Lebih Baik Telor Daripada Teror
Taktik Perang Kota di postinganku kemarin muncul begitu saja. Intuisi memang mengatakan seperti itu. Pola teror yang mereka lakukan tentu saja tidak lagi kampungan. Mereka terus melakukan update sesuai jaman menurut versi mereka. Jangan pikir mereka masih pakai bacaan-bacaan gaib pengusir setan kafir. Coz, mereka tahu hal itu pun udah kuno.
Oh, tentu saja mereka aktif juga menggunakan internet. Netizen versi mereka itu masih banyak banget. Itu sebabnya mereka terus menerus jualan ideologi teror via online. Emang baju, tas, sepatu, alat-alat kosmetik saja yang bisa dijual online? Ndak lah yauwww.
Teroris modern itu udah gak piara jenggot lagi. Udah nggak brewokkan lagi, udah gak sembunyi dibalik cadar lagi. Mereka sudah bermetamorfosis kayak model. Emang aparat anti teror aja yang bisa ngganteng dan bikin cewek-cewek gagal fokus?. Hmmm..
Selain itu mereka juga sudah bosan mainin teror di hutan. Dingin, banyak nyamuk, ndak ada hiburan, kurang makanan enak, dan ndak banyak yang bening-bening bisa dilihat. Ndak lucu kan, lagi gagah perkasa ngokang senjata, badan dililit bom malah mati di gigit kalajengking?. Batal jihadnya donk. Ke surga kagak, ke neraka juga kagak. Kasian banget kan.
Jadi jangan heran kalo kemudian mereka sekarang akan lebih sering ngajak main perang-perangan langsung kedalam kota. Sensasinya tentu lebih keren menurut mereka. Nah, untuk itu tentu saja mereka harus dandan yang rapi. Kalo perlu sebelum neror nyalon, atau massage duyu.
Sebenarnya tujuan teror mereka juga udah mulai bergeser. Meragukan sekali kalo mereka itu pengennya cuma nyari surga bidadari. Lha, wong bidadari-bidadari dari berbagai belahan dunia ini juga banyak yang datang secara sukarela untuk menjadi cil lider mereka. Tanya kenafaah?
So, walopun banyak hestek #TidakTakut bertebaran dimana-mana, mereka juga nggak peduli. Lah, wong mereka berani nyerang dengan pasukan kecil koq?. Udah tahu mereka bakal mati dikeroyok. Aksi mereka itu bukan agar banyak orang bikin hestek tapi memang buat bikin telooor, ehh..teror.
Kita memang tak perlu terlalu parno. Tapi tak perlu juga menunggu keadaan berubah seperti di Suriah dan sekitarnya itu. Lihat di TV, banyak anak-anak yang mulai kurus kering ndak bisa makan akibat perang. Belum lagi yang mati begitu saja tanpa sempat dikubur. Kebayang gak sih, pas enak-enak ngajak anak-anakmu yang masih kecil-kecil itu jalan-jalan di mall tiba-tiba,."Dhuaaarrrrr!!",.tergeletaklah mereka terkena pecahan mercon teroris-teroris itu?.
So, please. Mulai saat ini selipkan niat dalam hestek-hestek itu, apapun bunyinya untuk tidak lagi mengajari anak-anak masa depan hidup dalam fanatisme sempit. Pendidikan agama itu tidak terlalu penting, tapi menumbuhkan nilai kemanusiaan yang selaras dengan nilai-nilai universal itu jauh lebih bermanfaat bagi kehidupan ini, sekarang dan besok. Teror itu bukan soal perang dan bom-bam-bom semata. Tapi sedari kecil, bisa jadi kita tidak sadar telah hidup dan dihidupi dengan teror dengan berbagai bentuknya. Periksalah ke dalam. Dah gitu aja.
_/\_
Karimawatn, 15-01-2016
Oh, tentu saja mereka aktif juga menggunakan internet. Netizen versi mereka itu masih banyak banget. Itu sebabnya mereka terus menerus jualan ideologi teror via online. Emang baju, tas, sepatu, alat-alat kosmetik saja yang bisa dijual online? Ndak lah yauwww.
Teroris modern itu udah gak piara jenggot lagi. Udah nggak brewokkan lagi, udah gak sembunyi dibalik cadar lagi. Mereka sudah bermetamorfosis kayak model. Emang aparat anti teror aja yang bisa ngganteng dan bikin cewek-cewek gagal fokus?. Hmmm..
Selain itu mereka juga sudah bosan mainin teror di hutan. Dingin, banyak nyamuk, ndak ada hiburan, kurang makanan enak, dan ndak banyak yang bening-bening bisa dilihat. Ndak lucu kan, lagi gagah perkasa ngokang senjata, badan dililit bom malah mati di gigit kalajengking?. Batal jihadnya donk. Ke surga kagak, ke neraka juga kagak. Kasian banget kan.
Jadi jangan heran kalo kemudian mereka sekarang akan lebih sering ngajak main perang-perangan langsung kedalam kota. Sensasinya tentu lebih keren menurut mereka. Nah, untuk itu tentu saja mereka harus dandan yang rapi. Kalo perlu sebelum neror nyalon, atau massage duyu.
Sebenarnya tujuan teror mereka juga udah mulai bergeser. Meragukan sekali kalo mereka itu pengennya cuma nyari surga bidadari. Lha, wong bidadari-bidadari dari berbagai belahan dunia ini juga banyak yang datang secara sukarela untuk menjadi cil lider mereka. Tanya kenafaah?
So, walopun banyak hestek #TidakTakut bertebaran dimana-mana, mereka juga nggak peduli. Lah, wong mereka berani nyerang dengan pasukan kecil koq?. Udah tahu mereka bakal mati dikeroyok. Aksi mereka itu bukan agar banyak orang bikin hestek tapi memang buat bikin telooor, ehh..teror.
Kita memang tak perlu terlalu parno. Tapi tak perlu juga menunggu keadaan berubah seperti di Suriah dan sekitarnya itu. Lihat di TV, banyak anak-anak yang mulai kurus kering ndak bisa makan akibat perang. Belum lagi yang mati begitu saja tanpa sempat dikubur. Kebayang gak sih, pas enak-enak ngajak anak-anakmu yang masih kecil-kecil itu jalan-jalan di mall tiba-tiba,."Dhuaaarrrrr!!",.tergeletaklah mereka terkena pecahan mercon teroris-teroris itu?.
So, please. Mulai saat ini selipkan niat dalam hestek-hestek itu, apapun bunyinya untuk tidak lagi mengajari anak-anak masa depan hidup dalam fanatisme sempit. Pendidikan agama itu tidak terlalu penting, tapi menumbuhkan nilai kemanusiaan yang selaras dengan nilai-nilai universal itu jauh lebih bermanfaat bagi kehidupan ini, sekarang dan besok. Teror itu bukan soal perang dan bom-bam-bom semata. Tapi sedari kecil, bisa jadi kita tidak sadar telah hidup dan dihidupi dengan teror dengan berbagai bentuknya. Periksalah ke dalam. Dah gitu aja.
_/\_
Karimawatn, 15-01-2016

Tidak ada komentar