Ketika Otak Tercemar SARA
Bungkus-bungkus Kemanusiaan itu bernama SARA. Kesesatan batin dalam memahami bungkusan akan selalu menyebabkan konflik. Oleh karena itu penyelesaian konflik tidak akan pernah berjalan sesuai dengan harapan jika cara-cara yang dilakukan hanyalah sekedar memoles bungkusan.
Dengan demikian apa yang disebut toleransi hanyalah proses, yang tidak disadari justru melestarikan sekat-sekat kemanusiaan itu sendiri. Dari luar tampak mempesona, tapi di dalam penuh dengan kepura-puraan. Tidak ada bedanya seperti tambal-sulam. Apa yang ditambal dan apa yang disulam hanyalah bungkusnya saja.
Toleransi hanya mengembalikan SARA ke tempat Tidurnya, dan bukan menjadikan manusia kembali pada hakikat dirinya yang semestinya sadar penuh. Alias ON terus.
Tidak mengherankan jika ngegosip tentang SARA di negeri ini memang bisa buat orang tersinggung. Bahkan kadang-kadang bikin tersungging. Apalagi jika yang ngegosip dan yang di gosipin masih diikat dan melekat dengan si SARA, ujung-ujungnya debat.
Kalau sudah debat ndak tau ujungnya mau kemana. Nek ora ngalor yo ngidul. Bosan ngalor-ngidul yo ngetan-ngulon, podo wae. Mau pakai dalil apapun ndak ada gunanya juga.
Tapi seperti itulah yang terjadi, ketika SARA sudah terlanjur menjadi Identitas Diri, maka semua pada lupa bahwa SARA itu sekedar pakaian doank. Cobalah sekali-kali belajar batulanyakng alias telanjang, karena identitas asli kita di Bumi ini tidak lain sejatinya adalah manusia.
Apapun yang menempel pada kemanusiaan cuma bungkus thok, yang bisa dibuang juga. Kalau mau. Kalau bungkus-bungkus itu sudah dibuang, yang kelihatan cuma pikiran manusia itu sendiri.
Pikiran menciptakan batin. Tantangannya cuma terletak pada seberapa mampu setiap manusia menyadari gerak-gerik pikirannya. Udah, itu aja. Itu sudah cukup membedakan manusia dengan manekin atau sejenis patung lainnya.
_/\_
Karimawatn, 18-07-2015

Tidak ada komentar