Header Ads

ads

Rapopo, Sudah Saatnya Kita Gila

Rapopo, Sudah Saatnya Kita Gila
Meme Papa Minta Saham
Sebenarnya kurang apalagi dari Yang Mulia SetNov ini? Masa muda pernah dilaluinya dengan berjualan madu dan berjualan beras. Bahkan beliau sempat menyandang predikat juragan beras kala itu. Namun ketika mengetahui mitra bisnisnya "tidak jujur", beliau pun kuciwa dan menanggalkan satusnya sebagai juragan.

Tapi itu bukan masalah, nama beliau tetap berkibar. Beliau bahkan pernah menjadi salesman Suzuki untuk Indonesia bagian timur. Pernah bekerja di PT Ini-Itu. Ditambah lagi dengan berbagai pengalaman membuat nama beliau semakin menjulang tinggi. Coba bayangkan sudah berapa banyak asam dan garam yang telah dimakan oleh beliau ini?. Beliau sungguh sosok pekerja keras, disiplin, ulet, dan "jujur". Emezing bukan?.

Namun karena kedekatan beliau dengan Hayono Isman sejak masa SMA itulah yang pada akhirnya mengantarkan beliau menjadi tokoh GolKar yang cukup disegani. Beliau belum pernah nganggur dari panggung politik sejak tahun 1999 sampai pada hari ini. Menurut beliau politik adalah cara untuk "berbakti" kepada Ibu Pertiwi. Oh, keren.

Baca juga :
Eits tunggu dulu, beliau juga pernah menjadi model dan dinobatkan sebagai pria tampan Surabaya tahun 1975. Ini tentu saja merupakan prestasi seorang lelaki yang keren abis. Keren seabis-abisnya. Sudah tampan, penampilan rapi, kinclong, wangi, mapan, udah itu rajin beribadah. Lengkap. Perfecto numero uno!. Tipe pria idaman. Tutur katanya, duh amboy, sopan banget. Semut yang berbaris di dinding dan menatapnya penuh curiga pun bisa luluh dibuatnya. Satu paket B3; bibit, bebet, bobot  komplit ada pada beliau. Siapa sih yang ndak klepek-klepek dibuatnya? Kurang apa coba? Oh iya, gimana kabarnya Mas Anas Urbaningrum ya?.

Apa yang terjadi hari ini sebenarnya hanya mengkonfirmasi saja bahwa Yang Terhormat SetNov ini termasuk salah satu orang sukses yang patut diperhitungkan. Beliau telah sukses menjadi apa yang beliau mau, entah itu sebagai pengusaha maupun politisi. Soal jadi negarawan ndak usah dipikir. Yang penting jabatan politik itu sebesar-besarnya bisa dipakai untuk "menggaruk" negara.

Baca juga :
Selain itu beliau telah sukses melewati kasak-kusuk soal Bank Bali. Beliau juga kebal terhadap tuduhan Nazarudin yang menyebut dirinya sebagai pengendali proyek e-KTP. Lain daripada itu, beliau juga berhasil melewati isu dugaan suap yang melibatkan tersangka mantan Gubernur Riau Rusli Zainal dalam proyek pembangunan tempat PON XVII. Ini hanyalah beberapa contoh kasus kontroversial yang sukses dilewati oleh Yang Mulia SetNov. Tentu saja di jaman edan seperti sekarang ini banyak orang yang ingin sukses seperti beliau.

Makanya tidak perlu heran, banyak pengusaha yang jadi politisi atau sebaliknya. Bukan banting stir lho, tapi merangkap. Dua profesi dijalani sekaligus. Kalaupun ada pengusaha yang tak suka terlibat dalam politik praktis dengan cara masuk partai atau dengan mendirikan partai dewe, biasanya mereka tetap saja bermain politik dari luar.

Partainya adalah partai yang bercorak Kekoncoan. Sejenis Partai Gaib, antara ada dan tiada tapi tetap bisa menancapkan taringnya yang tajam di setiap lini. Gerakan politik seperti ini adalah gerakan politik underground yang dibungkus dengan ideologi maling. Maksudnya, mereka bisa bergerak seperti hantu. Terkam sana-sini, cakar sana-sini.

