Header Ads

ads

Karena Saya Ingin Melihat Bagaimana Wujud Keturunan Saya

Karena Saya Ingin Melihat Bagaimana Wujud Keturunan Saya

Membaca kembali isi inbox lama di Facebook itu seperti membaca “waktu” yang sudah Kita lewati. Kita tahu bahwa Kita pernah “berada” di sana. Pernah ada pribadi-pribadi yang “bertemu” dengan Kehidupan Kita walaupun itu hanya bersifat maya.

Sejak aktif menyusuri diskusi tentang spiritualitas, aku sering berkenalan dengan pribadi-pribadi yang banyak makan asam garam spiritual. Maksudnya, dari mereka aku bisa belajar banyak. Menggali persfektif lain tentang sesuatu yang menjadi pertanyaan di dalam benakku.

Aku tidak menganggap mereka Guru, sebab banyak juga dari mereka yang tidak mau disebut seperti itu. Obrolan-obrolan yang mengalir begitu saja adalah suatu pengalaman tentang berbagi. Ya, hanya berbagi saja. Tidak ada niat untuk saling menggurui. Kesepakatan bahwa sebagai manusia Kita saling belajar, menjadikan setiap obrolan menjadi menyenangkan.

Di bawah ini, aku share obrolanku dengan seorang bapak beberapa tahun lalu. Ia adalah seorang suami dan seorang ayah. Pertemuanku dengan bapak ini di Facebook bukan terjadi begitu saja, melainkan ada seorang teman yang memperkenalkan bapak ini kepadaku.

Aku share chat inbox ini untuk mengenang kebaikannya karena sudah mau berbagi denganku di Bumi ini. Dan Beliau sudah “pergi” untuk selama-lamanya.
T : Terima kasih Pak, sudah di bukakan pintunya. Salam perkenalan :) _/\_

J : Salam persahabatan. MERDEKA!. Ternyata kita belum merdeka ya.

T : Iya Pak :)

(* Beberapa hari kemudian)

T : Salam Pak, apa kabar? Saya ingin bertanya, "Apakah sebenarnya Jiwa itu? Bagaimana mendefinisikannya? Apakah jiwa itu sama persis dengan apa yang disebut batin atau?" Mohon pencerahan Pak.

J : Kabar baik. Jiwa definisinya secara negasi adalah dibalik raga. Batin adalah dibalik yang lahiriyah. Artinya hampir relatif sama. Tapi perlu diingat yang penting adalah mengenal/pencapaian. Tahu nama dan definisi kalau nggak tahu 'barangnya' apa bedanya dengan orang beragama?

T : OK Pak. Terima kasih.

J : Sebenarnya kemarin itu saya sudah bikin jawaban yang panjang banget. Ada 4 halaman. Terus HP-ku hang. Datanya hilang. Mau nulis lagi hilang sudah mood-nya.

T : Hahaha. HP-nya kayaknya kecapekan tuh. Tapi gak apa-apa Pak. Terima kasih karna sudah berkenan berbagi. :)

J : Sering terjadi begitu. Kan pakai Opera mini. Udah type mati-matian dan banyak lagi, giliran mau di upload nggak mau. Biasanya keluar dan log in lagi mau, tapi save-nya kan bisanya di Opera aja. Kalau exit dari opera ya hilang. Ini pakai Nokia E90, kalau pakai O2 kan pakai windows mobile bisa di-save. Masalahnya aku download Opera ke O2-ku gagal terus/nggak ada yang cocok. Kalau nggak pakai opera boros banget KB-nya. Lihat page sebelumnya aja dianggap buka baru. Tapi saya senang banyak juga yang tertarik untuk menguak rahasia kehidupan. Salam.

T : Iya Pak. Hmm, memang jika dibilang udah dapet enlightenment penuh sih kayaknya sih berat Pak. Saya mulai terlibat dengan dialog/diskusi-diskusi seperti ini ketika begitu banyak pertanyaan di dalam otak ini seolah-olah mandeg dalam memproduksi jawaban. Setelah saya amati, ternyata ada semacam terali besi yang memenjarakan peluang "kebebasan/pembebasan" itu. Dari situlah semua ini bermula. Saya hanya mencoba untuk tapaki ini semampu saya Pak. Btw, mood Nokia E90-nya kayaknya lagi bagus tuh Pak. Sampai terkirim double.:)

J : Nah itulah contohnya. Macet tak pencet-pencet. Baru tahu kalau double. Saya juga berangkat dari banyak kegelisahan dan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. Bahkan latihan saya lumayan mengerikan diusia saya ketika itu.

