Header Ads

ads

Dari Dulu Memang Begitu. Pasti Ada Hantunya

Dari Dulu Memang Begitu. Pasti Ada Hantunya

Suatu ketika di toliet Gereja, aku bertemu dengan dua anak kecil yang sedang asyik ngobol. Aku samarkan saja nama mereka sebagi John dan Noah. Setelah selesai dengan "urusan keran" yang bersemayam dibalik kolorku, aku pun memutuskan untuk bergabung dengan mereka. Kulupakan sejenak kemeriahan di dalam gereja itu. Lalu kusulut sebatang Black Cappucino sebagai selingan misa yang panjang dan melelahkan malam itu.

"Om, kenapa Om merokok? Apa enaknya?", tanya John.

"Karena Tidak Enak". Sempat kaget juga dengan pertanyaan John yang tiba-tiba ini.

"Kan tidak enak, kenapa masih merokok?", John penasaran.

"Karena Tidak Enak. Hehe."

"Iya, kan Om bilang tidak enak tapi koq masih tetap merokok?", John menyerangku lagi.

"Ya itu, karena Tidak Enak".

"Iscccchhhh. Om nih."

"Hahahaha."

Agaknya John kecil kecewa dengan jawabanku, sedangkan Noah yang dari tadi tak bersuara cuma senyam-senyum saja di samping John. Aku pun sadar bahwa topik merokok "Tidak Enak" buat ngobrol dengan anak-anak seusia mereka. Maka segera "kujentikkan" puntung yang belum "purna" itu jauh-jauh, melintasi septic tank umat yang berada tak jauh dari situ.

Sejenak kami bertiga terdiam menyaksikan seorang anak meraung dengan tangisnya di samping Gereja. Tampak seorang ibu sedang marah-marah kepada anak itu. Aku tak tahu persis mengapa ibu itu marah kepada anak lelakinya, sampai-sampai harus menarik-narik tangan si anak sambil menyuruhnya diam. Namun tetap saja tangis anaknya tak jua reda. "Ah, yang begini klasik", pikirku.

"Kalian ngapain ada disini? Ndak ikut sembayang?"

"Ndak ngapa-ngapain. Ngobrol aja. Hehehe", jawab John.

Noah ikut ketawa sambil menutup mulut dengan telapak tangannya, malu-malu. Entah Roh Kudus dari mana yang menghampiri anak-anak ini, tiba-tiba mereka mulai bicara soal cita-cita. Dan si John mulai mengungkapkan cita-citanya.

"Om, nanti aku mau jadi dokter. Dokter Gigi. Tapi aku mau pasiennya bukan yang nenek-nenek. Takut belum diperiksa giginya malah copot duluan. Hihihihi."

Lha, gimana kalau sudah terlanjur ompong.? Aku saja sudah mulai ompong nih. Hmm." Otakku menyela. Dan Noah yang dari tadi cuma ketawa-ketawa saja mulai angkat bicara,

"Nanti aku mau jadi tentara Om. Mau "membela negara. Hehe."

Wow, anak kecil sudah bisa omong membela negara. Good lah.

"Terserah kalian berdua mau jadi apa. Mau jadi dokter, mau jadi tentara, pemain bola. Yang penting kalian hepi."

Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku sebagai respon dari keinginan mereka di masa depan. Sejenak otakku berbisik, "Mungkin saja tak pernah seorang pun yang mengatakan kepada anak-anak ini, "Nak, suatu saat Jadilah Dirimu Sendiri". Tidak juga orang tua atau guru-guru mereka.

"Oke, Om mau masuk kedalam lagi. Kalian ikut?", tanyaku.

"Ndak Om, disini saja."

"Kamu Noah, ndak masuk gereja lagi?"

"Ndak. Disini saja dengan John. Hehe."

"Oke, baiklah. Lanjutkan obrolan kalian. Bersenang-senanglah."

Aku pun bergegas masuk ke dalam Gereja lagi. Bukan untuk melanjutkan sembahyang, melainkan melanjutkan "kebisuanku". Karena memang dari awal aku hanya "diam membisu".

