Header Ads

ads

Musik dan Spiritualitas

Musik dan Spiritualitas

Musik itu bukanlah sesuatu yang biologis; itu bukan sesuatu yang berkaitan dengan kimiamu atau tubuh fisikmu. Musik bahkan bukan dari pikiran. Musik adalah sesuatu ... satu ruang di antara pikiran dan meditasi. Itu adalah salah satu fenomena yang paling misterius. Untuk memahaminya dalam istilah intelektual hampir tidak mungkin, dengan alasan sederhana bahwa ia melampaui pikiran – tetapi ia belum menjadi meditasi.

Musik bisa menjadi meditasi — ia memiliki kedua kemungkinannya — ia dapat turun dan menjadi pikiran. Lalu engkau hanya seorang teknisi, bukan seorang pemusik. Engkau mungkin sedang bermain dengan sempurna di instrumennya, tanpa kesalahan apa pun, tetapi tetap saja engkau hanya seorang teknisi. Engkau mengenal tekniknya dengan sempurna dan sepenuhnya, tetapi itu bukan hatimu dan itu bukan dirimu; itu hanya pengetahuanmu.

Musik dapat pergi lebih tinggi dan lebih jauh dari pikiran, dan kemudian ia mulai menjadi lebih dekat dan semakin dekat ke kedamaian dan keheningan. Orang adalah seorang pemusik hanya ketika dia memahami suara keheningan, dan orang yang memahami suara keheningan mampu menciptakan suara-suara yang identik dengan keheningan. Itulah hal yang paling ajaib. Kemudian pemusik itu telah sampai pada kemekarannya yang sempurna. Dengan melampaui musik ini mulailah dunia meditasi.

Sesungguhnya, sejauh itu menyangkut kaum Timur, sumber-sumber kuno menyatakan satu hal secara pasti tentang musik, dan itu adalah bahwa ia lahir dari meditasi. Orang-orang yang pergi jauh ke dalam meditasi menikmati keheningan itu, mencintai kedamaian yang tampaknya tak dapat dipahami. Mereka ingin menyampaikan bahwa engkau itu jauh lebih banyak daripada yang engkau kira, jauh lebih besar daripada yang engkau kira; engkau sebesar seluruh alam semesta — tetapi bagaimana cara mengatakannya? Kata-kata adalah konsep filosofis yang sangat buruk, hampir seperti pengemis (yang sangat miskin).

Para meditator kuno mencoba menemukan cara untuk menyampaikan kedamaian mereka, kebisuan mereka, sukacita mereka, dan mereka adalah orang-orang yang telah menemukan musik. Musik adalah hasil sampingan dari meditasi.

Tetapi engkau bisa pergi melalui kedua jalannya: entah dari meditasi engkau bisa tiba ke musik sebagai satu ekspresi, ekspresi kreatif dari pengalamanmu; atau engkau bisa pergi dari musik ke meditasi, karena musik membawamu lebih dekat dan semakin dekat ke meditasi ketika musik menjadi keheningan yang luar biasa, suara-suara yang menyatu menjadi keheningan, suara-suara yang menciptakan keheningan yang lebih dalam daripada yang pernah engkau kenal. Maka engkau berada sangat dekat dengan perbatasan dari meditasimu….

Musik itu tidak berada dalam kategori yang sama dengan seks, meskipun di Barat musik modern telah jatuh begitu rendahnya sehingga ia telah sampai sangat dekat kepada kategori seks. Hanya musik seperti itu yang dihargai di Barat yang membangkitkan seksualitas/gairah di dalam dirimu. Seks adalah titik terendah dari energi kehidupanmu, dan jika musik digunakan untuk membangkitkan seksualitas, maka secara alami ia harus jatuh ke dalam kategori yang sama.

Kesadaran murni adalah titik tertinggi dari energi kehidupanmu. Ketika musik mencapai kesadaran murni, ia membangkitkan di dalam dirimu wilayah yang tidak diketahui, langit yang belum dijelajahi. Ia bisa menjadi pintu bagi yang Ilahi. Sama seperti ia bisa menjadi pintu bagi hewan di tingkat yang terendah, pada tingkat tertinggi ia bisa menjadi pintu menuju yang Ilahi.

Manusia hanyalah jembatan yang harus dilalui. Manusia hanyalah satu jembatan di antara binatang dan yang Ilahi. Engkau seharusnya tidak membangun rumahmu di atas jembatan itu — jembatan itu bukan untuk membangun rumah di atasnya — engkau harus melanjutkan perjalanan, dari pantai ini ke pantai yang lebih jauh.

OSHO ~ Satyam Shivam Sundaram, Chpt 22

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.