Bikin Gatel Jari-Jari
Awalnya ndak tahu apa itu Gafatar. Kupikir sejenis aplikasi android yang nangkring di Play Store dan siap di donlod kapan saja. Maklumlah mata, kuping, dan otak masih cupu untuk faham hal yang beginian. Tapi semakin kesini, makin kebuka juga apa dan bagaimana pergerakan Gafatar ini. Dan rasanya ndak perlu juga untuk tahu lebih lanjut sampai jero organisasi ini. Cukup baju luarnya saja, dalemannya biarlah urusan masing-masing untuk menilai. Yang jelas akan selalu ada udang dibalik bakwan. Kalo tidak udang galah minimal udang ebi.
Gafatar itu ndak beda jauh dengan organisasi-organisasi lain yang mengganggap dirinya lurus dan tidak sesat. Hanya kemasannya saja yang sedikit dibedain untuk menarik pelanggan. Produk lama mungkin membosankan dan pengennya bikin kemasan baru dan lebih fresh. Itu biasa dalam dunia marketing. Dengan mengubah bungkusnya saja bisa berdampak pada volume penjualan. Padahal yang dijual sama-sama indomie yang telornya tetap beli sendiri. Memang strateginya seperti itu untuk menjaring pikiran manusia. Bukankah lembaga agama, komunitas ateis fanatis, ormas-ormas berbendera keimanan, organisasi politik dan yang lainnya juga melakukan hal yang demikian?
Tidak terlalu menarik berdebat soal haram-halal Gafatar karena cara berfikir yang seperti ini udah kuno. Kalau seseorang merasa dirinya halal, ya sudah, kemaskan ego dengan serapi-rapinya, seperfek-perfeknya guna mengambil jatah surga (kalaupun ada). Kalau berfikir bahwa Gafatar itu haram, ndak perlu juga mengurusi surga mereka. Bukankah atas nama Tuhan, manusia justru menjadikan surga itu menjadi banyak versi?. Versi Jelly Bean, KitKat dan Lollipop? Jangan-jangan di akhirat itu ada juga yang ngurusin fatwa soal surga haram dan surga halal?
Sebenarnya sih ndak masalah, mau bikin organisasi apa saja. Asal tertib luar-dalam. Tertib di dalam artinya organisasi tersebut dapat memberikan jaminan bahwa sepak dan terjangannya tidak akan merugikan siapapun yang ada di dalamnya, entah itu antar pengurus maupun sesama member. Tidak perlu ada pemungut cukai dengan alasan iman. Jika urunan untuk beli cangkul, belilah cangkul. Boleh juga distempeli Pancasila kalau mau. Tapi jangan diteruskan dengan kalimat, "Karena kamu mencangkul maka kamu adalah pilihan Allah". Lebih kacau dan lebih balau lagi jika ternyata terjadi penyelewengan untuk memperkaya para pemuka organisasinya saja.
Tertib diluar artinya, ya ndak usahlah maksa-maksa orang untuk ikut bergabung. Sekedar ngomong-ngomong boleh lah, tapi kalo ditambahi dengan ngiming-ngiming itu tak ada bedanya seperti jualan barang dengan menjajikan garansi seumur hidup. Orang bilang rayuan gombal itu udah ndeso tapi kalau sudah kena rayuan surga kepalanya manggut-manggut terus. Apa iya setiap member akan selamat dunia akhirat hanya dengan membayar sekian digit?.
Tapi tampaknya Gafatar memang apes. Fajar belum terbit secara purna, keburu dibenamkan di lautan. Bukannya berakhir romantis dalam nuansa sunset, melainkan berakhir tragis lengkap dengan tontonan bakar-bakaran yang busyeeeet..dahh. Organisasi ini apes karena memilih tumbuh di negeri yang belum mampu sepenuhnya menjamin kebebasan berekspresi melalui persfektif HAM yang utuh dan bertanggungjawab. Sayangnya apa yang diurusi Gafatar itu juga berkaitan dengan keyakinan, maka sudah pasti ia akan sulit bersaing dengan semua kelompok halal untuk mengambil simpati negara yang hanya memperbolehkan 5 plus 1 agama yang ada disini.
