Wahai Jakarta, Ada Indonesia Di Matamu
Entah bagaimana menjelaskan rumus alamnya. Yang jelas Angka 2 itu telah muncul lagi di langit Jakarta, satu-satunya tempat di Indonesia yang tidak pernah putus dari pemberitaan media. Mulai dari media abal-abal sampai media ibil-ibil, ubul-ubul, ebel-ebel, dan obol-obol, tidak pernah berhenti berebut menyusun kata-kata soal Jakarta.
Kemunculan angka 2 yang ajaib ini kemudian disambut dengan beragam cara. Ada yang mulai melakukan gothak-gathik-gathuk, trawang-trawangan, menghubungkankannya dengan togel, berkampanye tanpa dibayar, menyebarkan meme, sosialisasi pencoblosan, bahkan tak sungkan lagi untuk saling memberi salam dengan gaya 2 jari. Oya, banyak juga pengguna sosial media yang sudah ganti profile, "I Stand On The Right Side". Dan apa boleh buat, karena orderan mulai menanjak, angka 2 pada akhirnya memaksa baju dengan desain kotak-kotak itu mulai diproduksi lagi.
Namun, bagi sebagian kelompok lain kemunculan Angka 2 tersebut tetap saja tidak ada pengaruhnya sama sekali. Kalau pun bukan angka 2 yang muncul, hal itu sama sekali tidak menyurutkan niat mereka untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang sopan, ramah, berwibawa, tidak menggusur, berakhlak mulia, tidak suka marah-marah, kalau bicara selalu terukur, dan tentunya harus homogen dengan label syariah. Jika mereka mampu menguasai Jakarta dengan melemparkan angka 2 ke neraka dengan cara politis, maka usaha untuk mendistribusikan pengaruh ke seantero negeri menjadi lebih terbuka. Setidaknya itulah yang ada dipikiran mereka saat ini. Jadi, masa bodo dengan isyarat alam yang memunculkan angka 2, karena akan dianggap musryik. Bahkan sudah banyak tersebar meme yang memelintir dalil bahwa angka 2 (genap) itu haram. Ter..laa..luu..!
Itu sebabnya, sampai hari ini Jakarta selalu saja rame. Sebagai tontonan dan tuntunan, kadang-kadang visualisasi tentang Jakarta tampak begitu seru. Namun tak jarang juga sangat lucu dan membuat malu. Setiap hari, seantero negeri selalu disuguhi dengan berita tentang bekas markas VOC ini. Beritanya tentu saja beragam. Mulai dari artis cere ato (nambah) kawin lagi, kehebatan artis yang baru bisa masak telor, serial kopi beracun, videotron porno, paduan suara kofar-kafir, Indonesia Lawak Club, lomba baca puisi karya Si Zonk, anggota parlemen yang galau, politisi yang mau gantung diri ndak jadi, yang mau terjun dari monas ndak jadi, yang mau potong kuping ndak jadi, artis yang mau potong titit ndak jadi, kisruh anak dengan bapak yang mau tes DNA ndak jadi, serial Al Maidah yang belum kelar, pro-kontra relokasi warga ke rumah susun, ikan nila yang mulai beranak-pinak di kali Ciliwung, soal kemacetan yang bikin lecet, demo pasukan surga, tumpeng yang di tolak di Balai Kota, sampai ibu-ibu yang meneteskan airmata minta foto bareng petahana, dlsb, semuanya ada dan terjadi di Jakarta. Jekardaaahh emang gudangnya berita.
Bagi sebagian orang di negeri ini, Jakarta itu adalah kota yang sangat besar. Dan tentu saja banyak cerita dibalik kebesarannya. Namun, sebenarnya tidak terlalu besar juga. Jakarta itu kecil. Paling ukurannya 4 Inch. Yang gede dikit, paling 14 Inch. Ya, mentok-mentoknya 24 Inch. Dari ukuran segitu aja, semua suku bangsa dari berbagai belahan nusantara sampai manca negara udah bisa ngintip dan tahu banyak tentang apa yang sedang terjadi di kampungnya Si Pitung ini. Jakarta dengan berbagai kompleksitas dan remeh-temehnya emang ngga ada matinya. Dan tidak ada satu daerah pun di negeri ini yang pemberitaannya akan menyaingi Jakarta sampai beberapa tahun yang akan datang. Tapi tidak apa-apa, karena semua penghuni negeri memang sedang dipertontonkan sebuah model perubahan yang dinamis melalui apa saja yang terjadi di Ibu Kota Negara ini. Anggap saja sambil menyelam minum kopi.
