Cicak Masa Depan
Seekor cicak yang mejatuhkan hitam-putih be'olnya tepat di lenganku kemarin itu seperti ingin menyampaikan sesuatu. Begini, jadi pada dasarnya topik apapun yang ingin dibicarakan sudah pasti dapat diolah melalui sudut pandang spiritual. Hanya saja tidak setiap orang mau dan berani masuk kedalam wilayah kesadaran ini. Politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, lingkungan, kehidupan berbangsa dan bernegara, seni, cinta, sex, keluarga, berbagai disiplin ilmu pengetahuan (science), dan lain-lain, adalah tema-tema yang senantiasa berkenaan dengan kemanusiaan. Bahkan agama (religion) sekalipun, semuanya bisa diamati dengan kacamata (baca; kesadaran) spiritual.
Khusus tentang agama, agaknya sampai saat ini masih tetap menjadi primadona konseptual tentang jalan kebenaran yang patut diberikan stabilo merah. Sebab bagi kebanyakan orang, terlebih di negeri ini, agama masih dianggap sebagai benteng paling kokoh untuk memproteksi penganutnya agar tidak memiliki peluang untuk berpikir kritis, kreatif dan memiliki kehendak bebas dalam menjalani/mengalami serta memaknai kehidupan ini sebagai manusia yang apa adanya. Manusia yang telanjang adalah yang mengenal dirinya sungguh sebagai manusia dan bukan sebagai orang yang berlabel A, B, C, D, E, dst dan dst.
Mungkin saja banyak diantara masyarakat religius sudah tahu bahkan menyadari hal ini walaupun dengan cara diam-diam. Bahwa yang namanya kebebasan berpikir didalam kehidupan beragama itu seperti sebuah pohon beringin yang dibonsai untuk penghias taman saja. Akan tetapi kesadaran sederhana yang mulai muncul ini kemudian menjadi rontok seketika, sebab bawah sadar masyarakat telah lama diikat dengan sangat kuat sejak dari awal kehidupannya demi kepentingan tertentu.
Dengan demikian mereka tidak lagi berdaya keluar dari zona nyaman ini yang memang telah didesain sedemikian rupa dari jaman baheula dengan berbagai bentuk, warna dan rasa. Walaupun banyak yang dengan gampang mengatakan, "Kamu itu ya, mbok mikir out of the box tho". Tapi kalau sudah menyangkut soal agama/soal keimanan/soal keyakinan, "Sori, gua kagak berani deh, takut kualat ntar". Atau mungkin ada lagi yang berucap, "Po ra edan, wis penak-penak ngene ki, kon mikir sing aneh-aneh?"
Masyarakat religius masih beranggapan bahwa hanya agama sebagai satu-satunya jalan yang bisa diandalkan untuk menjamin kualitas kehidupan masyarakat agar selalu dianggap baik, dianggap saleh, dianggap bermoral, dan dianggap paling bijaksana. Semakin religius (taat) seseorang, maka peluang untuk mendapatkan rewards semakin besar. Tapi memang seperti itulah janji yang ditawarkan oleh ajaran-ajaran dogmatis. Tidak hanya di Bumi, upahmu akan besar di Sorga. Begitu katanya. Ritual-ritual keagamaan hanya dilakukan untuk mendapatkan upah yang sebenarnya entah. Kalau sudah begini, maka whatever You do is all about pamrih. Tentu saja ini dorongan bawah sadar. Satu hal lagi, banyak yang belum ngeh juga bahwa agama tidak akan pernah bisa dijadikan alat untuk mengatasi semua persoalan kemanusiaan (baca; berkenaan dengan manusia) dimuka bumi ini. Tidak percaya? Silahkan buktikan sendiri.
