Header Ads

ads

Aku Tak Ingin Menjadi Tarzan

Aku Tak Ingin Menjadi Tarzan

Ups, masih ada saja yang penasaran dengan hidup saya. Saya ini orang Kaya atau Miskin?. Hai teman, pertama, saya harus katakan bahwa yang kamu dengar itu pastilah kabar palsu. Bukan kabar burung, karena burung tak pernah berkabar. Atau memang Kamu sendiri yang membuatnya begitu?.

Tapi ya, apa mau di kata, kebanyakan Kita ini masih sering terserang penyakit kepo. Masih sering gatal-gatal kalo ndak dapat info soal kehidupan pribadi lain. Saking pengen banget banyak tau kehidupan orang lain, kita sampai lupa bahwa masih banyak yang belum kita tahu dan pelajari tentang Diri sendiri (di dalam). Oya, kalau Kamu pengen tahu dan mau ngecek kehidupanku, mari datang ke tempatku and see me. Yuk ngobrol dan nyocok (Dayak Kanayatn; minum) kopi. :)

Tapi pada kesempatan dalam kesempitan ini, sekali lagi saya bebas untuk mengatakan kepadamu bahwa saya ini pengangguran yang tentu saja nggak bakalan Kaya raya. Bukankah demikian sabda itu berkata temans?. Waktu di gereja kemarin saja, pas ngisi kolom tandatangan yang di dalamnya terdapat juga kolom pekerjaan, saya tetap isi sebagai pengangguran. Saya ndak tahu itu absen atau bukan. Tapi, kawan-kawan ada yang ngelirik ke saya, "Eh, jangan begitulah bro". Halo temans, "I have no labels to define myself". Walaupun dalam soal legal formal saya mungkin akan menipu diri sendiri, karena opsi tidak tersedia. Tidak apa.

Baiklah, kalau pun pengangguran yang tak bakalan kaya raya itu adalah sebuah label menurutmu, maka hal itu adalah sederhana saja, Kamu ndak perlu ribet dan terlalu berlama-lama mikirin yang ndak penting. Biar gampang kamu punya gambaran di dalam kepala. Saya ndak akan menyulitkanmu untuk hal ini. Karena saya juga faham apa yang ada dipikiran banyak orang hanya ada 2 hal saja, kalau tidak A, ya B. Kalau tidak kaya, ya miskin. Kalau tidak surga, ya neraka. Kalau tidak dosanya banyak, ya dosanya dikit. Dan masih banyak lagi dan gitu-gitu aja dari dulu. :)

Kedua, konsep soal kaya-miskin, gagal-sukses, dan bla..bla..bla..itu udah ndak relevan lagi sebagai serap identitas kemanusiaan Kita ini. All of those labels are fake!. Tentu saja ini subyektif. Namun jika menurutmu hal itu sangatlah penting, dan kamu mengimaninya, maka hiduplah dengan gagasan-gagasan seperti itu. That's your pilihan. And, ndak masalah juga buat saya.

Kamu bebas menyusun syahadat sendiri agar kamu bisa sukses, kaya atau apapun lah itu. Kamu hanya perlu melakukan ritual-ritualmu untuk mencapai semua keinginanmu itu. Dan kamu juga bebas merangkai doa atau mantra-mantra agar Kamu tidak di hukum dan melarat dalam kemiskinan. Tidak ada yang salah. Hanya saja, lakukanlah semua itu tanpa perlu sibuk mikirin atau kepo dengan kehidupan pribadi orang lain.

Ketahuilah temans, saya ndak peduli dengan cover atau apapun status yang Kamu pakai. And, I don't care what You do for living. Mau kerja halal, silahkan. Mau yang haram, ya itu urusanmu. Kalo pun ketemu, saya juga ndak akan nanya berapa banyak duit yang bisa Kau cetak setiap kali mengehembuskan nafas. Berapa besar you punya rumah. Berapa banyak you punya mobil atau becak yang bisa You pakai buat jalan-jalan itu. Atau seberapa bagus Kamu punya baju untuk menyenangkan mata banyak orang. Dlsb.

