Header Ads

ads

Ketika "Otak Raksasa" Sedang Bicara

 
Begitu banyak kegiatan telah diselenggarakan dengan mengusung tema toleransi antar keyakinan dan umat beragama, namun ternyata hal itu tidak pernah sepenuhnya berhasil melenyapkan sentimen negatif antar umat. Dan seperti yang kita lihat sendiri, bahwa di negeri yang konon sangat religius ini masih saja sering terjadi gesekan yang seringkali mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan semakin hari fenomena ini semakin parah saja. Saling mengejek, mencaci maki, bahkan mengancam sampai mau membunuh sudah dilakukan secara terang-terangan di berbagai ruang publik, tak terkecuali di berbagai media sosial.

Mungkin saja kampanye tentang toleransi itu tujuannya baik. Akan tetapi setiap dialog/diskusi yang digelar diberbagai kesempatan itu tidak akan pernah mencapai "titik temu" jika setiap orang yang terlibat didalamnya selalu berangkat dengan membawa ego yang fanatis. Fanatisme yang terpendam/dipendam dibawah sadar hanya menjadikan toleransi sebagai proses, yang tanpa disadari justru melestarikan sekat-sekat kemanusiaan itu sendiri. Walaupun dari luar tampak adem-ayem namun di dalamnya penuh kepura-puraan. Toleransi hanyalah sekedar usaha untuk mengembalikan SARA ke tempat tidurnya yang paling empuk, dan bukan menjadikan manusia kembali pada hakikatnya yang semestinya sadar penuh.

Sepertinya belum banyak yang tahu bahwa umat manusia di seluruh Bumi ini sedang memasuki era baru, yaitu era dimana manusia dalam satu Planet Biru ini telah menjadi "Huge Brain", bahwa Kamu, saya, dan mereka diseluruh dunia ini adalah "otak raksasa" yang saling berhubungan satu sama lain. Keterhubungan inilah yang kemudian melahirkan perubahan paradigma secara besar-besaran didalam banyak hal. Jika mulai saat ini kita tidak siap, minimal dengan berani terbuka sejak dari dalam pikiran, maka gelombang perubahan ini akan menenggelamkan kita sebagai pelaku peradaban kedalam palung kedunguan yang sangat curam dan sangat sulit untuk diselamatkan.

Kemajuan teknologi yang begitu cepat dan dinamis, khususnya internet, telah menjadi sarana bagi setiap "pikiran" untuk mengembara, berinteraksi, merespon dan saling mengisi satu dengan lainnya. Dan sebagai salah satu satu bentuk perkembangan budaya umat manusia, teknologi telah memudahkan manusia untuk mengakses sumber-sumber pengetahuan yang tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Apa yang dahulu kita tidak tahu, kini kita dapat mengetahuinya dengan mudah. Apa yang dulu begitu sulit diakses, sekarang dengan gampang bisa dibuka bahkan hanya melalui genggaman HP di tangan. Bahkan teknologi internet telah menembus wilayah "keimanan", sesuatu yang dulu mungkin tak pernah terpikirkan.

Lalu apa hubungannya dengan iman? Suatu ketika seorang teman pernah bertanya, "Apakah suatu saat agama sebagai panduan moral akan musnah dari muka Bumi ini?" Dibalik pertanyaan ini sebenarnya terekam begitu banyak kekhawatiran, kecemasan, ketakutan dan berbagai macam kegalauan akibat tidak siapnya batin berhadapan dengan realita yang sedang terjadi.

Bukankah, sebelumnya sudah begitu banyak agama yang tumbang dan ditumbangkan?. Siapakah yang menumbangkan? Siapa lagi kalau bukan manusia itu sendiri. Bukalah internet, dan bacalah. Jadi jangan dikira bahwa apapun agama dan kepercayaan yang dianut saat ini adalah satu-satunya yang terbaik, dan mampu menjamin dunia ini tidak lagi berada di dalam kekacauan.