Oya, hampir lupa. Ahok sang petahana sudah mulai cuti. Namun bukan berarti Jakarta akan nyepi dari pemberitaan. Jakarta tetap ramai. Bahkan tetap akan heboh untuk 3 bulan mendatang. Bukan tidak mungkin, rumah ondel-ondel ini akan terus ramai dengan pemberitaan tentang Ahok. Selama ini Ahok memang tidak pernah libur dari kejar-kejaran media. Jutaan pasang mata dari 8 penjuru mata angin selalu setia melototin Jakarta, dan sudah kenal dengan Ahok, sang Gubernur.
Banyak yang berkata, bahwa selama ini Jakarta itu rame gara-gara ada Ahok. Apa iya cuma karena Ahok? Ndak juga lah. Ahok sebenarnya sendirian saja dan mulutnya masih satu. Tapi yang bikin rame itu kan masyarakat Jakarta juga. Selain itu Jakarta adalah gudangnya berbagai media besar dan juga merupakan salah satu kota dengan jumlah pengguna media sosial terbesar di dunia. Jadi wajar saja, soal update pemberitaan tentang sepak terjang sang Gubernur bisa ditonton secara realtime dan tidak akan putus-putus. Ditambah lagi dengan penonton di luar kandang yang begitu antusias menyaksikan dinamika yang terjadi di Balai Kota. Jadi tambah ramai dan seru.
Bagaimana pun juga, Ahok yang kontroversial itu telah menjadi media darling. Para pemburu berita bisa pusing kalo ndak nulis tentang Ahok dalam sehari. Seingat saya, awal-awal Ahok hijrah ke Jakarta bersama Jokowi beberapa tahun lalu, ia pernah berujar di TV, "Jika ingin mengubah Indonesia, maka mulailah dari Jakarta". Pertanyaannya, apa yang berubah sekarang?.
Namun sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin bercerita sedikit. Dulu, waktu euforia tentang Ahok mulai terbit, banyak bermunculan berbagai fanpage dan group di Facebook yang intinya memberi dukungan kepada Ahok. Dan saya sendiri sempat di cemplungin ke salah satu grup Ahok. Awalnya saya ikuti aja. Saya tidak pernah sekalipun berkomentar atau pasang TS di grup itu. Hanya nonton saja. Dengan berjalannya waktu, saya putuskan untuk leave grup. Karena saya pikir tanpa jadi member grup itu pun, berita tentang Ahok udah bersliweran tanpa pernah berhenti melalui timeline.
Belakangan ini saya perhatikan dari setiap TS yang di share dari grup Ahok, tidak semuanya pro Ahok juga. Bahkan yang dulunya cinta Ahok, sekarang malah berubah jadi ilfil. Tentulah alesannya macam-macam. Ada yang ndak suka mulut kotor Ahok, ndak suka dengan cara gusur-menggusurnya yang dianggap melanggar batas-batas kemanusiaan, ndak suka karena akhirnya Ahok maju pakai jalur partai, dan lain-lain. Terlalu banyak kalau harus di tulis satu-satu. Yang paling diributkan akhir-akhir ini, apalagi kalo bukan soal itu tuh, Ahok yang dianggap menistakan Buku Suci?.
Jadi balik lagi, ternyata perubahan itu bentuknya bisa apa aja. Ndak perlu dulu bicara soal pembangunan sana-sini yang sudah diwujudkan Ahok. Soal taman-taman, tempat bermain, rusun warga, sungai bersih, pasukan warna-warni, dan sebagainya itu adalah biasa saja. Biasa maksudnya, ya emang seharusnya begitu karena memang dulunya tidak ada yang begitu.Yang penting faktanya, bahwa sudah ada yang berbuat begitu. Soal perubahan fisik ini, biar warga Jakarta saja yang menilai karena memang mereka sendiri yang merasakan dampaknya secara langsung. Yang jelas, fansnya Ahok itu ternyata dinamis dan berubah juga. Yang dulu cuintha, eh..sekarang bisa juga jadi bhenchui. Ahok emang selalu ngeselin.