Saya tidak bermaksud melihat barang atau bungkus-bungkus manusia itu melalui kacamata benar-salah atau baik-buruk. Itu semua kembali kepada setiap pribadi. Terserah deh. Hanya saja, kita ini seringkali keliru dalam memberi penilaian. Otak kita terus dipaksa dan terpaksa untuk senantiasa memberikan penilaian ini dan itu terhadap pribadi lain. Kita tak pernah mau berhenti sejenak dengan tanpa memberikan penilaian apapun. Oh, saya juga masih sering begitu. Masih sering eror juga.

Ketika saya berfikir bahwa menjadi sukses dan kaya itu adalah surga, tapi di satu sisi saya disodorkan fakta lain bahwa tidak semua orang yang kita sebut kaya itu bisa hidup tenang, adem dan tentram setiap saat. Banyak juga diantara mereka yang terjerembab dalam kecemasan dan takut kehilangan apa yang telah mereka miliki. Lalu ketika saya berfikir bahwa hidup orang miskin itu adalah neraka jahanam, saya juga disuguhkan fakta lain bahwa banyak juga dari mereka yang mampu bersikap sederhana. Tawa mereka begitu renyah. Dan mereka tulus merayakan hidup mereka sendiri dengan apa adanya, yang terkadang sulit sekali kita lukiskan menurut pengalaman kita sendiri.

Namun begitulah otak kita, telah dipaksa ngeles berkali-kali melaui kotbah, nasehat, jargon dan berbagai iklan, bahwa bagaimanapun juga hidup menjadi kaya dan sukses itu pastilah lebih baik dari pada hidup miskin dan melarat. Celakanya, kita mengimaninya sebagai suatu kebenaran mutlak. Saya tidak bermaksud mengutuk kekayaan, atau menyanjung kemiskinan. Semua itu tidak nyata. Yang nyata hanyalah Kita sebagai manusia, yaitu Kita yang tidak luput dari berbagai goncangan batin yang dapat terjadi setiap saat, tak peduli seberapa bagus atau tidak cover yang kita kenakan di dunia ini.

Ya, memang terlalu banyak faktor "X" yang mempengaruhi bagaimana cara kita berfikir tentang sesuatu. Karena otak kita sudah sedemikian rupa terkondisi oleh pengalaman dan penerimaan kita terhadap segala sesuatu. Dan hal itu terjadi tanpa pernah kita sadari telah menumpuk di bawah sadar sejak sekian lama. Tapi, biarlah hal itu menjadi bahan pembelajaran pribadi. Sebab bagaimana pun juga, kehidupanmu bukanlah kehidupanku. Begitu juga sebaliknya. Sambung pikir, belum tentu sambung rasa. Sambung rasa, belum tentu pikiran Kita sama-sama menjadi nol. Bingung? Mudahan ndak lah.

Akan tetapi, sebagai mana yang sering kita dengar bahwa gagasan soal kebahagian itu umumnya telah banyak bergeser. Ia senantiasa digambar, melekat dan dilekatkan pada status atau apapun yang Kita dimiliki dan kita sandang. Yang jelas, tidak ada standar yang pasti benar dan jitu soal ini. Saat saya merasa berhasil, mungkin ada yang lebih berhasil. Saat saya merasa sudah Kaya, mungkin ada yang lebih kaya lagi. Saat saya merasa miskin, mungkin ada yang lebih melarat lagi. Bahkan, saat saya merasa bahagia, ada yang lebih berbahagia lagi. Saya tidak ingin mengatakan saya percaya bahwa langit itu seperti kue lapis. Akan tetapi, yang tampak dalam hidup ini pada akhirnya melulu soal memperbandingkan sesuatu yang sebetulnya tidak perlu.

Bahkan ada doa yang aneh, dan doa ini seringkali di ucapkan dan di posting berkali-kali di berbagai sosmed dan aplikasi messenger, "Tuhan, aku bersyukur dan berterima kasih atas apa yang aku miliki saat ini, sebab aku tahu bahwa di luar sana masih banyak mereka yang kurang beruntung". What? Apa begitu cara berdoa?

