Caru Di Puncak Ancala
Banyak Guru yang akan menunjukkan kepadamu jalan menuju Puncak Ancala. Jika sudah Kau temukan satu dari sekian banyak jalan itu, maka Kau boleh bergegas naik.
Kau akan tahu, betapa di puncak itu sangat menyenangkan. Kelelahan dalam pendakianmu terbayar lunas saat itu juga. Lalu Kau menjadi agul, lupa akan jejak-jejak deritamu yang mulai tersapu oleh waktu dibalik punggungmu.
Kau boleh memilih untuk berlama-lama disana. Tertawa, menikmati awan, memeluk angin, dan menatap afsun dunia di bawahmu. Dengarlah juga ancala-ancala lain yang berbisik di dadamu. Mereka datang dari berbagai penjuru mata angin, mengajak Kau untuk datang kepada mereka. Sungguh kenikmatan yang Kau rasakan serupa aroma candu yang memenuhi seluruh Arasy. Atau mungkin saja Kau mengira telah bertemu dengan Amara?.
Namun inilah kataku, bahwa Kau telah lupa saat itu juga, bagaimana cara menemukan kembali jalan pulangmu. Setiap caru yang kau titipkan di puncak itu tak ubahnya seperti mantra-mantra palsu yang menggelapkan mata batinmu.
Kau menjadi buta, tak mampu melihat jalan mana yang akan Kau ambil menuju arah pulangmu. Kau enggan melepaskan Astama yang telah membuatmu mabuk di puncak itu.
Ingatlah ini, saat Kau terlena di bachira agra ancala, setiap anggai telah ambal diturunkan kepadamu. Namun Guru yang pernah Kau temui tak pernah membisikkan hal ini kepadamu. Mereka hanya berkata, "Pergi dan naiklah!".
Dan kini aku berkata kepadamu, "Ikutilah anggai yang mengajak Kau tetirah ke dunia bawah. Sebab ketika waktu menjadi semakin renta, Kau akan terbiasa menyambut Antaka yang akan datang kapan saja. Itulah "Asrar Alamin" yang seharusnya Kau jadikan sebagai caru di kepalamu."
_/\_
Karimawatn, 050615

Tidak ada komentar