Umur 19 tahun saya sudah mampu setiap saat 7 pukulan full/detik dengan sasaran 7 nyala lilin jarak 3 jengkal dari ujung pukulan. Kalau cuma es batu saya lempar dan ditepuk dengan tangan start jarak antar telapak 1 jengkal jadi es serut.

Suatu hari timbul kesadaran kenapa saya hanya belajar membunuh secepat mungkin. Counter attack saya sekitar 1,2 detik, mati. Saya juga petarung ilmu dalam. Sebagian menyebut saya Begawan Yamadipati, membunuh hanya menggunakan kehendak. Kemudian saya seperti orang kehilangan tujuan hidup, setelah mencapai semua itu kok sepertinya tak berarti lagi.

Saya memulai dari awal lagi, belajar membantu orang-orang dengan permasalahannya kemudian menikah, walaupun dengan resiko kehilangan separuh kemampuan saya (karena saya ingin melihat bagaimana wujud keturunan saya).

Sampai sekarang pun saya malas mendirikan/punya perguruan apapun walaupun kalau dalam bidang bela diri saya mau 'ngajari', minim harus Dan I atau pendekar dulu. Sekarang kelamaan vakum (15-20th) dan nggak latihan bisa-bisa kecethit kalau ngelatih.

Saya cuma senang menyentil dan memotivasi orang-orang saja. Semoga ada manfaatnya. Oh ya ini kelepasan nulis nggak tahu kenapa karena rasa ingin berbagi. Off the record aja ya! Salam pencarian.

T : Wah Pak, terima kasih sudah berbagi sangat banyak. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Bisa dibayangkan "penggalan-penggalan" pengalaman tersebut, sehingga pada satu titik kembali pada esensi dari eksistensi diri. Maaf, baru bisa balas Pak, dua hari ini tidak fit. Mau nulis status inspirasinya juga lagi susah banget. Sekali lagi terima kasih Pak. _/\_

J : Saya ingin lebih banyak lagi ada orang-orang seperti saya atau bisa lebih baik lagi. Sebagai suatu generasi pendukung kebesaran bangsa kita di masa yang akan datang. Tak mungkin kita jadi bangsa yang besar kalau hanya terdiri dari para budak dan orang tertipu.

Saya berharap kita bisa segera memerdekakan bangsa ini. Kalau tidak aternatif terahir pemusnahan (sudah ada peringatan lewat alam yang bisa tebang pilih daerah para antek-antek perbudakan). Kebangunan gunung-gunung yang tertidur, gempa dan bencana adalah atas perintah, bukan sealamiah yang disangka orang.
_/\_

Seruni, 29-11-2015

8 komentar:

  1. keren kalimat, "tak mungkin kita jadi bangsa yang besar kalau hanya terdiri dari para budak dan orang tertipu"

    setidaknya menyadarkan kita untuk berusaha bisa berdiri mandiri, dan lebih waspada

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mas, bangsa ini terlalu besar jika hanya ingin menjadi "followers" saja..

      Hapus
  2. untuk membangung bangsa yang patuh tentunya mesti harus didalmnya sesuai dengan aturan dalam islam, maka walaupun bangsa sudah merdeka, banyak masyarakat yang masih belum merdeka dengan menikmati suasana kemerdekaa, hehe, aga sedikit ndak nyambung ya mas :) hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe. Akan terlalu sempit dan terkesan eksklusif Mas jika sudut pandang yang dipakai hanya "mengerucut" pada salah satu "belief system" yang ada mengingat bangsa kita ini adalah bangsa yang majemuk. Kemajemukan ini adalah adalah anugerah yang patut dipelihara dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kesetaraan yang universal. Dan ini adalah "modal" kita untuk sungguh-sungguh menjadi bangsa besar yang "merdeka" dan setara dengan bangsa lain di dunia.:)

      Hapus
  3. Generasi kita harus bisa menjadi pendukung dan penggerak bagi bangsa kita, jangan sampai cara alternatif itu menjadi takdir bangsa kita.

    BalasHapus
  4. menurut saya sekarang malah semajin terpuruk, semakin jauh dengan kata MERDEKA!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Secara mental bangsa ini memang belum "merdeka" sepenuhnya,.dak apa-apa lah,.yang penting progress ke arah itu udh nampak biar dikit..:)

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.