Baca juga :
Seringkali mereka dapat berubah wujud menjadi belut. Licin dan susah ditankap. Tujuannya politiknya hanya satu, yang penting bisa enak sama enak. Kalau sudah tidak enak kawan ditendang jadi lawan. Bila perlu demi memuluskan pencapaian kepentingan, mereka tak segan-segan menggoyang sistem positif yang sudah ada. Biar hancur sekalian. Tapi ndak semua seperti itu, ada juga yang tetap bermain dengan "sportif" dan konsisten berada pada jalur yang seharusnya. Tapi biasanya yang begini dak bertahan lama.

Kata sukses yang melekat pada Paduka SetNov menandakan bahwa beliau adalah sosok yang "teruji". Walau badai menghadang, tabrak saja. Yang penting naik dulu setinggi-tingginya. Urusan mau "terpuji" atau tidak, ndak usah dipikir. Yang penting ketika jurus menghipnotis masa sudah khatam, semua pasti beres dan akan berjalan mulus. Dan beliau telah membuktikan hal itu dengan berhasil duduk di puncak kekuasaannya di DPR, Dewan Persengkongkolan Raksasa.

Baca juga :
Oleh karena itu, gedung parlemen yang didesain dengan sangat artistik tersebut tidak lagi menjadi tempat untuk membela kepentingan rakyat melainkan hanya membela kepentingan sekelompok orang yang ada di dalamnya saja. Kehadiran Yang Terhormat SetNov dan kawan-kawin di gedung parlemen semakin menambah cerita jenaka yang selalu saja basi. Mereka cuma bisa lipsing soal keadilan dan kesejahteraan sosial. Padahal hanya mereka saja yang layak mendapatkan apa yang mereka ucapkan itu. Masa bodoh rakyat mau dapat apa. Yang penting kerja(in), kerja(in), kerja(in). Ya, rakyat cuma dikerjain sebab mereka dengan antengnya tetap melakukan aksi garuk, garuk, garuk atau korup, korup, korup.

Masih ingat kan aksi empatik yang dilakukan oleh Yang Mulia SetNov dan kawan-kawin beberapa waktu yang lalu? Sungguh, aku "terenyuh" melihat beliau pakai masker sebagai aksi solidaritas atas peristiwa asap. Begitu heroik aksi mereka ini, sampai-sampai aku "lupa" bahwa di gedung DPR tak mungkin kena asap. Bau kentut dan bau ketek saja kalah oleh aroma farfum anggota dewan. Ditambah lagi dengan aroma pengharum ruangan plus AC semakin membuat mereka nyaman berada disana. Pangennya tidur melulu.

Baca juga :
Makanya anggaran kasur DPR sampai 12 M kemarin itu bisa jadi memang diniatkan secara serius. Sebab mereka maunya guling-gulingan, bochi-bochian. Yang jelas seluruh isi gedung harus steril dari kuman-kuman penyakit biar yang ada di dalam bisa tetap terjaga kesehatannya. Ide tentang Indonesia Besar, bagi Yang Mulia SetNov dan kawan-kawin di gedung parlemen cukup diputar di dalam mimpi saja. Biarkan saja Indonesia babak belur. Yang penting duit mengalir deras ke kantong mereka. Hebat kan?.

Sebenarnya "senang" juga masih ada manusia-manusia Terhormat seperti Paduka SetNov dan kawan-kawin di negeri ini. They're very, very successfull man. Ngga ada mereka, Indonesia ngga rame. Ngga ada mereka, Indonesia gak bakalan jadi trending topic dunia di Twitter. Makanya jangan heran kalau Donald Trump sampai berani "tertawa" diam-diam. Trump yang dianggap rasis di negeri Paman Sam sengaja meng-endorse Paduka SetNov sebagai, "A very and amazing man. Speaker of the house of Indonesia and One of the most powerfull man".