Oh, asal tahu saja bahwa deposit keberagaman keyakinan di negeri ini sangat banyak. Tapi sayang, quotanya dibatasi. Begitulah menurut MUI dan negara. Kadang bingung juga, dalam konteks berbangsa dan bernegara NKRI ini mana yang mau dipakai MUI ato UUD-45?. Bukan sesuatu yang baru bahwa negara sejak dulu masih terkesan menerapkan standar jomplang dalam memberikan pelayanan kepada umat NKRI. Baiklah, mungkin sedikit iklimnya sudah berubah. Akan tetapi negara belum mau berubah terang-terangan dengan tidak lagi ngurusi keyakinan seganap warganya. Cukuplah urusi mereka yang suka neror-neror itu, main petasan ndak keruan, yang suka bawa ideologi langit berdarah-darah itu. Oya, urusi juga tuh koruptor-koruptor religius biar bisa dipercepat masuk surganya.
Jika benar, maka Gafatarians telah salah langkah dengan mengkultuskan pribadi-pribadi tertentu di dalamnya sebagai penjaga gawang keimanan mereka. Akibatnya tidak mengherankan banyak member yang secara terang-terangan dan gelap-gelapan merasa kucingwa dan memutuskan keluar dari perkumpulan itu. Hal ini tampak dari sekian banyak testimoni eks-Gafatar yang di-share teman-temin di fesbuk. Bahkan critanya ada yang di ancem-ancem juga.
Jadi apa bedanya dengan yang lain? Di lembaga agama, ormas dan parpol sekalipun ada juga orang-orangnya yang kalo mau salaman, tangan harus dicuci dulu. Yang kasian sebenarnya adalah para member yang cupu. Kepolosan merekalah yang menjadi dorongan untuk mengubah nasib tapi ndak ngerti apa dan bagaimana permainan di dalam. Atau bisa jadi seperti yang terjadi di kelompok lain, mereka ndak ngerti kalau sedang dipermainkan. Katakanlah mereka itu korban asah-asah pikiran para pemimpinnya, tapi tetap saja ada bagian-bagian tertentu yang dibuat tumpul. Persis sama dengan cara kerja di dalam lembaga halal manapun di negeri Pancasila ini.
Yang merasa kelompoknya sah dan halal secara religius dan konstitusi mungkin bisa kipas-kipas dan tertawa terbahak-bahak melihat tragedi kemanusiaan ini. Bahkan ada juga menekspresikan kebahlullannya dengan cara bakar-bakaran seperti membakar sampah. Menyirami Gafatar dengan ludah kenajisan. Mengusir orang seperti ngusir kewan. Tapi apakah yang seperti ini yang mau dipertontonkan kepada dunia? Seperti inikah perilaku yang halal dan beradab itu?
Tentu saja para pentolan Gafatar tidak terima. Sakitnya tuh di dada bro. Jadi sah-sah saja mereka menuntut pra-pradilan di dunia (NKRI) ini sebelum mereka semua mangkat untuk menghadiri pengadilan diakhirat nanti (katanya). Lha, memang sifat dasar manusia untuk membela diri itu kan wajar. Insting bertahan hidup. Walaupun sudah tahu gak bakalan ditanggapi oleh negara. "Emang, lo sape?". Belum kawan, belum sepenuhnya bangsa ini menjadi sekuler sejati; yang tetap berlandaskan Pancasila, berperikemanusiaan, memahami HAM yang sesungguhnya, berdemokrasi dan sangat beradab (tertip). Chairil Anwar bilang, mungkin 1000 tahun lagi. Andai saja Gafatar itu adalah pure organisasi politik nasionalis dan tidak bawa-bawa agama, boleh jadi popularitasnya akan menyalib GolKar. Sapa tahu?
Lalu sekarang gimana? Tertib saja. Lha, yang tidak mau tertip juga masih banyak. Entah bisa ditertibken ato tidak, ndak jelas juga. Itu tuh yang sering swiping-swiping sembarangan, nyeruduk warteg-warteg, dan tempat sembayang orang juga masih dipermaklumkan oleh negara. Belum lagi yang suka main di bawah tanah membawa faham berbahan baku peledak. Yang begitu itu mau diapain sama negara? Di usir atau di transmigrasi juga? Gimana donk,.dank,.dink,.donk.?
