Header Ads

ads

Mazmur Leonians

Mazmur Leonians

Di setiap ruas jalan belukar itu, Aku sering menghidu pesing. Menikam sampai ke jantung. Namun begitulah aku, telah menjadikan darahku serupa air kencing. Agar tak kucium apa-apa lagi, kecuali tawarnya angin, bergelayut dibulu hidungku.

Mataku menghitung ribuan langkah di sana, di padang penuh duri-duri. Melewati setiap batin bernisan, serupa kuburan sunyi yang merindukan ziarah. Dan, disitulah taman bermainku, pada setiap untaian waktu yang temaram. Aku seringkali mendekap kematian. Namun begitulah aku, telah menjadikan tubuhku sendiri sebagai kerandanya.

Embun berubah semakin tua, merayapi setiap ranting gelisah. Dan rontoklah dedaunan di ujung usianya, pada malam-malam penghabisan. Daun-daun itu, kujadikan mereka alas tidurku. Melelapkan keinginan di dalam kepalaku. Berkali-kali Aku bicara pada kegelapan. Namun demikianlah Aku, memunguti Rohku yang jatuh serupa jelaga, melayang di sela-sela tanya.

Dibeberapa musim yang lalu, rembulan memucat di balik awan. Angin yang tawar, merambat di antara lembah-lembah duka. Dari situ, setiap jeritan memecahkan angkasa. Aku seringkali menjatuhkan kepalaku ke dalamnya. Namun demikianlah Aku, telah mengubah pikiranku serupa kapas yang diambil dari peti jenasah.

Dan kulihat di sana, di ujung kehidupan! Ia terbang menghampiriku. Mereka memanggil namanya, Tuhan. Tapi dihadapanku, Ia serupa Gagak dengan sekuntum mawar hitam di paruhnya. Lalu Ia menancapkan mawar itu tepat di dahiku. Aku mati berbalut keheningan. Mawar itu hidup. Bukanlah harum semerbak disetiap kelopaknya, melainkan Cahaya, serupa kunang-kunang yang bersukacita di antara para arwah yang menari-nari telanjang.

_/\_

Karimawatn, 24-07-2016

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.