Header Ads

ads

Seekor Kelinci

Seekor Kelinci

Suatu ketika saya mampir ke rumah seorang sahabat. Kadung janji, kami memilih untuk berangkat barengan memenuhi undangan sebuah resepsi pernikahan di suatu tempat. Setelah menghabiskan segelas kopi, sahabat menyarankan agar berangkat dengan menggunakan mobil dari rumahnya.

Awalnya saya menolak dan tetap ngotot berangkat dengan menunggangi sepeda motor. Apalagi mobil yang akan dipakai buat jalan adalah mobil orang. Pasti akan merepotkan sekali dan beresiko. Namun akhirnya saya luluh juga setelah dia mengatakan kepada saya bahwa mobil itu adalah mobil bossnya. "Gampang urusannya kalo sama si Boss. Santai saja. Lagian cuaca sedang tidak menentu dan kurang bersahabat". Begitulah caranya menghipnotis saya. Oke, saya menyerah. Saya sempat mikir, "Ribet juga kalo ke undangan, pakaian udah kuyup duluan. Gak bawa ganti lagi".

Sahabat saya ini memang hebat, dia tak butuh waktu lama untuk melarikan mobil dari rumah si boss. Tak lama kami pun melesat di jalanan yang berkelok. Seperti biasa, karena sudah jarang bertemu, obrolan gado-gado di dalam mobil itu pun selalu saja bermuara pada tema kehidupan. Jatuhnya juga tak pernah lebih jauh antara kepala dan dada. Mulai dari masalah keluarga, pekerjaan, sampai kepada topik yang menyangkut status saya sebagai jomblo purba. Uhh.. hug, uhh.. hug.! (sori,.. batuk). Ya maklum saja, sahabat ini sudah berkeluarga. Kami saling berbagi cerita. Semi curhat namun tetap dibumbui dengan banyolan. Menyegarkan dan tidak membosankan. Biasalah, anak lanang.

Ditengah perjalanan Kami mampir ke sebuah warung, membeli rokok sesuai merk paru-parunya sendiri. Lalu kami pun kembali membelah jalan. Ketika bibir sedang asyik kelepas-kelepus menikmati tembakau filter beraroma canda, yang konon di dalamnya terdapat 1001 satu macam racun pembunuh, tiba-tiba sahabat bertanya kepada saya. Entahlah, mungkin dari sejak awal berangkat, dia memperhatikan ada yang aneh dengan saya. "Bro, kamu nggak pakai kemeja ato batik?". Aku pun menoleh ke wajahnya yang serius mengendalikan setir. "Emang, kenapa? Aku cukup gini aja. Kaos, jeans dan sepatu". (Sepatunya pun itu-itu mulu, lusuh). "Nggak apa-apa sih. Kalo gitu aku cukup pakai kaos aja. Ada sih bawa stelan. Tapi ikut kamu aja lah". Ups, ternyata saya menularkan pengaruh "buruk" kepada sahabat saya ini sehingga dia pun "melu-melu" saya.

Baca juga :
Karena cerita ini harus dipersingkat, maka sampailah kami di lokasi undangan. Kami disambut oleh seorang sahabat tercinta juga. Setelah ba-bi-bu, kami dianter masuk ke lingkaran resepsi. Kami bersalaman, mulai dengan menyalami pagar betis, lalu beberapa kawan yang kebetulan kenal. Tamu yang entah siapa dan kebetulan berpapasan, juga tak luput dari jabat erat kami. Layaknya disebuah resepsi pernikahan, ya begitulah suasananya. Tanpa basa-basi kami pun menuju meja makan karena memang dipersilahkan untuk segera duduk disitu oleh tuan rumah. Agak di pojokkan. Lagian perut sudah nagih untuk segera diisi. Jamnya memang sedang cocok untuk menambah pekerjaan lambung dan usus dua belas jari.

Jadilah kami duduk di situ sembari menunggu nasi dan lauk-pauk yang akan segera datang menari di lidah kami. Sambil menunggu, kami mengobral cuap-cuap jenaka dengan peserta lain di meja bundar itu. Angin sepoi-sepoi menambah suasana semakin menyenangkan. Segar sekali rasanya siang itu. Walaupun hanya menggunakan tenda dan setingan meja makan outdoor ala budaya Cina masa lalu itu, menambah jangkauan pandangan tanpa panghalang tembok. Sesekali saya melepaskan kedua bola mata ini, terbang melayang, mengamati orang banyak dengan berbagai ekspresi di wajah dan melalui gerak badan mereka. Sudah kebiasaan begitu, dalam momen apapun. Dan biasanya dalam pengamatan itu muncul begitu saja pelajaran A, B, C, D, dst, di kepala ini.

