Pendidikan Yang Ruwet Dan Terlalu Maskulin
Kebijakan Pak Menteri pendidikan yang baru perihal waktu sekolah seharian penuh bagi anak-anak itu merupakan kebijakan yang sangat prematur dan sangat menakutkan. Sudah pada tahu bahwa sistem pendidikan di negeri ini begitu kusut, dan stressful. Lha, ini malah akan ditambah lagi dengan kebijakan aneh yang akan memaksa anak-anak harus tinggal di sekolah seharian.
Apapun alasannya, kegiatan di sekolah yang seharian penuh tersebut akan berakibat pada hubungan orang tua dan anak semakin terbatas. Alih-alih mau membentuk karakter anak dan menjadikan mereka manusia-manusia cerdas, kebijakan seperti itu malah akan menjadi persoalan baru di dalam keluarga Indonesia, terutama bagi mereka para orang tua yang peduli terhadap pentingnya hubungan yang cukup, berkualitas, seimbang dan harmonis dengan anak-anak mereka.
Disaat negara-negara modern seperti Finlandia memangkas jam sekolahnya menjadi semakin pendek, di sini malah sebaliknya. Jam sekolah di sini semakin di tambah, di genjot dan semakin melelahkan. Plis, jangan sampai lah anak-anak itu nanti disuruh nginap di sekolah, disuruh bawa bantal dan selimut sendiri.
Dengan kebijakan baru ini, akan banyak anak-anak yang tak punya waktu lagi untuk bermain bersama teman-temannya di luar sekolah, apalagi jika masih ditambah dengan PR-PR yang bikin puyeng tujuh keliling. Akhirnya anak-anak itu tak bisa santai menikmati masa kanak-kanak mereka. Selain itu, interaksi antara anak dan orang tua akan semakin berkurang. Akan ada jarak yang sangat lebar, dimana anak-anak tidak punya banyak kesempatan untuk mengalami hidup mereka dengan orang tua. Atau sebaliknya, banyak orang tua yang tidak sempat lagi bersenda gurau dengan "buah hati".
Ketika anak-anak itu pulang ke rumah, sudah membawa kelelahan mereka sendiri. Ditambah lagi orang tua yang karena begitu sibuknya sehingga ketika tiba di rumah juga sudah dengan muka kusut dan kapala cenat-cenut. Kapan waktu bagi keluarga untuk berinteraksi, refresh, dan bersantai ria? Apakah hal yang seperti ini tak sempat terpikirkan oleh Pak Menteri? Entahlah.
Kebijakan sekolah seharian penuh ini seakan-akan ingin mengatakan, "Eh elu pade, para orang tue, silahkan aje elu pade sibuk dengan pekerjaan elu. Cari duit yang banyak buat anak elu. Tenang aje, anak-anak elu ada di gua. Biarkan sekolah yang asuh. Lu jemput pas lu abis kerja aje ye." Lha, emang sekolah tempat penitipan anak-anak ape? Aje gileee.!
Wahai Pak Menteri kami yang baru, seharusnya bapak jangan lupa, bahwa para tenaga pendidik di sekolah-sekolah itu juga banyak yang berkeluarga dan punya anak-anak yang masih sekolah dan bukannya jomblo kek saya ini. Mereka juga butuh waktu untuk pulang ke rumah (home not house) untuk hadir di tengah anak-anak mereka. Mereka juga butuh Pak, merayakan kehidupan yang harmonis dengan anak-anak di dalam sebuah keluarga. Kalo pun nantinya akan ada uang lembur mengajar buat para guru, tapi apakah hal seperti itu yang diharapkan dengan sistem pendidikan kek gini? Ini mah, kayak kerja di pabrik aja. Guru kejar setoran, anak-anak lunglai kelelahan.
Sekolah memang penting, tapi rumah juga penting. Tanpa kebijakan sekolah seharian penuh aja, para orang tua sudah sangat sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Sulit sekali mereka mengatur waktu buat keluarga dan anak. Banyak anak-anak di rumah tak sempat menikmati waktu senggang dengan orang tua mereka. Pembantu rumah tangga lebih banyak mengambil alih peran orang tua dalam mengisi kebutuhan emosional anak-anak di rumah. Sayangnya, yang di aplod di fesbuk adalah foto anak dengan ibu atau bapaknya, padahal yang seharian ngurus adalah para pembantu mereka.
Apapun alasannya, kegiatan di sekolah yang seharian penuh tersebut akan berakibat pada hubungan orang tua dan anak semakin terbatas. Alih-alih mau membentuk karakter anak dan menjadikan mereka manusia-manusia cerdas, kebijakan seperti itu malah akan menjadi persoalan baru di dalam keluarga Indonesia, terutama bagi mereka para orang tua yang peduli terhadap pentingnya hubungan yang cukup, berkualitas, seimbang dan harmonis dengan anak-anak mereka.