Sejauh ini Ahok dan Jakarta itu memang nempel, satu paket. Sulit dipisahkan, kecuali ada yang bisa ngalahin dia sebagai petahana. Apa yang dikerjakan Ahok di Pusat Negara sampai hari ini, bisa dikatakan telah menjadi role model bagi daerah-daerah lain untuk berbenah. Tentu saja dengan karakteristik daerah masing-masing. Contoh sederhana; tidak semua pendopo gubernuran di seluruh Indonesia suasananya seperti di Balai Kota, Jakarta. Entahlah, berapa banyak Gubernur di daerah yang sudi mendengar keluhan langsung dari warga secara face to face sebelum masuk kantor, yang kemudian sang gubernur langsung memberikan solusi pada setiap permasalahan yang dikeluhkan warga tersebut?. Belum tahu juga, apakah seluruh Gubernur di daerah punya akun Youtube atau tidak seperti Ahok, dimana setiap rapat tentang ini-itu selalu direkam dan bisa ditonton oleh para umat?. Mungkin untuk level seorang pemimpin ini hal yang sepele, tapi toh tidak banyak pemimpin di negeri ini yang bisa melakukan hal serupa.
Ahok itu sudah sangat terkenal. Ia dicintai sekaligus dibenci banyak orang. Jakarta yang dipimpin Ahok selama ini telah menjadi pusat perhatian, bukan hanya di dalam negeri tetapi juga di seluruh dunia. Ahok telah menjadikan Jakarta sebagai laboratorium besar indonesia dimana paradigma tentang kepemimpinan (politis) sedang diubah dan berubah. Kesadaran masyarakat tentang sosok pemimpin sedang ditakar, diuji, dan dibangkitkan kembali agar senantiasa berada pada track yang secara substansial mampu mengarahkan Indonesia ke arah yang lebih baik. Jadi saya pikir, inilah yang dimaksudkan Ahok, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia ini harus mulai berbenah. Dan usaha untuk hal itu setidaknya telah ia buktikan di Jakarta.
Catatan ini bukanlah suatu pujian untuk Ahok. Bukan pula ingin mengatakan bahwa Ahok itu Dewa. Namun secara intuitif, itulah yang tampak dari luar Jakarta. Sebab, baru kali ini kita melihat, satu-satunya gubernur di Indonesia yang bisa membuat masyarakat di luar Jakarta di berbagai daerah bisa lupa akan gubernurnya sendiri. Atau paling tidak, mereka lebih sering bicara soal Ahok ketimbang gubernurnya sendiri. Ya, termasuk saya. Mengapa demikian? Pertama, karena Ahok ada di Jakarta. Kedua, sebagaimana yang kita tahu, bahwa apa yang dipancarkan dari Jakarta akan menyebar ke seluruh daerah dengan sangat cepat. Walaupun tidak secara harafiah, tapi Ahok telah menguasai media. Masih ingat kan kemarin, ada yang protes dengan menuduh Ahok ada main dengan Google? Nah itu! Apalagi setiap kepala saat ini telah terhubung satu sama lain melalui jaringan gaib secara online.
Jadi, katakanlah Ahok diberi kepercayaan memimpin daerah lain, pun akan seperti itu gayanya. Saya kadang menghayal, bagaimana jika Ahok memimpin di daerah kami atau di daerah lain yang posisinya jauh dari pusat negara?. Ya, sepertinya sih dia akan tetap diuber-uber awak media, tetap kontroversial dan akan tetap di pantau masyarakat. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Ahok adalah tipe pemimpin yang otentik dan tidak bisa di contek seperti halnya Jokowi. Hanya satu hal yang bisa menghancurkan Ahok, yaitu "Dirinya Sendiri". Akan tetapi sejauh ini, sepertinya dia masih on the track. Anda tentu tidak perlu sepakat dengan saya soal ini.
Selain itu, keberadaan Ahok di Jakarta selama ini telah menciptakan efek yang luar biasa. Pelabelan Cina, Kafir, Kristen yang melekat pada Ahok telah menjadi sumber kasak-kusuk di dalam masyarakat. Masyarakat tidak lagi terbatas bicara soal teknis manajerial yang bisa dilakukan oleh seorang pemimpin, melainkan juga telah menyentuh ke berbagai aspek yang selama ini tidak pernah terangkat ke permukaan. Keberadaan Ahok mau tidak mau, suka tidak suka, telah menjadi pemicu kewarasan berfikir tentang bagaimana seharusnya memilih seeorang pemimpin.
