Manusia Binatang Buas?
Seringkali manusia menyandingkan keberingasan yang dilakukan oleh manusia lain itu dengan cara karakter binatang. Dengan sombong manusia selalu mengganggap makhluk yang bernama binatang/hewan paling rendah. Maka tidak heran, di dalam dunia manusia konsep mengenai kompetisi, secara samar dilakukan dengan dengan mengikuti suatu hukum yang disebut sebagai Hukum Rimba (hukum para binatang). Yang kuatlah, yang menang. Tapi apakah cara berpikirnya harus selalu harus seperti itu?
T = Harimau disebut binatang buas karena ia makan daging? Atau Karena Harimau itu binatang buas maka makanannya harus daging.?
J = Manusia yang mengatakannya seperti itu. Artinya manusia yang punya sudut pandang tentang hal itu. Tergantung manusianya mau pakai yang mana.
Binatang tidak pakai persepsi. Seekor harimau hanya mengandalkan naluri untuk bertahan hidup. Yang penting bisa makan, agar dapat terus berkembang biak. Dorongan untuk makan adalah murni dorongan naluriah kebinatangan. Dan dalam hal ini pastilah yang menjadi makanan pokok harimau adalah daging (mangsanya). Tidak mungkin harimau makan rumput.
Sedangkan manusia makananan pokoknya adalah nasi. Ada juga yang pakai roti atau yang lain. Beras mentah saja bisa dimakan, kalau mau. Dan kalau soal makan-memakan, manusia malah bisa makan apa saja.
Manusia adalah makhluk pemakan segalanya. Bisa makan daging, makan rumput, makan pasir, makan batu, makan tanah, makan hutan, makan emas, makan besi, makan kekuasaan, makan duit, dan lain-lain. Bahkan bisa makan kawannya sendiri (kawan makan kawan).
Ada memang yang ngotot tidak mau makan ini-itu karena alasan diharamkan. Akan tetapi yang lain tetap saja diembat. Bahkan porsinya tidak sesuai/melebihi kepatutan. Jangankan menyisakan porsi untuk makhluk lain, jatah sesama manusianya sendiri disikat habis. Seolah-olah apapun yang ada di atas dan di bawah Bumi ini bisa ditelan semua. Tidak pakai dikunyah, tapi ditelan bulat-bulat.
Manusia adalah spesies yang paling lapar di planet ini. Tentu hal ini bukan soal mengenyangkan perut belaka. Karena secara umum dan menurut ukuran normal, kapasitas perut manusia paling mampu menampung 2 piring (porsi) nasi dalam sekali ritual makan. Akan tetapi, ini soal keinginan. Turunan dari pikiran manusia itu sendiri. Pikiran berpotensi menciptakan kelaparan sepanjang hayat. Alasannya tetap saja sama, yaitu agar bisa tetap berkembang biak sampai tujuh turunan.
Jadi antara dua spesies ini, manakah sebenarnya yang paling buas, manusia or harimau? Atau sengaja pakai wajah manusia yang rupawan tapi sebenarnya ia adalah harimau, yang siap menerkam kapan saja?
Sedangkan manusia makananan pokoknya adalah nasi. Ada juga yang pakai roti atau yang lain. Beras mentah saja bisa dimakan, kalau mau. Dan kalau soal makan-memakan, manusia malah bisa makan apa saja.
Manusia adalah makhluk pemakan segalanya. Bisa makan daging, makan rumput, makan pasir, makan batu, makan tanah, makan hutan, makan emas, makan besi, makan kekuasaan, makan duit, dan lain-lain. Bahkan bisa makan kawannya sendiri (kawan makan kawan).
Ada memang yang ngotot tidak mau makan ini-itu karena alasan diharamkan. Akan tetapi yang lain tetap saja diembat. Bahkan porsinya tidak sesuai/melebihi kepatutan. Jangankan menyisakan porsi untuk makhluk lain, jatah sesama manusianya sendiri disikat habis. Seolah-olah apapun yang ada di atas dan di bawah Bumi ini bisa ditelan semua. Tidak pakai dikunyah, tapi ditelan bulat-bulat.
Manusia adalah spesies yang paling lapar di planet ini. Tentu hal ini bukan soal mengenyangkan perut belaka. Karena secara umum dan menurut ukuran normal, kapasitas perut manusia paling mampu menampung 2 piring (porsi) nasi dalam sekali ritual makan. Akan tetapi, ini soal keinginan. Turunan dari pikiran manusia itu sendiri. Pikiran berpotensi menciptakan kelaparan sepanjang hayat. Alasannya tetap saja sama, yaitu agar bisa tetap berkembang biak sampai tujuh turunan.
Jadi antara dua spesies ini, manakah sebenarnya yang paling buas, manusia or harimau? Atau sengaja pakai wajah manusia yang rupawan tapi sebenarnya ia adalah harimau, yang siap menerkam kapan saja?
_/\_
Seruni, 05-02-2015

Tidak ada komentar