Disaat negara-negara modern seperti Finlandia memangkas jam sekolahnya menjadi semakin pendek, di sini malah sebaliknya. Jam sekolah di sini semakin di tambah, di genjot dan semakin melelahkan. Plis, jangan sampai lah anak-anak itu nanti disuruh nginap di sekolah, disuruh bawa bantal dan selimut sendiri.
Dengan kebijakan baru ini, akan banyak anak-anak yang tak punya waktu lagi untuk bermain bersama teman-temannya di luar sekolah, apalagi jika masih ditambah dengan PR-PR yang bikin puyeng tujuh keliling. Akhirnya anak-anak itu tak bisa santai menikmati masa kanak-kanak mereka. Selain itu, interaksi antara anak dan orang tua akan semakin berkurang. Akan ada jarak yang sangat lebar, dimana anak-anak tidak punya banyak kesempatan untuk mengalami hidup mereka dengan orang tua. Atau sebaliknya, banyak orang tua yang tidak sempat lagi bersenda gurau dengan "buah hati".
Ketika anak-anak itu pulang ke rumah, sudah membawa kelelahan mereka sendiri. Ditambah lagi orang tua yang karena begitu sibuknya sehingga ketika tiba di rumah juga sudah dengan muka kusut dan kapala cenat-cenut. Kapan waktu bagi keluarga untuk berinteraksi, refresh, dan bersantai ria? Apakah hal yang seperti ini tak sempat terpikirkan oleh Pak Menteri? Entahlah.
Kebijakan sekolah seharian penuh ini seakan-akan ingin mengatakan, "Eh elu pade, para orang tue, silahkan aje elu pade sibuk dengan pekerjaan elu. Cari duit yang banyak buat anak elu. Tenang aje, anak-anak elu ada di gua. Biarkan sekolah yang asuh. Lu jemput pas lu abis kerja aje ye." Lha, emang sekolah tempat penitipan anak-anak ape? Aje gileee.!
Wahai Pak Menteri kami yang baru, seharusnya bapak jangan lupa, bahwa para tenaga pendidik di sekolah-sekolah itu juga banyak yang berkeluarga dan punya anak-anak yang masih sekolah dan bukannya jomblo kek saya ini. Mereka juga butuh waktu untuk pulang ke rumah (home not house) untuk hadir di tengah anak-anak mereka. Mereka juga butuh Pak, merayakan kehidupan yang harmonis dengan anak-anak di dalam sebuah keluarga. Kalo pun nantinya akan ada uang lembur mengajar buat para guru, tapi apakah hal seperti itu yang diharapkan dengan sistem pendidikan kek gini? Ini mah, kayak kerja di pabrik aja. Guru kejar setoran, anak-anak lunglai kelelahan.
Sekolah memang penting, tapi rumah juga penting. Tanpa kebijakan sekolah seharian penuh aja, para orang tua sudah sangat sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Sulit sekali mereka mengatur waktu buat keluarga dan anak. Banyak anak-anak di rumah tak sempat menikmati waktu senggang dengan orang tua mereka. Pembantu rumah tangga lebih banyak mengambil alih peran orang tua dalam mengisi kebutuhan emosional anak-anak di rumah. Sayangnya, yang di aplod di fesbuk adalah foto anak dengan ibu atau bapaknya, padahal yang seharian ngurus adalah para pembantu mereka.
Ndak heran, jika di kemudian hari anak-anak (Indonesia) ini tumbuh dewasa dengan jiwa yang "kosong" dan tertular penyakit kehidupan yang super cepat dan sangat sibuk sebagai orang dewasa. Ketika mereka nantinya punya anak, pun pada akhirnya ndak punya waktu buat anak-anaknya. Lalu, mau menyalahkan siapa kalo sudah begini?
Baca juga :
Kebijakan bersekolah seharian penuh ini bungkusnya saja terlihat bagus, tapi seharusnya nggak kek gini juga lah. Masih banyak yang harus dikaji ulang. Ndak perlu buat kebijakan atas nama pendidikan jika pada akhirnya kebijakan tersebut memberangus nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya tumbuh sejak di dalam keluarga. Yang sudah ada saja ruwet nya minta ampun. Belum lagi soal korupsi di dalamnya. Banyak yang bilang lho, wilayah pendidikan itu adalah lahan basah buat mengarbit kesejahteraan.
Jangan mentang-mentang kantor kementerian pendidikan itu letaknya di Jakarta, lalu semua iklim sekolah yang ada di pelosok negeri ini dipikir sama seperti yang ada di Jakarta. Sekolah yang ada di sudut-sudut kampung dan daerah terpencil itu bukan seperti di Jakarta atau kota-kota besar. Orang-orang di kampung memiliki kesibukan yang tidak sama dengan orang-orang kota. Namun sudah pada tahu, kalo pada akhirnya apa yang dibuat di pusat, apalagi atas nama kebijakan pemerintah, dampaknya juga terasa sampai bawah pusat. Seringkali bikin ngilu.
