Header Ads

ads

71 Tahun Mengandung


Sungguh luarbinasa menyaksikan kondisi guru-guru SD yang ada di kampung-kampung ini. Untuk urusan ke kota kabupaten saja harus berangkat dari jam 03:00 subuh (tergantung jarak). Dan pulang ke rumah bisa sampai tengah malam. Apalagi untuk prihal yang njlimet. Belum lagi resiko di jalanan. Jika hanya sekali sebulan mungkin ndak terlalu capek. Ini satu minggu bisa 2-3 kali PP. Dan belum tentu setiap urusan bisa kelar sehari. Kalau di Jawa, jarak tempuhnya sudah bisa antar kabupaten, bahkan mungkin antar provinsi. Namun di sini ngiung-ingiung sepeda motor itu masih dalam lingkaran satu kabupaten.

Ini mereka, sedang dalam perjalanan pulang. Mampir ke rumah sebelum semua sinyal hilang ditelan jarak dan embun malam. Merenggangkan urat syaraf, ngopi-ngopi seduhan kilat, sekalian menunggu kabar bahwa tadi dalam perjalanan pulang ada teman mereka yang terjatuh dari motor. Menurut cerita, bapak itu sempat tak sadarkan diri. Tapi terakhir, telpon mengabarkan dia sudah siuman, relatif stabil dan tetap nekad pulang ke rumah malam ini juga. Bandel? Entahlah, mungkin saja dia masih punya kekuatan untuk menemui anak istrinya yang was-was karena waktu?

Baca juga :
Konon mereka ini adalah pejuang tanpa tanda jasa, yang bertanggungjawab mencerdaskan generasi kecambah di pedalaman. Namun terlepas dari semua itu, selalu saja ada kisah ngilu yang nyangkut di dada setiap kali mereka datang. Mata yang lelah, wajah-wajah kusut, pen yang masih nyangkut di tulang, tubuh yang terlalu cepat sepuh sebelum masa pensiun, seakan menjadi isyarat bahwa Indonesia masih sampai disini. Dan jauh disana, di sudut-sudut negeri, pasti masih banyak yang lebih mengerikan dari semua ini. Lalu, cerita tentang Full Day School itu? Arrrgghh, cuma nambah pening saja.

Seminggu lagi akan merdeka. Dan pada perhentian ke 71 ini, Ibu Pertiwi masih berjalan, walaupun tertatih. Mungkin sebagian akan berkata bahwa ini hanyalah alasan yang dibuat-buat. Dan sebagian lagi akan menuduhnya sebagai keluhan tiada henti. Tapi apapun itu, hal ini adalah Fakta. Ada kalanya kita merasa berbeda dalam mengimani sila keadilan. Manusiawi.

Masih terlalu banyak ironi dan tragedi yang belum tersembuhkan. Hiruk-pikuk politik hanyalah paradoks dan selalu laku di jual ke udara. Entah buat siapa?. Pikiran-pikiran kerdil, selalu menjadi biang kerok retaknya persaudaraan demi memikat hati Tuhan Yang Mana. Pembakaran, penghancuran, dan pengkafiran, semua itu adalah bisa beracun yang berceceran di setiap ruas jalan kehidupan akhir-akhir ini.

Slogan, "Hidup untuk korupsi dan korupsi untuk hidup", menjadi salah satu pelengkap batu sandungan bagi proses bersalin Ibu Pertiwi yang telah lama dinanti. 71 Tahun sudah ia mengandung. Dan ya, Ia masih berjalan disaat semua lukanya belum sembuh. Namun, entah sampai kapan?

Karimawatn, 11-08-2016

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.