Header Ads

ads

Agama, Moralitas Dan Kemelakatan

Agama, Moralitas Dan Kemelakatan

Menyandarkan nilai-nilai moralitas hanya pada agama sebagai acuan utama merupakan pemahaman yang keliru. Dengan kata lain agama tidak akan pernah bisa mengakomodasi setiap permasalahan kemanusiaan dan sains. Jika tidak segera merubah paradigma, agama justru menjadi pembatas yang tanpa disadari dapat menyumbat pemahaman akan nilai-nilai universal.

Ada fenomena salah kaprah di negeri kita dimana agama selalu dianggap sebagai andalan untuk menjamin kualitas moral. Benar bahwa agama adalah salah satu dari jalan spiritual. Akan tetapi spiritualitas yang dimaksud disini bukan merupakan bentuk intelektualitas moral yang "melekat" pada pelembagaan keyakinan, doktrin, ritus, dlsb.

Kecerdasan spiritual seharusnya sudah jauh melompat ke tingat yang lebih tinggi, lepas dari pembatas yang sisebut agama atau lembaga keyakinan manapun. Dengan demikian setiap pribadi yang tercerahkan secara spiritual tidak lagi memandang agama sebagai satu-satunya sumber kebenaran.  Dengan mengubah cara pandang ini, maka setiap pribadi akan mampu menemukan esensi spiritual yang membebaskan dirinya dalam menggali, memahami dan menerapkan nilai-nilai universal dalam kehidupan sehari.

Pada akhirnya kualitas kemanusiaan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh seberapa sadar setiap pribadi menjadi manusia yang utuh, menyatu dengan alam semesta ini. Perlu diingat, bahwa sejarah kemanusiaan di bumi ini sudah lebih dulu ada ketimbang sejarah agama.

Mau tidak mau, agama menjadi sesuatu yang melekati ego. Kemelekatan yang bersifat fanatis ini muncul karena setiap pribadi yang tidak berani mandiri dalam menjalani kehidupan spiritualnya dan lebih menggantungkan keyakinannya pada sesuatu yang berada diluar dirinya . Tanpa sadar ia dikuasai oleh berbagai otoritas yang pada akhirnya melahirkan persepsi tentang “Aku”. Ini agamaku, dan itu agamamu.

Ada orang beragama menjadi atheis, atau sebaliknya ada orang atheis menjadi beragama yang sebenarnya kedua hal tersebut merupakan bentukkan dari persepsi tentang "Aku". Persepsi tentang "aku" ini selalu melahirkan berbagai konsep.

Dalam konteks theis atau atheis. Manusia melekat pada pikirannya tentang adannya tuhan atau tidak. (theis = ini tuhanku, agamaku, kelompokku, nabiku, kitab suciku, ajaranku dlsb, dan bagi atheis = ini pikiranku, kelompokku, jalan hidupkku, kebebasanku, dlsb).

Polarisasi pada label theis, atheis, agnostik, animis, atau apapun juga yang bersifat kaku (baca: fanatis) ini kemudian sering memunculkan masalah dalam relasi antar sesama manusia. Hal ini akan berakibat akan selalu ada perdebatan, penghakiman, peperangan, pengerusakan, pertikaian, perlakuan tidak adil, dlsb.

Jadi, selagi seseorang mampu bersikap netral dan berdiri hanya disisi kemanusiaan yang sadar akan nilai-nilai universal, maka sangat mungkin ia dapat mengambil pilihannya yang bebas dengan tidak terikat pada kutub-kutub yang keras dan fanatis.

Perntanyaannya adalah, apakah ini penting?. Lalu, jika misalkan orang theis atau atheis mengandalkan perasaannya, bahwa ia merasa nyaman sebagi atheis, atau ia merasa bahagia beragama A,B,C, apakah ini juga sesuatu yang sangat penting? Pertanyaan ini hendaknya menjadi pertanyaan reflektif sebab bercengkrama dengan kesadaran spiritual itu sebenarnya tidak harus berada pada polar-polar tententu. Sebab jika demikian yang terjadi, maka apa yang namanya dialog justru berubah menjadi perdebatan panjang yang sia-sia dan sangat-amat-tidak-penting-sekali.

Memang harus diakui, untuk lepas dari kemelekatan ini sangat tidak mudah dan butuh proses. Kita seharusnya lebih sering melihat ke dalam diri masing-masing agar mampu mendapati kembali diri kita yang sungguh-sungguh sadar. Dengan demikian batin akan menjadi semakin dewasa, dan akan merasakan dampak dari kesadaran kita sendiri sebagai manusia yang tidak pernah terpisahkan dengan berbagai entitas lain di rumah besar kita, yaitu alam semesta ini.

_/\_ 

Seruni, 22-11-2015

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.