Ingatlah, Cara Kita Ini Bernafas Masih Sama
Satu hal yang lucu. Setiap kali menyebut/menuliskan kata religi(us), otak kita selalu saja melukis soal agama. Begitulah, kalo pikiran mekanis dah terlanjur jatuh kesitu langsung pada lecet-lecet. Yang muncul di kepala adalah melulu soal kemasan berbagai varian rupa dan rasa berbagai agama yang ada di pasaran, baik itu dalam skala Nasional ato Internasional. Kalo ndak Yudaisme, Kong Hu Chu, Taoisme, Pagan, Budha, Hindu, Kristen, Islam, dan blah.. blah.. blah.. blah.. blah.
Seperti saya bilang, "There're too many blah..blah.. in this funny world". Capek ngitungin atu-atu. Apalagi mau ngeliatin rupa ato nyicipin rasanya? Oh, tentu saja tambah ribet. Tapi apresiasi itu perlu, sebab banyak juga manusia di muka bumi ini yang tanpa pamrih, selalu setiap saat menyanyikan lagu perdamaian, "Satu, Dua, Tiga, Sayang semuanya".
Jebakan kehidupan religius itu seringkali mengaburkan fakta. Fakta bahwa setiap manusia di dunia ini, mau bertuhan ato tidak bertuhan, mau kaya ato kere, mau sukses ato gagal, mau boss ato kuli, mau guru ato murid, mau ganda campuran ato single fighter, mau muda ato merasa dirinya lebih tua dan faham segalanya, dlsb, hanya akan berkutat pada masalah batinnya saja. Dan tidak akan pernah bisa lepas dari itu sepanjang hidupnya.
Tidak perlu lebay dengan merasa diri lebih religius atau lebih spiritual. Semua label-label itu hanyalah konsep yang kita ciptakan sendiri untuk memuaskan kebutaan kita terhadap esensi yang sebenarnya bahwa kita ini hanyalah manusia biasa yang bukan secara kebetulan hidup di Planet ini.
Dalam era keterbukaan ini, mungkin banyak orang, disini dan di berbagai belahan dunia, pada akhirnya membangunkan dirinya dari tidur panjang. Sebagian dari mereka ada yang mengkonversi keyakinannya karena mengganggap yang lama sudah tidak cocok lagi. Ada yang memilih menjadi agnostik, ada yang menyebut dirinya sebagai freethinker, dan banyak pula yang memilih jalan spiritual yang lain, dlsb, semua itu tak akan mengubah hakikat kita sebagai manusia. Jika dalam setiap pilihan itu masih terselip pikiran, "I'm better than the others", itu tetap saja sebuah ego yang sombong.
Jadi, siapa atau apapun kita ini hanyalah manusia saja. Kita hanyalah bagian terkecil dari alam semesta yang menakjubkan ini. Kita pada dasarnya tidak membutuhkan label apapun untuk mendefinisikan diri siapa kita (esensi). Akan tetapi, jika di KTP masih ada labelnya, ya tidak masalah juga. KTPnya tetap saja benda mati dan tidak bisa berfikir, kita lah yang hidup (kesadaran).
Jadi, terima saja fakta, bahwa kita memang sedang hidup di tengah-tengah manusia dengan berbagai kompleksitasnya. Tentu saja akan berbeda ketika kita berani memilih untuk tinggal di hutan dan bergaul dengan berbagai macam spesies tanpa label itu.
Ya begitulah, semua label ini, apapun itu sebutannya, hanyalah konsep konyol yang pernah manusia ciptakan sendiri di Planet ini. Tentu saja kita tidak bisa serta-merta mengubah kekonyolan ini seketika menurut kehendak kita sendiri. Sebab yang dimaksud dengan kesadaran universal, adalah kesadaran kolektif manusia sebagai satu ras dalam satu planet yang membutuhkan proses.
Cukup sadar saja (setiap-saat), bahwa kita memang sedang berada dalam proses evolusi kesadaran yang luar biasa ini. Tentu saja hal ini selalu berangkat dari pemahamannya masing-masing yang otentik. Tertib dan tidak perlu saling memaksa.
Seringkali kita lebih suka berdebat demi mempertahankan kehebatan ego kita yang sebenarnya telah dicemari dengan berbagai konsep (label) yang kita ciptakan sendiri di kepala, sampai-sampai kita lupa bahwa kita ini sama-sama manusia yang bernafas dengan cara yang sama.
_/\_
Karimawatn, 26-10-2016

Tidak ada komentar