Oh, saya harus menampar pikiran ini berkali-kali, karena beberapa tahun silam pernah terpesona dengan quote (doa) semacam ini. Saya malu pada diri sendiri karena senantiasa menjadikannya sebagai sebuah alasan untuk bersyukur. Saya akui bahwa dulu saya pernah terbius dan percaya begitu saja pada doa yang syarat dengan "keakuan" tersebut. Sungguh, tak ada isi atau energi yang lain di dalam doa semacam itu, kecuali membalut rasa syukur dan terima kasih dengan sekaligus menimbun ego dengan kesombongan (halus) di hadapan apa yang di sebut sebagai Tuhan. Sudahlah ego ini begitu tebal, malah di tumpuk lagi dengan doa yang seperti itu.

Kita boleh saja ngeles dengan menyebutnya sebagai bentuk ucapan syukur dan terima kasih atas kehidupan ini, namun perhatikanlah baik-baik apa yang selalu Kita tumpuk ke Dalam. Ternyata dengan doa pun Kita masih membanding-mandingkan kemanusiaan (Diri) kita dengan orang lain. "Tuhan, terima kasih telah membuat hidup saya lebih beruntung dari pada mereka." Apa bedanya dengan ini? Ternyata, masih ada pelabelan yang terselubung di dalam setiap untaian doa yang kita hamburkan ke langit selama ini. Sungguh, bagi saya semua doa atau mantra yang bernada dasar sama seperti itu bukan lagi doa. Kalaupun itu ucapan syukur, maka itu adalah syukur yang lancung. Dan jika banyak orang yakin dan percaya bahwa Tuhan senantiasa mendengarkan doa semacam ini, maka bagi saya Tuhan seperti itu tidaklah lagi menarik.

Dan jika ada yang mengatakam bahwa saya munafik, maka harus saya katakan, saya munafik jika tidak mengatakan hal ini. Saya tau, bahwa saya bukan hidup di hutan dan bertereak seperti Tarzan, "Au, Oo, Uu, Oo, Au, Ooooo", lalu bala bantuan datang. Mungkin saja Tarzan boleh kemana-mana hanya pakai kolor tanpa ada yang larang. Tak peduli ada yang gundal-gandul, semua akan baik-baik saja. Tarzan juga bisa ngobrol akrab, makan pisang dan minum dari gelas tarukutn (Dayak Kanayatn ; kantong semar) bersama sekawanan beruk tanpa rasa cemas sedikit pun. Mungkin Tarzan juga bisa hidup tanpa harus ganti profile, update atau ngintip status di Facebook. Atau, mungkin Tarzan dan para sahabatnya bisa bebas ngelakuin ini-itu sesuka mereka tanpa harus mikir apa dan bagaimana pikiran orang yang bisa bikin kepala mereka pusing 7×7×7 keliling.

Tapi saya bukanlah Tarzan, teman. Pergi kemana-mana, saya masih harus pakai celana, lengkap dengan baju. Saya sadar masih bernafas, dan memilih hidup ditengah belantara umat manusia yang menurut Motivator Satu, "Jika dunia ini keras, maka kamu harus lebih keras lagi". Atau menurut Motivator Dua, "Berjalanlah, tinggalkan mereka yang tidak ingin sukses. Jangan bergaul dengan orang negatif". Dan banyak lagi yang berperan sebagai soul guide yang mengatakan kepadamu, "Dalam hidup ini perbanyaklah amal ibadah agar selamat dunia akhirat. Dan berdoalah dalam setiap pekerjaanmu agar Dia berkenan melimpahkan rejeki dan kebahagiaan". Oh, Look at them, pada akhirnya selalu bicara soal kebahagiaan, bukan? Akan tetapi, tanyalah pada Diri sendiri, seperti itukah kebahagiaan yang dimaksud?

