Kisah Si Landank Dan Para Guru
Konon Kota Ini disebut Kota Intan. Mungkin karena terlalu banyak intan, sungainya pun berubah menjadi keruh kental, seperti sungai-sungai lainnya di Negeri Sungai. Apalagi ketika butiran Intan itu telah berubah wujud menjadi "butiran minyak" bertandan. Itulah sebabnya ada yang bilang Intan bisa buat goreng ikan.
Tak heran di sepanjang jalan, truk-truk berlumpur lenggang kangkung dan bernyanyi tra la la, tri li li. Lumpur minyak goreng dan juga lumpur kosmetik dipakai untuk mengurapi setiap ruas jalan. Ya, Kota Intan adalah kota minyak tanpa kilang. Satu-satunya kota yang penguasanya adalah Si Raja Duri, Binatang Landak. Kalau Landak diam jangan diganggu, bisa kena tusuk Duri. Bikin nyeri 7 hari 7 malam. Itu sebabnya tak ada Gajah hidup di sini. Kecuali Gajah-Gajah yang keluar dari mulut-mulut Talino (Manusia).
Sejak Binatang Landak berkuasa, yang kudengar adalah keluh kesah Guru-Guru. Nun jauh di sana mereka tinggal. Jauh dari sentuhan Si Landak. Bahkan banyak dari mereka yang tak kebagian "Sinyal Jaman". Boro-boro mau SMS, punya HP pun seolah tak berguna.
Duri Landak itu seperti menusuk jauh dari pusat Kota. Nada-nada kecapaian yang keluar dari mulut mereka sudah jamak terdengar. Apalagi yang tua-tua. Jarak telah menjadi musuh bebuyutan, manakala urusan administrasi dan birokrasi berubah muka seperti ular berbisa, yang melilit leher di sepanjang jalan.
Jarak tak pernah menjamin, setiap urusan bisa kelar dalam satu kali putaran Bumi. Bolak-balik ratusan kilo sudah umum mereka lakukan. Menuju Kota Intan seperti merayapi jalan-jalan nahas. Entah kapan mereka merasakan aspal mulus seperti Cipali. Sebab jarak ratusan kilo menuju rumah Si Landak, sering kali menawarkan alternatif Cilumpur, Cibatu, Cilubang dan Ciascur (aspal ancur). Tak heran kalo ada yang telah berpulang karena Jarak. Nyawa melayang di tengah jalan. Oh, Si Landak telah menjadikan jarak sebagai maut yang mengintai di balik urusan selembar kertas.
Kota Intan, 04-08-2015
Tak heran di sepanjang jalan, truk-truk berlumpur lenggang kangkung dan bernyanyi tra la la, tri li li. Lumpur minyak goreng dan juga lumpur kosmetik dipakai untuk mengurapi setiap ruas jalan. Ya, Kota Intan adalah kota minyak tanpa kilang. Satu-satunya kota yang penguasanya adalah Si Raja Duri, Binatang Landak. Kalau Landak diam jangan diganggu, bisa kena tusuk Duri. Bikin nyeri 7 hari 7 malam. Itu sebabnya tak ada Gajah hidup di sini. Kecuali Gajah-Gajah yang keluar dari mulut-mulut Talino (Manusia).
Sejak Binatang Landak berkuasa, yang kudengar adalah keluh kesah Guru-Guru. Nun jauh di sana mereka tinggal. Jauh dari sentuhan Si Landak. Bahkan banyak dari mereka yang tak kebagian "Sinyal Jaman". Boro-boro mau SMS, punya HP pun seolah tak berguna.
Duri Landak itu seperti menusuk jauh dari pusat Kota. Nada-nada kecapaian yang keluar dari mulut mereka sudah jamak terdengar. Apalagi yang tua-tua. Jarak telah menjadi musuh bebuyutan, manakala urusan administrasi dan birokrasi berubah muka seperti ular berbisa, yang melilit leher di sepanjang jalan.
Jarak tak pernah menjamin, setiap urusan bisa kelar dalam satu kali putaran Bumi. Bolak-balik ratusan kilo sudah umum mereka lakukan. Menuju Kota Intan seperti merayapi jalan-jalan nahas. Entah kapan mereka merasakan aspal mulus seperti Cipali. Sebab jarak ratusan kilo menuju rumah Si Landak, sering kali menawarkan alternatif Cilumpur, Cibatu, Cilubang dan Ciascur (aspal ancur). Tak heran kalo ada yang telah berpulang karena Jarak. Nyawa melayang di tengah jalan. Oh, Si Landak telah menjadikan jarak sebagai maut yang mengintai di balik urusan selembar kertas.
Kota Intan, 04-08-2015

Tidak ada komentar