Terus Terang, Philips Terang Terus
Bicara secara gamblang, apa adanya itu memang selalu punya efek samping. Ada juga yang kelihatannya gamblang, terang benderang, ceplas-ceplos tapi energinya malah menekan-nekan jantung. Maksudnya mau menekan orang, tidak sadar malah menekan jantung sendiri.
Bahkan sekalipun itu dilakukan dengan pemilihan kata yang sepoi-sepoi dan dapat melambaikan nyiur dipantai, tetap saja menyasar jantung. Gaya sepoi-sepoi seperti ini biasanya lebih lembut daripada gaya yang sering dipakai para "lelembut". Oh, ada saatnya saya juga bisa jadi lelembut.
Tapi kalau terus-terusan pakai yang lembut-lembut malah lebih berbahaya. Bisa oleng di kemudian hari. Apalagi antara speaker/writer dan listener/reader sudah terbiasa ditekan-tekan sejak bertahun-tahun lamanya. Walaupun tekanan itu tidak terasa atau orangnya merasa tidak ditekan. Kenapa bisa begitu? Ya itu tadi, angin yang dipakai untuk menciptakan tekanan adalah angin sepoi-sepoi. Sejak dari masa kanak-kanak sudah terbiasa ditekan-tekan batinnya dengan cara dibelai-belai. Biasanya dengan menggunakan berbagai konsep usang yang berasal dari luar. Yang umumnya sepoi-sepoi.
Walaupun torang tidak samua masuk TK, tapi torang pernah kanak-kanak juga tho?. Perhatikanlah ini baek-baek. Dada sudah sesak bertahun-tahun jadi tambah sesak. Kalau sudah begini terlalu lama suatu saat bisa saja meledak. Meledakkan dirinya, sekaligus meledakkan orang lain. Dimana-mana meledak. Apa-apa ikut meledak. Kalaupun tidak kelihatan meledak tapi bikin panas dalam. Tidak bisa sembuh kalau cuma minum larutan penyegar cap kaki tiga. Tapi harus pakai cap "mata ketiga".
Tidak heran masih banyak yang doyan berkata, "bicaralah dari hati ke hati". Dan kalimat seperti ini masih saja dianggap ajaran yang baik. Psikolog/Konsultan Kejiwaan juga akan bilang seperti itu. Bahkan dulu saya copas konsep ini mentah-mentah. Belakangan baru ketahuan bicara yang seperti itu adalah bicara dari dada ke dada alias dari jantung ke jantung. Eh, ternyata si jantung-hati tidak selamanya baik untuk dipakai bicara empat mata. Malah lebih baik jantung pisang dibuat jadi sayuran. Tak masalah dianggap menu kelas bawah asal perut bisa kenyang.
Sekarang sudah masuk ke jaman, dimana kalau bicara harus dari kepala ke kepala atau pineal ke pineal. Kesadarannya harus fokus disitu. Kalau sudah fokus, maka lahirlah gaya komunikasi maknyus yang disebut komunikasi intuitif. Head to head. Jika head-nya sudah diperbaiki, heart-nya seharusnya ikut baik. Keduanya, antara kepala dan jantung nyambung secara harmonis, seimbang terus. Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Kalau tidak nyambung, tinggalkan saja.
Bicara yang enak-enak itu memang menyenangkan. Apalagi topiknya berada diluar diri. Siapapun bisa omong. Yang penting bisa bikin adem. Adem dihatimu dan hatiku. Hal itu biasa, mengingat banyak dari kita sudah kecanduan menerima vibrasi yang sangat halus sekali. Yang sebenarnya bisa jadi-jadian juga, berubah jadi cecak. Cecak-cecak di dinding, diam-diam merayap, kalau sudah sampai ke dada, "Haapp!", langsung kena makan itu jantung. Termasuk juga saya selama ini (Oh, testimoni). Aturan yang dipakai, yang penting enak. Antara pembicara/penulis dengan pendengar/pembaca sama-sama enak. Walaupun keduanya tidak perlu minum susu kaleng Cap Enak. Apalagi Cap Nona.
Bicara gamblang jaman sekarang harus bisa buat senam jantung. Jantungnya harus digoyang-goyang biar sehat walafiat. Bisa pakai goyang gergaji, goyang patah-patah, goyang dombret, goyang ngebor dan seribu satu macam goyangan lainnya. Bisa dipakai kalau mau.
Sudah jelas, jantung selalu ada dibalik dada. Mau dada yang berbulu atau tidak berbulu, dada bidang atau dada rata, pasti ada jantung dibaliknya. Apa yang tersembunyi dibalik dada inilah yang harus disembuhkan. Apalagi kalau sakitnya sudah terlalu lama. Mau tidak mau pintu kesembuhan harus dibuka lewat kepala. Lewat kelenjar pineal. Kalau sudah nyambung dengan kepala, baru akan kelihatan hasilnya. Biar sedikit tidak mengapa. Yang penting racun bisa dikeluarkan sedikit demi sedikit.
