Dua Gelas Es Dawet
Di suatu senja, Upin dan Ipin mengelilingi sebuah danau. Danau itu sangat indah, membentang disepanjang taman. Orang-orang memamai taman itu sebagai "Taman Nirwana". Selain indah dan sejuk, taman itu juga memiliki banyak arena permainan dan tempat santai yang sangat beragam.
Saban hari, dari pagi hingga petang, taman itu tak pernah sepi dari pengunjung. Ada yang membawa anak-anaknya bermain, bersepeda, keliling danau dengan sampan, ada juga pasangan muda-mudi yang bersantai dibawah pepohonan, ada yang memasang tenda, dan tak ketinggalan para penjaja makanan dan minuman yang lalu lalang mencari rejeki.
Setetelah cukup lelah mengitari danau itu, Upin dan Ipin menepikan sepedanya di dekat seorang penjual es dawet, di bawah sebuah pohon rindang. Mereka kemudian meletakkan lelah pada sebuah bangku taman, tepat menghadap ke arah mentari yang sedang beranjak pulang.
Upin dan Ipin kini sudah gede. Mereka masih selalu bersama kemanapun mereka pergi. Sudah lama mereka meninggalkan Kampung Durian Runtuh di Malaysia dan menetap di Indonesia sejak sepeninggal Opah. Kak Ros memang menganjurkan mereka merantau ke Indonesia, berpetualang mencari pengalaman hidup yang baru. Itu sebabnya, mereka kini sangat fasih berbahasa Indonesia dan sedikit bahasa Jawa.
"Mas-mas yang guanteng-guanteng, ini es dawetnya. Monggo diunjuk", sergap penjual es dawet ketika Upin dan Ipin mulai terlibat dalam sebuah obrolan, yang sepertinya serius.
"Nggih, maturnuwun Pak", sahut Upin.
Tak menunggu lama, mereka berdua pun menyiram kerongkongan mereka, yang dari tadi memang sudah kekeringan sejak di atas sepeda.
Sambil menikmati es dawet itu, Ipin melanjutkan obrolannya dengan sang kakak, yang tadi sempat terputus. "Upin, apakah seseorang yang memelihara seekor anjing bisa disebut pencinta binatang?"
"Belum tentu!", jawab Upin, sambil menyeruput es dawetnya.
"Kenapa?"
"Karena orang itu belum tentu mau memelihara dan mencintai ular derik", Upin melirik adiknya yang mulai bingung.
"Berarti orang yang memelihara dan menjadikan ular derik sebagai temannya sendiri belum tentu bisa disebut sebagai pencinta binatang juga donk, Upin?"
"Nah, dari mana kamu tahu?", Upin balik bertanya.
"Karena dia belum tentu mau memelihara dan mencintai burung kakak tua. Kamu tahu kan, Indonesia terkenal dengan cerita burung Kakak Tua. Tapi itu dulu. Sekarang tak lagi pun. Hehe", Ipin mulai berkelakar.
Upin selalu pandai mengimbangi kedegilan adiknya si Ipin. "Ahaa, jadi menurutmu, betulkah burung kakak tua itu pernah hinggap di jendela, di rumah nenek tua yang giginya tinggal dua? Haha."
"Belum tentu betul juga lah Upin. Hehe"
"Oke, Baiklah. Ini serius. Ada seseorang memelihara dan merawat orang utan seperti merawat anaknya sendiri. Lalu ketika tiba saatnya, ia membawa orang utan kesayangannya itu ke hutan kemudian melepaskannya agar bisa hidup bebas. Bisakah ia dikatakan tidak lagi mencintai orang utan itu, Ipin?"
"Kalau cam tu, bagaimana aku boleh tahu yang mana yang benar?", Ipin kelihatan mulai tambah bingung.
