Header Ads

ads

Goodbye Itu Ikhlas

Goodbye Itu Ikhlas

Diatas motor bapak itu, sebut saja Pak Bro, bercerita tentang kejadian beberapa hari yang lalu. Adalah cerita tentang maut yang datang tanpa permisi. Yakni ketika seorang balita (4 tahun) yang meregang nyawa setelah nyemplung kedalam drum bensin. Kebetulan Pak Bro satu kampung dengan keluarga yang tertimpa musibah ini.

Menurut penuturan Pak Bro -- setelah kejadian itu, ibu si anak sangat menyesal. Tak kuasa ia menahan kesedihan yang menyayat dada itu. Sebab sebelum kemalangan itu terjadi -- sesaat si anak bangun dari tidurnya, ia sempat meminta ibunya agar diijinkan ikut ke Gereja, dimana saat itu si ibu akan berlatih koor untuk persiapan acara pengantin tetangga. Ternyata si ibu tak mengijinkan anaknya pergi dan menyuruhnya tinggal di rumah bersama ayahnya. Teringat hal itu, si ibu terus menangis sambil memohon maaf di hadapan jasad balitanya yang sudah tak bernyawa. Ia merasa sangat bersalah telah melarang anaknya pergi bersamanya. Jika saja ia pergi bersama anaknya mungkin saja peristiwa nahas itu takkan pernah terjadi.

Disisi lain si ayah juga sangat terpukul. Ia juga tak kuat membendung air matanya. Pak Bro mengisahkan si ayah balita ini mengaku paling bersalah atas peristiwa itu. Di hadapan jasad si bungsunya itu si ayah berkali-kali memohon maaf, karena merasa lalai mengawasi si buah hati yang tak lagi bernafas. Sebab ternyata saat peristiwa nahas itu terjadi, si ayah sibuk melayani pelanggan yang datang berbelanja di warungnya. Padahal pada saat itu juga ia sedang menyuapi balitanya itu makan. Namun dalam sekejap, ia kehilangan separuh hidupnya, yaitu si bungsu yang telah ia besarkan bersama istri. Si bungsu tak tertolong lagi. Pergi selama-lamanya meninggalkan mereka berdua.

Di atas motor itu, aku mengikuti dengan seksama apa yang di tuturkan Pak Bro di belakangku. Menurutnya, kejadian seperti ini membutuhkan waktu yang sangat panjang bagi kedua orang tua anak itu untuk bisa sembuh dari rasa bersalah. Dan mungkin butuh proses yang lama pula untuk berdamai dengan penyesalan. Mungkin pengalamannya akan sedikit berbeda, jika si balita itu meninggal karena sakit.

Aku hanya mengiyakan saja apa yang dikisahkan Pak Bro. Sambil memegang kendali sepeda motor. Mataku menerawang pada ujung jalan yang mulai sore. Batinku mencoba masuk kedalam peristiwa tersebut.

Ada dua hal yang terlintas di kepalaku saat itu; bagaimana jika aku di posisi salah satu dari orang tua balita itu? Dan, bagaimana jika aku adalah anak kecil itu, yakni saat di tolak pergi bersama ibu ke Gereja, atau saat dicueki oleh ayahnya? Kedua hal ini terus melahirkan percakapan panjang dalam batinku. Bahkan beberapa diantaranya adalah perdebatan, yang tak bisa terselesaikan dalam sekejab.

Dari mengamati reaksi batin terhadap peritiwa di atas, maka ada beberapa hal yang menjadi catatan pribadiku. Bahwa seseorang (termasuk aku sendiri) tak akan pernah mampu masuk terlalu jauh ke dalam batin orang lain. Sebab reaksi batin apapun yang terjadi pada setiap orang sangat dipengaruhi oleh pengalamannya sendiri. Sedangkan setiap pengalaman antara satu dengan lainnya tak akan pernah sama.

Dan apa yang disebut dengan empati itu juga tergantung dari ketajaman batin yang bisa menjadi penentu seberapa tajam "penilaian intuitif" seseorang terhadap sesuatu yang terjadi di luar dirinya (mis. pengalaman orang lain seperti kisah diatas).

Semua ini bersumber dari ego. Dan ego pastilah dipengaruhi oleh berbagai macam konsep yang menumpuk di sepanjang hidup seseorang. Walaupun sangat mungkin, karena pengalamannya sendiri, si ego menciptakan konsep baru yang bebas. Terpisah dari berbagai konsep yang ia pakai sebelumnya.

Baca juga :  
Lalu apa hubungannya semua ini dengan peristiwa di atas? Yang aku tahu bahwa setelah mendengar kisah mengenai peristiwa itu, batin masih memberikan penilaian yang lebih banyak menghakimi. Disinilah masalahnya bahwa batin itu sebenarnya telah terkondisi. Ego (aku) yang melekat pada konsep tentang orang tua yang ideal. Dimana kata orang tua itu sendiri telah dilekatkan pada nilai-nilai tertentu yang dianggap baik di mata masyarakat. Ternyata masih bisa juga kecolongan. Orang tua yang dalam hal ini menjadi lengah dan lebih pantas dipersalahkan atas kejadian tersebut.

Konsep lain yang melekat pada ego adalah, bahwa anak (balita) seumur itu belum tahu apa-apa. Anak sebesar itu masih memliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Keseharian anak-anak seumuran itu adalah dihabiskan dengan bermain, bagaimana mengeksplorasi dunia sekitarnya yang melibatkan seluruh indera. Akan tetapi, kebanyakan orang tua/orang dewasa (termasuk aku) akan mengakatan bahwa si anak nakal sehingga ia menerima akibat dari setiap tindakan yang ia lakukan. Dan hal itu dianggap sebagai ganjaran.

Dengan menyadari bahwa penilaian batiniah seperti ini masih melekat pada berbagai macam konsep tentang orang tua dan anak, maka tidaklah heran bahwa ego tidak akan pernah bisa lepas dari penilaian salah-benar. Jika sudah begini tentunya akan sangat sulit memahami apa itu keikhlasan dalam melepaskan rasa takut. Orang tua yang katanya begitu mencintai anak-anaknya tanpa sadar menidurkan "rasa takut" melalui konsep tentang cinta terhadap anak.

Baca juga :
Dan berdasarkan kisah diatas, rasa takut dipaksa oleh alam agar tercerabut dari batin yang telah tekondisi. Takut akan kehilangan (anak) dipaksa keluar dari bawah sadar kedua orang tua tersebut melalui ratapan penyesalan dan rasa bersalah. Jika sudah begini, maka ikhlas adalah satu-satunya sikap yang harus dijalani dengan penuh kesadaran agar segala sakit dapat sembuh dengan lebih cepat. Berapa lama? Tidak tahu. Mungkin lebih cepat lebih baik.!

Bagi diriku dan mungkin juga bagi Anda yang membaca kisah diatas, tak perlu ada lagi penghakiman. Sebab semuanya telah terjadi. Menilai peristiwa diatas dengan konsep benar-salah, sudah tidak lagi relevan. Semoga kedua orang tua yang berduka dalam kisah diatas segera sembuh dari duka nestapa. Let it go.

_/\_

Karimawatn, 080515

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.