Memang yang begini tidak ada tutorial bakunya. Tidak ada yang dapat mengarahkan si empunya batin memunculkan hasil tertentu. Hasilnya harus seperti ini atau seperti itu. Kecuali memang harus dicoba sendiri. Mungkin memang ada yang bisa bantu bukain kepala, tapi selanjutnya harus jalan sendiri. Tidak ada jaminan "sahabat pena" bisa bantu jalan, atau nunjukkin jalan.
Perhatikan saja kata kunci pada hal yang terselip. Entah itu disampaikan langsung secara oral ataupun disampaikan dengan mengawinkan setiap huruf melalui tulisan. Jika sudah diperhatikan dengan seksama, maka otak akan terus berbiak. Melahirkan suatu pemahaman baru yang seharusnya dapat "menyembuhkan". Menyembuhkan segala sakit di dada. Entah itu diri sendiri, atau menyembuhkan orang lain.
Kalaupun mau cepat ngeh hal ini tak perlu juga sering-sering bertanya kata kuncinya apa. Asalkan kepala yang sehat sudah mampu menajamkan intuisi. Dengan begini "pengertian intuitif" akan terlatih terus-menerus. Sebisa mungkin spontan, biar bisa bilang "Uhuuyy!". Namun yang lebih penting adalah bahwa semua harus dialami dengan "praktek sendiri". Maka dari itu mulai sekarang semua harus fokus di peneal gland. Atau biasa disebut titik dimana Allah Bersemayam, GOD SPOT. Tentu itu barang letaknya dikepala, bukan di dada. Tepatnya di kening antara dua alis mata.
Jangan kaget kenapa kalau sedang mengecup kening orang-orang terkasih, apakah itu kekasih hati atau si buah hati, kedua mata bisa pejam dengan sendirinya (otomatis), seolah tanpa perintah. Karena memang Allah disitu bisa dilihat/dirasakan pakai mata tertutup. Spontan akan tampak hal Ilahiah disitu. Mungkin ada yang berteori bahwa itu bagian ekspresi rasa. Tapi itu tidak penting. Tidak penting memikirkan tentang "Apa Itu". Yang penting spontanitasnya. Itu baru satu contoh saja, banyak lagi yang lain. Bisa dicari dan dibuktikan sendiri. Tidak mudah memang, perlu latihan terus-menerus agar bisa paham. Saya juga begitu, belum lulus juga. Bahkan tidak berkeinginan untuk mengatakan, "Oh, sekarang saya lulus". Selama hayat di kandung badan, ada baiknya dicoba untuk dipraktekkan sendiri.
Oleh karena itu, apapun yang didengar/dilihat/dibaca disini, di FB, medsos lain, atau di buku-buku kehidupan lainnya, bukanlah suatu kebenaran. Termasuk juga tulisan ini. Sebab yang sebenarnya adalah reaksi batin si pembaca/pendengar. Selanjutnya terserah yang punya kepala dan jantung. Batin yang utuh artinya, pikiran dan perasaan tidak (lagi) selingkuh. Atau setidaknya tahu kalau sudah selingkuh/diselingkuhi berabad-abad oleh berbagai konsep dari luar.
Sudah seharusnya batin senantiasa harmonis. Kalau sudah (relatif) seimbang, maka mau bicara pakai angin puting beliung atau angin sepoi-sepoi itu soal selera. Bisa disetel, bisa dimainkan, bisa diseting, sesuai kebutuhan yang tidak memaksakan diri mencari salah-benar, untung-rugi, gagal-sukses, moral-amoral, surga-neraka, dan segala macam konsep yang masih mendera.
Tentu semua ini bukan seperti the golden ways. Cuma butuh tepuk tangan sambil baca mantra salam syuupeer, syuuuper sekaaaliii". Atau ways-ways sejenis yang juga pakai tepuk tangan setelah itu masih harus isi amplop, biar dapat sertifikat (dunia-akhirat). Apalagi belakangan ini harus pandai curhat di depan kamera. Ini adalah tentang kepala dan jantung yang selalu harus singkron/mawas/harmony, sekalipun situasi diluar senantiasa suka mengacau dan akan terus mengacau.
Apakah dengan mengetahui jurus ini bisa langsung paham saat ini juga? Bisa YA, bisa TIDAK. Tapi ini bukan tentang YA dan TIDAK. Yang penting mulai saat ini harus terus-menerus dicoba praktekkan sampai selesai. Selesai menjadi abu atau menjadi tanah. Kalau sudah mau mencoba mulai sekarang, niscaya yang awalnya adalah gelap, perlahan akan terus terang. Philips terang terus. Anda juga. Ameen.