Sambil mengarahkan pandangannya ke arah semburat senja itu, Upin melontarkan tanya pada adiknya Ipin yang sedang memandangi gelasnya yang mulai kering itu. "Oke begini, Kau dengar ini baek-baek Ipin. Apabila aku mengatakan bahwa orang itu justru sangat mencintai orang utan tersebut dengan melepaskannya ke hutan, apakah kau akan mempercayai kata-kataku sebagai suatu kebenaran?", tampak wajah Upin yang mulai serius.
Ipin menggelengkan kepalannya, "Tidak! Aku tidak percaya pada kata-katamu itu Upin!? Bagaimana dengan mereka yang memelihara seekor anjing? Dengan penuh perhatian, mereka memberinya makanan yang lezat, lalu membiarkan ia tidur di kasur paling empuk. Apakah kau percaya jika aku mengatakan bahwa mereka juga sangat mencintai anjing itu?", Upin melirik gelas kakaknya.
"Baiklah, aku katakan bahwa aku juga tidak percaya kata-katamu Ipin. Sebab si pemilik anjing pasti pernah membunuh kutu-kutu anjing itu, menginjak semut, dan memukul mati nyamuk dan lalat. Bukankah mereka itu adalah binatang juga?", Upin menuntaskan tegukkan terakhir es dawetnya.
"Jadi apa yang sedang kita bicarakan ini? Manakah dari mereka itu yang bisa disebut pencinta binatang, Upin?"
"Sebentar. Sebenarnya hewan apa yang sedang kau pelihara sehingga kau bertanya? Adakah kau sedang memelihara seekor binatang dirumah yang aku tak tahu?", Upin memasang wajah penasaran.
"Tak seekor pun, Upin!. Kau?"
"Juga tak seekor pun. Hmm, apakah kita berdua bisa disebut sebagai orang yang tidak mencintai binatang karena kita tidak memelihara seekorpun dari binatang-binatang itu?", sepertinya Upin sedang mengorek-ngorek sesuatu agar keluar banyak hal dari kepala Ipin karena terlanjur ngbrol serius.
"Entahlah Upin. Tapi semalam, aku melepaskan seekor cecak yang terjebak di dalam wastafel di kontrakkan kita. Bagaimana menurutmu Upin, apakah aku mencintai cecak itu atau tidak?
"Entahlah. Tapi bukankah tadi Kau nak tahu yang mana yang benar? Ipin, bagiku kebenaran adalah jalan yang "Entah". Dan kita berdua sedang melewati jalan itu tanpa memberinya "nama", kecuali "Entahlah". Bahkan kita tidak perlu lagi mempermasalahkan apakah yang kita lalui ini adalah jalan atau bukan, namun kita tetap harus berjalan. Bukankah begitu Ipin?. Bagaimana menurutmu?"
"Entahlah. Tapi kau sudah menyimpulkannya demikian, bukan?", Upin memandang kakaknya yang larut melepaskan pandangannya di kejauhan.
"I said, Entahlah Ipin", aku tak nak berdebat dengan kamu.
"Ahh, sudahlah Upin. Perdebatan hanya akan membuat kerongkongan kita kembali kering saja. Jom, kita pulang. Hari dah semakin petang. Nanti di marah Kak Ros tau? Haha"
"Okay, jom Ipin kita pulang".
Upin kemudian menghampiri penjual es dawet itu, dan menyodorkan selembar 10 ribu.
"Mas-mas e ini seperti saya kenal. Upin dan Ipin yang sering muncul di TV dulu kan?", tanya si penjual dawet.
"Lho, koq ngerti Pak?", Upin tersenyum.
"Nah, bener kan. Pasti Upin dan Ipin yang di TV itu. Hehe"
"Bapak ini siapakah gerangan?", tanya Ipin.
"Saya Jarwo. Saiki, orang-orang memanggil saya dengan sebutan Pak Jarwo. Maklum sudah semakin tua. Dulu saya juga pernah nongol di TV. Kemana-mana saya selalu berdua dengan Si Sopo. Tapi sekarang dia masih kerja di tempatnya Baba Chang. Sedangkan saya alih profesi menjadi seperti sekarang ini, penjual dawet. Masa mas Upin dan Ipin tak tahu film kami?", sambung Jarwo.
