Header Ads

ads

Kosong Melompong

Kososng Melompong

Mengamati diskusi tentang pelestarian budaya, apalagi hal itu berkaitan dengan budaya masa lalu, agaknya tidak akan pernah sesuai dengan apa yang gembar-gemborkan. Tidak jelas, apanya yang mau dilestarikan. Labelnya? Merknya? Bentuknya? Warnanya? Rasanya? Aromanya? Bunyinya? Atau "Rohnya"?

Jika bicara Roh mungkin bolehlah diberi apresiasi. Akan tetapi hal itu harus dikembalikan kepada kesadaran individual dan tidak bisa dipaksakan secara kolektif. Kesadaran ini semestinya selalu berangkat dari pemahaman rohaniah/batiniah seseorang, yang bisa dilakukan dengan cara menarik (baca; mengamati) makna-makna simbolik yang ada pada budaya masa lalu tersebut. Yang masih relevan boleh pakai (baca; dijiwai dan dilakoni). Dan budaya yang sudah tak sesuai/kuno/tidak nyambung nilainya, buang saja.

Alih-alih melestarikan budaya masa lalu demi menggali nilai-nilai kearifan lokal, yang terlihat malah budaya tersebut dijadikan obyekan. Sekedar komoditas belaka, tak lebih. Selalu ada kepentingan dibalik usaha pelestarian. Salah satunya adalah berjualan, menjual budaya (masa lalu). 

Ketika budaya tersebut telah menjadi produk yang dibungkus dengan berbagai kepentingan, maka tak ada lagi yang namanya nilai-nilai kearifan. Kosong melompong. Satu hal yang pasti, setiap saat, dari waktu ke waktu yang namanya budaya selalu berubah.

_/\_

Karimawatn, 13-07-2015

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.