Header Ads

ads

Dialog Pribadi Sebagai Titik Awal Perjalanan Spiritual

Dialog Pribadi Sebagai Titik Awal Perjalanan Spiritual

Setiap pribadi pada suatu waktu di dalam kehidupannya selalu memiliki konflik/gejolak batin. Pada fase ini setiap pribadi tersebut sudah pasti selalu menyelenggarakan dialog dengan dirinya sendiri. Dialog ini tentunya melibatkan pikiran, yang kemudian melahirkan berbagai bentuk perasaan. Inilah adalah bagian yang disebut sebagai pengalaman batin.

Disinilah awal mula munculnya berbagai pertanyaan spiritual itu. Pada tahap yang paling dasar, munculnya berbagai pertanyaan tersebut biasanya sangat dipengaruhi oleh belief system yang dianut oleh setiap individu. Ada pergumulan-pergumulan tertentu yang dialami oleh setiap pribadi tersebut, yang kemudian menjadi pemicu munculnya dialog tadi.

Baca juga :
Dialog ini adalah dialog yang bersifat gaib. Mengapa? Karena setiap pribadi yang berada dalam kondisi ini secara tidak sadar sudah bercakap-cakap dengan dirinya yang lain (non fisik), yaitu sesuatu yang disebut pikiran(nya). Jadi sebenarnya pikiran itu sendiri adalah manifestasi dari roh/spirit. Oleh karena itu, setiap pribadi yang memberi perhatian pada setiap percakapan tunggal dengan dirinya sendiri akan mengetahui hal ini sebagai bagian dari pengalaman rohaniah. Ia yang disebut pribadi itu tidak hanya difahami sebagai realitas fisik akan tetapi juga ada dalam dimensi spiritual, yaitu Ia yang disebut pikiran.

Lalu, apakah dialog pribadi ini selalu berisi dengan pertanyaan-pertanyaan saja? Tentu saja tidak. Akan tetapi dalam konteks spiritualitas, perjalanan setiap individu menuju pencerahan biasanya selalu di awali dengan munculnya berbagai pertanyaan di dalam dirinya. Mungkin ada benarnya statement yang mengatakan bahwa di dalam ranah spiritualitas, setiap pertanyaan justru jauh lebih penting ketimbang sebuah jawaban.

Baca juga :
Akan tetapi kualitas dialog pribadi yang diselenggarakan oleh setiap pribadi sangatlah relatif. Jernih atau tidaknya pikiran yang memunculkan berbagai pertanyaan akan sangat dipengaruhi oleh kondisi kebatinannya sendiri. Hanya dengan membiasakan hidup yang kontemplatif/meditatif, maka akan tercipta dialog pribadi yang berkualitas, yaitu yang bertumpu pada kesadaran total.

Demikian juga, kemerdekaan setiap pribadi dalam berdialog dengan pikirannya sendiri juga sangat dipengaruhi oleh seberapa kuat belief system yang dianutnya. Semakin terbiasa setiap pribadi memposisikan dirinya di luar belief system yang dianutnya, maka akan semakin bebaslah ia mengalami pengalaman spiritualnya sebagai manusia yang utuh dan apa adanya.

Baca juga :
Oleh karena itu, setiap pribadi tidak akan pernah merdeka, apabila berbagai pertanyaan atau pernyataan yang muncul dari dalam dirinya tersebut masih menimbulkan konflik karena berbenturan dengan hal-hal dogmatis yang telah sekian lama menguasai kehidupannya. Hal ini bisa dibuktikan sendiri. Justru sering kali dalam kondisi seperti ini, setiap pribadi tersebut akan jatuh dalam perasaan takut. Takut salah, takut berdosa, takut kehilangan sesuatu, atau takut tidak diterima orang lain karena akan dianggap nyeleneh. Padahal jika ia mampu menepiskan hal-hal seperti ini, dan sungguh-sungguh eling bahwa sejatinya ia hanyalah manusia biasa yang lahir tanpa membawa embel-embel apapun, maka ia akan dapat melanjutkan perjalanan spiritualnya ke tingkat lebih lanjut.

_/\_

Seruni, 20-11-2015

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.