Memang, agama telah menjadi topik paling sensitif sekaligus paling seksi bagi kebanyakan orang. Sensitif karena didalam lembaga iman yang bernama agama ini ada pakem yang dipakai untuk mengendalikan setiap penganutnya agar tidak boleh lagi melakukan telaah rohaniah/batiniah secara mandiri terhadap hal-hal yang bersifat dogmatis. Ajaran atau ritual dogmatis tersebut telah menyentuh batin setiap penganutnya dengan sangat dalam. Dan sebagai bagian dari budaya jadul, ia telah berperan mengkondisikan ego setiap penganutnya sehingga ia menjadi terkunci dan sulit sekali melepaskan diri dari cengkraman dogma. Akan selalu ada bayang-bayang yang menguntit dari berbagai arah, sehingga kemanapun umat pergi membawa pikirannya dan ingin menjadi dirinya sendiri sebagai manusia biasa yang utuh (baca; menyatu dengan semesta besar) akan menjadi takut dan memilih bungkam sejuta bahasa.
Baca juga :
Bisa saja setiap pengikut beranggapan agamamu adalah agamamu, dan agamaku adalah agamaku. Akan tetapi jika mau dibedah, berikut dengan alasannya, tetap saja kerangka berpikir seperti ini tidak lebih dari ekspresi rasa takut belaka. Apalagi kalau bukan demi mempertahankan rasa aman?. Pernyataan yang demikian biasanya akan muncul dengan sendirinya ketika dialog atau diskusi antar umat mengalami kemandegan.
Jika sudah begini, maka tema apapun yang akan diangkat dengan kesadaran universal demi menemukan kebenaran secara mandiri dan bebas dari otoritas akan selalu bertabrakan dengan kepentingan lembaga iman itu. Tidak mengherankan jika kemudian masyarakat religius berubah menjadi masyarakat yang konservatif, fanatis dan terkesan eksklusif. Entah itu diekspresikan secara terang-terangan atau bisa juga dengan cara gelap-gelapan.
Hal-hal yang berkenaan dengan kebenaran universal tidak lagi dapat diletakkan pada esensi nilai-nilai kemanusiaan yang semestinya. Dengan kata lain, kebenaran itu sendiri bukan lagi menjadi human bussiness melainkan sudah menjadi religious bussiness. Bahasa-bahasa toleran, penghormatan atas nilai-nilai kemanusiaan yang katanya mengedepankan universalitas tetap tumbuh subur di dalam sekat kepura-puraan.
Fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa sepintar atau sehebat apapun seseorang, belum tentu ia mau, berani dan ikhlas membedah kehidupan beragamanya dengan kacamata spiritual yang merdeka dan kritis. Alih-alih membedah pengalaman spiritual melalui sudut pandang iman, seseorang justru terjebak dalam pandangan salah kaprah. Terbolak-balik dengan menganggap bahwa hal yang berkenaan dengan religiusitas itu pastilah merupakan esensi spiritual yang sesungguhnya. Padahal bukan seperti itu.
Esensi spiritual akan ditemukan ketika setiap pribadi mau bertelanjang, melepaskan pakaian/label/barcode atau apapun yang menjadi penyumbat kesadaran. Dengan demikian setiap pribadi tersebut akan mendapati dirinya hanya sebagai Human Being, yang memiliki otak sebagai pencatat reaksi batin dalam merespon apapun didalam kehidupan ini. Jika telah sampai disini sebenarnya setiap diri sudah mulai masuk dalam dimensi spiritual karena otaklah yang menciptakan pikiran (mind).
Mungkin masih banyak yang belum dong bahwa yang namanya pikiran bukanlah barang yang bisa dipegang (immateri). Tak seorangpun bisa melihat dan menggengam pikiran walaupun dengan membelah otaknya. Inilah spirit/roh. Tak kelihatan, tapi seolah-olah ada dikepala. Dengan mengerti hal ini, maka tugas selanjutnya adalah menyadari/sadar terhadap gerak-gerik pikiran ini. Untuk apa? Ya, sadar. Walaupun pengertian ini sangat basic, tapi akan kelihatan bahwa ego juga tercipta dari pikiran ini. Keterkondisian ego itu karena ada pikiran. Pikiran tertutup (tak disadari), maka apapun susah masuk.