Kehadiran Ahok di Jakarta, baik itu secara langsung maupun tidak pada akhirnya telah menyebabkan berbagai isu yang berkenaan dengan wilayah privat itu meledak juga. Tampak sangat jelas, radikalisme, rasisme, fanatisme, dan primordialisme sempit telah berhadap-hadapan secara langsung dengan kesadaran akan pentingnya menjaga keutuhan di dalam keberagaman. Hal ini bukan sesuatu yang naif, melainkan keniscayaan yang tak bisa lagi ditutup-tutupi. Tentu saja, kita tidak mengharapkan gesekan fisik harus terjadi di masa pilkada ini.
Setiap dinamika yang terjadi di Jakarta akhir-akhir ini adalah kutukan sekaligus peluang bagi terbukanya kran kesadaran secara nasional tentang bagaimana memandang setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara dari kacamata politik, hukum, sosial, dan budaya yang sesuai dengan tuntutan jaman. Jakarta sebagai pusat dari segala pusat di negeri ini adalah simbolisasi titik tengah, bahwa nafsu kekuasaaan dibawah pusat sedang mulai merongrong kedaulatan konstitusi dan dikobarkan dengan berbagai cara dengan menjadikan titik lemah SARA sebagai pintu masuk. Mau tidak mau, hal ini harus lawan dengan kewarasan cara pandang yang letaknya berada diatas pusat, yaitu di kepala.
Bagaimanapun juga, berbagai dinamika yang terjadi di Ibu Kota Negara akan tetap berpengaruh bagi negeri ini. Sekarang saatnya, walaupun penghuni kota ini tidak 100 % ber-KTP asli, akan tetapi seluruh warga Jakarta yang memiliki hak politik hendaknya betul-betul "sadar" dalam menentukan kembali masa depan Ibu Kota negara ini untuk 5 tahun yang akan datang. Hal ini bukan sekedar soal pembangunan fisik Jakarta, melainkan juga menentukan kematangan mental bagi seluruh warga negara. Suara Anda sebagai warga Jakarta, bukan sekedar harapan pembaharuan bagi kondisi Ibu Kota, akan tetapi akan menjadi cerminan seberapa cerdas Indonesia saat ini di mata dunia dalam menerapkan demokrasi yang berkarakter kebhinekaan.
Semua sudah faham, bahwa Pilkada Jakarta adalah pilkada yang paling fenomenal jika dibandingkan dengan daerah lain. Dan tentu saja, masih banyak yang tidak puas terhadap kinerja Ahok dan kawan-kawan di dalam pemerintahan. Tentu saja, kebencian terhadap Ahok masih bergolak mulai dari akar rumput sampai tingkat elit. Tentu saja, ada yang galau dan bingung mau pilih siapa sebab alternatif selain angka 2 ternyata tak sesuai selera, padahal dulu sangat mengidolakan Ahok. Dan tentu saja, cerita tentang Jakarta tidak hanya sampai disini.
Jadi sehebat apapun komentar kami di daerah, tidak akan berdampak langsung buat Jakarta. Catatan ini, ditulis dari jarak ribuan mil, menyebrangi lautan dan sangat jauh dari Jakarta. Yang kami tahu, bahwa televisi kami, sosial media kami, isinya selalu tentang Jakarta, Ahok dan pilkada DKI. Kami tetaplah penonton yang hanya bisa berkomentar melalui tulisan. Kami tidak punya hak politik untuk berpartisipasi dalam pilkada kalian. Jangan sampai kami melihat warga Jakarta tawuran seperti anak-anak sekolah gara-gara pilkada.
Ingatlah, kodenya sudah jelas, tinggal orang Jakarta saja yang menentukan. Apapun yang terjadi pada angka 1, 2, dan 3 nanti adalah cerminan dari level berdemokrasi warga Jakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya. Sebab bagaimanapun juga Jakarta adalah Indonesia mini. Tempat berkumpulnya berbagai suku bangsa dari seluruh penjuru negeri, baik itu yang hanya numpang tidur maupun yang cari makan dengan cara sekuler maupun barokah. Setelah ini, segala sesuatu bisa saja terjadi di Ibu Kota negara. Bisa berupa kemajuan atau mungkin kemunduran demokrasi, dua-duanya masih memiliki peluang yang sama.
Kalau boleh percaya ramalan tentang siapa yang bakal menang di pilkada DKI kali, maka satu-satunya ramalan yang bisa saya percaya adalah ramalan Cak Lontong, bahwa pemenang pilkada DKI kali ini inisialnya adalah "A". Dah, itu aja. Oya, mengenai pilkada di daerah kami, ndak usah dipikir. Yang jelas tidak seheboh dan sekeren Jakarta. Yang penting damai.