Aku diam bersama bangku gereja yang mungkin bosan memangku bokongku. Aku hanya mengamati. Mengamati apapun yang terjadi di dalam, termasuk gerak-gerik setiap umat dengan berusaha "membaca" batin mereka.

Begitu bisunya aku, bahkan seseorang yang duduk tepat dibelakangku pun tak mengira bahwa didepannya adalah aku, orang yang dia kenal. Hanya "Salam Damai" yang akhirnya memecah untaian kebisuan kala itu.

Tibalah saatnya "kontak fisik". Mengulur dan saling menyambut tangan. Bersalam-salaman sebagai ritual damai, yang menurutku biasa saja. Sebab setelah itu, setiap orang yang ada di dalam gereja itu kembali kepada batin masing-masing yang entah apa.

Tepat di depanku, ada sepasang suami-istri bersama anak perempuan mereka yang masih kecil. Si anak mulai merengek minta pulang. Ia sepertinya sudah mulai mengantuk.

Hmmm. Bagiku misa malam itu adalah misa panjang yang membosankan. Apalagi bagi anak-anak, terutama balita. Mereka pasti tak kuat menunggu acara sampai selesai. Kecuali orang tuanya kreatif "menipu" kebosanan dengan mengajak anak-anak mereka "bermain" bersama di luar gereja. Seperti halnya John dan Noah tadi. Mereka hepi memilih berada di dalam ruang kekanak-kanakan mereka tanpa harus “berbosan ria” mengikuti ritual yang mereka sendiri tak mengerti.

Baca juga :
Kuperhatikan anak perempuan mungil itu terus merengek pada kedua orang tuanya. Ia mulai menangis. Sebuah tangisan khas anak-anak karena kecapaian dan rasa kantuk. Sepertinya ia memang ingin segera pulang dan istirahat (tidur). Sedangkan si ayah dan si ibu mulai resah. Gelisah menunggu waktu tuk segera "terbelah".

Namun apa yang terdengar ditelingaku ternyata hal yang juga klasik. Tak jauh beda dari pengamatanku yang sering aku dapati di dalam gereja.

"Sssssttt, diam. Jangan nangis nanti pastor marah!". Begitulah kalimat si ayah pada anaknya. Yang tak serta merta menyurutkan tangis si anak.

Jin di kepalaku berbisik. Memang cara paling efektif untuk meredam kegaduhan yang muncul dari rengekan/tangisan anak-anak itu adalah dengan menakut-nakuti mereka. Dari dulu memang begitu cara mainnya. Hal ini bisa disebut juga sebagai Mind Control.

Baca juga :
Selalu saja orang tua atau orang dewasa memunculkan sosok-sosok hantu dihadapan anak-anak mereka sendiri. Beragam jenis hantu mulai dari Para' Amping, Antayapm, Garagasi, Buntianak, Antu Ai', Genderuwo, Wewe Gombel, atau Tuyul dan lain-lain, di biarkan bergentayangan di kepala anak-anak. Ada juga jenis hantu dengan sebutan Pak Guru, Bu Guru, Bapak, Ibu, kakek, Nenek, Pembina, Pastor, Suster, Uskup, Pendeta, Ulama, Ustad, dan lain-lain. Bahkan tak sungkan para orang tua menakut-nakuti anak-anak mereka dengan menyamakan Tuhan sebagai Hantu.

Kebiasaan menakut-nakuti ini dilakukan agar si anak patuh, nurut, tunduk tanpa boleh protes. Yang begini sudah menjadi kebiasaan turun temurun dari dulu. Ia sudah menjadi budaya bagi kebanyakan orang tua di dalam masyarakat kita.

Tanpa disadari, setiap anak-anak yang dilahirkan harus hidup dalam "rasa takut" ciptaan orang tua mereka sendiri. Dari waktu ke waktu, rasa takut tersebut lelap mengendap dalam bawah sadar anak-anak, siap menunggu saatnya bangun. Ya, begitulah yang terjadi.

_/\_

Seruni, 22-11-2015

NB : Para' Amping, Antayapm, Garagasi, Buntianak, dan Antu Ai' adalah nama-nama hantu di daerah tempat tinggal penulis.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.