"Aduh maaf Pak, kami ndak tahu. Mungkin karena film Pak Sopo dan Pak Jarwo waktu itu ndak sempat di putar di Malaysia. Kalau pun diputar, kami lupa Pak. Saya dengan Ipin masih kecil sekali waktu itu. Tidak sempat nonton karena syuting terus."
Upin melirik jam tangannya kemudian memberi kode kepada Ipin untuk segera cabut. "Udah dulu ya Pak, kami pulang dulu. Maturnuwun es dawetnya".
Upin dan Ipin pun segera berlalu dengan sepedanya.
"Oo.. Oo.. Ya mas. Sami-sami.", Jarwo pun bingung, karena dulu merasa terkenal seantero nusantara.
Sambil mengemas gelas-gelas di bangku itu, Jarwo melihat sebuah buku catatan kecil. Cover buku itu bertuliskan, "Diary Upin dan Ipin".
Jarwo duduk sejenak dibangku itu dan membuka lembaran catatan itu satu per satu. Sampailah ia pada halaman terakhir. Disitu hanya tertulis sebuah kalimat dengan underline, "Kebenaran Adalah Jalan Yang Entah". Hanya itu saja.
"Aku akan bertemu lagi dengan anak-anak itu besok.", ucap Jarwo pada gelas-gelas itu.
***
Untuk memahami kebenaran harus melalui pengamatan yang "membebaskan". Kebenaran bukanlah sesuatu yang dapat dipahami melalui sebuah dikte atau berada dalam konsep-konsep yang kaku, bukan pula dapat ditarik dari pola-pola tertentu yang berasal dari masa lalu.
Bagaimana dengan Cinta? Sudah berapa banyak konsep soal Cinta yang telah kita tumpuk? Konsep tentang cinta keluarga, cinta orang tua, cinta anak, cinta suami/istri, cinta pasangan, cinta alam, cinta binatang, cinta tanah air, cinta sesama, cinta agama, cinta Tuhan, dan lain sebagainya. Apakah berbagai konsep tentang cinta itu adalah sungguh-sungguh cinta? Apakah Cinta itu hanya konsep yang setiap orang pada akhirnya bertahan dengan konsep mereka sendiri-sendiri, dan berlainan satu sama lain? Mengapa berlainan? Bukankah itu fakta bahwa pada akhirnya apa yang namanya cinta hanyalah pikiran yang bermain-main dengan konsep atau gagasan?.
Berdebat soal kebenaran adalah kesia-siaan. Sebab kebenaran tidak terdapat dalam sebuah perdebatan. Demikian juga, seseorang bisa mengatakan apa saja kepadamu; melalui ucapan, melalui tulisan, melalui buku-buku, melalui kitab-kitab, melalui pengajaran-pengajaran, melalui nasehat, dll. Akan tetapi tidak ada kewajiban bagi siapapun untuk percaya begitu saja bahwa apa yang dikatakan oleh orang lain tersebut pastilah suatu kebenaran yang harus diikuti.
Sebab sekalipun engkau percaya atau tidak percaya, hal itu bukanlah sesuatu yang dihasilkan dari permainan logika yang seringkali menyesatkan, sebab bagaimanapun juga setiap logika telah tercemar dan dipengaruhi oleh tumpukan pengetahuan masa lalu.
Begitu banyak teks, pengajaran, dan nasehat yang kita anggap sebagai sumber kebenaran. Dan semua itu kita jadikan sebagai "panduan" menuju kebenaran itu sendiri, yang sebenarnya hanyalah sebuah gagasan, bukan fakta.
Kita menjadi ketagihan, tanpa berani melakukan pengamatan yang jernih dari dalam. Bagaimana pun juga teks tetaplah teks, buku-buku tetaplah buku, pengajaran-pengajaran hanyalah gagasan, dan semua itu bukanlah kebenaran itu sendiri.
