Satu Bilik Di Dadamu
Ketika lampu di jalan itu satu-persatu berpulang meninggalkanmu, dan rinai keterasingan tak menyisakan sejengkal kehangatan di dadamu, maka berteduhlah Kau sejenak di bawah langit. Dekaplah erat driya di dalam Dirimu.
Lalu Kau boleh melarik apa saja yang jatuh di kepalamu. Bidiklah huruf-huruf janggal itu dengan pikiranmu yang menggigil. Kau akan tahu, setiap anak panah yang ingin Kau muntahkan dari busur kesabaranmu itu akan mengucurkan murka di dada mereka; serupa murka yang tertidur di dekat perapian dimusim dingin.
Namun ketahuilah, setiap musim tak akan menunggu langkahmu. Tak banyak waktu bagi Dirimu mengadun senyuman lancung yang Kau persembahkan kepada dunia yang sesungguhnya asing bagi Dirimu sendiri. Sebab dunia yang Kau kenal itu telah menyuguhkan berbagai mujarad kehidupan. Kau seperti datang ke sebuah Andrawina, tanpa pernah tahu siapakah ia yang mengundangmu. Dan disitu diperlihatkan kepadamu berbagai menu kehidupan penuh dengan taksa.
Dan manakala Kau melihat tubuhmu serupa sebuah pohon, ranting-ranting di dahimu mulai tersapu angin. Helai demi helai hakikatmu gugur di ruang-ruang tanpa cahaya. Kau pun ajab, ternyata selama ini Kau hanya bertengkar dengan wajahmu yang lain di meja perjamuan itu. Itulah dunia dimana Kau hidup.
Mungkin pernah pada beberapa ruas usiamu, Kau mengira bahwa jiwamu telah purna, serupa condra yang mekar di atas samudera. Tapi tahukah Kau bahwa itu hanyalah setitik astama, yang tak cukup menerangi seluruh batinmu yang semakin renta?. Ia telah menyelimuti rasa takutmu dengan cara yang paling lembut, selembut kapas.
Ketakutan itu telah menumpuk sejak hari pertama Kau datang dalam rupa daging. Atau tidakkah Kau tahu, sejak dulu sukacita itu ambal dihidangkan kepadamu sebagai arkais?. Bahkan sejak tangismu pecah pertama kali sebagai penanda perpisahan antara Dirimu dan Rahim ibumu; Kau telah mengalaminya dalam diam yang panjang; sepanjang jalanmu yang tergenang oleh mimpi-mimpi.
Tapi entah bagaimana Kau menutupi tipuan ini? Atau mungkin saja Kau telah merias bilik-bilik di dadamu, dan disitu Kau mencoba menidurkan bayang-bayang itu? Pernahkah Kau sesekali mencoba masuk ke dalam bilik-bilik itu? Jika tidurmu tak lagi membiakkan mimpi, maka Kau telah masuk ke dalam Nirwana. Atau setidaknya Kau akan bertemu dengan Dirimu yang bukan ilusi.
Namun bilik-bilik itu takkan sanggup Kau adun disepanjang usiamu. Sebab ketika Kau masuk ke dalam satu diantara yang lain, maka Kau akan tahu beberapa bilik di dadamu menjadi hampa dan sia-sia. Setiap huruf yang berjatuhan dari dinding bilikmu yang lain akan berserakan dan takkan mampu Kau kais kembali kedalam keranjang usiamu. Kau takkan bisa menganggit keindahan yang melekat pada huruf yang pura-pura.
Sebelum nafasmu menjadi ajur, sisakanlah satu saja bilik di dadamu, dan robohkanlah yang lain. Sebab Kau tahu bilik-bilik itu bukan berasal daripadamu. Kau terpaksa membangunnya dengan tawa dan juga airmata demi melelapkan dunia yang ingin meniduri hakikatmu, agar lahirlah mimpi-mimpi. Dan mimpi-mimpi itulah yang membuat Kau berpaling dari perhatian akan Dirimu sendiri.
Cukuplah saat ini Kau memiliki satu bilik saja, dan ia seharusnya menjadi ruang yang paling zuhud. Kau boleh mengadunnya dengan pernak-pernik dari langit yang Kau ambil sendiri melalui keheninganmu. Bakarlah wewangian di dalamnya, taburkanlah juga bunga-bunga yang Kau petik dari tepian jalan kebijaksanaanmu. Jadikanlah ia sebagai ruang paling akmal bagi jiwamu satu-satunya.
Jika semua telah Kau lakukan, maka Kau tak perlu gelisah ketika lampu-lampu melindap di setiap perhentian usiamu. Sebab dimana Kau pergi, disitulah Nirwanamu yang sesungguhnya. Bukan seperti cerita yang terlontar dari mulut mereka yang lapar akan akhirat. Rayakanlah brangta bersama semesta di dalam bilikmu sendiri.
Dan dari bilikmu itu Kau boleh melarik apa saja yang jatuh di kepalamu. Bidiklah huruf-huruf janggal yang datang kepadamu; walau dengan pikiranmu yang kemarau. Kau akan tahu, setiap anak panah yang ingin Kau muntahkan dari busur kesabaranmu itu akan mengucurkan amarah di dada mereka; serupa amarah yang tertidur di bawah pohon ara di musim panas.
_/\_
Seruni, 09-06-2015

Tidak ada komentar