ini sungguh memiliki makna?. Atau hanya sekedar untaian kata-kata hampa yang tak pernah Kau sadari menguap bersama kegamangan?.
Ia yang Kau panggil Tuhan itu bukanlah sosok pencemburu. Amatilah ini, bahwa rasa cemburu itu justru telah datang menghampiri dan membelenggu jiwamu ketika Kau merasa sungguh sangat mencintai. Tuhan yang adalah Cinta bukanlah yang seperti itu. Dia bukanlah sosok yang posesif, yang berusaha mati-matian menambatmu di dalam rumah-Nya agar Kamu tidak pernah pergi meninggalkan-Nya sendirian, sebab Ia memang tidak pernah takut berada didalam kesunyian.
Dan tentang Dia, Tuhan itu, hanyalah tentang Kamu sendiri. Tatkala Kau tertawa bersama-Nya, Kau juga akan merayakan keagungan Air Mata. Sebab Ia bukanlah sosok yang menjauhkan penderitaan dari tawa dan senyuman. Ia bukan pula sosok seorang ayah yang mati-matian mengajari anak lekakinya untuk tidak menangis agar di kemudian hari menjadi pejantan tangguh namun miskin empati. Ia juga bukanlah sosok seorang ibu yang berusaha sekuat tenaga menasehati anak perempuannya agar menolak habis-habisan sebuah kesedihan.
Kunci kebenaran itu sejatinya telah diberikan kepadamu, bahwa sejauh Kau dapat mendayung perahumu dengan Kesadaran yang paling murni, maka Kamu tidak akan pernah tenggelam di dalam Air Mata, sebab Ia yang bersemayam di dalam Dirimu akan membuka rahasia bahwa kebahagiaan dan cinta memang harus tumbuh melalui akar penderitaan.
Itu sebabnya, mengapa Kamu harus menangis ketika pertama kali datang ke dunia ini. Kamu secara pasti tidak akan pernah ingat, kapan pertama kali dalam kehidupan ini matamu sembab karena air mata. Namun satu hal yang tak mungkin dapat Kau tolak adalah kenyataan bahwa lubang-lubang kecil (puncta) yang ada di sudut-sudut kelopak matamu itu adalah Mata Air yang dari situ Kau juga dapat meneguk sebuah pelajaran. Dan ketahuilah bahwa dari lubang-lubang kecil di kedua matamu itulah, keindahan Ilahi juga dapat mengalir ke seluruh jiwamu, yaitu ketika Kau berada dalam sukacita yang luar biasa.
Leonians - Karimawatn, 12-04-2018

Tidak ada komentar