Bagi anak-anak yang tinggal di kampung dan pelosok, sekolah formal bukan satu-satunya tempat belajar. Sebagian besar dari mereka juga belajar dari kearifan lingkungan dan budaya. Disaat anak-anak di kota sudah mulai ngegame online, yang di kampung-kampung Indonesia ini juga masih ada yang main petak umpet, bermain di sungai, main layang-layang, main ke sawah, main ke hutan, dlsb. Tapi entahlah, berbagai jenis permainan kuno (yang mulai hilang ini) mungkin sudah dianggap tidak penting lagi. Padahal di dalam setiap bentuk permaian itu terkandung nilai-nilai pendidikan yang tidak diajarkan di dalam sekolah formal, apalagi memerlukan kurikulum yang njlimet.
Kebijakan kementerian pendidikan yang baru ini walaupun niatnya mungkin bagus, akan tetapi dampaknya tanpa disadari akan semakin menambah keruwetan. Dan yang sudah pasti adalah mengurangi waktu antara orang tua dan anak-anaknya. Bagi orang tua yang nakal, hal ini bisa dijadikan alasan untuk tidak cepat-cepat pulang ke rumah dengan alasan bekerja. Namun bagi orang tua yang faham akan kebutuhan interaksi bersama anak, hal ini adalah malapetaka.
Oya, sistem pendidikan di sini, semakin hari memang terasa semakin maskulin. Mungkin sewaktu-waktu boleh lah diangkat menteri perempuan buat ngurusi masalah pendidikan yang kacau balau ini. Walaupun tak ada jaminan langsung beres dalam sekejap, karena memang sudah terlalu ruwet begini. Tapi boleh dicoba. Apa mau resuffle lagi??
Karimawatn, 08-08-2016
Baca juga :
Kebijakan bersekolah seharian penuh ini bungkusnya saja terlihat bagus, tapi seharusnya nggak kek gini juga lah. Masih banyak yang harus dikaji ulang. Ndak perlu buat kebijakan atas nama pendidikan jika pada akhirnya kebijakan tersebut memberangus nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya tumbuh sejak di dalam keluarga. Yang sudah ada saja ruwet nya minta ampun. Belum lagi soal korupsi di dalamnya. Banyak yang bilang lho, wilayah pendidikan itu adalah lahan basah buat mengarbit kesejahteraan.
Jangan mentang-mentang kantor kementerian pendidikan itu letaknya di Jakarta, lalu semua iklim sekolah yang ada di pelosok negeri ini dipikir sama seperti yang ada di Jakarta. Sekolah yang ada di sudut-sudut kampung dan daerah terpencil itu bukan seperti di Jakarta atau kota-kota besar. Orang-orang di kampung memiliki kesibukan yang tidak sama dengan orang-orang kota. Namun sudah pada tahu, kalo pada akhirnya apa yang dibuat di pusat, apalagi atas nama kebijakan pemerintah, dampaknya juga terasa sampai bawah pusat. Seringkali bikin ngilu.
Bagi anak-anak yang tinggal di kampung dan pelosok, sekolah formal bukan satu-satunya tempat belajar. Sebagian besar dari mereka juga belajar dari kearifan lingkungan dan budaya. Disaat anak-anak di kota sudah mulai ngegame online, yang di kampung-kampung Indonesia ini juga masih ada yang main petak umpet, bermain di sungai, main layang-layang, main ke sawah, main ke hutan, dlsb. Tapi entahlah, berbagai jenis permainan kuno (yang mulai hilang ini) mungkin sudah dianggap tidak penting lagi. Padahal di dalam setiap bentuk permaian itu terkandung nilai-nilai pendidikan yang tidak diajarkan di dalam sekolah formal, apalagi memerlukan kurikulum yang njlimet.
Kebijakan kementerian pendidikan yang baru ini walaupun niatnya mungkin bagus, akan tetapi dampaknya tanpa disadari akan semakin menambah keruwetan. Dan yang sudah pasti adalah mengurangi waktu antara orang tua dan anak-anaknya. Bagi orang tua yang nakal, hal ini bisa dijadikan alasan untuk tidak cepat-cepat pulang ke rumah dengan alasan bekerja. Namun bagi orang tua yang faham akan kebutuhan interaksi bersama anak, hal ini adalah malapetaka.
Oya, sistem pendidikan di sini, semakin hari memang terasa semakin maskulin. Mungkin sewaktu-waktu boleh lah diangkat menteri perempuan buat ngurusi masalah pendidikan yang kacau balau ini. Walaupun tak ada jaminan langsung beres dalam sekejap, karena memang sudah terlalu ruwet begini. Tapi boleh dicoba. Apa mau resuffle lagi??
Karimawatn, 08-08-2016

Tidak ada komentar