Selembar Daun
Mungkin karena begitu banyak foto-foto Reuni yang saya aplod kemarin, ada beberapa teman lama berdatangan entah dari mana dan meng-add saya di FB. Diantara mereka yang nge-add ada yang tidak datang Reuni. Oh ya, Fesbuk saya ini memang miskin friendlist, sengaja saya kontrol begitu dari dulu. Paling banyak pernah sampai 600 lebih temans, kemudian saya pangkas setengahnya. Ada salah satu teman langsung inbox. Teman ini langsung nanya ini-itu tentang saya. Mulai dari posisi tinggal dimana, udah nyetock anak berapa biji, dan kerja (dibagian) apa. Persis seperti pertanyaan seorang wartawan kota.
Memang, syarat utama menjadi seorang wartawan adalah harus berani menjadi manusia paling Kepo. Kalo ga percaya tanya saja my bro Arthurio. Dia dulu seorang aktor dan pernah berperan sebagai wartawan di dunia ini, panggung sandiwara ini. Ini serius lho. Otomatis waktu itu dia adalah orang yang kerjanya nanya-nanya mulu. Tiada hari tanpa bertanya. Setiap pertanyaan adalah penentu manisnya tanggal muda. Motto hidupnya waktu itu adalah, "Malu Bertanya, Sesat Dikantong".
Bahkan tukang gorengan di seberang SD Tanjung Hulu itu pun seringkali keteteran menjawab pertanyaan Arthur. Tau nggak kenapa? Soalnya Arthur selalu kepagian nanyanya, sedangkan gorengan tempe yang dia mau beli masih asyik berenang di dalam adonan tepung. "Maaf ya bang, tempenya belum ada. Masih belum di goreng".
Saban hari Arthur selalu menelan liurnya sendiri ketika mendapat jawaban dari tukang gorengan ini. Tapi bagaimanapun juga, saya akui, bahwa Arthur paling jago soal memilih gorengan terbaik. Dan dia bisa marah kalo gorengannya dicuri dari gengamannya. "Ku tampar kau!". Itulah mantra geledeknya kalo sudah marah. Pater Saut pernah koq menjadi korban gara-gara rebutan gorengan dengan dia. Tapi itu dulu. Dulu sekali, ketika mereka berdua masih sering berkunjung ke rumah Upin-Ipin di komplek Seruni Indah III itu.
Oya, Arthur ini juga pernah menjerumuskan saya dalam pembuatan portal berita abal-abal beberapa tahun silam. Dia berhasil menghipnotis saya agar bertanggung jawab soal wajah portal. Dan hanya bermodalkan gukor (gula, kopi dan rokok) akhirnya kami memberanikan diri membunuh malam. Saat ajan berkumandang barulah kami merehatkan retina. Uhh, pening juga kepalaku dibuatnya waktu itu, beberapa malam harus ngeronda, ngutak-ngatik kode jahanam di balik body portal secara otodidak.
Tapi itulah Arthur dengan segala keunikannya, dengan segala ngakaknya dan dengan segala masalah dibagian perutnya. Walaupun soal portal sudah lenyap ditelan jaman, tapi bagi saya Arthur adalah seorang Nabi yang rela melakukan terapi tawa murah meriah bagi para sahabatnya. Ngga ada dia, Bumi ini pasti kesepian. Swer deh.
Kadang saya bingung, sebenarnya dia ini datang dari planet mana. Menjengkelkan tapi sering dicari-cari. Tapi semua pertanyaan tentang dia sudah tidak penting lagi. Ku anggap Arthur sama seperti diriku, yaitu sama-sama Alien yang masih suka makan nasi, walaupun hanya dengan sambal terasi. Saat ini dia masih bercita-cita ingin menjadi seorang Backpacker paling di segani. Dia punya spaceship sendiri dan Bumi ini hanyalah salah satu destinasi wisata yang telah dikunjunginya. "Jalan-Jalan dan Tertawa", mungkin saja akan menjadi mottonya yang baru. Saya sudah membayangkan begitu riuhnya tata surya ini kelak karena di buat ngakak oleh Nabi Arthur. Tapi entahlah. Biarlah terjadi menurut kehendakmu Nak.
Ups, koq jadi ngelindur nyeritain si Nabi Buncit, Arthur? Tapi begitulah, anggap saja tulisan ini seperti sebuah sungai, maka selembar daun yang jatuh ke dalam alirannya tak pernah tahu akan hanyut dan tersangkut kemana. Mengalir, sangkut, hanyut lagi. Mengalir, sangkut, hanyut lagi. Begitu seterusnya sampai daun itu pun lenyap untuk selamanya. Akan tetapi, walaupun sebagai seorang Nabi, Arthur hanyalah selembar daun, sama seperti saya. Hanyut dalam aliran Semesta yang sama.