Setelah menunggu beberapa saat, munculah dua bapak-bapak, tergopoh bermandikan keringat menuju ke arah Kami. Oh, ternyata mereka ini adalah pejuang dapur. Saya simpulkan begitu karena mengikuti dari mana langkah mereka datang. Dan dari tempat kami meletakkan bokong, tampak jelas markas besar mereka yang dipenuhi asap sukacita itu. Itulah "Tapsong", dapur tenda yang umum pada sebuah gawe (pesta) pernikahan di kampung.

Mereka melayani Kami, menghidangkan rombongan makanan yang tampak aduhai, menggoda iman. Dan tentunya haram. Setelah mereka memberi kode untuk segera bersantap, otak langsung memberi perintah kepada kedua tangan, mengambil piring, sendok, dan apalagi kalo bukan nasi dan lauk.

Seperti biasa, dalam aksi santap pesta itu pun isi kepala selalu bekerja behind the scene. Saya teringat soal kaos yang saya kenakan. Oh, bapak-bapak yang mengantar makanan tadi juga pakai kaos yang warnanya telah dipudarkan waktu. Sederhana sekali. Mereka rela berjibaku dengam keringat tanpa celemek, melayani tamu-tamu yang datang. Kegesitan mereka menjadi salah satu kunci keberhasilan sebuah pesta. Tubuh mereka mungkin saja berbau asap, tapi mereka adalah para pejuang kekenyangan. Maksud saya, merekalah yang bertanggung jawab atas kepuasan tamu undangan dalam hal makanan. Kalau saja Tukang Tunja (tukang masak) di dalam Tapsong berserta the crews tidak melaksanakan S.O.P tak tertulis dengan ciamik dan harmoni, maka hancurlah pesta itu.

Sambil curi-curi pandang dan melahap hidangan, kulihat pasukan dapur ini bergerak kesana-kemari. Ada yang mengantar makanan dan ada juga yang menjemput piring kotor. Diantara mereka bahkan ada yang tidak pakai sandal. Mungkin ribet bongkar-pasang, karena harus serba cepat. Lambat sedikit, maka para undangan bisa menelan kekecewaan.

Ya, begitulah suasananya. Walaupun di kampung, sebagian orang yang ada (datang) di pesta itu merupakan campuran antara manusia orisinil (polos) dan manusia modern. Sedangkan saya adalah manusia ndak jelas. Dibilang penganut budaya kota, tapi kampungan. Dibilang orang kampung, ya setidaknya pernah jugalah menghadiri pesta nikah di hotel, tetap dengan gaya ndeso :).

Oya, suatu ketika, saya juga pernah menghadiri kondangan yang lain lagi. Dari rumah, saya sudah tahu bahwa kostum yang sengaja saya kenakan akan terlihat aneh dimata orang. Begitulah saya, kadang-kadang senang uji nyali. Semacam social experiment kecil-kecilan dengan menjadikan diri saya sendiri sebagai kelinci percobaan. Pakaian yang saya kenakan waktu itu lebih cocok buat manggung, nonton konser atau demo di jalanan sambil makan nasi bungkus. Jelas ndak nyambung kalo buat kondangan.

Benar saja, pada saat hendak pamit pulang, saya menyalami seorang ibu. Ibu itu pun tertawa kecil. Tapi saya rasakan getarannya bukan untuk membully saya. Tawa si ibu itu adalah ekspresi yang sangat renyah. Sebab apa yang dilihat di depan matanya adalah seekor kelinci yang lucu, aneh, dan langka. "Lho Nak, ini baju apa yang kamu pakai. Koq ada banyak emblem lengkap dengan benderanya segala?", tanya si Ibu. Saya pun tertawa. "Bu, ini baju biasa saja". Sambil mengucapkan terima kasih, saya pamit. "Terima kasih juga Nak, sudah datang".

Tidak jauh dari situ ada seorang bapak, mengenakan jas lengkap layaknya presdir. Saya salami juga. Namun kali ini ekspresinya beda. Matanya itu lho, menguliti saya dari atas ke bawah. Tanpa bicara sedikitpun. Bahkan ketika saya mengucapkan terima kasih, bapak ini pun tetap bungkam. Entah apa yang ada dipikirannya.

