Cinta Seharusnya Tak Lagi Beragama
Pernah suatu ketika seorang sahabat tiba-tiba datang tengah malam, membawa kisahnya via telpon. Dan ia pun bercerita panjang lebar tentang kisah pelik yang berjudul; “Aku Bingung”.
Kebingungan yang pertama, baru 2 (dua) bulan pacaran sudah disuruh orang tuanya untuk secepatnya menikah. Alasannya sederhana, agar pesta pernikahannya bisa dijadikan satu pesta dengan saudaranya yang sudah menikah namun belum sempat menyelenggarakan pesta pernikahan.
Kebingungan kedua adalah masalah klasik, yaitu agama. Kalau menikah harus pilih agama yang mana?. Tetap bertahan dengan agama "A" atau ikut agama "B" yang dianut oleh kekasih hati?. Tata cara pernikahannya pakai cara agama "A" atau cara agama "B"?. Atau tetap lanjut menikah namun dengan konsekwensi agama "AB" (masing-masing). Dan untuk yang satu ini pun peresmiannya tetap harus pilih tata cara "A" atau cara "B"?.
Lalu bagaimana reaksi batinku setelah mendengar kisah sahabat ini. Jujur saja, mungkin aku pun akan bingung jika berada diposisinya. Namun untuk kebingungannya yang pertama itu, intuisiku mencoba membacanya lebih jauh. Alasan pesta yang diutarakan orang tuanya itu bukanlah alasan yang paling utama. Seperti ada alasan lain dibalik itu yang jauh lebih penting untuk dipahami oleh sahabat ini dengan pikirannya yang lebih jernih. Aku seperti menangkap "sesuatu" dari alasan yang diutarakan orang tuanya itu. Saat itu sulit untuk mengatakan "sesuatu" itu apa. Aku hanya ingin dia sendiri yang menemukannya dalam keteduhan jiwanya.
Dan untuk kebingungannya yang kedua, aku juga tidak bicara banyak. Aku tidak ingin membuat dia terlalu "letih" dalam menentukan pilihannya sendiri. Apalagi jika harus memberinya nasehat ini dan itu berkenaan dengan hal keyakinan itu. Aku sungguh tak pandai dalam hal ini. Lebih tepatnya sih, malas bicara kalau menyangkut perbedaan keyakinan. Aku bukanlah seorang "penjual" yang harus menjajakan teori "A" atau "B". Ribet jika disebutkan menurut "A" harus begini dan menurut "B" begitu, yang sebenarnya semua itu sama saja. Penuh basa-basi. Bertele-tele dan mematikan sisi kemanusiaan kita sebagai manusia yang seharusnya bebas mencintai.
Baca juga :
Bukankah dalam kenyataan hidup, dunia ini sering kali menarik pikiran kita keluar dari tempat dimana seharusnya ia bebas menentukan pilihan?. Seringkali ketika kita dihadapkan pada situasi dilematis seperti kisah sahabat ini. Dan pada saat itu juga konflik batin pun melanda. Kita merasa berada pada suatu tempat yang begitu asing, sendirian. Kita tak bisa menjadi diri sendiri yang bebas (mencintai) apa dan siapapun. Tanpa sadar kita telah tenggelam dalam lautan konsep yang dibangun oleh masyarakat yang seringkali menipu nurani kita sebagai manusia yang seharusnya independen dan apa adanya.
Namun aku tahu bahwa setiap pribadi yang berhadapan dengan kenyataan pelik, salah satunya seperti kisah sahabat tadi, pasti akan sampai pada pilihannya masing-masing, apapun itu. Karena kepada setiap pribadi tersebut telah diberikan "timbangan" kehidupannya sendiri-sendiri. Dan kita seharusnya telah dewasa dalam menyikapi masalah seperti ini. Apalagi hal itu berhubungan dengan perbedaan keyakinan.
Aku selalu percaya, bahwa manusia terus berubah menurut jamannya. Waktu berubah, maka nilai-nilai akan berubah pula. Namun hal yang lebih penting dari setiap perubahan itu hendaknya menjadikan kita semakin manusiawi. Biarlah kita menakar apapun yang kita hadapi, memilih dengan kebijaksanaan kita sendiri tanpa merasa terpaksa atau dipaksa oleh orang lain atau dibatasi oleh berbagai otoritas yang selama ini "menjajah" nurani kita. Mungkin tidak mudah, akan tetapi "cinta" tak mengenal "bungkus-bungkus" kemanusiaan.
Baca juga :
Jika seseorang tak dapat "memeluk" satu saja kebahagiaan yang seharusnya ia wujudkan hari ini, biarlah dia sendiri yang mengubahnya. Membangun kebahagiaan dari dalam menurut versi masing-masing itu lebih baik, ketimbang hidup berdasarkan pilihan yang bukan kita buat sendiri. Sebab aku yakin bahwa setiap pribadi juga "diberi" kuasa untuk hal itu.
Dan hendaknya, sekecil apapun kesadaran kita akan hal ini seharusnya dapat menjadi kekuatan untuk menjadikan kehidupan ini dipenuhi dengan cinta.