Tentu saja ini keren banget. Hampir mirip Iron Man. Indonesia menjadi semakin terkenal "kelucuannya". Dan aku "hepi" menjadi bagian dari negeri yang penuh dengan gelak tawa ini. Untuk hal itu, Yang Mulia SetNov dan karibnya FadZonk telah dengan sungguh-sungguh mewakili kejenakaan kita. Bukan hanya di depan mata Donald Trump tapi di seantero Amerika bahkan dunia. Wah, kalau saja tidak ada beliau-beliau ini, maka Indonesia tak mungkin dikenal sebagai negeri yang penuh dengan parodi. Oh, apa boleh buat, tai kambing rasa coklat. I do love this funny country.

JK pernah berkomentar, "Ndak apa-apalah SetNov ketemu Trump. Mungkin dia mau belajar kampanye. Politisi ketemu Politisi itu kan sah-sah saja." Dari pernyataan JK ini saja sudah mulai kelihatan wagu dan lucu. Tapi begitulah JK, kadang warasnya seringkali berlebihan. Terlalu waras, tapi banyak bermain hati. Pada akhirnya masyarakat dilanda kontroversi hati. Sakitnya tuh disana-sini sejak awal mula reformasi.

Baru kemarin JK merasa kuciwa dengan apa yang terjadi di Mahkamah Kebrengsetan Dewan (MKD). Yang Mulia SetNov dengan gampang dan ciamik dapat menundukkan kepala para anggota MKD, bahwa proses pemeriksaan terhadap dirinya harus tertutup rapat. Sayangnya tidak ada satu pun yang punya ide untuk sekalian membuat ruang pemeriksaan itu menjadi Hampa Udara. Memang, Akbar Faisal sempat tampil di kotak kaca dengan nada kuciwa berusaha meyakinkan publik bahwa ia dan beberapa anggota MKD telah melakukan protes terhadap proses pemeriksaaan yang tertutup itu. Menurutnya seharusnya itu dilakukan secara terbuka sejalan dengan tuntutan masyarakat. Tapi mau bilang apa, publik telah terlanjur meyaksikan fakta bahwa Yang Mulia SetNov ini sungguh sakti mandraguna. Dengan kekuasaannya, Yang Terhormat SetNov bahkan berani mendikte agar kasusnya ditutup total. Aku jadi kasian lihat Pak JK ketika dimintai pendapat oleh wartawan mengenai proses yang terjadi di MKD. Semakin lucu jadinya, koq baru bisa bilang kuciwa sekarang.

Jangankan MKD, bagi Yang Mulia SetNov semua bisa dianggapnya ecek-ecek. Waktu menikahkan anaknya kemarin saja, beliau mampu menyulap "Rumah Allah" menjadi ruang private. Umat yang datang dan mau berdoa dilarang masuk Katedral. Mau berdoa kek, mau rosario kek, mau ngapain kek, pokoknya manusia sekelas tokek yang disebut sebagai rakyat "jelantah" dilarang masuk Katedral. "Ini acara gue dan Katedral udah gue boking. Lo siape? Kagak diundang mending lo pade minggir". Titik!. Itulah sebabnya banyak umat yang merasa tidak nyaman dengan ulah Yang Mulia ini.

Allah diam-diam sedih juga. Tapi apa mau dikata, tugas Allah cuma satu, yaitu mensahkan pernikahan anak Yang Mulia. Sebab cost untuk acara pemberkatan itu sendiri sudah dibayar dimuka. Dengan cara tunai tentunya. Bisa dikhayalkan sendiri amplop sekelas Yang Mulia ini segede apa. Banyak yang bilang beliau ini dikelilingi oleh sponsor-sponsor kakap. Bukankah yang menjadi menantunya itu juga putra seorang taipan?.