Oke, kembali ke leptop. Huruf-huruf dibawah ini akan terasa lain karena bukan soal Arthur lagi. Yang jelas semua pertanyaan teman tadi saya jawab dengan apa adanya. Gampang koq, bukan seperti menjawab soal mata pelajaran Getaran Mekanis dulu. Untuk menemukan jawaban yang hanya berupa angka 1 saja, harus nurunin rumusnya dengan menghabiskan 3 lembar halaman folio bolak-balik. Bahkan khusus bidang studi ini saya harus ngulang 5 kali untuk mengubah sisir menjadi B. Terpaksa duduk sekelas dengan adik tingkat dengan bermodalkan muka tembok. Pernah dimarahin dekan berjubah Jesuit, karena mungkin bosan melihat wajah saya. Dan seringkali tidak mandi pagi pergi ke kampus.
Saya katakan kepada teman itu bahwa saat ini saya tinggal di kampung setelah sekian berkelana bersama Jiwa, belum punya istri, tentu saja belum bisa beranak-pinak, dan status sosial saya adalah makhluk pengangguran penunggu sungai. Oh, rupanya teman ini tidak percaya. Beberapa kali dia nanya balik, "Masa sih?". Lain daripada itu, ternyata teman ini memperhatikan betul penampilan saya di foto-foto itu. Menurut dia, penampilan saya menandakan bahwa saya adalah orang yang sukses. Kalau tidak kerja di LSM terkenal, mungkin sebagai Kontraktor ulung. What?.
Hai teman, perlu Kamu tahu bahwa sejak meninggalkan apapun yang berbau formalitas beberapa tahun silam, saya lebih banyak mempraktekkan untuk menjadi diri sendiri. Saya tidak anti formalitas, hanya saja saya tidak terlalu ambil pusing dengan penampilan. Penampilan hanyalah penampilan, pakaian hanyalah pakaian, selalu berada diluar sebagai "bungkus". Bisa bongkar pasang kapan saja sesuka saya.
Coba bayangkan, saya tidak pernah berpikir untuk bisa menghipnotismu, namun Kamu dengan sendirinya telah terhipnotis oleh pikiranmu sendiri setelah melihat penampilanku di foto itu. Oh, tahukah Kamu teman, bahwa Kita ini seringkali dipermainkan oleh pikiran mekanis kita sendiri sehingga Kita terlalu cepat menilai segala sesuatu dengan salah benar, baik buruk, pantas tidak pantas, dan lain sebagainya. Ini adalah fakta bahwa di dalam otak kita telah ditancapkan program-program robot sejak bertahun-tahun lamanya. Saya juga merasakan itu. Dan tulisan ini adalah untuk selalu mengingatkan diri saya tentang hal itu. Jadi sekali lagi, jika Kamu menilaiku hanya karena penampilanku, maka sebenarnya Kamu tak pernah melihat diriku.
Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan pertanyaan-pertanyaanmu itu. Namun, sikapmu yang kepo membuat perjumpaan kita (walau hanya melalui FB) menjadi tidak asyik dan membosankan. Itu sebabnya, saya harus katakan secepatnya tanpa basa-basi, bahwa obrolan kita waktu itu, Tidak Seru.
Seingatku, kami yang berkumpul kemarin tidak ada satupun yang mempermasalahkan soal pilihan dan pencapaian hidup seseorang. Kamu sudah merasa sukses atau gagal, merasa dirimu kaya atau miskin, menjadi orang terkenal atau sebagai sampah masyarakat, berseragam atau tidak, bagi saya tidak penting. Yang penting bagi saya adalah bahwa dengan momen Reuni, kita dapat meleburkan kembali semua label yang tidak berguna itu kedalam keterhubungan murni kita, bukan hanya sebagai teman tapi sebagai manusia yang telanjang. Saya sadar bahwa di dalam belantara kehidupan ini, setiap orang pada akhirnya akan melangkah pada jalan yang ia pilih sendiri. Hidup dengan pikirannnya sendiri, mengalami sendiri hidupnya itu apapun konsekwensinya.