Baca juga :
Jadi, pada dasarnya agama hanya menjadi salah satu pilihan saja dari sekian banyak belief system yang dapat dipilih manusia untuk berspiritual. Akan tetapi hakikat dari nilai-nilai universal dan holistis tidak akan pernah ditemukan dalam kerangkeng agama. Kecuali memang setiap agama punya klaimnya sendiri-sendiri tentang apa yang namanya spiritual. Spiritualitas versi agama A tidak akan pernah sama dengan spiritualitas agama B, C, D, dst. Otomatis manusia di agama A pasti dipandang tidak sama dengan manusia di agama B, C, D, dst. Sungguh naif. Sebab sekali lagi, sekat-sekat kemanusiaan itu tetap ada. Masih dapat terlihat walaupun bisa saja dibuat pura-pura tidak ada dengan toleransi.
Banyak yang beranggapan, bahwa dengan mengangkat tema-tema spiritual sangat rentan menciderai privasi seseorang, apalagi jika hal itu berkaitan dengan keyakinan. Cara berpikir seperti ini adalah bukti bahwa apa yang tertanam di dalam bawah sadar seseorang telah menjelma menjadi rasa takut luar biasa yang seharusnya tidak perlu ada. Hal ini juga menunjukkan bahwa kehendak bebas menjadi manusia yang apa adanya itu telah dikuasai oleh berbagai otoritas yang memiliki kepentingan mereka sendiri. Sayangnya, masih banyak dari kita tidak menyadari hal ini dengan menerima berbagai otoritas tersebut sebagai satu-satunya jalan yang tidak boleh mendapat kritik. Yang akan diganjar neraka jahanam yang sebenarnya juga entah.
Harus diakui memang untuk sampai pada pemahaman ini tidak semudah membaca buku panduan. Juga tidak bisa difahami sekejap usia hanya dengan mendengar apalagi menyontek perkataan seseorang yang dianggap sebagai Guru. Pemahaman tentang spiritualitas yang universal itu harus dijalani/alami sendiri, diamati sendiri, dan diuji sendiri kebenarannya. Hal ini harus dilakukan terus menerus sepanjang hayat.
Sangat bisa difahami, bahwa kemudian setiap orang yang mau membuka diri dengan mengedepankan dialog pribadi atau berani terlibat dalam berbagai diskusi spiritual akan selalu berangkat dari pemahaman yang mandiri tentang hal ini. Kemerdekaan berfikir memungkinkan apa yang difahami oleh setiap pribadi tentang jalan spiritualnya menjadi suatu bentuk kesadaran yang otentik. Tidak bisa dijiplak atau pasrah menjadi follower saja. Dan ketika mereka telah masuk ke dalam ranah kesadaran ini, mereka akan faham bahwa nilai-nilai universal tidak lagi hidup dalam lembaga atau label apapun. Dengan demikian tema diskusi (baca; berbagi) tidak lagi terbatas hanya pada persoalan agama saja, akan tetapi semakin beragam dan sangat luas. Keluar dari kerangkeng dogma dan berjalan menurut rasionalitas kemanusiaan yang benar-benar berkesadaran.
Dan bukan suatu yang aneh, kemudian banyak manusia-manusia cahaya (lightworker) mau membagi kesadaran spiritualnya secara ikhlas dan terbuka. Tanpa ba-bi-bu. Ada yang berangkat dari tema politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, lingkungan, kehidupan berbangsa dan bernegara, tema-tema kemanusiaan, seni, cinta, sex, parenting, serta berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan lain-lain.
Bahkan bukan sesuatu yang aneh jika ada yang mau berbagi sudut pandang spiritualnya melalui telaah ilmiah tentang keberadaan alam semesta. Dimana peluang kehidupan itu tidak hanya terbatas pada planet bumi saja. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya potensi yang dimiliki oleh pikiran manusia itu memang tidak terbatas kecuali yang membatasinya adalah ketidaksadaran si empunya otak sendiri akibat dari perasaan takut kehilangan sesuatu yang ia yakini. Toh kita sekarang sudah tahu, Alam Semesta ini ada bukan karena permainan sulap 7 hari 7 malam. Kecuali memang masih menolak untuk tahu.
_/\_
Karimawatn, 14-10-2015

Tidak ada komentar