Allah tentu saja tidak makan amplop. Kecuali orang-orang yang bicara dalam nama Allah. Setelah ritual pemberkatan selesai Allah pergi sambil gigit jari sembari memandangi rombongan Yang Mulia SetNov pulang konvoi pakai mobil mewah. Miris. Diberi tumpangan saja tidak. Allah harus jalan kaki tanpa memakai sandal. Oh, sudah pasti Allah tidak diundang makan resepsi. Itulah sebabnya, tak ada satupun dalam lingkaran Katederal yang berani "protes" kepada Yang Mulia SetNov, apalagi umat. Mana berani penjaja iman berhadapan dengan Yang Mulia SetNov. Beliau kan membawa banyak bodyguard, yaitu pamdal DPR, langsung didatangkan dari gedung parlemen.

Lagi pula Yang Mulia SetNov sudah tahu bahwa Anak Allah yang bernama Yesus tidak bakalan datang dan menghancurkan acaranya. Kalangan berjubah yang diharapkan mampu bertindak "gila" seperti Kristus dengan cara mengobrak-ngabrik "kesemena-menaan" Yang Mulia SetNov dengan melarang orang lain datang untuk sembayang di Bait Allah, pada akhirnya bertekuk lutut di hadapan Papa Yang Terhormat.

Baca juga :
Tentu saja yang seperti ini bukanlah barang baru. Sudah sering terjadi dari jaman dahulu bahwa pemuka-pemuka Gereja juga "berteman akrab" dengan kalangan yang menyandang status "Yang Terhormat". Apalagi ketika sama-sama "ada maunya", apapun bisa terjadi.

Bertindak seperti Kristus dengan cara mengobrak-abrik kemunafikan yang terang-terangan terjadi Bait Allah malah akan dianggap tidak waras, tidak sopan dan memalukan. Hanya Pastor Benny saja yang kemarin sempat menyuarakan penyesalannya di media prihal ulah Yang Mulia SetNov ini. Tapi semua sudah terlambat. Sekarang anak Yang Mulia sudah menikmati bulan madu yang tentu saja "aduhai".

Beda dengan Jokowi. Kelucuan-kelucuan seperti di atas sudah bukan trend lagi. Yang paling baru sekarang harus menjadi "Gila". Walaupun sudah terlanjur cinta dan nrimo hidup di negeri parodi ini, tapi agaknya "kemarahan" Jokowi kemarin layak didengarkan. Hanya Yang Mulia SetNov saja yang bisa membuat Jokowi marah seperti itu. Dan kemarahan Jokowi kemarin memberi kode kepada pikiran semesta, "Sudah saatnya kita Gila. Sudah saatnya kita Tidak Waras dan Keras Kepala terhadap para mafia dan pelawak politik yang cuma bisa lipsing. Mau sampai kapan kita harus begini?" Apa yang selama ini dianggap normal dalam sistem yang korup harus dibuat abnormal ke dalam sistem yang bersih dan transparan. Tidak mudah memang. Tapi sudah dimulai sejak setahun yang lalu. Jangan berhenti.

Baca juga :
Kemarahan Jokowi itu seperti memperdengarkan kembali bisikan gaip dari Gus Dur. Konon Gus Dur setiap kali bertemu dan bersalaman dengan Mega sering bertanya, "Mbak, piye waras Mbak?". Mega sampai bosan dan mengira Gus Dur menganggapnya tak waras. Apalah salahnya bertanya, "Mbak, gimana kabarnya, sehat?". Itu pikiran Mega. Akhirnya Mega mengungkapkan rasa penasarannya kepada Gus Dur mengapa Sang Kyiai sering bertanya seperti itu kepadanya. Gus Dur cuma bilang, "Mbak, jaman sekarang banyak orang mengaku sehat tapi kelakuannya sendiri tidak waras." Jadi jangan heran kalau Gus Dur pernah mau membubarkan DPR tanpa harus pesan rudal dari Putin guna meluluhlantakkan gedung parlemen.