Batin yang penuh konflik dan terperangkap oleh pengetahuan masa lalu tak mungkin menciptakan kebenaran serta sikap yang spontan.
_/\_
Karimawatn, 04-08-2016
Saban hari, dari pagi hingga petang, taman itu tak pernah sepi dari pengunjung. Ada yang membawa anak-anaknya bermain, bersepeda, keliling danau dengan sampan, ada juga pasangan muda-mudi yang bersantai dibawah pepohonan, ada yang memasang tenda, dan tak ketinggalan para penjaja makanan dan minuman yang lalu lalang mencari rejeki.
Setetelah cukup lelah mengitari danau itu, Upin dan Ipin menepikan sepedanya di dekat seorang penjual es dawet, di bawah sebuah pohon rindang. Mereka kemudian meletakkan lelah pada sebuah bangku taman, tepat menghadap ke arah mentari yang sedang beranjak pulang.
Upin dan Ipin kini sudah gede. Mereka masih selalu bersama kemanapun mereka pergi. Sudah lama mereka meninggalkan Kampung Durian Runtuh di Malaysia dan menetap di Indonesia sejak sepeninggal Opah. Kak Ros memang menganjurkan mereka merantau ke Indonesia, berpetualang mencari pengalaman hidup yang baru. Itu sebabnya, mereka kini sangat fasih berbahasa Indonesia dan sedikit bahasa Jawa.
"Mas-mas yang guanteng-guanteng, ini es dawetnya. Monggo diunjuk", sergap penjual es dawet ketika Upin dan Ipin mulai terlibat dalam sebuah obrolan, yang sepertinya serius.
"Nggih, maturnuwun Pak", sahut Upin.
Tak menunggu lama, mereka berdua pun menyiram kerongkongan mereka, yang dari tadi memang sudah kekeringan sejak di atas sepeda.
Sambil menikmati es dawet itu, Ipin melanjutkan obrolannya dengan sang kakak, yang tadi sempat terputus. "Upin, apakah seseorang yang memelihara seekor anjing bisa disebut pencinta binatang?"
"Belum tentu!", jawab Upin, sambil menyeruput es dawetnya.
"Kenapa?"
"Karena orang itu belum tentu mau memelihara dan mencintai ular derik", Upin melirik adiknya yang mulai bingung.
"Berarti orang yang memelihara dan menjadikan ular derik sebagai temannya sendiri belum tentu bisa disebut sebagai pencinta binatang juga donk, Upin?"
"Nah, dari mana kamu tahu?", Upin balik bertanya.
"Karena dia belum tentu mau memelihara dan mencintai burung kakak tua. Kamu tahu kan, Indonesia terkenal dengan cerita burung Kakak Tua. Tapi itu dulu. Sekarang tak lagi pun. Hehe", Ipin mulai berkelakar.
Upin selalu pandai mengimbangi kedegilan adiknya si Ipin. "Ahaa, jadi menurutmu, betulkah burung kakak tua itu pernah hinggap di jendela, di rumah nenek tua yang giginya tinggal dua? Haha."
"Belum tentu betul juga lah Upin. Hehe"
"Oke, Baiklah. Ini serius. Ada seseorang memelihara dan merawat orang utan seperti merawat anaknya sendiri. Lalu ketika tiba saatnya, ia membawa orang utan kesayangannya itu ke hutan kemudian melepaskannya agar bisa hidup bebas. Bisakah ia dikatakan tidak lagi mencintai orang utan itu, Ipin?"
"Kalau cam tu, bagaimana aku boleh tahu yang mana yang benar?", Ipin kelihatan mulai tambah bingung.
Sambil mengarahkan pandangannya ke arah semburat senja itu, Upin melontarkan tanya pada adiknya Ipin yang sedang memandangi gelasnya yang mulai kering itu. "Oke begini, Kau dengar ini baek-baek Ipin. Apabila aku mengatakan bahwa orang itu justru sangat mencintai orang utan tersebut dengan melepaskannya ke hutan, apakah kau akan mempercayai kata-kataku sebagai suatu kebenaran?", tampak wajah Upin yang mulai serius.