Bahkan sekalipun itu dilakukan dengan pemilihan kata yang sepoi-sepoi dan dapat melambaikan nyiur dipantai, tetap saja menyasar jantung. Gaya sepoi-sepoi seperti ini biasanya lebih lembut daripada gaya yang sering dipakai para "lelembut". Oh, ada saatnya saya juga bisa jadi lelembut.
Tapi kalau terus-terusan pakai yang lembut-lembut malah lebih berbahaya. Bisa oleng di kemudian hari. Apalagi antara speaker/writer dan listener/reader sudah terbiasa ditekan-tekan sejak bertahun-tahun lamanya. Walaupun tekanan itu tidak terasa atau orangnya merasa tidak ditekan. Kenapa bisa begitu? Ya itu tadi, angin yang dipakai untuk menciptakan tekanan adalah angin sepoi-sepoi. Sejak dari masa kanak-kanak sudah terbiasa ditekan-tekan batinnya dengan cara dibelai-belai. Biasanya dengan menggunakan berbagai konsep usang yang berasal dari luar. Yang umumnya sepoi-sepoi.
Walaupun torang tidak samua masuk TK, tapi torang pernah kanak-kanak juga tho?. Perhatikanlah ini baek-baek. Dada sudah sesak bertahun-tahun jadi tambah sesak. Kalau sudah begini terlalu lama suatu saat bisa saja meledak. Meledakkan dirinya, sekaligus meledakkan orang lain. Dimana-mana meledak. Apa-apa ikut meledak. Kalaupun tidak kelihatan meledak tapi bikin panas dalam. Tidak bisa sembuh kalau cuma minum larutan penyegar cap kaki tiga. Tapi harus pakai cap "mata ketiga".
Tidak heran masih banyak yang doyan berkata, "bicaralah dari hati ke hati". Dan kalimat seperti ini masih saja dianggap ajaran yang baik. Psikolog/Konsultan Kejiwaan juga akan bilang seperti itu. Bahkan dulu saya copas konsep ini mentah-mentah. Belakangan baru ketahuan bicara yang seperti itu adalah bicara dari dada ke dada alias dari jantung ke jantung. Eh, ternyata si jantung-hati tidak selamanya baik untuk dipakai bicara empat mata. Malah lebih baik jantung pisang dibuat jadi sayuran. Tak masalah dianggap menu kelas bawah asal perut bisa kenyang.
Sekarang sudah masuk ke jaman, dimana kalau bicara harus dari kepala ke kepala atau pineal ke pineal. Kesadarannya harus fokus disitu. Kalau sudah fokus, maka lahirlah gaya komunikasi maknyus yang disebut komunikasi intuitif. Head to head. Jika head-nya sudah diperbaiki, heart-nya seharusnya ikut baik. Keduanya, antara kepala dan jantung nyambung secara harmonis, seimbang terus. Sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Kalau tidak nyambung, tinggalkan saja.
Bicara yang enak-enak itu memang menyenangkan. Apalagi topiknya berada diluar diri. Siapapun bisa omong. Yang penting bisa bikin adem. Adem dihatimu dan hatiku. Hal itu biasa, mengingat banyak dari kita sudah kecanduan menerima vibrasi yang sangat halus sekali. Yang sebenarnya bisa jadi-jadian juga, berubah jadi cecak. Cecak-cecak di dinding, diam-diam merayap, kalau sudah sampai ke dada, "Haapp!", langsung kena makan itu jantung. Termasuk juga saya selama ini (Oh, testimoni). Aturan yang dipakai, yang penting enak. Antara pembicara/penulis dengan pendengar/pembaca sama-sama enak. Walaupun keduanya tidak perlu minum susu kaleng Cap Enak. Apalagi Cap Nona.
Bicara gamblang jaman sekarang harus bisa buat senam jantung. Jantungnya harus digoyang-goyang biar sehat walafiat. Bisa pakai goyang gergaji, goyang patah-patah, goyang dombret, goyang ngebor dan seribu satu macam goyangan lainnya. Bisa dipakai kalau mau.
Sudah jelas, jantung selalu ada dibalik dada. Mau dada yang berbulu atau tidak berbulu, dada bidang atau dada rata, pasti ada jantung dibaliknya. Apa yang tersembunyi dibalik dada inilah yang harus disembuhkan. Apalagi kalau sakitnya sudah terlalu lama. Mau tidak mau pintu kesembuhan harus dibuka lewat kepala. Lewat kelenjar pineal. Kalau sudah nyambung dengan kepala, baru akan kelihatan hasilnya. Biar sedikit tidak mengapa. Yang penting racun bisa dikeluarkan sedikit demi sedikit.