Salam 28 Oktober
Karimawatn, 28-10-2016
Kemunculan angka 2 yang ajaib ini kemudian disambut dengan beragam cara. Ada yang mulai melakukan gothak-gathik-gathuk, trawang-trawangan, menghubungkankannya dengan togel, berkampanye tanpa dibayar, menyebarkan meme, sosialisasi pencoblosan, bahkan tak sungkan lagi untuk saling memberi salam dengan gaya 2 jari. Oya, banyak juga pengguna sosial media yang sudah ganti profile, "I Stand On The Right Side". Dan apa boleh buat, karena orderan mulai menanjak, angka 2 pada akhirnya memaksa baju dengan desain kotak-kotak itu mulai diproduksi lagi.
Namun, bagi sebagian kelompok lain kemunculan Angka 2 tersebut tetap saja tidak ada pengaruhnya sama sekali. Kalau pun bukan angka 2 yang muncul, hal itu sama sekali tidak menyurutkan niat mereka untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang sopan, ramah, berwibawa, tidak menggusur, berakhlak mulia, tidak suka marah-marah, kalau bicara selalu terukur, dan tentunya harus homogen dengan label syariah. Jika mereka mampu menguasai Jakarta dengan melemparkan angka 2 ke neraka dengan cara politis, maka usaha untuk mendistribusikan pengaruh ke seantero negeri menjadi lebih terbuka. Setidaknya itulah yang ada dipikiran mereka saat ini. Jadi, masa bodo dengan isyarat alam yang memunculkan angka 2, karena akan dianggap musryik. Bahkan sudah banyak tersebar meme yang memelintir dalil bahwa angka 2 (genap) itu haram. Ter..laa..luu..!
Itu sebabnya, sampai hari ini Jakarta selalu saja rame. Sebagai tontonan dan tuntunan, kadang-kadang visualisasi tentang Jakarta tampak begitu seru. Namun tak jarang juga sangat lucu dan membuat malu. Setiap hari, seantero negeri selalu disuguhi dengan berita tentang bekas markas VOC ini. Beritanya tentu saja beragam. Mulai dari artis cere ato (nambah) kawin lagi, kehebatan artis yang baru bisa masak telor, serial kopi beracun, videotron porno, paduan suara kofar-kafir, Indonesia Lawak Club, lomba baca puisi karya Si Zonk, anggota parlemen yang galau, politisi yang mau gantung diri ndak jadi, yang mau terjun dari monas ndak jadi, yang mau potong kuping ndak jadi, artis yang mau potong titit ndak jadi, kisruh anak dengan bapak yang mau tes DNA ndak jadi, serial Al Maidah yang belum kelar, pro-kontra relokasi warga ke rumah susun, ikan nila yang mulai beranak-pinak di kali Ciliwung, soal kemacetan yang bikin lecet, demo pasukan surga, tumpeng yang di tolak di Balai Kota, sampai ibu-ibu yang meneteskan airmata minta foto bareng petahana, dlsb, semuanya ada dan terjadi di Jakarta. Jekardaaahh emang gudangnya berita.
Bagi sebagian orang di negeri ini, Jakarta itu adalah kota yang sangat besar. Dan tentu saja banyak cerita dibalik kebesarannya. Namun, sebenarnya tidak terlalu besar juga. Jakarta itu kecil. Paling ukurannya 4 Inch. Yang gede dikit, paling 14 Inch. Ya, mentok-mentoknya 24 Inch. Dari ukuran segitu aja, semua suku bangsa dari berbagai belahan nusantara sampai manca negara udah bisa ngintip dan tahu banyak tentang apa yang sedang terjadi di kampungnya Si Pitung ini. Jakarta dengan berbagai kompleksitas dan remeh-temehnya emang ngga ada matinya. Dan tidak ada satu daerah pun di negeri ini yang pemberitaannya akan menyaingi Jakarta sampai beberapa tahun yang akan datang. Tapi tidak apa-apa, karena semua penghuni negeri memang sedang dipertontonkan sebuah model perubahan yang dinamis melalui apa saja yang terjadi di Ibu Kota Negara ini. Anggap saja sambil menyelam minum kopi.