Ipin menggelengkan kepalannya, "Tidak! Aku tidak percaya pada kata-katamu itu Upin!? Bagaimana dengan mereka yang memelihara seekor anjing? Dengan penuh perhatian, mereka memberinya makanan yang lezat, lalu membiarkan ia tidur di kasur paling empuk. Apakah kau percaya jika aku mengatakan bahwa mereka juga sangat mencintai anjing itu?", Upin melirik gelas kakaknya.
"Baiklah, aku katakan bahwa aku juga tidak percaya kata-katamu Ipin. Sebab si pemilik anjing pasti pernah membunuh kutu-kutu anjing itu, menginjak semut, dan memukul mati nyamuk dan lalat. Bukankah mereka itu adalah binatang juga?", Upin menuntaskan tegukkan terakhir es dawetnya.
"Jadi apa yang sedang kita bicarakan ini? Manakah dari mereka itu yang bisa disebut pencinta binatang, Upin?"
"Sebentar. Sebenarnya hewan apa yang sedang kau pelihara sehingga kau bertanya? Adakah kau sedang memelihara seekor binatang dirumah yang aku tak tahu?", Upin memasang wajah penasaran.
"Tak seekor pun, Upin!. Kau?"
"Juga tak seekor pun. Hmm, apakah kita berdua bisa disebut sebagai orang yang tidak mencintai binatang karena kita tidak memelihara seekorpun dari binatang-binatang itu?", sepertinya Upin sedang mengorek-ngorek sesuatu agar keluar banyak hal dari kepala Ipin karena terlanjur ngbrol serius.
"Entahlah Upin. Tapi semalam, aku melepaskan seekor cecak yang terjebak di dalam wastafel di kontrakkan kita. Bagaimana menurutmu Upin, apakah aku mencintai cecak itu atau tidak?
"Entahlah. Tapi bukankah tadi Kau nak tahu yang mana yang benar? Ipin, bagiku kebenaran adalah jalan yang "Entah". Dan kita berdua sedang melewati jalan itu tanpa memberinya "nama", kecuali "Entahlah". Bahkan kita tidak perlu lagi mempermasalahkan apakah yang kita lalui ini adalah jalan atau bukan, namun kita tetap harus berjalan. Bukankah begitu Ipin?. Bagaimana menurutmu?"
"Entahlah. Tapi kau sudah menyimpulkannya demikian, bukan?", Upin memandang kakaknya yang larut melepaskan pandangannya di kejauhan.
"I said, Entahlah Ipin", aku tak nak berdebat dengan kamu.
"Ahh, sudahlah Upin. Perdebatan hanya akan membuat kerongkongan kita kembali kering saja. Jom, kita pulang. Hari dah semakin petang. Nanti di marah Kak Ros tau? Haha"
"Okay, jom Ipin kita pulang".
Upin kemudian menghampiri penjual es dawet itu, dan menyodorkan selembar 10 ribu.
"Mas-mas e ini seperti saya kenal. Upin dan Ipin yang sering muncul di TV dulu kan?", tanya si penjual dawet.
"Lho, koq ngerti Pak?", Upin tersenyum.
"Nah, bener kan. Pasti Upin dan Ipin yang di TV itu. Hehe"
"Bapak ini siapakah gerangan?", tanya Ipin.
"Saya Jarwo. Saiki, orang-orang memanggil saya dengan sebutan Pak Jarwo. Maklum sudah semakin tua. Dulu saya juga pernah nongol di TV. Kemana-mana saya selalu berdua dengan Si Sopo. Tapi sekarang dia masih kerja di tempatnya Baba Chang. Sedangkan saya alih profesi menjadi seperti sekarang ini, penjual dawet. Masa mas Upin dan Ipin tak tahu film kami?", sambung Jarwo.