Fakta bahwa animisme, dinamisme yang dianut para leluhur kita dulu itu juga adalah agama yang telah dimusnahkan oleh manusia itu sendiri. Baju lama disobek-sobek dan dibuang lalu diganti dengan baju baru. Dan didalam baju-baju itu ada iman sebagai sumber satu-satunya keyakinan akan suatu kebenaran. Bentuknya mungkin berbeda namun sebenarnya konsep yang dikembangkan sama saja, yaitu harus ada yang "merasuk" ke dalam bawah sadar manusia.

Ribuan tahun lalu politeisme tumbang oleh monoteisme. Baik poli maupun mono ini juga mengembangkan konsep yang sama, yaitu "iman". Yang penting kamu percaya tanpa perlu kritis atau protes. Namun selama kurang lebih 2000 tahun ini, penganut (mono)teis menganggap dirinya lebih unggul. Mereka terbuai bahwa jaman sebenarnya telah berganti dan selalu berubah. Padahal 2000 tahun hanyalah waktu yang sangat singkat jika dibanding dengan usia Bumi yang hampir 5 miliar tahun ini.

Melalui Bumi, sesungguhnya semesta ini telah berbaik hati, menyiapkan segalanya yang kita butuhkan untuk dapat hidup sampai hari ini. Semesta telah menyusun segala sesuatu sehingga Bumi ini dipenuhi dengan life support yang memungkinkan manusia layak untuk tinggal di dalamnya. Tentu saja ini berbeda dengan dongeng tentang penciptaan selama 7 hari 7 malam itu. Tidak perlu kaget untuk mengakui hal ini dengan rasionalitas yang jujur. Dengan mengakui hal ini saja, walaupun tanpa bicara sekalipun, itu berarti kita sudah membuka satu lapisan yang selama ini menjadi penyumbat dan membuat kita sulit untuk terbuka terhadap ilmu pegetahuan.

Namun, kita lebih sering dituntut untuk membela iman kepada Tu(h)an, yang sama sekali tak pernah "ngomong" untuk minta dibela. Padahal yang membuat semua aturan (dogmatis) itu adalah manusia sendiri. Melaui ritual-ritual, bahkan melalui broadcast message di BBM, WA, dsb, seringkali berhamburan kutipan-kutipan ayat dan nasehat-nasehat religi untuk "meng-entertaint" iman agar semakin teguh dalam kepercayaan yang sebenarnya justru lebih sering membutakan kecerdasan batin. Padahal, setiap pribadi secara otentik dapat memunculkan kesadaran dari dalam "Dirinya" sendiri tanpa bergantung pada otoritas manapun yang ada diluar diri. Tidak masalah walau KTP masih ada labelnya, toh itu adalah benda mati yang "hidup" di dalam dompet dan tidak ada kaitannya dengan kebebasan berkesadaran. Tahu ya maksudnya? :)

Jadi, apakah agama suatu saat akan musnah? Jawabannya justru diawali dengan pertanyaan baru, "Untuk apa khawatir? Kenapa harus galau?" Kita seharusnya sadar bahwa jaman akan mengubah segalanya karena pada dasarnya memang tidak ada yang kekal di semesta ini. Dan manusia itu sendiri adalah "jaman yang bergerak" dinamis dan selalu berubah. Jadi atas dasar iman, seseorang tidak bisa memaksakan anggapannya bahwa institusi agama pastilah abadi. Apa iya begitu? Serius? Haruskah kita bertemu kembali 1 milyar tahun yang akan datang untuk membuktikan hal ini? :)

Jadi, sebenarnya agama hanyalah apa yang manusia pikirkan tentang agama. Manusia bisa saja menciptakan agama baru. Hanya saja, sejauh mana agama baru ini kemudian mampu menterjemahkan nilai-nilai universal yang sesuai dan selaras dengan perubahan semesta?. Mampukah agama baru ini menyesuaikan diri dengan tuntutan jaman? Dapatkah dengan agama baru ini manusia tidak lagi hidup di dalam berbagai konflik? Atau, bisakah agama baru ini memberikan jaminan bahwa esensi nilai-nilai kemanusiaan itu tidak lagi dilanggar dikemudian hari?