Oya, hampir lupa. Ahok sang petahana sudah mulai cuti. Namun bukan berarti Jakarta akan nyepi dari pemberitaan. Jakarta tetap ramai. Bahkan tetap akan heboh untuk 3 bulan mendatang. Bukan tidak mungkin, rumah ondel-ondel ini akan terus ramai dengan pemberitaan tentang Ahok. Selama ini Ahok memang tidak pernah libur dari kejar-kejaran media. Jutaan pasang mata dari 8 penjuru mata angin selalu setia melototin Jakarta, dan sudah kenal dengan Ahok, sang Gubernur.
Banyak yang berkata, bahwa selama ini Jakarta itu rame gara-gara ada Ahok. Apa iya cuma karena Ahok? Ndak juga lah. Ahok sebenarnya sendirian saja dan mulutnya masih satu. Tapi yang bikin rame itu kan masyarakat Jakarta juga. Selain itu Jakarta adalah gudangnya berbagai media besar dan juga merupakan salah satu kota dengan jumlah pengguna media sosial terbesar di dunia. Jadi wajar saja, soal update pemberitaan tentang sepak terjang sang Gubernur bisa ditonton secara realtime dan tidak akan putus-putus. Ditambah lagi dengan penonton di luar kandang yang begitu antusias menyaksikan dinamika yang terjadi di Balai Kota. Jadi tambah ramai dan seru.
Bagaimana pun juga, Ahok yang kontroversial itu telah menjadi media darling. Para pemburu berita bisa pusing kalo ndak nulis tentang Ahok dalam sehari. Seingat saya, awal-awal Ahok hijrah ke Jakarta bersama Jokowi beberapa tahun lalu, ia pernah berujar di TV, "Jika ingin mengubah Indonesia, maka mulailah dari Jakarta". Pertanyaannya, apa yang berubah sekarang?.
Namun sebelum menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin bercerita sedikit. Dulu, waktu euforia tentang Ahok mulai terbit, banyak bermunculan berbagai fanpage dan group di Facebook yang intinya memberi dukungan kepada Ahok. Dan saya sendiri sempat di cemplungin ke salah satu grup Ahok. Awalnya saya ikuti aja. Saya tidak pernah sekalipun berkomentar atau pasang TS di grup itu. Hanya nonton saja. Dengan berjalannya waktu, saya putuskan untuk leave grup. Karena saya pikir tanpa jadi member grup itu pun, berita tentang Ahok udah bersliweran tanpa pernah berhenti melalui timeline.
Belakangan ini saya perhatikan dari setiap TS yang di share dari grup Ahok, tidak semuanya pro Ahok juga. Bahkan yang dulunya cinta Ahok, sekarang malah berubah jadi ilfil. Tentulah alesannya macam-macam. Ada yang ndak suka mulut kotor Ahok, ndak suka dengan cara gusur-menggusurnya yang dianggap melanggar batas-batas kemanusiaan, ndak suka karena akhirnya Ahok maju pakai jalur partai, dan lain-lain. Terlalu banyak kalau harus di tulis satu-satu. Yang paling diributkan akhir-akhir ini, apalagi kalo bukan soal itu tuh, Ahok yang dianggap menistakan Buku Suci?.
Jadi balik lagi, ternyata perubahan itu bentuknya bisa apa aja. Ndak perlu dulu bicara soal pembangunan sana-sini yang sudah diwujudkan Ahok. Soal taman-taman, tempat bermain, rusun warga, sungai bersih, pasukan warna-warni, dan sebagainya itu adalah biasa saja. Biasa maksudnya, ya emang seharusnya begitu karena memang dulunya tidak ada yang begitu.Yang penting faktanya, bahwa sudah ada yang berbuat begitu. Soal perubahan fisik ini, biar warga Jakarta saja yang menilai karena memang mereka sendiri yang merasakan dampaknya secara langsung. Yang jelas, fansnya Ahok itu ternyata dinamis dan berubah juga. Yang dulu cuintha, eh..sekarang bisa juga jadi bhenchui. Ahok emang selalu ngeselin.