"Aduh maaf Pak, kami ndak tahu. Mungkin karena film Pak Sopo dan Pak Jarwo waktu itu ndak sempat di putar di Malaysia. Kalau pun diputar, kami lupa Pak. Saya dengan Ipin masih kecil sekali waktu itu. Tidak sempat nonton karena syuting terus."
Upin melirik jam tangannya kemudian memberi kode kepada Ipin untuk segera cabut. "Udah dulu ya Pak, kami pulang dulu. Maturnuwun es dawetnya".
Upin dan Ipin pun segera berlalu dengan sepedanya.
"Oo.. Oo.. Ya mas. Sami-sami.", Jarwo pun bingung, karena dulu merasa terkenal seantero nusantara.
Sambil mengemas gelas-gelas di bangku itu, Jarwo melihat sebuah buku catatan kecil. Cover buku itu bertuliskan, "Diary Upin dan Ipin".
Jarwo duduk sejenak dibangku itu dan membuka lembaran catatan itu satu per satu. Sampailah ia pada halaman terakhir. Disitu hanya tertulis sebuah kalimat dengan underline, "Kebenaran Adalah Jalan Yang Entah". Hanya itu saja.
"Aku akan bertemu lagi dengan anak-anak itu besok.", ucap Jarwo pada gelas-gelas itu.
***
Untuk memahami kebenaran harus melalui pengamatan yang "membebaskan". Kebenaran bukanlah sesuatu yang dapat dipahami melalui sebuah dikte atau berada dalam konsep-konsep yang kaku, bukan pula dapat ditarik dari pola-pola tertentu yang berasal dari masa lalu.
Bagaimana dengan Cinta? Sudah berapa banyak konsep soal Cinta yang telah kita tumpuk? Konsep tentang cinta keluarga, cinta orang tua, cinta anak, cinta suami/istri, cinta pasangan, cinta alam, cinta binatang, cinta tanah air, cinta sesama, cinta agama, cinta Tuhan, dan lain sebagainya. Apakah berbagai konsep tentang cinta itu adalah sungguh-sungguh cinta? Apakah Cinta itu hanya konsep yang setiap orang pada akhirnya bertahan dengan konsep mereka sendiri-sendiri, dan berlainan satu sama lain? Mengapa berlainan? Bukankah itu fakta bahwa pada akhirnya apa yang namanya cinta hanyalah pikiran yang bermain-main dengan konsep atau gagasan?.
Berdebat soal kebenaran adalah kesia-siaan. Sebab kebenaran tidak terdapat dalam sebuah perdebatan. Demikian juga, seseorang bisa mengatakan apa saja kepadamu; melalui ucapan, melalui tulisan, melalui buku-buku, melalui kitab-kitab, melalui pengajaran-pengajaran, melalui nasehat, dll. Akan tetapi tidak ada kewajiban bagi siapapun untuk percaya begitu saja bahwa apa yang dikatakan oleh orang lain tersebut pastilah suatu kebenaran yang harus diikuti.
Sebab sekalipun engkau percaya atau tidak percaya, hal itu bukanlah sesuatu yang dihasilkan dari permainan logika yang seringkali menyesatkan, sebab bagaimanapun juga setiap logika telah tercemar dan dipengaruhi oleh tumpukan pengetahuan masa lalu.
Begitu banyak teks, pengajaran, dan nasehat yang kita anggap sebagai sumber kebenaran. Dan semua itu kita jadikan sebagai "panduan" menuju kebenaran itu sendiri, yang sebenarnya hanyalah sebuah gagasan, bukan fakta.
Kita menjadi ketagihan, tanpa berani melakukan pengamatan yang jernih dari dalam. Bagaimana pun juga teks tetaplah teks, buku-buku tetaplah buku, pengajaran-pengajaran hanyalah gagasan, dan semua itu bukanlah kebenaran itu sendiri.
Batin yang penuh konflik dan terperangkap oleh pengetahuan masa lalu tak mungkin menciptakan kebenaran serta sikap yang spontan.
_/\_
Karimawatn, 04-08-2016

Tidak ada komentar