Pertanyaan-pertanyaan diatas adalah refleksi, mengingat manusia itu, entah beragama atau tidak beragama, entah menganut ideologi tertentu atau tidak, tanpa sadar telah disibukkan dengan ritual-ritual hidupnya sendiri setiap hari. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, manusia begitu sibuk mengejar keinginan/impiannya sendiri (surga) dan menderita karena pikirannya sendiri (neraka). Inilah yang nyata, bahwa setiap ritual hidup itu selalu berhadapan dengan begitu banyak kontradiksi yang melahirkan berbagai konflik. Manusia, siapapun dia, hanya "bergulat" dengan "batinnya" sendiri dari waktu ke waktu. Hanya penjual bubur kacang ijo yang buka 24 jam, selain itu tak ada seorangpun yang memikirkan kehidupan religiusnya selama itu. Semoga mengerti maksudnya. :)

Jadi, manusia tak perlu menunggu apa yang akan berubah, 50, 100, 1000 bahkan 1 milyar tahun mendatang. Hari ini saja manusia telah berubah dan selalu berubah. Mau tidak mau, suka tidak suka, institusi yang namanya agama sebagai penjaga iman para umat harus berani membuka diri dan menerima realita bahwa telah terjadi lompatan paradigma yang luar biasa seantero Bumi ini. Bahkan di dalam negeri sendiri hal ini jugalah yang telah dan sedang terjadi. Perhatikanlah baik-baik fenomena ini.

Jika kita mau membuka mata, maka apapun yang terjadi akhir-akhir ini adalah bukti bahwa kesadaran manusia sedang mengalami penyelarasan yang sejalan kehendak semesta. Umat manusia sedang berhadapan dengan seleksi alam untuk menuju sebuah peradaban baru di muka Bumi ini. Melalui fenomena sosial, budaya, hukum dan politik, semesta bekerja didalam setiap pribadi. Kita diajak oleh suatu energi yang luar biasa ini untuk berfikir kembali dalam menyikapi realitas yang ada. Kita, terutama bangsa ini, tidak lagi harus terlena dalam romantisme religius seperti yang pernah kita dengar di pelajaran PMP dulu.

Memang, sepintas berbagai fenomena ini seperti gambar yang terputus-putus, namun jika kita sebentar saja mau menyempatkan diri untuk mengamati secara dalam, maka akan tampak bahwa kita sebenarnya sedang berada dalam gelombang perubahan yang luar biasa.

Jadi kesimpulannya, efek samping beragama atau tidak beragama adalah tenggelam dalam fanatisme. Fanatisme selalu melahirkan perdebatan, karena tidak ada hal lain yang dibela kecuali ego. Itu sebabnya, didalam setiap perdebatan yang didasari oleh ego fanatis tidak akan pernah melahirkan kebenaran apapun juga. Kebenaran hanya ada dan dapat ditemukan di dalam setiap "diri" yang benar-benar telah bertemu dengan esensi, namun tanpa harus "memaksakan" apa yang ia "sadari" itu kepada manusia lainnya. Ia seharusnya merupakan kesadaran yang "asli", berangkat dari dalam Diri dan bukan bergantung pada apapun yang berada diluar itu.

Selain itu, kita sudah tidak lagi hidup di jaman yang harus mengagungkan budaya kultus. Alih-alih menganggap suci orang beragama, atau guru spiritual sekalipun, atau bahkan menganggap manusia-manusia yang melabeli dirinya sebagai pagan, agnostik, atheis, dll, pastilah merupakan manusia-manusia tercerahkan dan jenius tiada tara, kita justru melupakan siapa diri kita sebenarnya tanpa pernah mau lagi menengok ke dalam. Kita lebih terpesona pada apapun yang berada diluar dan melupakan jiwa sendiri yang semakin rapuh mendiami raga ini. Selama ini kita terlalu mabuk dengan label-label yang kita ciptakan di dalam pikiran kita sendiri.

Rahayu

_/\_

Karimawatn, 08-01-2017

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.