Jadi apakah ini soal Gafatar saja? Ndak juga sebenarnya. Terlalu banyak soal dibalik soal di negeri ini. Oya, kan udah dimulai lagi tuh bahas soal kuliner; Lombok Gudheg Bubur Tahu (LGBT). Seru juga sih, bikin gatel dan laper jari-jari.
Karimawatn, 29-01-2016
Gafatar itu ndak beda jauh dengan organisasi-organisasi lain yang mengganggap dirinya lurus dan tidak sesat. Hanya kemasannya saja yang sedikit dibedain untuk menarik pelanggan. Produk lama mungkin membosankan dan pengennya bikin kemasan baru dan lebih fresh. Itu biasa dalam dunia marketing. Dengan mengubah bungkusnya saja bisa berdampak pada volume penjualan. Padahal yang dijual sama-sama indomie yang telornya tetap beli sendiri. Memang strateginya seperti itu untuk menjaring pikiran manusia. Bukankah lembaga agama, komunitas ateis fanatis, ormas-ormas berbendera keimanan, organisasi politik dan yang lainnya juga melakukan hal yang demikian?
Tidak terlalu menarik berdebat soal haram-halal Gafatar karena cara berfikir yang seperti ini udah kuno. Kalau seseorang merasa dirinya halal, ya sudah, kemaskan ego dengan serapi-rapinya, seperfek-perfeknya guna mengambil jatah surga (kalaupun ada). Kalau berfikir bahwa Gafatar itu haram, ndak perlu juga mengurusi surga mereka. Bukankah atas nama Tuhan, manusia justru menjadikan surga itu menjadi banyak versi?. Versi Jelly Bean, KitKat dan Lollipop? Jangan-jangan di akhirat itu ada juga yang ngurusin fatwa soal surga haram dan surga halal?
Sebenarnya sih ndak masalah, mau bikin organisasi apa saja. Asal tertib luar-dalam. Tertib di dalam artinya organisasi tersebut dapat memberikan jaminan bahwa sepak dan terjangannya tidak akan merugikan siapapun yang ada di dalamnya, entah itu antar pengurus maupun sesama member. Tidak perlu ada pemungut cukai dengan alasan iman. Jika urunan untuk beli cangkul, belilah cangkul. Boleh juga distempeli Pancasila kalau mau. Tapi jangan diteruskan dengan kalimat, "Karena kamu mencangkul maka kamu adalah pilihan Allah". Lebih kacau dan lebih balau lagi jika ternyata terjadi penyelewengan untuk memperkaya para pemuka organisasinya saja.
Tertib diluar artinya, ya ndak usahlah maksa-maksa orang untuk ikut bergabung. Sekedar ngomong-ngomong boleh lah, tapi kalo ditambahi dengan ngiming-ngiming itu tak ada bedanya seperti jualan barang dengan menjajikan garansi seumur hidup. Orang bilang rayuan gombal itu udah ndeso tapi kalau sudah kena rayuan surga kepalanya manggut-manggut terus. Apa iya setiap member akan selamat dunia akhirat hanya dengan membayar sekian digit?.
Tapi tampaknya Gafatar memang apes. Fajar belum terbit secara purna, keburu dibenamkan di lautan. Bukannya berakhir romantis dalam nuansa sunset, melainkan berakhir tragis lengkap dengan tontonan bakar-bakaran yang busyeeeet..dahh. Organisasi ini apes karena memilih tumbuh di negeri yang belum mampu sepenuhnya menjamin kebebasan berekspresi melalui persfektif HAM yang utuh dan bertanggungjawab. Sayangnya apa yang diurusi Gafatar itu juga berkaitan dengan keyakinan, maka sudah pasti ia akan sulit bersaing dengan semua kelompok halal untuk mengambil simpati negara yang hanya memperbolehkan 5 plus 1 agama yang ada disini.