Memang yang begini tidak ada tutorial bakunya. Tidak ada yang dapat mengarahkan si empunya batin memunculkan hasil tertentu. Hasilnya harus seperti ini atau seperti itu. Kecuali memang harus dicoba sendiri. Mungkin memang ada yang bisa bantu bukain kepala, tapi selanjutnya harus jalan sendiri. Tidak ada jaminan "sahabat pena" bisa bantu jalan, atau nunjukkin jalan.
Perhatikan saja kata kunci pada hal yang terselip. Entah itu disampaikan langsung secara oral ataupun disampaikan dengan mengawinkan setiap huruf melalui tulisan. Jika sudah diperhatikan dengan seksama, maka otak akan terus berbiak. Melahirkan suatu pemahaman baru yang seharusnya dapat "menyembuhkan". Menyembuhkan segala sakit di dada. Entah itu diri sendiri, atau menyembuhkan orang lain.
Kalaupun mau cepat ngeh hal ini tak perlu juga sering-sering bertanya kata kuncinya apa. Asalkan kepala yang sehat sudah mampu menajamkan intuisi. Dengan begini "pengertian intuitif" akan terlatih terus-menerus. Sebisa mungkin spontan, biar bisa bilang "Uhuuyy!". Namun yang lebih penting adalah bahwa semua harus dialami dengan "praktek sendiri". Maka dari itu mulai sekarang semua harus fokus di peneal gland. Atau biasa disebut titik dimana Allah Bersemayam, GOD SPOT. Tentu itu barang letaknya dikepala, bukan di dada. Tepatnya di kening antara dua alis mata.
Jangan kaget kenapa kalau sedang mengecup kening orang-orang terkasih, apakah itu kekasih hati atau si buah hati, kedua mata bisa pejam dengan sendirinya (otomatis), seolah tanpa perintah. Karena memang Allah disitu bisa dilihat/dirasakan pakai mata tertutup. Spontan akan tampak hal Ilahiah disitu. Mungkin ada yang berteori bahwa itu bagian ekspresi rasa. Tapi itu tidak penting. Tidak penting memikirkan tentang "Apa Itu". Yang penting spontanitasnya. Itu baru satu contoh saja, banyak lagi yang lain. Bisa dicari dan dibuktikan sendiri. Tidak mudah memang, perlu latihan terus-menerus agar bisa paham. Saya juga begitu, belum lulus juga. Bahkan tidak berkeinginan untuk mengatakan, "Oh, sekarang saya lulus". Selama hayat di kandung badan, ada baiknya dicoba untuk dipraktekkan sendiri.
Oleh karena itu, apapun yang didengar/dilihat/dibaca disini, di FB, medsos lain, atau di buku-buku kehidupan lainnya, bukanlah suatu kebenaran. Termasuk juga tulisan ini. Sebab yang sebenarnya adalah reaksi batin si pembaca/pendengar. Selanjutnya terserah yang punya kepala dan jantung. Batin yang utuh artinya, pikiran dan perasaan tidak (lagi) selingkuh. Atau setidaknya tahu kalau sudah selingkuh/diselingkuhi berabad-abad oleh berbagai konsep dari luar.
Sudah seharusnya batin senantiasa harmonis. Kalau sudah (relatif) seimbang, maka mau bicara pakai angin puting beliung atau angin sepoi-sepoi itu soal selera. Bisa disetel, bisa dimainkan, bisa diseting, sesuai kebutuhan yang tidak memaksakan diri mencari salah-benar, untung-rugi, gagal-sukses, moral-amoral, surga-neraka, dan segala macam konsep yang masih mendera.
Tentu semua ini bukan seperti the golden ways. Cuma butuh tepuk tangan sambil baca mantra salam syuupeer, syuuuper sekaaaliii". Atau ways-ways sejenis yang juga pakai tepuk tangan setelah itu masih harus isi amplop, biar dapat sertifikat (dunia-akhirat). Apalagi belakangan ini harus pandai curhat di depan kamera. Ini adalah tentang kepala dan jantung yang selalu harus singkron/mawas/harmony, sekalipun situasi diluar senantiasa suka mengacau dan akan terus mengacau.
Apakah dengan mengetahui jurus ini bisa langsung paham saat ini juga? Bisa YA, bisa TIDAK. Tapi ini bukan tentang YA dan TIDAK. Yang penting mulai saat ini harus terus-menerus dicoba praktekkan sampai selesai. Selesai menjadi abu atau menjadi tanah. Kalau sudah mau mencoba mulai sekarang, niscaya yang awalnya adalah gelap, perlahan akan terus terang. Philips terang terus. Anda juga. Ameen.
_/\_
Karimawatn, 140515

Tidak ada komentar