Seperti lagu dangdut, saya pilih yang mana? Oh, saya tidak perlu pilih mulut mereka untuk menjalani saya punya kehidupan ini. Saya tau bahwa berada ditengah-tengah belantara manusia ini, duit sebagai simbol pencapaian hidup itu masih sangat berperan dominan. Tidak ada yang salah dengan duit. Namun selagi masih hidup, sudah selayaknya saya memperhatikan setiap motif dari pikiran ini sampai kehidupan fisik saya berakhir. Dan di dalam setiap jatuh bangun ini, saya masih memilih makan nasi daripada makan logam, kertas, atau digital money. Simbolis saja dan tak perlu dijelaskan. Ini adalah bagian dari konsekwensi sadar saya, bahwa saya tidak tertarik menjadi Tarzan atau siapapun, hanya saja cara berpikir kita mungkin berbeda dalam hal ini.

Jadi apapun yang saya kerjakan baik ada duitnya ato tidak, tidak ada hubungannya dengan apa yang dipikiran orang lain. Dan hal itu bukan lagi bertujuan untuk melabeli diri sebagai Orkay atau Orsuk. Atau sebaliknya, sekecil apapun hasil yang didapat, bukan lah alasan untuk terus-menerus menghina Diri melalu pikiran bahwa saya ini adalah Ormis atau Orgal.

Semua orang boleh saja berjuang demi mencapai sebuah kehidupan ideal menurut gambaran pikiran mereka sendiri, sama seperti ketika mereka berupaya dan berjuang sekuat keyakinan untuk memperoleh kehidupan kekal yang telah di janjikan itu. Tidak ada bedanya. Namun, dalam setiap upaya dan perjuangan itu senantiasa bersemayam kontradiksi yang senantiasa melahirkan penderitaan.

Saya tidak lagi memaknai kehidupan ini sebagai sebuah perjuangan dalam rangka melabeli Diri sebagai ini-itu. Dan saya telah lama mengundurkan diri dari cara befikir seperti itu. Kehidupan ini hanyalah sebuah perjalanan. Sebuah pengembaraan di dalam waktu psikologis yang kita ciptakan sendiri melalui pengalaman, apapun itu. Bukan berarti saya tidak (akan) melakukan apa-apa. Saya harus melangkah sampai semua ini berakhir. Dari setiap duri yang saya injak, saya bisa belajar "mengenali" rasa sakit. Dan dalam setiap keindahan yang saya temukan dalam perjalanan ini, saya bisa belajar bahwa disitu tidak akan pernah ada keabadian.

Segalanya pasti berubah, bahkan tanpa harus ada upaya sedikit pun untuk mengubahnya sedikitpun. Hanya saja pikiran kita selalu tersesat, dan menganggap segala perubahan haruslah baik. Perubahan adalah "titik nol", bukan soal negatif dan positif. Ini adalah awal dari segala sesuatu yang baru. Batin yang baru setiap saat. Dari sini Kita mungkin dapat melihat bahwa Kita ini hanyalah manusia tanpa embel-embel.

Selama ini, kita begitu takut kehilangan cara bagaimana berkenalan dan "memaknai" Diri ini apa adanya, sehingga kita terlalu sering disibukkan dengan membuat berbagai gambaran yang menurut kita layak untuk menyebut diri Kita sebagai manusia. Sekali lagi, label-label dan berbagai mavam cover itu tidaklah nyata.

Kamu tidak harus mengikuti apa yang tertulis dalam catatan ini. Cukup perhatikan saja apa yang sedang terjadi di dalam batinmu saat ini. Lihat dan dengarkanlah, bagaimana Ia yang tidak terlihat itu yang juga adalah Dirimu sendiri bercerita tentang DiriNya. Ameen.
"Jika Kamu melihat wajah orang, lalu Kau mengenalnya hanya sebagai orang Kaya atau orang miskin saja, maka sebenarnya Kamu tak pernah melihatnya sebagai manusia. Lalu, sebenarnya di dunia ini, dan juga di dalam kehidupan ini, Kamu itu siapa?"


_/\_

Karimawatn, 20-08-2016

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.