Oh, asal tahu saja bahwa deposit keberagaman keyakinan di negeri ini sangat banyak. Tapi sayang, quotanya dibatasi. Begitulah menurut MUI dan negara. Kadang bingung juga, dalam konteks berbangsa dan bernegara NKRI ini mana yang mau dipakai MUI ato UUD-45?. Bukan sesuatu yang baru bahwa negara sejak dulu masih terkesan menerapkan standar jomplang dalam memberikan pelayanan kepada umat NKRI. Baiklah, mungkin sedikit iklimnya sudah berubah. Akan tetapi negara belum mau berubah terang-terangan dengan tidak lagi ngurusi keyakinan seganap warganya. Cukuplah urusi mereka yang suka neror-neror itu, main petasan ndak keruan, yang suka bawa ideologi langit berdarah-darah itu. Oya, urusi juga tuh koruptor-koruptor religius biar bisa dipercepat masuk surganya.
Jika benar, maka Gafatarians telah salah langkah dengan mengkultuskan pribadi-pribadi tertentu di dalamnya sebagai penjaga gawang keimanan mereka. Akibatnya tidak mengherankan banyak member yang secara terang-terangan dan gelap-gelapan merasa kucingwa dan memutuskan keluar dari perkumpulan itu. Hal ini tampak dari sekian banyak testimoni eks-Gafatar yang di-share teman-temin di fesbuk. Bahkan critanya ada yang di ancem-ancem juga.
Jadi apa bedanya dengan yang lain? Di lembaga agama, ormas dan parpol sekalipun ada juga orang-orangnya yang kalo mau salaman, tangan harus dicuci dulu. Yang kasian sebenarnya adalah para member yang cupu. Kepolosan merekalah yang menjadi dorongan untuk mengubah nasib tapi ndak ngerti apa dan bagaimana permainan di dalam. Atau bisa jadi seperti yang terjadi di kelompok lain, mereka ndak ngerti kalau sedang dipermainkan. Katakanlah mereka itu korban asah-asah pikiran para pemimpinnya, tapi tetap saja ada bagian-bagian tertentu yang dibuat tumpul. Persis sama dengan cara kerja di dalam lembaga halal manapun di negeri Pancasila ini.
Yang merasa kelompoknya sah dan halal secara religius dan konstitusi mungkin bisa kipas-kipas dan tertawa terbahak-bahak melihat tragedi kemanusiaan ini. Bahkan ada juga menekspresikan kebahlullannya dengan cara bakar-bakaran seperti membakar sampah. Menyirami Gafatar dengan ludah kenajisan. Mengusir orang seperti ngusir kewan. Tapi apakah yang seperti ini yang mau dipertontonkan kepada dunia? Seperti inikah perilaku yang halal dan beradab itu?
Tentu saja para pentolan Gafatar tidak terima. Sakitnya tuh di dada bro. Jadi sah-sah saja mereka menuntut pra-pradilan di dunia (NKRI) ini sebelum mereka semua mangkat untuk menghadiri pengadilan diakhirat nanti (katanya). Lha, memang sifat dasar manusia untuk membela diri itu kan wajar. Insting bertahan hidup. Walaupun sudah tahu gak bakalan ditanggapi oleh negara. "Emang, lo sape?". Belum kawan, belum sepenuhnya bangsa ini menjadi sekuler sejati; yang tetap berlandaskan Pancasila, berperikemanusiaan, memahami HAM yang sesungguhnya, berdemokrasi dan sangat beradab (tertip). Chairil Anwar bilang, mungkin 1000 tahun lagi. Andai saja Gafatar itu adalah pure organisasi politik nasionalis dan tidak bawa-bawa agama, boleh jadi popularitasnya akan menyalib GolKar. Sapa tahu?
Lalu sekarang gimana? Tertib saja. Lha, yang tidak mau tertip juga masih banyak. Entah bisa ditertibken ato tidak, ndak jelas juga. Itu tuh yang sering swiping-swiping sembarangan, nyeruduk warteg-warteg, dan tempat sembayang orang juga masih dipermaklumkan oleh negara. Belum lagi yang suka main di bawah tanah membawa faham berbahan baku peledak. Yang begitu itu mau diapain sama negara? Di usir atau di transmigrasi juga? Gimana donk,.dank,.dink,.donk.?
Jadi apakah ini soal Gafatar saja? Ndak juga sebenarnya. Terlalu banyak soal dibalik soal di negeri ini. Oya, kan udah dimulai lagi tuh bahas soal kuliner; Lombok Gudheg Bubur Tahu (LGBT). Seru juga sih, bikin gatel dan laper jari-jari.
Karimawatn, 29-01-2016

Tidak ada komentar