Tidak Selamanya Dayak Itu "Ndayak"
![]() |
| Alat musik Sape, khas masyarakat Dayak (familly.blogspot.co.id) |
Dan pada akhirnya, banyak juga yang mengganggap apa yang terjadi di KalBar kemarin itu sebagai tindakan yang tidak elegan. Mungkin berusaha objektif, disatu sisi tidak setuju dengan sepak terjang kelompok radikal, namun disisi lain menilai penyambutan terhadap Wasekjen MUI Tengku Zulkarnaen di bandara Sintang kemarin itu sebagai suatu tindakan yang berlebihan dan bisa "menginspirasi" terjadinya aksi serupa diberbagai daerah atas dasar ketidaksukaan kepada seseorang.
Saya sepakat, bahwa siapapun berhak berkunjung keseluruh pelosok negeri ini tanpa harus dihadang-hadang. Dan tuan rumah boleh berkata, "Mari, datanglah dan masuklah ke rumah kami". Namun siapakah yang bisa mengatur pemilik rumah untuk menerima dan menolak seseorang yang datang ke rumahnya? Adalah hak tuan rumah untuk menutup pagar dan mengunci pintu rumahnya demi menjaga rasa aman bagi seluruh anggota keluarganya. Sebab pencuri bisa datang kapan saja dengan berdandan layaknya seorang tamu.
Jika tuan rumah tahu bahwa dilingkungan tempat tinggalnya (Indonesia) ada orang mabok ndak waras, suka mengejek, melecehkan, menghina, mengancam untuk mengusir bahkan membunuh saudaranya yang tak sepaham dengan dia, dan tindakannya itu dipertontonkan secara vulgar berkali-kali melalui berbagai media bahkan melalu ILC-nya Bang One, maka adalah hak tuan rumah untuk menolak secara tegas orang seperti itu agar tidak masuk dan menganggu ketentraman didalam rumahnya. Walaupun sudah ada "petugas ronda", namun setiap warga berhak menjaga keamanan rumah tempat tinggal mereka sendiri. Adakah dari kita ini yang membuka pintu rumahnya 24 jam x 7 hari agar orang lain bebas bertandang ke rumah kita? Ah, Rumah Ibadah saja tidak buka 24 jam x 7 hari, bukan?. Ada satpamnya lagi. Cek sendirilah.
Semua sudah pada tahu, negeri ini sangat besar. Kebhinekaan yang eksis didalam kehidupan bermasyarakat selama ini selain sebagai modal untuk bangkit menjadi bangsa yang benar-benar besar agar diperhitungkan didalam peradaban dunia, ia juga merupakan "titik lemah" yang kapan saja bisa dimanfaatkan oleh orang atau kelompok tertentu untuk tujuan tertentu pula dengan cara memporak-porandakan roh persaudaraan yang selama ini sudah terbangun.
Agaknya kita tidak perlu keluar dari substansi persoalan sosial-politik yang akhir-akhir ini mulai meluap ke permukaan. Apa yang terjadi, itulah yang sedang terjadi. Lihat fakta sebagai fakta, bahwa negara dan bangsa yang berbhineka ini memang sedang dipermainkan dengan seenaknya oleh mereka yang memang tidak senang dengan warna-warni kehidupan yang ada dan lebih cendrung memaksakan "keinginan" mereka sendiri. Mereka para radikalis ini adalah benalu yang jika dibiarkan suatu saat bisa membuat mati seluruh "Pohon Persatuan Indonesia".
Kalimantan, khususnya KalBar sudah melewati sejarah yang begitu panjang. Sudah banyak konflik terlalui dimana setiap peristiwa sejarah tersebut menjadi sebuah peringatan bersama untuk lebih mengedepankan sikap untuk saling menghormati dan introspeksi satu sama lain sebagai manusia. Bisa dimengerti bahwa mereka yang selama ini tidak faham hanya bisa melihat "kulitnya" saja. Namun satu hal, kehidupan masyarakat di Pulau ini sudah kondusif. Jangan lagi ada celah yang bisa disusupi oleh virus untuk menjalankan agenda terselubung dengan merongrong ketentraman bangsa ini.
Karimawatn, 13-01-2017
Saya sepakat, bahwa siapapun berhak berkunjung keseluruh pelosok negeri ini tanpa harus dihadang-hadang. Dan tuan rumah boleh berkata, "Mari, datanglah dan masuklah ke rumah kami". Namun siapakah yang bisa mengatur pemilik rumah untuk menerima dan menolak seseorang yang datang ke rumahnya? Adalah hak tuan rumah untuk menutup pagar dan mengunci pintu rumahnya demi menjaga rasa aman bagi seluruh anggota keluarganya. Sebab pencuri bisa datang kapan saja dengan berdandan layaknya seorang tamu.
Jika tuan rumah tahu bahwa dilingkungan tempat tinggalnya (Indonesia) ada orang mabok ndak waras, suka mengejek, melecehkan, menghina, mengancam untuk mengusir bahkan membunuh saudaranya yang tak sepaham dengan dia, dan tindakannya itu dipertontonkan secara vulgar berkali-kali melalui berbagai media bahkan melalu ILC-nya Bang One, maka adalah hak tuan rumah untuk menolak secara tegas orang seperti itu agar tidak masuk dan menganggu ketentraman didalam rumahnya. Walaupun sudah ada "petugas ronda", namun setiap warga berhak menjaga keamanan rumah tempat tinggal mereka sendiri. Adakah dari kita ini yang membuka pintu rumahnya 24 jam x 7 hari agar orang lain bebas bertandang ke rumah kita? Ah, Rumah Ibadah saja tidak buka 24 jam x 7 hari, bukan?. Ada satpamnya lagi. Cek sendirilah.
Semua sudah pada tahu, negeri ini sangat besar. Kebhinekaan yang eksis didalam kehidupan bermasyarakat selama ini selain sebagai modal untuk bangkit menjadi bangsa yang benar-benar besar agar diperhitungkan didalam peradaban dunia, ia juga merupakan "titik lemah" yang kapan saja bisa dimanfaatkan oleh orang atau kelompok tertentu untuk tujuan tertentu pula dengan cara memporak-porandakan roh persaudaraan yang selama ini sudah terbangun.
Agaknya kita tidak perlu keluar dari substansi persoalan sosial-politik yang akhir-akhir ini mulai meluap ke permukaan. Apa yang terjadi, itulah yang sedang terjadi. Lihat fakta sebagai fakta, bahwa negara dan bangsa yang berbhineka ini memang sedang dipermainkan dengan seenaknya oleh mereka yang memang tidak senang dengan warna-warni kehidupan yang ada dan lebih cendrung memaksakan "keinginan" mereka sendiri. Mereka para radikalis ini adalah benalu yang jika dibiarkan suatu saat bisa membuat mati seluruh "Pohon Persatuan Indonesia".
Kalimantan, khususnya KalBar sudah melewati sejarah yang begitu panjang. Sudah banyak konflik terlalui dimana setiap peristiwa sejarah tersebut menjadi sebuah peringatan bersama untuk lebih mengedepankan sikap untuk saling menghormati dan introspeksi satu sama lain sebagai manusia. Bisa dimengerti bahwa mereka yang selama ini tidak faham hanya bisa melihat "kulitnya" saja. Namun satu hal, kehidupan masyarakat di Pulau ini sudah kondusif. Jangan lagi ada celah yang bisa disusupi oleh virus untuk menjalankan agenda terselubung dengan merongrong ketentraman bangsa ini.
Karimawatn, 13-01-2017

Tidak ada komentar