Kemarin ada seorang sahabat, ia yang telah 6 (enam) tahun menjadi mualaf masih mau datang. Tentu saja, bagi yang tidak siap membuka matanya bahwa apapun bisa berubah pasti akan terkena "alergi" atau setidaknya merasa aneh. "Koq bisa ya dia meninggalkan Gereja yang telah membesarkannya apalagi dulu bersekolah di PKN yang berbendera Katolik?" Tapi saya sudah tidak peduli dengan hal itu. Tidak ada gunanya berkutat dengan pertanyaan seperti itu lagi.
Kemanusiaan Kita sudah terlalu menderita, tercabik-cabik, dipisah-pisahkan oleh apa yang disebut label ini dan itu. Bagi saya, mualaf atau bukan, sahabat tetaplah manusia yang sama seperti saya. Dan "bukan" kebetulan bahwa pada masa lalu pernah sama-sama makan bubur asin tiap pagi. Saya juga tidak bisa menyalahkan banyak teman yang tidak hadir dengan berbagai alasan. Ada yang benar-benar berhalangan tapi ada juga yang mungkin tidak percaya diri dan merasa minder dengan apa yang "melekat" pada dirinya. Tapi tidak apa. Biarlah begitu.
Dear teman, saya mengenalmu sejak kita tinggal bersama di asrama, dan bagiku kamu hanyalah kamu, temanku apa adanya. Kita pernah mengalami suka duka sebagai anak asrama. Tapi tahukah kamu, bahwa sejak tamat sekolah, kita telah berpisah dengan membawa berjuta kenangan dalam kepala kita masing-masing?. Tidakkah kau ingat moment sayonara waktu itu? Itulah sebabnya, setiap moment perjumpaan kembali entah itu secara offline maupun online bagi saya tetaplah Reuni.
Lalu, apakah Reuni itu? Bagi saya Reuni bukan sekedar bersatunya kita kembali setelah sekian lama berpisah. Bukan pula tentang seberapa banyak tawa yang kita pecahkan di langit. Perjumpaan dan perpisahan itu hanyalah ilusi. Reuni pada akhirnya adalah kembali pada diri sendiri. Reuni adalah jalan pulang, yaitu bersatunya kembali kita dengan diri kita yang hakiki sebagai manusia tanpa embel-embel berupa label dan status.
Itulah sebabnya, malam pertama saat kudatangi asrama kita dulu, sejenak sebelum memejamkan mata di loteng bawah asrama Widya, kusempatkan tuk berdiam diri yang tidak diam. Apa yang kudapat? Tidak ada yang lain teman, kecuali hanya kutemukan diriku sendiri. Dan selalu seperti itu. Setiap pikiran termasuk memori masa lalu (di asrama itu), susah dan senang, airmata dan gelak tawa, kemarahan dan kesenangan, yang silih berganti melintas di kepala ini pada akhirnya adalah segala sesuatu yang menakjubkan sekaligus biasa-biasa saja. Saat ini, dan hari ini, hanya ada saya sebagai manusia biasa saja, sama sepertimu.
Dengan memahami Reuni seperti ini, maka saya dan Kamu mungkin bisa sama-sama belajar melihat kembali segalanya dari dalam. Sebab apapun juga yang Kita lihat diluar akan tampak juga di dalam. Ketika saya melihatmu, saya melihat diri saya sendiri, sebagai manusia. Kamu dan saya hanyalah manusia biasa, yang pada suatu masa dalam kehidupan ini pernah berada pada dimensi yang sama. Keterhubungan kita adalah segala sesuatu tentang kepolosan dan apa adanya. Walaupun pada saat itu kita bisa berkata, bahwa tinggal di asrama itu membosankan dan penuh penderitaan karena jauh dari kampung halaman. Akan tetapi lihatlah sekarang, perhatikanlah batinmu yang kadang kala memiliki kerinduan akan masa-masa itu. Dapatkah Kamu mempelajari dirimu sendiri melalui apa yang Kamu sebut sebagai kerinduan? Dapatkah Kamu mengamati setiap dorongan dari dalam itu? Apapun itu selalu saja tentang Kamu.
Satu catatan, bahwa Kita bukan lagi manusia masa lalu. Kita tidak perlu terikat oleh apa yang disebut sebagai kenangan. Sebab realitas kita tidak lagi berada disana. Namun mengekspresikan kerinduan dalam nama Reuni bukanlah sesuatu yang tabu. Layanilah jiwa apa adanya, dalam momen apapun, sembari memeriksa batin kita dengan sadar bahwa segalanya akan berubah. Tidak ada yang kekal di semesta ini. Amen.
_/\_
Karimawatn, 19-07-2016
NB: Arthur dan Saut adalah sahabat saya.

Tidak ada komentar