Sejauh ini Ahok dan Jakarta itu memang nempel, satu paket. Sulit dipisahkan, kecuali ada yang bisa ngalahin dia sebagai petahana. Apa yang dikerjakan Ahok di Pusat Negara sampai hari ini, bisa dikatakan telah menjadi role model bagi daerah-daerah lain untuk berbenah. Tentu saja dengan karakteristik daerah masing-masing. Contoh sederhana; tidak semua pendopo gubernuran di seluruh Indonesia suasananya seperti di Balai Kota, Jakarta. Entahlah, berapa banyak Gubernur di daerah yang sudi mendengar keluhan langsung dari warga secara face to face sebelum masuk kantor, yang kemudian sang gubernur langsung memberikan solusi pada setiap permasalahan yang dikeluhkan warga tersebut?. Belum tahu juga, apakah seluruh Gubernur di daerah punya akun Youtube atau tidak seperti Ahok, dimana setiap rapat tentang ini-itu selalu direkam dan bisa ditonton oleh para umat?. Mungkin untuk level seorang pemimpin ini hal yang sepele, tapi toh tidak banyak pemimpin di negeri ini yang bisa melakukan hal serupa.
Ahok itu sudah sangat terkenal. Ia dicintai sekaligus dibenci banyak orang. Jakarta yang dipimpin Ahok selama ini telah menjadi pusat perhatian, bukan hanya di dalam negeri tetapi juga di seluruh dunia. Ahok telah menjadikan Jakarta sebagai laboratorium besar indonesia dimana paradigma tentang kepemimpinan (politis) sedang diubah dan berubah. Kesadaran masyarakat tentang sosok pemimpin sedang ditakar, diuji, dan dibangkitkan kembali agar senantiasa berada pada track yang secara substansial mampu mengarahkan Indonesia ke arah yang lebih baik. Jadi saya pikir, inilah yang dimaksudkan Ahok, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia ini harus mulai berbenah. Dan usaha untuk hal itu setidaknya telah ia buktikan di Jakarta.
Catatan ini bukanlah suatu pujian untuk Ahok. Bukan pula ingin mengatakan bahwa Ahok itu Dewa. Namun secara intuitif, itulah yang tampak dari luar Jakarta. Sebab, baru kali ini kita melihat, satu-satunya gubernur di Indonesia yang bisa membuat masyarakat di luar Jakarta di berbagai daerah bisa lupa akan gubernurnya sendiri. Atau paling tidak, mereka lebih sering bicara soal Ahok ketimbang gubernurnya sendiri. Ya, termasuk saya. Mengapa demikian? Pertama, karena Ahok ada di Jakarta. Kedua, sebagaimana yang kita tahu, bahwa apa yang dipancarkan dari Jakarta akan menyebar ke seluruh daerah dengan sangat cepat. Walaupun tidak secara harafiah, tapi Ahok telah menguasai media. Masih ingat kan kemarin, ada yang protes dengan menuduh Ahok ada main dengan Google? Nah itu! Apalagi setiap kepala saat ini telah terhubung satu sama lain melalui jaringan gaib secara online.
Jadi, katakanlah Ahok diberi kepercayaan memimpin daerah lain, pun akan seperti itu gayanya. Saya kadang menghayal, bagaimana jika Ahok memimpin di daerah kami atau di daerah lain yang posisinya jauh dari pusat negara?. Ya, sepertinya sih dia akan tetap diuber-uber awak media, tetap kontroversial dan akan tetap di pantau masyarakat. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Ahok adalah tipe pemimpin yang otentik dan tidak bisa di contek seperti halnya Jokowi. Hanya satu hal yang bisa menghancurkan Ahok, yaitu "Dirinya Sendiri". Akan tetapi sejauh ini, sepertinya dia masih on the track. Anda tentu tidak perlu sepakat dengan saya soal ini.
Selain itu, keberadaan Ahok di Jakarta selama ini telah menciptakan efek yang luar biasa. Pelabelan Cina, Kafir, Kristen yang melekat pada Ahok telah menjadi sumber kasak-kusuk di dalam masyarakat. Masyarakat tidak lagi terbatas bicara soal teknis manajerial yang bisa dilakukan oleh seorang pemimpin, melainkan juga telah menyentuh ke berbagai aspek yang selama ini tidak pernah terangkat ke permukaan. Keberadaan Ahok mau tidak mau, suka tidak suka, telah menjadi pemicu kewarasan berfikir tentang bagaimana seharusnya memilih seeorang pemimpin.
Kehadiran Ahok di Jakarta, baik itu secara langsung maupun tidak pada akhirnya telah menyebabkan berbagai isu yang berkenaan dengan wilayah privat itu meledak juga. Tampak sangat jelas, radikalisme, rasisme, fanatisme, dan primordialisme sempit telah berhadap-hadapan secara langsung dengan kesadaran akan pentingnya menjaga keutuhan di dalam keberagaman. Hal ini bukan sesuatu yang naif, melainkan keniscayaan yang tak bisa lagi ditutup-tutupi. Tentu saja, kita tidak mengharapkan gesekan fisik harus terjadi di masa pilkada ini.
