Header Ads

ads

Bukan Soal Closed

Damian Marley
Berdebat tentang sesuatu itu sah-sah saja. Dalam realita yang penuh dengan kontradiksi ini apa saja bisa dijadikan bahan perdebatan. Debat soal SARA, ideologi, politik, orientasi seksual, moralitas, status sosial, Jokowi, Ahok, isi dompet, pakaian pesta, merk pakaian/celana dalam, selera makan, jenis minuman dan lain-lain, termasuk berdebat tentang Closed itu biasa.

Ada yang bilang bahwa closed jongkok lebih sehat, namun di kutub yang lain penganut closed duduk tetap ngotot bahwa closed mereka lebih sehat dan higenis. Fakta-fakta yang katanya ilmiah digelar untuk mempertahankan setiap argumen. Semakin sengit sebuah perdebatan maka semakin kreatif isi kepala untuk saling menjatuhkan demi sebuah klaim tentang kebenaran yang sebenarnya tidak lebih dari sekedar mempertahankan rasa aman (keterkondisian).

Namun tidak selamanya pencerahan itu harus digali hanya dengan cara berdebat saja. Adakalanya ketika perut mulai mules, kita cukup pergi tanpa perlu banyak bicara menuju ATM (Anjungan Tinja Mandiri), melorotkan celana, lalu menikmati seluruh proses pelepasan itu sembari mengamati pikiran-pikiran yang muncul. Disitulah seringkali Guru yang adalah Diri Sendiri itu datang membawa pengertian baru. Tanpa buku, tanpa alat tulis.

Lalu, apakah ini soal closed mana yang terbaik? Tidak, bukan itu. Tapi yang jelas kita memang perlu Be'ol dengan Tertib. Terserah mau pakai ATM yang seperti apa, tidak perlu saling memaksa. Toh baunya tetap sama saja bukan? Atau masih mau berdebat soal bau mana lagi yang lebih wangi??? Duh, ndak asyik

Karimawatn, 22-05-2016

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.