Sekarang semua ada ditangan Jokowi. Tentu saja dibantu juga dengan pergerakan semesta melalui berbagai cara termasuk "bersuara" melalui sosmed ini. Toh kehadiran Paduka SetNov dalam dunia politik, tanpa terduga telah mengungkap juga misteri, bahwa ternyata pada musim-musim yang lalu kita telah dipecundangi oleh "Presiden Vampir", yaitu Tuan Reza Chalid. SBY secara simbolik cuma jadi bumper bagi kepentingan para vampir. Lebih tepatnya, SBY tak bisa berbuat banyak. Sebab ternyata masih ada presiden di atas presiden seperti Reza Chalid and the gank. Mereka bebas mengatur ini-itu sesuai keinginan mereka sendiri dari luar istana. Aku pikir SBY tidak mungkin tidak mengetahui hal ini. Tapi seperti yang kita tahu SBY lebih sering merajuk ketimbang mau bersikap Gila terhadap mafia. Ia lebih banyak main hati ketimbang main kepala.

Baca juga :
Kita tahu bahwa Petral kala itu adalah darah segar yang memberi kehidupan bagi para vampir and the gank. Bahkan ada yang mengatakan SBY sendiri ada dalam lingkaran ini. Entahlah. Tapi sekarang Petral telah dibuat almarhum oleh Orang Gila bernama Jokowi. Tindakan keras kepala Jokowi telah mengobrak-abrik zona nyaman sekawanan vampir ini. Makanya vampir and the gank ngamuk-ngamuk. Dengan cara mengumpulkan kekuatan yang tersisa, mereka masih berani bermain-main dengan kewibawaan negara. Apapun dilakukan dengan memanfaatkan berbagai celah dan situasi. Dan mereka tahu bahwa ruang politik adalah celah yang paling efektif untuk menancapkan virus pembunuh. Singkatnya, soal menguasai Freeport-McMoRan itu gampang asal pegang dulu kepala yang ada di parlemen atau siapa saja yang berpotensi jadi Yudas Iskariot di lingkaran istana.

Tapi sayang sungguh sayang, dalam usahanya untuk menghisap Freeport, Yang Mulia SetNov malah kena batunya. Speaker of the house of Indonesia ini ketahuan bersekongkol dengan Tuan Reza Chalid mau main belakang terhadap Jokowi. Sudah sepantasnya Jokowi geram. Kalaupun masih ada yang bilang Jokowi lembek, coba suruh dia saja jadi presiden. Entahlah, Jonru mau apa tidak.

Tentu saja drama ini masih panjang. Masih panas. Ndak masalah pilkada masal ini menjadi selingan pariwara. Yang jelas kemarin Jokowi sudah memberi kode untuk terus bersikap galak. Kegilaan para mafia harus juga dilawan dengan membalik keadaan melalui cara-cara gila. Pertanyaannya adalah, beranikah institusi negara selain kepresidenan, yaitu Kejaksaan Agung, Polri dan KPK bersatu dalam "kepala" yang sama membantu Jokowi dalam menyelesaikan masalah ini? Atau, mungkinkah mereka mampu dan berani mendatangkan Tuan Reza Chalid agar batang hidungnya dapat dilihat oleh publik di Televisi? Kita tunggu saja. Lagi pula kopiku habis. Capek juga jariku mencet-mencet keypad BB jadul ini.

Salam Gila

Seruni, 10-12-2015

10 komentar:

  1. aku ga ngerti, hihi
    moga ga gila semua nya,kan masih ada orang orang baik di DPR.

    BalasHapus
  2. Mudah mudahan rakyat nggak ikut "gila" saya yakin masih banyak kok orang yang bener

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita nantikan bersama kemunculan lebih banyak lagi "orang-orang benar" yang mau mengurus "rumah besar" ini dengan cara yang "benar" juga tentunya..:)

      Hapus
  3. Jgn sampe penyakit "gila" dari gedung itu menyebar sampai ke gedung - gedung lainnya.

    BalasHapus
  4. kuncinya reza chalid... akan bicara apa dia di sidang, kalau berani dateng dianya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Para "penegak hukum" di negeri ini "berani" apa tidak dengan Reza Chalid.?. Itu juga masalah. Tapi kita tunggu mau sampai kemana sandiwara ini..:)

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.