Header Ads

ads

Politik Asap

Politik Asap

Kemarahan Chanee Kalaweit tentang asap yang kemarin sempat menjadi viral itu bisa diapreasiasi dan sangat wajar. Namun bagi yang mengultimatum Pak Jokowi agar dalam 3x24 jam harus turun dan kembali menjadi 'rakyat jelata' itu sesuatu 'kemarahan' yang mengada-ada. Kalau pakai istilah yang katanya kekinian itu dinamakan lebay. Mungkin mereka pikir dengan ultimatum seperti itu Pak Jokowi bisa langsung lunglai. Tapi sudah pada tahu, kemarahan seperti itu hanya ada pada kaum alay yang jijai untuk dilihat. Lebih baik makan Capcai.

Ultimatum seperti itu harusnya tidak perlu ada, tapi sengaja dibuat ada. Karena memang ada yang membuat. Yang membuat tentulah punya agenda. Jadi kesannya Pak Jokowi itu seperti kena sial. Selama ini ada yang lempar batu sembunyi tangan. Suatu kesialan akibat lemahnya pemimpin-pemimpin terdahulu mengambil sikap mengenai persoalaan asap ini. Oh, sekarang bukan cuma soal anak-anak tak bersekolah, atau soal pesawat terbang banyak yang nangis merugi, dlsb. Tetapi kini, asap sudah masuk ke ranah politik dan hukum, yang kalau dibiarkan terus akan mengganggu stabilitas suatu negara. Itulah sebabnya Pak Luhut ditunjuk sebagai dukun kepala penanggulangan asap. 

Apa mau dikata, walaupun sudah coba diusir, asap memang belum mau berkemas pulang. Dari Sabang sampai Merauke, sambung menyambung jadi satu. Itulah asap Indonesia. Namun yang agak aneh akhir-akhir ini, tampak seperti ada siluman berwajah asap yang memanfaatkan momen ini. Pak Jokowi seperti 'diadu' dengan rakyat. Pokoknya salah Jokowi. Titik! Itulah yang tampak dipermukaan.

Lha, itu para begundal perusahaan penjarah hutan yang dari dulu suka mengasap koq nggak kelihatan? Kemana mereka sembunyi? Tak juga kedengaran tuh 'auman' pemerintah daerah demi mensterilkan kembali oksigen hutan? Oh, tahu sama tahulah. Kong kali kong soal produksi asap hutan dan gambut itu kan sudah dari dulu ada. Semua dilakukan atas nama profit sebesar-besarnya bagi mafia.

Yang namanya mafia bermainnya juga pakai hierarki. Dari raja sampai pion, semuanya ada main. Suatu permainan di dalam sistem yang terselubung. Mereka pasang kaki di ruang Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif. Karena mereka tahu dibagian ini banyak yang suka mengutip. Dak masalah dikutip, kalau untung, jelas harus dibagi-bagi sesama mafia. Jadi, masa bodoh kalau akhirnya ada bayi dan anak kecil mati karena sesak nafas. Itu kan anak orang, yang penting bukan anak atau keluarga mafia. Inilah yang yang terjadi sejak lama.

Baca juga : 
Apalagi politik juga perlu duit dan salah satu cara buat nyari duit adalah jual jutaan hektar hutan berlabel konsesi agar modal cepat kembali. Gampanglah, di negeri ini semua bisa diatur. Asal amplop lancar, semua pasti beres. Bisnis menjarah hutan itu bisnis besar. Duitnya pastilah besar. Konon katanya, yang besar-besar itu enak. Yang enak siapa, yang eneg siapa. Mau atas nama HTI atau Sawit. Sama saja. Berasap juga sampai hari ini. Ehh.
Sekali lagi, Pak Jokowi itu ketiban sialnya saja. Setahun menjabat, langsung diancam turun kursi. Oh, sayang sungguh sayang, pemerintah daerah pun sepertinya sudah kehilangan taji. Mereka sudah kekenyangan tak berdaya habis makan kertas konsesi, dan akhirnya 'ngemis' juga pada pusat agar kirim bantuan untuk mengusir asap. Makanya, yang tampak pusing adalah pempus. Sedangkan pemda terkesan tidak tampil ke depan.

Ada juga tuh politisi yang mulai carmuk. Bisa jadi itu sebagai strategi untuk menutup belang bahwa selama ini mereka juga ada main dengan asap. Bahh, apalagi itu si raksasa pemilik perusahaan pengekspor asap, tenang-tenang saja mereka. Pikir mereka nanggung, ini zaman pemerintahan Jokowi makin tambah susah. Susah buat nyari untung besar. Celah-celah surga banyak yang kena tutup. Jadi sekalian saja, 'perang-perangan'. Apa yang terjadi hari ini bukan seperti lagu 'Terlanjur Basah', tapi 'Terlanjur Kering'. Mumpung kering bakar sekalian Sumatera sampai Papua. Yang mati bengek atau mati gosong bisa ditampung di lubang Freeport sebagai kuburan masal.

Baca juga :
Mau tahu kapan lagu Terlanjur Basah akan diputar? Besok. Sehabis El Nino selesai konser, banjir bandang pun pasti akan tiba. Dimana-mana basah. Tenggelam dimana-mana. Pasti yang disalahkan Jokowi lagi. Jokowi blusukkan basah-basahan pasti dibilang pencitraan. Basi dah. Sudah tahu sekarang bahwa fenomena alam seperti El Nino dan Air Bah akibat musim hujan itu bisa disisipi juga dengan kepentingan Politik. Hanya Politik di negeri ini yang tak ada musim. Hebatkan?

Karimawatn, 25-10-2015

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.