***

Dari cerita panjang dan membosankan di atas, ada pelajaran yang saya tangkap. "Pandang, ekspresikan dan layanilah kehidupan ini dengan sederhana sejak dari pikiran". Oh, untuk hal ini saja, saya harus menunjuk kepala sendiri bahwa saya seringkali "jatuh" berkali-kali. Saya tahu bahwa di dalam masyarakat dengan beragam budaya yang sangat kompleks dan cenderung "njlimet" ini, segala sesuatu diatur berdasarkan konsensus tentang sesuatu yang dianggap layak dan pantas, bertele-tele, bahkan tanpa memperhatikan kembali esensi bahwa dalam setiap interaksi manusia seharusnya terbangun di dalamnya suatu hubungan yang setara.

Seringkali Kita dipaksa atau terpaksa menyesuaikan diri dengan segala remeh-temeh yang ada diluar. Kita memoles penampakkan kita sedemikian rupa agar dianggap layak dan bisa diterima oleh orang lain. Kita tidak lagi menjadi manusia yang spontan dan fleksibel. Tanpa sadar cara berfikir kita selalu lahir dari keterkondisian yang akud. Banyak syarat-syarat tertentu yang harus kita penuhi agar apapun yang kita tampilkan keluar bisa menyenangkan banyak orang. Selalu ada sesuatu yang menyelinap dibalik ego, bahwa ia selalu menginginkan apresiasi, pujian atau apapun itu.

Fakta bahwa sedari kecil, terutama di sekolah kita sudah dididik menjadi manusia yang maniac dengan seragam. Segala sesuatu harus di seragamkan. Ke sekolah harus pakai seragam sekolah, kalo tidak, kita akan dihukum bapak-ibu guru. Pergi ngantor juga harus pakai seragam. Pergi sembayang ada seragamnya, atau ada jenis pakaian tertentu yang dianggap layak. Ke kondangan harus pakai yang pas, jangan sampai salah kostum. Bahkan untuk menikah pun iman harus seragam. Dan masih banyak lagi contoh seragamisasi ini yang tanpa sadar justru membuat ego Kita semakin keras dan kaku. Kita menjadi tidak siap menerima realitas, bahwa setiap pribadi memiliki kehendak bebas (free will) dalam mengekspresikan dirinya dengan caranya sendiri.

Tulisan ini bukan bermaksud mempertentangkan antara A dan B. Bukan tentang yang ini baik lalu yang itu pastilah buruk. Yang ini lebih pantas lalu yang satunya tidak. Bukan, bukan itu. Kita tidak perlu berdebat tentang dualisme yang sangat membosankan itu. Namun, sudahkah kita mampu menjadikan batin kita netral, benar-benar polos tanpa melibatkan diri dalam penilaian mekanis yang melahirkan konflik? Bagi saya ini tidak gampang dan butuh latihan terus-menerus. Hidup ditengah-tengah masyarakat yang terjebak di dalam dualisme tidaklah mudah. Berbagai penilaian akan datang silih berganti dari berbagai arah. Bahkan tanpa perlu mengucapkan sepatah katapun, kita sudah terbiasa memberi penilaian tertentu terhadap pribadi lain sejak dari dalam pikiran.

Sebelum saya akhiri tulisan ini. Saya teringat sebuah cerita. Ada seorang anak kecil berlari ngos-ngosan menuju Gereja. Ia agak terlambat, karena lagu pembukaan awal misa telah di mainkan. Sesampainya di depan pintu Gereja yang sangat besar itu, ia dihadang oleh seorang bapak dengan kumisnya tebal. "Hei Nak! Kamu tahu aturan masuk ke dalam Gereja?. Lihatlah pakaianmu dan lihatlah juga kakimu. Karena kamu memakai sandal jepit, maka kamu tidak boleh masuk ke dalam. Kamu sudah diingatkan berkali-kali bahwa untuk menghadap Tuhan itu harus bersih, rapi dan sopan!".

Anak kecil itu tertunduk. Ia hanya bisa terdiam sembari meredakan letupan jantungnya. Lalu ia mengangkat kepalanya. Memandang kumis tebal itu dan berkata, "Maaf bapak, bapak tidak tahu apa yang saya bawa. Bukan sandal jepit yang akan saya persembahkan, melainkan pikiran saya sendiri. Biarlah saya masuk."

Anak kecil itu pun berlalu, masuk ke dalam Gereja yang super megah itu lalu berlutut di barisan paling belakang". Ia mengatupkan kedua tangannya, kemudian larut dalam doa yang basah, mengalir dari pelupuk matanya.

_/\_

Karimawatn, 23-07-2016

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.