Setiap dinamika yang terjadi di Jakarta akhir-akhir ini adalah kutukan sekaligus peluang bagi terbukanya kran kesadaran secara nasional tentang bagaimana memandang setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegara dari kacamata politik, hukum, sosial, dan budaya yang sesuai dengan tuntutan jaman. Jakarta sebagai pusat dari segala pusat di negeri ini adalah simbolisasi titik tengah, bahwa nafsu kekuasaaan dibawah pusat sedang mulai merongrong kedaulatan konstitusi dan dikobarkan dengan berbagai cara dengan menjadikan titik lemah SARA sebagai pintu masuk. Mau tidak mau, hal ini harus lawan dengan kewarasan cara pandang yang letaknya berada diatas pusat, yaitu di kepala.
Bagaimanapun juga, berbagai dinamika yang terjadi di Ibu Kota Negara akan tetap berpengaruh bagi negeri ini. Sekarang saatnya, walaupun penghuni kota ini tidak 100 % ber-KTP asli, akan tetapi seluruh warga Jakarta yang memiliki hak politik hendaknya betul-betul "sadar" dalam menentukan kembali masa depan Ibu Kota negara ini untuk 5 tahun yang akan datang. Hal ini bukan sekedar soal pembangunan fisik Jakarta, melainkan juga menentukan kematangan mental bagi seluruh warga negara. Suara Anda sebagai warga Jakarta, bukan sekedar harapan pembaharuan bagi kondisi Ibu Kota, akan tetapi akan menjadi cerminan seberapa cerdas Indonesia saat ini di mata dunia dalam menerapkan demokrasi yang berkarakter kebhinekaan.
Semua sudah faham, bahwa Pilkada Jakarta adalah pilkada yang paling fenomenal jika dibandingkan dengan daerah lain. Dan tentu saja, masih banyak yang tidak puas terhadap kinerja Ahok dan kawan-kawan di dalam pemerintahan. Tentu saja, kebencian terhadap Ahok masih bergolak mulai dari akar rumput sampai tingkat elit. Tentu saja, ada yang galau dan bingung mau pilih siapa sebab alternatif selain angka 2 ternyata tak sesuai selera, padahal dulu sangat mengidolakan Ahok. Dan tentu saja, cerita tentang Jakarta tidak hanya sampai disini.
Jadi sehebat apapun komentar kami di daerah, tidak akan berdampak langsung buat Jakarta. Catatan ini, ditulis dari jarak ribuan mil, menyebrangi lautan dan sangat jauh dari Jakarta. Yang kami tahu, bahwa televisi kami, sosial media kami, isinya selalu tentang Jakarta, Ahok dan pilkada DKI. Kami tetaplah penonton yang hanya bisa berkomentar melalui tulisan. Kami tidak punya hak politik untuk berpartisipasi dalam pilkada kalian. Jangan sampai kami melihat warga Jakarta tawuran seperti anak-anak sekolah gara-gara pilkada.
Ingatlah, kodenya sudah jelas, tinggal orang Jakarta saja yang menentukan. Apapun yang terjadi pada angka 1, 2, dan 3 nanti adalah cerminan dari level berdemokrasi warga Jakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya. Sebab bagaimanapun juga Jakarta adalah Indonesia mini. Tempat berkumpulnya berbagai suku bangsa dari seluruh penjuru negeri, baik itu yang hanya numpang tidur maupun yang cari makan dengan cara sekuler maupun barokah. Setelah ini, segala sesuatu bisa saja terjadi di Ibu Kota negara. Bisa berupa kemajuan atau mungkin kemunduran demokrasi, dua-duanya masih memiliki peluang yang sama.
Kalau boleh percaya ramalan tentang siapa yang bakal menang di pilkada DKI kali, maka satu-satunya ramalan yang bisa saya percaya adalah ramalan Cak Lontong, bahwa pemenang pilkada DKI kali ini inisialnya adalah "A". Dah, itu aja. Oya, mengenai pilkada di daerah kami, ndak usah dipikir. Yang jelas tidak seheboh dan sekeren Jakarta. Yang penting damai.
Salam 28 Oktober
Karimawatn, 28-10-2016
#PilkadaDKI

Tidak ada komentar