Semoga setiap pribadi berbahagia.
_/\_
Seruni, 20-11-2015
Kebingungan yang pertama, baru 2 (dua) bulan pacaran sudah disuruh orang tuanya untuk secepatnya menikah. Alasannya sederhana, agar pesta pernikahannya bisa dijadikan satu pesta dengan saudaranya yang sudah menikah namun belum sempat menyelenggarakan pesta pernikahan.
Kebingungan kedua adalah masalah klasik, yaitu agama. Kalau menikah harus pilih agama yang mana?. Tetap bertahan dengan agama "A" atau ikut agama "B" yang dianut oleh kekasih hati?. Tata cara pernikahannya pakai cara agama "A" atau cara agama "B"?. Atau tetap lanjut menikah namun dengan konsekwensi agama "AB" (masing-masing). Dan untuk yang satu ini pun peresmiannya tetap harus pilih tata cara "A" atau cara "B"?.
Lalu bagaimana reaksi batinku setelah mendengar kisah sahabat ini. Jujur saja, mungkin aku pun akan bingung jika berada diposisinya. Namun untuk kebingungannya yang pertama itu, intuisiku mencoba membacanya lebih jauh. Alasan pesta yang diutarakan orang tuanya itu bukanlah alasan yang paling utama. Seperti ada alasan lain dibalik itu yang jauh lebih penting untuk dipahami oleh sahabat ini dengan pikirannya yang lebih jernih. Aku seperti menangkap "sesuatu" dari alasan yang diutarakan orang tuanya itu. Saat itu sulit untuk mengatakan "sesuatu" itu apa. Aku hanya ingin dia sendiri yang menemukannya dalam keteduhan jiwanya.
Dan untuk kebingungannya yang kedua, aku juga tidak bicara banyak. Aku tidak ingin membuat dia terlalu "letih" dalam menentukan pilihannya sendiri. Apalagi jika harus memberinya nasehat ini dan itu berkenaan dengan hal keyakinan itu. Aku sungguh tak pandai dalam hal ini. Lebih tepatnya sih, malas bicara kalau menyangkut perbedaan keyakinan. Aku bukanlah seorang "penjual" yang harus menjajakan teori "A" atau "B". Ribet jika disebutkan menurut "A" harus begini dan menurut "B" begitu, yang sebenarnya semua itu sama saja. Penuh basa-basi. Bertele-tele dan mematikan sisi kemanusiaan kita sebagai manusia yang seharusnya bebas mencintai.
Baca juga :
Bukankah dalam kenyataan hidup, dunia ini sering kali menarik pikiran kita keluar dari tempat dimana seharusnya ia bebas menentukan pilihan?. Seringkali ketika kita dihadapkan pada situasi dilematis seperti kisah sahabat ini. Dan pada saat itu juga konflik batin pun melanda. Kita merasa berada pada suatu tempat yang begitu asing, sendirian. Kita tak bisa menjadi diri sendiri yang bebas (mencintai) apa dan siapapun. Tanpa sadar kita telah tenggelam dalam lautan konsep yang dibangun oleh masyarakat yang seringkali menipu nurani kita sebagai manusia yang seharusnya independen dan apa adanya.
Namun aku tahu bahwa setiap pribadi yang berhadapan dengan kenyataan pelik, salah satunya seperti kisah sahabat tadi, pasti akan sampai pada pilihannya masing-masing, apapun itu. Karena kepada setiap pribadi tersebut telah diberikan "timbangan" kehidupannya sendiri-sendiri. Dan kita seharusnya telah dewasa dalam menyikapi masalah seperti ini. Apalagi hal itu berhubungan dengan perbedaan keyakinan.
Aku selalu percaya, bahwa manusia terus berubah menurut jamannya. Waktu berubah, maka nilai-nilai akan berubah pula. Namun hal yang lebih penting dari setiap perubahan itu hendaknya menjadikan kita semakin manusiawi. Biarlah kita menakar apapun yang kita hadapi, memilih dengan kebijaksanaan kita sendiri tanpa merasa terpaksa atau dipaksa oleh orang lain atau dibatasi oleh berbagai otoritas yang selama ini "menjajah" nurani kita. Mungkin tidak mudah, akan tetapi "cinta" tak mengenal "bungkus-bungkus" kemanusiaan.
Baca juga :
Jika seseorang tak dapat "memeluk" satu saja kebahagiaan yang seharusnya ia wujudkan hari ini, biarlah dia sendiri yang mengubahnya. Membangun kebahagiaan dari dalam menurut versi masing-masing itu lebih baik, ketimbang hidup berdasarkan pilihan yang bukan kita buat sendiri. Sebab aku yakin bahwa setiap pribadi juga "diberi" kuasa untuk hal itu.
Dan hendaknya, sekecil apapun kesadaran kita akan hal ini seharusnya dapat menjadi kekuatan untuk menjadikan kehidupan ini dipenuhi dengan cinta.
Semoga setiap pribadi berbahagia.
_/\_
Seruni, 20-11-2015

Tidak ada komentar